CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.111 Tuntasnya Kecemburuan Riri


__ADS_3

Para tawanan Riri sudah bangun satu persatu, dengan segera Basree pergi menemui Riri dan melaporkan padanya, Riri pun dengan semangat masuk kedalam ruangan itu


Didalam ruangan itu terlihat jelas ada ketakutan dan rasa panik diwajah Pricilla dan Zidan, karena mereka sudah tau siapa yang akan datang dan dengan siapa mereka berurusan


Sementara Rizka, Zahra, Tika dan Reza masih saja berusaha untuk memberontak karena mereka merasa tidak pernah berbuat salah dan tidak tau apapun tentang ini


"siapa kau?!! lepaskan aku!!",, teriak Riska


"berani sekali kau menculikku begini!!", teriak Zahra


"kak Zahra? kak Riska? kalian disini juga?", tanya Reza


"loh Reza? Tika? kalian juga disini?", tanya Zahra


"kak Zidan juga disini?", tanya Tika menatap Zidan


"kak Zidan kenapa kita disini? ada apa ini?", tanya Riska


"kak Zidan ada apa ini? kenapa melibatkanku? aku tidak tau apa apa?!", teriak Reza


"diamlah kalian semua!! tutup mulut kalian itu sebelum dia benar benar marah!!", bentak Zidan


"siapa yang marah? siapa dia? dan apa salahku?!!", teriak Riska


"aku juga tidak pernah berbuat salah apapun!! kenapa aku dilibatkan juga?!!", teriak Zahra


Ara datang masuk kedalam ruangan itu, dia sudah mengganti bajunya, dia tersenyum smirk dan menatap remeh kearah mereka semua, jelas saja mereka terkejut melihat Ara



"Ara?!", tanya Riska dan Zahra serentak


"kak Ara?", tanya Reza dan Tika bingung


"Ara tolong lepaskan aku, aku mohon", ucap Zidan memohon


"bukankah aku sudah meneken surat perjanjian? kenapa aku masih dilibatkan?", tanya Pricilla yang ikut bersuara


"maaf Pricilla sepertinya atasan ku berubah pikiran, maklumi saja dia memang tempramental", ucap Ara


"dia menyindirku?", tanya Riri yang memperhatikan dari ruangan sebelah


"untukmu Zidan, maafkan aku karena aku tidak bisa melepaskanmu", ucap Ara


"Ara aku mohon maafkan aku, katakan padanya aku minta maaf, aku mohon ra", ucap Zidan


"apa maksudmu kak? apakah ada orang lain dibalik ini semua?", tanya Zahra


" Ara aku mohon lepaskan aku, siapapun itu, dan apapun kesalahanku tolong maafkan dan bebaskan aku", ucap Riska ikut memohon


Ara hanya diam dan tidak menjawab sama sekali, dia lalu berjalan menepi dari mereka semua, lalu datanglah Basree, Varel dan Koko, mereka juga ikut berdiri disamping Ara, beberapa bodyguard juga datang dan berdiri mengelilingi para tawanan itu yang terus berteriak meminta tolong


Para bodyguard itupun menutup mulut mereka dengan selotip agar tidak terus terusan berteriak


Kini giliran Riri yang masuk kedalam sana, suara langkah kaki Riri menggema memenuhi ruangan itu, dan suara pisau lipat favorit Riri juga ikut bergema. Dio mengikuti langkah Riri dari belakang, dia sedikit ngeri dengan istrinya jika sedang dalam mode seperti yang sekarang ini


Mereka semua menunduk melihat kedatangan Riri, berbeda dengan para tawanan itu yang terkejut bukan main saat melihat dalang dibalik semua ini adalah Riri. Sedangkan Riri tersenyum smirk melihat mereka semua



"apa kabar kalian? sudah lama kita tidak bertemu", sapa Riri lalu duduk menghadap para tawanannya yang sudah diatur untuk saling berdekatan dan membentuk setengah lingkaran


"sepertinya mereka terkejut dengan kehadiranmu sayang", ucap Dio yang melihat ekspresi mereka satu persatu


"terutama mantanmu itu mas, sepertinya dia masih lelah karena digilir tadi", ucap Riri sambil tertawa kecil


Pricilla membelalakkan matanya, dia hampir tidak percaya jika ini semua adalah rencana Riri, sungguh gadis yang dianggapnya baik dan polos ternyata adalah seorang psikopat


"Zidan kita bertemu lagi, sepertinya pelajaran yang kuberikan waktu itu tidak cukup untukmu ya", ucap Dio sambil membuka jasnya


"Ara apa kau yang mengganti baju mereka menjadi putih?", tanya Riri


"benar nyonya, saya pikir nyonya mungkin akan menyukainya", jawab Ara


"haha terima kasih, kau sudah mulai hafal kesukaanku", ucap Riri

__ADS_1


"buka mulut mereka", ucap Riri kepada para bodyguardnya


Mulut mereka semua pun dibuka dengan cara yang sangat kasar,


"Ri aku mohon maafkan aku Ri, aku mohon", ucap Zidan


"Ri kau tidak akan membunuhku kan? aku temanmu, kau tidak akan membunuh temanmu kan?", ucap Riska


