
Riri mencari Jiah yang sedaritadi berkeliling mansion, terlihat Jiah sedang berfoto foto di pinggiran kolam renang. Riri lalu mengajaknya berbelanja sesuai yang dijanjikan, mereka lalu pergi ke butik milik Dio. Mereka disambut dengan baik disana.
"kak, ini milikmu juga?", tanya Jiah
"no, ini milik kakak iparmu", ucap Riri
"ah suami kakak?", jawab Jiah
"selamat datang nyonya", sambut Vio
"pagi Vio, aku mau mencari beberapa gaun, bantu juga adikku memilih ya", ucap Riri
"baik nyonya", jawab Vio
"em, pilihlah yang mana kau suka, tidak perlu melihat harganya", ucap Riri
"baik kak, makasih ya muah", ucap Jiah mencium pipi Riri
"kenapa hatiku ini? apakah aku benar benar menyayanginya?", batin Riri
Mereka berbelanja cukup banyak, lalu Riri membawa Jiah ke salon dan spa, dia benar benar memanjakan Jiah, dia juga mengajak Jiah melakukan travel kuliner, mereka menghabiskan waktu hingga malam. Setelah itu mereka kembali ke mansion Riri
"kamu menginap disini saja Jiah, ini sudah malam", ucap Riri
"aku? nginap? disini? apakah boleh kak?", ucap Jiah terkejut lalu menutup mulutnya
"tentu saja boleh, kau kan adikku, duduklah dulu diruang tv, aku akan menyuruh pelayan menyiapkan kamar untukmu", jawab Riri tersenyum
Jiah melakukan yang disuruh Riri, lalu beberapa saat kemudian salah satu pelayan memanggilnya dan mengantarkannya kekamar. Setelah membersihkan diri, dia kembali turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama.
Jiah merasa berbeda hari ini, dia merasakan kehangatan yang selama ini tidak pernah dia rasakan, dia benar benar nyaman berada dekat dengan Riri, Jiah tersenyum melihat Riri yang ada dimeja makan, bersama Joi, Rendi, Geri dan Harry, mereka bercengkrama sambil menunggu makanan datang
"Jiah? sini duduk, kita makan bareng", ucap Riri memanggil Jiah
"iya kak", jawab Jiah lalu duduk didepan Riri
Makanan sudah datang, mereka makan dengan obrolan ringan dan lawakan dari Geri dan Joi, Jiah juga ikut tertawa, bahkan dia merasa sangat bahagia
"ini yang aku inginkan sejak dulu", batin Jiah
"Jiah kau sepertinya sangat bahagia", ucap Riri yang melihat Jiah tertawa
"iya kak, Jiah seneng banget hari ini, apalagi bisa ikut makan bareng gini", ucap Jiah
"memangnya kamu ga pernah kumpul gini sama ayah?", tanya Riri
"ngga kak, walaupun aku, mama dan ayah sering bertemu, tapi kami saling diam, tidak seperti ini, bahkan ayah sangat jarang mau makan bersama begini", ucap Jiah sambil makan
Riri dan Dio saling menatap
"berarti selama ini ayah tidak memberinya kasih sayang walaupun waktunya lebih banyak bersama dengan Jiah? berarti Jiah juga sama denganku?", batin Riri
"benarkah itu?", tanya Riri
"benar kak, bahkan mama juga begitu, dia selalu saja menyebut nama kakak, dia selalu bilang jika dia merindukan kakak padahal dia sedang bersamaku, itu membuatku kesal, sebab itu aku cemburu waktu ayah memeluk kaka kemarin, karena aku sendiri tidak pernah dipeluk seperti itu oleh ayah ataupun mama", jelas Jiah panjang lebar
Deg!
Jantung Riri terasa berdenyut mendengar penjelasan Jiah, entah kenapa rasanya dia sangat ingin menangis
__ADS_1
"Jiah, apa kau mau tinggal bersama dengan kakak disini? kakak akan menjagamu", ucap Riri menatap Jiah dengan tatapan sendu
"apakah boleh kak? jujur saja aku sangat senang dekat dengan kakak, aku merasa, seperti hidup, sangat berbeda saat aku dirumah", ucap Jiah
"dirumah, walaupun kami satu atap, kami sangat jarang berbicara satu lama lain, apalagi semenjak kepergian mama, ayah selalu marah marah dan marah setiap hari, aku benar benar stress", oceh Jiah
Riri dan yang lain hanya mendengar sambil makan
"suatu hari ayah mengirimku ke Belanda, ntah apa tujuannya aku sendiri tidak tau, dia pernah bilang sesuatu denganku sebelum aku pergi, tapi karena aku sangat kesal, aku mengabaikannya", ucap Jiah
"ayah bilang apa memang?", tanya Riri
"ayah bilang aku harus pergi jauh darinya supaya bisa menyelamatkan nyawaku dari bahaya, karena diriku adalah kunci kedua dari semuanya, jika terjadi sesuatu dengan ayah, jangan hiraukan dan pergi selamatkan diriku sendiri, begitulah pesan ayah", ucap Jiah
Mereka terdiam sejenak dan mencoba mencerna ucapan Jiah,
"kunci kedua?", tanya kak Joi
"iya kak, kunci kedua adalah aku, tapi aku tidak tau siapa kunci pertama dan apa maksud dari kalimat itu", oceh Jiah
"lalu di Belanda, kamu ngapai aja?", tanya Joi
"ayah menyuruhku bersenang senang dan menghabiskan banyak uang, aku pun menurutinya tapi tidak menikmatinya, aku merasa kesepian, bahkan aku stress disana karena setiap hari selalu diteror", ucap Jiah
