CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.42 Villa Mewah Riri


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama ±2 jam lamanya, akhirnya mereka pun sampai di sebuah villa mewah yang merupakan salah satu aset dari alm. kakek Riri yang sekarang sudah sah menjadi milik Riri.


Saat kakek Riri masih hidup dulu, kakek Riri sering membawa Riri kesini untuk berjalan jalan dan melihat pantai, sehingga para pelayan dan penjaga disini sangatlah kenal dengan Riri dan sifat sifatnya.


Villa ini sangat terurus, karena Riri juga selalu menyewa para pelayan untuk selalu membersihkan Villa ini sebulan sekali, dan juga memberikan penjagaan yang ketat terhadap Villa ini agar tidak dimasuki sembarang orang.


Mereka berangkat jam 6 pagi, dan sampai di Villa jam 8 pagi. Saat mereka memasuki gerbang semua mobil berhenti didepan pagar, karena Riri sudah menyuruh para penjaganya untuk melihat isi mobil satu persatu sesuai foto yang sudah diberikan Riri kepada mereka


"kok berhenti?", tanya Nita


"iya, di cek dulu setiap mobilnya, ini udah tradisi nona Riri kata Geri", jawab Rendi


"kok berhenti? ada apa?", tanya Fikri


"kita di cek dulu satu persatu, setelah itu baru boleh masuk", jawab Harry lalu dijawab anggukan dari Fikri


"wah, detail banget ya bu Riri", ucap Hafiz


"salut bercampur sulit",, ucap Adam menggelengkan kepalanya


Setelah semua mobil di cek satu persatu, akhirnya mereka masuk kedalam Villa, mobilnya diparkirkan berjejer didekat Villa. Ketika turun dari mobil, semua orang sangat terpesona dengan pemandangan didepan mata mereka.


Sebuah Villa mewah 2 ½ tingkat dengan penjangaan yang sangat ketat disekeliling Villa, dan juga pemandangan yang indah yang bisa dilihat langsung dari roof top. Semua pelayan berjejer menyambut kedatangan mereka


"Selamat datang nona Riri", ucap mereka lalu menunduk memberi hormat


"makasih", ucap Riri singkat


"mari masuk non", ucap bi Wiwi yang merupakan ketua dari para pelayan diVilla Riri


"bi, tolong layani teman temanku juga ya", ucap Riri kepada bi Wiwi


"guys, kalian bisa duduk dulu di ruang tv, bi tolong bantu bawa barang barang ya", ucap Riri ke para anggotanya dan juga pelayannya


"baik bu Riri", ucap mereka serentak, lalu masuk kedalam dibimbing oleh salah satu pelayan,


Duduk diruang tengah disofa yang empuk


"nanti, kalian istirahatlah dulu dikamar kalian, ada dilantai 2, aku udah ngasih nama namanya didepan kamar sesuai request kalian, Nita dengan Rara, Yuli dengan Natali, Adam dengan Hafiz, Harry dengan Geri, dan Fikri dengan Rendi, sedangkan untuk kamar kak Dio ada di samping kamar ku, jadi aku dan kak Dio punya kamar masing masing", ucap Riri menjelaskan


"dan untuk mang Didi dan mang Edi kamarnya ada dirumah sebelah ya, udah disiapin juga", ucap Riri


Jadi rumah sebelah itu maksud Riri, rumah khusus untuk para pelayan di Villa itu, karena Riri gasuka di ganggu kalau dia ada di Villa, tapi juga gamau repot beres beres Villa yang luas ini pagi siang malam, makanya rumah untuk pelayan dibuat terpisah.


"ohiya, aku mau kenalin teman baru ku, dia namanya Aurora, dan aku Karina, jadi karena namaku disingkat jadi Riri, dia juga ikut menyingkat namanya jadi Rara, jadi kalian jangan bingung lagi kalau ada yang memanggil dia dengan Aurora atau Rara, sama seperti ku, Rara adalah panggilan untuk orang orang terdekat saja", ucap Riri dan dibalas anggukan dari para anggotanya itu


Pelayan Riri datang membawakan, jus jeruk dan juga air putih, serta cemilan cemilan ke meja tempat mereka kumpul, sementara barang barang mereka semua sudah diletakkan dikamarnya masing masing, dan tentu saja semuanya dilakukan pelayannya Riri.