"Ri aku hanya mengikuti perintah Riska agar tidak ikut dibully seperti mu, aku tidak salah apa apa Ri, aku mohon lepaskan aku", ucap Zahra


"kak, aku mohon maafkan aku kak",, ucap Tika ikut memohon


"kak maafkan aku, aku benar benar minta maaf", ucap Reza


"Ri, kau tidak akan berubah menjadi psikopatkan? kau adalah gadis yang baik dan polos, kau tidak akan membunuh orang lain kan?", tanya Pricilla


Riri menarik kursi Pricilla dan meletakkannya ditengah tengah mereka semua, dia juga sudah menyuruh bodyguardnya untuk melepaskan mereka semua dari kursi dan mendudukkannya dilantai. Riri lalu mengambil pisau yang agak besar lalu melayangkannya ketubuh Pricilla


Spontan darah Pricilla bercipratan kemana mana dan, bahkan mengenai wajah para tawanan Riri, sementara Riri tersenyum melihat pemandangan ini. Teriakan Pricilla menggema memenuhi ruangan itu, para tawanan Riri mulai menggigil ketakutan melihat aksi Riri


"ampun Ri, maafkan aku", teriak Pricilla


"inilah akibatnya jika berani menyentuh sesuatu yang sudah menjadi milikku", Teriak Riri dengan pisau ditangannya yang sudah mengalir darah Pricilla


"maafkan aku, maafkan aku, aku tidak akan menganggu suamimu lagi Ri, aku mohon hentikan", ucap Pricilla yang masih memohon


"apakah tadi terlalu sakit? baiklah aku akan melakukannya dengan gerakan paling lembut", ucap Riri tersenyum


Riri lalu melumuri pisaunya dengan cabe, kunyit dan bawang merah yang sudah digiling halus dan dicampuri lemon didalamnya


"Ri aku mohon Ri jangan", ucap Pricilla yang melihat pemandangan itu


Riri tersenyum lalu menusukkan pisaunya ditangan Pricilla dengan gerakan pelan dan tidak terlalu dalam. Bukannya mengurangi sakit, ini justru membuat Pricilla lebih tersiksa lagi karena merasakan tangannya yang tersayat dengan gerakan pelan dan rasa panas dari bumbu yang ada dipisau Riri, membuat Pricilla berteriak kesakitan


Pricilla merasakan siksaan yang luar biasa sakitnya dari Riri, tidak hanya di tangan, tapi di seluruh tubuhnya berhasil disayat sayat oleh Riri dan dibumbui dengan adonan cabe tadi. Tubuh Pricilla bagaikan ayam yang sedang dibumbui dan siap untuk digoreng


Teriakan Pricilla yang tadinya menggelegar kini tidak terdengar lagi, dia sudah tergeletak lemah dilantai dengan tubuhnya yang merasakan sakit luar biasa dari siksaan Riri


Riri berjongkok dan tersenyum


"jika saja adikku ada disini, mungkin dia sudah mencincang mu seperti ayam kalasan", ucap Riri sambil tertawa kecil


"Koko apa kau ingin mengucapkan salam perpisahan dengannya? sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi", ucap Riri


"tidak nyonya", jawab Koko


"maafkan aku, ampuni aku", lirih Pricilla


Riri tertawa lalu menjambak rambut Pricilla dan menyeret tubuh lemah itu kedepan para tawanannya


Riri lalu menghujamkan pisaunya diperut Pricilla dengan gerakan pelan yang membuat Pricilla lebih tersiksa lagi


Dio dan yang lainnya hanya menonton aksi Riri yang terus melampiaskan amarahnya itu


"dia benar benar menyiksanya", bisik Basree


"aku rasa ini lebih sakit daripada Alexa waktu itu", jawab Ara


"aku rasa hampir sebanding", sambung Varel


Setelah pisau pertama Riri menancap diperut Pricilla, dia menatap Pricilla dengan tatapan kebencian dan kecemburuan. Riri lalu memanggil suaminya agar ikut serta


Dio lalu tersenyum smirk, raut wajahnya berubah menjadi api amarah yang membakar habis dikepalanya


"dasar *******!!", teriak Dio


Dio lalu menancapkan pisaunya di dada Pricilla dan membuat gadis itu muntah darah, sementara Riri tersenyum senang melihat kemarahan suaminya


Dio mencabut lagi pisau itu lalu menancapkan lagi kebagian lain, begitu terus hingga Pricilla kehilangan nyawanya dan tubuhnya hampir tidak berbentuk lagi, dia mati mengenaskan ditangan suami istri itu


Riri mencongkel mata kedua Pricilla dan memasukkannya kedalam botol lalu menyuruh Ara untuk menyimpannya didalam freezer


Riri menyeret jasad Pricilla ke sudut ruangan dan membiarkannya disana untuk sementara waktu