"jangan stress lagi, disini, ga akan ada yang berani membuatmu stress, besok kita ke dokter psikolog kakak mau? kamu bisa cerita semua uneg uneg dihatimu kepada dia", ucap Riri
"benarkah itu kak? baiklah aku mau", ucap Jiah
"jika dia tidak merasa keberatan dengan itu, ini artinya dia juga benar benar membutuhkan psikolog", batin Rendi
Selesai makan malam, mereka kembali kekamarnya masing masing, mereka sangat lelah dengan kejadian hari ini, dan harus berjuang lagi besok
"sayang, kau menggodaku", ucap Dio yang merasakan hasratnya mulai naik
"lanjutkan saja pekerjaanmu sayang, aku hanya stress dengan ini semua, apalagi mendengar ucapan Jiah tadi", ucap Riri
"sayang? kau tidak memakai dalaman?", tanya Dio yang merasakan benda favoritnya menempel dnegan sempurna didadanya
Riri tersenyum dan menggelengkan kepalanya
"sayang, kau sangat imut dengan piyama ini, aku sangat suka", ucap Riri mengamati Dio dari atas kebawah
"imut? bagaimana bisa kata itu cocok denganku", ucap Dio kesal
"sayang, mau popo?", tanya Riri
Dio terdiam dan berfikir, dia memutar bola matanya kekanan dan kiri
"apa itu popo?", tanya Dio
Riri tertawa puas, dia lalu mengecup bibir merah milik suaminya itu
"itu namanya popo", ucap Riri
"hahaha sayang kau punya banyak cara untuk menciumku ya", ucap Dio memeluk erat pinggang Riri
"tentu saja, suamiku ini selalu menggoda bagiku, jadi aku punya banyak cara untuk menikmatinya", ucap Riri mengelus dada Dio
__ADS_1
"aku sedang bekerja sayang, aku akan menerkammu lain kali", ucap Dio kembali sibuk dengan laptopnya
Riri bangkit dari pangkuan Dio, dia sangat kesal karena suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya, dia lalu menjatuhkan diri ke ranjang
Brug!!
"aarrghhh", rengek Riri yang sedang berguling guling diatas ranjang
Dio hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu, dia benar benar gemas dibuat Riri, Riri terus menggeliat diatas ranjang itu dan berguling guling. Dia terlungkup dan terdiam karena sudah merasa puas berguling guling, tiba tiba ponsel Riri berdering
"em hallo ada apa?", tanya Riri dengan suara berat
"nyonya, kami sudah memulai aksi kami", ucap Varel
"em teruskan, bakar sampai habis, tapi ingat, sebagain saja dulu, yang lainnya nanti saja", ucap Riri
"baik nyonya", jawab Varel lalu mematikan telfon
"siapa sayang?", tanya Dio tapi Riri tidak menjawabnya karena masih kesal dengan Dio
Dia lalu berjalan kekamar mandi dan membawa beberapa botol wine ditangannya, dia masuk ke bathtub dan berendam dengan kelopak bunga mawar kesukaannya, dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun, dia menenggak winenya sedikit demi sedikit
"kemana anak itu? tadi masih berguling guling disini", ucap Dio panik dan mencari cari Riri disekitar kamarnya
Dio lalu mengecek kamar mandi, dan benar saja, sudah banyak kelopak bunga mawar dimana mana
"ah dia ngambek ternyata", batin Dio lalu tersenyum
Dio mendatangi Riri yang sudah tersantai didalam bathtub
"kau sedang apa sayang?", tanya Dio tersenyum
"ah ini aku sedang memikirkan siapa yang akan kubawa kesini, karena suamiku tidak ingin bersamaku", ucap Riri dengan santai
Dio sedikit kesal mendengar itu, dia cemburu saat Riri mengatakan itu. Dia lalu mengangkat Riri dari sana membawanya keatas westafel
"sayang apa apaan ini?", tanya Riri kesal, dia terkejut dengan gerakan Dio yang tiba tiba
"kau tidak boleh membawa orang lain kesini, selain diriku, hanya boleh aku saja", ucap Dio dengan tatapan kesal
"ah ada yang cemburu ternyata, lalu mengapa menolakku tadi?",, ucap Riri memukul dada Dio
"sekarang tidak lagi", ucap Dio pelan lalu membuka semua bajunya dan menyerang Riri
Terjadi pergelutan antara dua manusia itu, Dio yang sudah dibakar api cemburu memperlakukan Riri sedikir kasar, membuat Riri menggila dan merengek menahan serangan suaminya itu, dia hampir kewalahan tetapi juga menikmati permainan ini.
"aku tidak mau jika ada orang lain menyentuhmu sayang, jangan katakan itu", ucap Dio mengelus wajah Riri
"aku suka permainanmu hari ini sayang", ucap Riri mengecup bibir Dio
"bukankah aku sedikit kasar?", tanya Dio
"ya memang, itu cukup mengobati rasa kesalku tadi karena mas tolak", ucap Riri mengerucutkan bibirnya
Dio tertawa lalu membenarkan posisinya dan membawa Riri dalam gendongannya tanpa melepas miliknya dari Riri
"lanjut?", tanya Dio
"tentu sajaa", ucap Riri bergembira
__ADS_1
Mereka melewatkan malam yang hangat itu, bersama dengan ******* dan rengekan Riri hang memenuhi seluruh kamar, Dio sangat bersemangat karena tingkah istrinya itu yang selalu saja bisa membangkitkan gairahnya