"ada pertanyaan?", tanya Riri


"bu, saya mau nanya tapi bu Riri jangan tersinggung ya", ucap Natali


"iya, silahkan", ucap Riri


"kok pak Dio ikut ya bu? kan beliau bukan karyawan nya bu Riri", tanya Natali


"aneh aneh aja nanya nya, ya jelas ada hubungan spesiallah makanya diajak", batin Adam


"duh jangan sampe bu Riri ngambek gara gara pertanyaan Natali", batin Hafiz


"lah iya, baru nyadar aku, kenapa pak Dio ikut kami juga ya?", batin Fikri


"pertanyaan bagus, jadi gini, aku ngajak kalian kesini untuk liburan merayakan hari bahagia ku, merayakan ulang tahunku, dan juga, mengumumkan kekalian semua bahwa aku sudah punya tunangan", ucap Riri

__ADS_1


Semua tersontak kaget, Nita dan Natali yang sedang minum jus hampir saja tersedak mendengar pernyataan dari Riri. mereka menarik nafas dalam dalam dan menahannya, dengan tangan menutup mulut


"tu-tunangan?", beo Nita


"bu Riri udah punya tu-tunangan?", tanya Yuli


"bu, ibu serius?", tanya Adam


"kenapa kalian kaget gitu, emangnya mustahil bagi kami untuk menjalin hubungan ?", tanya Riri


"bukan bu, bu-bukan mustahil", jawab Adam gercep


"lalu?", tanya Riri


"maksudnya gini bu, kan di kantor banyak tuh yang muji muji pak Dio kalau pak Dio datang kekantor kita, dan bu Riri ga pernah marah, jadi ya agak kaget aja kalau tiba tiba udah tunangan", ucap Adam agak ragu


Riri tertawa puas mendengar penjelasan Adam. Sementara mereka semua, termasuk Dio juga heran melihat Riri tertawa. Karena memang benar, Riri tidak pernah marah melihat Dio di kagumi atau jadi bahan halu oleh para anggota Riri


"kenapa aku harus marah Adam? gini ya aku jelasin, wajah tunanganku ini memang ganteng, jadi ya wajar kalau banyak yang kagum dengannya, aku ga bisa menyangkal mereka semua, kan emang dasarnya dia ganteng", ucap Riri menatap Dio sambil tersenyum dan memegang pipi Dio


Blushh!!


Pipi Dio memerah melihat tingkah Riri


"Rara bakalan gitu juga ga ya ke aku?", batin Geri


"aku pengen juga bisa uwu uwu kek Riri :(", batin Rara


"kira kira kalau Nita jadian samaku, dia malu ga ya punya cowo kek aku?", batin Rendi


"kalau aku jadian sama Rendi, aku mau romantisan kek begitu juga", batin Nita


Sedangkan di sebrang sofa, ada yang hatinya bagaikan tertancap seribu jarum mendengar pernyataan dari Riri


"emang bu Riri ga cemburu?", tanya Yuli


"ngga", jawab Riri singkat


"kenapa?", tanya Dio dengan tatapan tajam


"em?", tanya Riri.


"kenapa ga cemburu? apa kamu udah ga sayang denganku lagi?", tanya Dio


Riri tertawa lagi melihat tingkah Dio


"jawab aku sayang, kenapa malah tertawa",, tanya Dio dengan nada dingin


"sayangku, aku ga cemburu bukan berarti ga sayang, setiap orang punya caranya masing masing dalam mencintai orang lain ataupun diri sendiri", ucap Riri memegang pipi Dio


"kan ga mungkin aku congkel mata setiap karyawanku yang melihatmu dan memuji dirimu, semua orang punya hak untuk mencintai orang lain", ucap Riri, lalu memegang tangan Dio


"Tapi... untuk membalas suatu perasaan, cinta ataupun sayang, itu adalah hak kita, hak diri kita sendiri, jadi kalau ada yang suka atau cinta dengan calon ku ini, ga masalah, silahkan", ucap Riri


"tapi kalau kakak, berani ngebalas perasaan mereka, atau sekedar memberi harapan, apalagi ga mengakui dan menganggap diriku ada, maka detik itu juga aku pergi", ucap Riri, sambil mengelus lembut pipi Dio dan tersenyum


Dio bisa merasakan dan melihat ketulusan dimata dan ucapan Riri, dia benar benar serius dengan ucapannya


"jujur, Riri ga masalah kalau banyak yang kagum sama kakak, atau ngehaluin kakak, tapi kalau ada yang berani nyentuh kakak selain diriku, kupastikan tangannya patah detik itu juga", ucap Riri sambil tersenyum