Lalu dia berjalan kearah Zidan, Riri menaikkan dagu Zidan dan tersenyum

__ADS_1


"aku mohon maafkan aku", lirih Zidan


"maaf? mungkin kau bisa mengatakannya sebelum kita putus dulu", ucap Riri sambil memilih milih pisaunya


"tapi sekarang tidak lagi", ucap Riri sambil tersenyum


Riri merobek baju Zidan dan membuangnya, terlihat Zidan yang kini sudah bertel*njang dada didepannya


"mau bumbu seperti Pricilla atau yang lain?", tanya Riri


"aku mohon jangan Ri", lirih Zidan


"hm? kenapa? bukankah kau sangat senang dulu saat mencampakkanku?", tanya Riri


"aku mohon Ri, maaf", lirih Zidan


Riri mensayat dada Zidan dan menekan pisaunya, membentuk sebuah karya yang dulu sering digambar Zidan untuknya. Teriakan Zidan menggelegar diruangan itu, darahnya terus mengalir dari sayatan sayatan yang dibuat Riri


Ara dan yang lainnya menutup matanya, bahkan Dio saja ikut memalingkan wajahnya karena ngilu melihat tindakan istrinya itu, sementara Riri tertawa puas melihat Zidan kesakitan, memang momen inilah yang ditunggu tunggunya sejak dulu


Riri lalu memanggil Ara untuk mendekat kepadanya dan melihat karya yang sudah dia bentuk di dada Zidan


"bagaimana? apakah cantik?", tanya Riri


"cantik", ucap Ara berusaha tidak gugup


"buatlah karyamu juga, aku beri waktu 3 menit", ucap Riri


"a-aku?", tanya Ara ketakutan


"tentu saja, atau kau mau menggantikan posisi Zidan?", tanya Riri


"tentu saja tidak", jawab Ara cepat lalu mengambil pisaunya


"penawaran macam apa itu?", batin Ara


Ara menelan ludahnya saat melihat Zidan yang meringis kesakitan, Ara melukis karyanya di punggung Zidan dengan gerakan sedikit cepat karena. Riri hanya memberinya waktu 3 menit


"kau menggambar gunting sayang? apa artinya?", tanya Dio mendekati Riri


"itu mengartikan bahwa dia sering kali memustuskan sebuah hubungan hanya karena keegoisannya sendiri, bahkan mencoba merusak hubungan orang lain", jawab Riri


"ah begitu", ucap Dio lalu menenggak winenya


"sudah selesai nyonya", jawab Ara


"giliranmu sayang", ucap Riri kepada Dio


Dio lalu meletakkan winenya dan membuka kemejanya, kini dia juga bertelanjang dada seperti Zidan. Terlihat ditubuh Dio masih ada bekas sayatan yang dibuat Riri saat menghukumnya beberapa bulan lalu


"kau lihat ini? luka ini karena kau yang masih mencoba menginginkan istriku", ucap Dio menunjukkan bekas lukanya


"kau juga menerima hukuman?", tanya Zidan


"tentu saja, bahkan aku yang suami sah nya saja menerima hukuman darinya, lalu bagaimana mungkin kau yang bukan siapa siapanya masih berharap ampunan dari istriku?", ucap Dio lalu mencengkram kuat leher Zidan


"karena ulahmu itu aku dan Riri hampir kehilangan calon bayiku, bahkan kau memalsukan laporan medisnya dan mencoba mengadu domba kami dengan keguguran palsu itu?", tanya Dio dengan tangannya yang semakin kuat mencekik leher Zidan


"le-lepas... lepaskan... aku...", ucap Zidan terputus putus


"never", jawab Dio singkat


Dio mengangkat tubuh Zidan dan melemparkannya ke dinding kaca hingga kaca itu pecah, Dio menarik lagi tubuh Zidan dan menghajarnya habis habisan


Dio lalu menyemprot tubuh Zidan yang penuh sayatan itu dengan air perasan jeruk nipis yang sudah disiapkan didalam semprotan tanaman


Zidan berteriak kesakitan,


"aku ingin kau merasakannya juga, tapi aku rasa ini tidak sebanding", ucap Dio


Dio lalu mencekik leher Zidan hingga dia benar benar kehilangan nafasnya dan nyawanya, lalu melemparkan tubuh tanpa nyawa itu kesudut ruangan didekat jasad Pricilla


Basree dan Koko lalu membuat Zidan memegang pisau yang digunakan untuk membunuh Pricilla tadi, dia mencoba membuat sidik jari Zidan ada diseluruh tubuh Pricilla


Riri lalu memerintahkan para bodyguardnya untuk membuang jasad itu dan membuat rekayasa kematian mereka senyata mungkin.

__ADS_1


Bodyguard itu lalu membawa jasad Pricilla dan Zidan kedalam mobil Pricilla, mereka membawanya ke tengah hutan lalu menyiram seluruh tubuh dan mobil itu dengan bensin. Mereka menjatuhkan api disana dan membuat mobil itu meledak, setelah itu mereka pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak apapun


__ADS_2