"kenapa tangannya patah?", tanya Dio


Riri mendekatkan wajahnya ke Dio

__ADS_1


"karena aku ga rela jika ada orang lain yang berani menyentuh sesuatu yang sudah menjadi milikku", jawab Riri pelan namun bisa terdengar oleh seluruh telinga di sekitar mereka


Mereka semua yang ada disitu menelan salivanya saat mendengar dan melihat interaksi dua manusia itu, antara kagum dan sedikit menyeramkan dari kata kata Riri, karena tak sedikit dari mereka yang sering memuji Dio bahkan didepan Riri sekalipun.


"aku janji sayang, ga akan pernah kubiarkan siapapun menyentuh hak milikmu ini", jawab Dio, lalu mengecup pipi Riri


"gumawo jagiya", ucap Riri tersenyum


"bu Riri dewasa banget pemikirannya ya, ga ngebayangin kalau misalkan bu Riri cemburu buta, mungkin tiap hari bakal ada tangan yang patah dikantor kita maupun dikantor pak Dio", ceplos Hafiz


Semua tertawa mendengar ucapan Hafiz, ada benarnya juga, karena Riri sendiri juga pandai bela diri.


"tapi itu semua kembali ke diri kita masing masing gimana menyikapinya, semua manusia itu memiliki pemikiran yang berbeda beda Fiz, kita ga bisa maksakan orang lain", ucap Riri


"padahal dia selalu maksa kalau lagi kerja dan harus sesuai keinginannya", batin Geri


"kecuali kalau sedang bekerja", ucap Riri


"kan", batin Geri


"wah bu Riri hebat ya, tau tau punya tunangan aja", ucap Yuli


Dio hanya tersenyum mendengar ucapan Riri, memang benar bahwa selama ini Riri tidak pernah ambil pusing dengan cewe cewe yang ada disekitar Dio.


"yaudah, kalian istirahatlah dulu dikamar kalian, atau kalau mau jalan jalan juga boleh, minta temenin sama pelayan biar ga nyasar, dan juga, jam 10 nanti kumpul lagi disini ya dan pakai baju yang rapi, aku mau ngajak kalian ke suatu tempat", ucap Riri


"oke bu Riri", ucap Nita


Mereka semua bubar setelah menghabiskan minuman yang sudah dibuatkan pelayan, lalu kembali kekamarnya masing masing, memilih istirahat sejenak daripada keliling, karena masih cape


Sedangkan Riri dan Dio menuju dapur, dan bicara dengan para pelayannya.


"bi, seperti biasa, aku gamau kegiatanku terganggu, jadi tolong kontrol semua yang ada dirumah ini, dan jangan ngeganggu kegiatanku ya, bibi sudah tau kan aturan nya?", tanya Riri


"baik non, siap, bibi sudah paham", ucap bi Wiwi


"bibi pulang aja dulu, nanti Riri makan siang diluar, oiya bi, nanti malam aku mau ngadain party di roof top, siapkan semuanya ya bi, dam juga untuk makan makan nanti malam ya, temanya bakar bakar, pokoknya, kerjain lah yang terbaik ya bi, seperti biasanya", ucap Riri


"baik non, saya sudah paham dengan yang dimaksud non Riri", ucap bi Wiwi


"oke bi, pulanglah dulu, beresin kerjaannya nanti aja tunggu Riri pergi", ucap Riri


"baik non, bibi permisi dulu ya non",, ucap bi Ani lalu pergi meninggalkan dapur


"jujur sayang, aku sangat kagum denganmu", ucap Dio memeluk Riri dari belakang


"apa yang dikagumi dariku sayang?", tanya Riri membalikkan badan lalu mengalungkan tangannya dileher Dio


"pemikiranmu, kinerjamu, semuanya tentangmu", ucap Dio


"makasih ya, aku juga sama kok kagumnya kalau dengan kakak, aku hanya ingin memberikan yang terbaik", ucap Riri


Dio mengecup lembut bibir Riri, lalu menaikkan Riri keatas meja bar yang ada didapur tanpa melepaskan ciumannya. Mereka berciuman cukup lama didapur tanpa ada yang mengganggu


lagian siapa juga yang bakal ngeganggu? yang ada bakalan dipecat kalau. berani ngeganggu :)



.


.


.

__ADS_1


__ADS_2