CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.77 Musuh Menjadi Teman


__ADS_3

Riri bergegas pergi dari rumah sakit menuju mansion lama kakeknya bersama dengan Joi dan Fikri. Sementara Varel sudah menunggu disana, dia juga menemukan jejak Alexa dan terus menyuruh anak buahnya mencari keberadaan Alexa yang pasti.


Setelah perjalanan beberapa menit, mereka bertiga pun sampai di mansion lama kakek Riri. Riri membawa sebuah kotak hitam dan map coklat ditangannya, mereka berjalan memasuki mansion, lalu bertemu dengan Ara dan Nicolas


"haii",, ucap Riri langsung duduk dihadapan mereka berdua


"hari ini aku gamau basa basi dan gamau main main, aku mau ngajak kalian untuk bermain bersama denganku, lebih tepatnya berperang", ucap Riri


"apa maksudmu? bermain? berperang?", tanya Ara bingung


"aku gamau", jawab Nicolas memalingkan wajahnya


"Varel, lepas ikatan tangan mereka", perintah Riri


Setelah Varel melepas ikatan tangan Ara dan Nicolas, Joi dan Fikri menodongkan pistol di kepala Ara dan Nicolas


"jika kau bergerak diluar perintahku, peluru itu akan segera bersarang dikepalamu", ucap Riri membuat dua tawanannya itu menelan ludah


"kau mau apa Ri? aku janji akan memberikan yang kau mau jika aku sanggup", ucap Ara


"a-aku juga, lebih baik aku jadi budakmu daripada aku menyetor nyawa kepadamu", ucap Nicolas dengan nyali yang sudah ciut, dia sudah lelah terus dipukuli oleh anak buah Riri


"musuhku menyerangku, aku mau kalian menjadi sekutuku dan bantu aku menyerang balik, aku akan kasih kalian fasilitas dan hidup enak jika kalian bersedia, namun jika kalian berkhianat dariku, kubuat kepala kalian menjadi pajangan di mansionku", ucap Riri menatap Ara dan Nicolas dengan tatapan mematikan


Fikri menambah suasana menjadi semakin intens dengan menggerak-gerakkan peluru pistolnya yang menodong kepala Nicolas


"ba-baiklah a-aku bersedia", ucap Nicolas


"aku juga", ucap Ara menatap Riri


"aku hanya memberi 1 kali kesempatan untuk kalian hidup lagi, ingat itu dan baca ini", ucap Riri melemparkan lembaran surat perjanjian kepada Ara dan Nicolas


Mereka berdua membawa surat perjanjian itu dengan sangat terkejut


"aku setuju", ucap Ara


"aku juga, aku janji tidak akan menghianatimu", jawab Nicolas


Varel lalu memberikan pulpen dan bantalan tinta untuk dua tawanan Riri itu. Ara dan Nicolas segera menandatangani surat itu dan mengecap sidik jari mereka disana


"lalu apa tugas pertama kami?", tanya Nicolas


"bantu aku berperang dengan Alexa, dia menyandera bunda, mama, dan ayahku, dia juga telah membuat Geri dalam keadaan kritis sekarang", ucap Riri


"benar benar psiko gila, dia akan terus mencari kelemahanmu Riri, kau harus menjaga semua orang yang kau sayang, dia itu psikopat dan bisa membunuh kapan saja sesuai moodnya", ucap Nicolas


"bagaimana kau tau?", tanya Ara


"jelas saja aku tau, dia kan mantanku", jawab Nicolas


"Ri, aku punya beberapa bukti medis bahwa dia terkena penyakit mental dan pernah dirawat dirumah sakit, kau bisa menjadikan itu sebagai senjata", ucap Nicolas


"kau yakin? bukankah kau yang membantunya membunuh kakekku? kenapa tiba tiba memihak kepadaku?", tanya Riri dengan tatapan tajam


"bukankah sudah kubilang, aku mau cari aman daripada kehilangan nyawaku dengan cara konyol", ucap Nicolas pelan


"bagaimana bisa kau memiliki catatan medisnya?", tanya Joi


"aku dulu adalah dokter pribadinya aku benar benar tau bahwa dia adalah psikopat", jawab Nicolas


"lalu aku harus apa? aku ga pernah berpengalaman menjadi intel atau mafia atau sebangsanya", ucap Ara


"kau? bantu kak Joi", jawab Riri


"tapi sebelum itu, berikan dia baju yang pantas, apa kau tidak lihat penampilannya sekarang?",, ucap Joi kesal


"kau urus saja dia kak", jawab Riri


"sialan",, umpat Joi


"nyonya, saya sudah menemukan keberadaan Alexa, ternyata dia memiliki markas dan gudang senjata disuatu daerah", ucap Varel menunjukkan layar laptopnya


"serius?", tanya Riri


"wah ternyata gudang itu masih ada", gumam Nicolas


"maksudmu? kau tau tentang ini?", tanya Fikri


"tentu saja, aku kan mantannya, aku tau segalanya tentang dia",, jawab Nicolas


Mereka semua segera menatap Nicolas dengan tatapan tajam


"kenapa baru bilang sekarang, kau mau mati?", tanya Fikri menempelkan pistolnya di dahi Nicolas


"aku tau tempatnya, aku akan membawa kalian kesana", ucap Nicolas lalu menelan ludahnya

__ADS_1


"sudah, sebaiknya kita segera bergerak",, ucap Riri


"tapi tempat itu dijaga sangat ketat, apakah kita bisa menembusnya?",, tanya Nicolas


"bisa, beri tahu dimana tempatnya", ucap Varel


Nicolas lalu memberi tau Varel secara rinci dan jelas, sementara Riri dan Joi sudah menelfon anak buahnya yang lain agar ikut dengan mereka juga.


Sedangkan Fikri melatih Ara sebentar cara menggunakan pistol, dan memperlihatkan beberapa gerakan bela diri. Tentu saja Ara pelan pelan memahaminya


...****************...


5 jam kemudian...


Setelah mereka menyusun rencana dan mempersiapkan persiapan mereka, mereka memutuskan untuk menyerang sekarang. Namun Varel tidak bisa memastikan apakah Alexa sedang berada disana atau tidak.


"aku ga peduli dia ada disana atau ngga, aku akan tetap membunuhnya apapun ceritanya", jawab Riri


Riri lalu membuka kotak hitam yang dibawanya tadi, berisi obat penghenti detak jantung sementara yang diberikan Rendi kepadanya beberapa hari lalu.


Nicolas merinding melihat gaya Riri menyiapkan suntikan itu, benar benar mengerikan ditambah dengan wajah dingin Riri


"apa kau tau Nicolas? awalnya ini untukmu", ucap Riri yang berhasil membuat Nicolas menelan ludah


"lalu sekarang? apakah itu masih untuknya?", tanya Ara


"jika dia menghianatiku, maka jawabannya adalah iya", jawab Riri


"whoa", ucap Ara


"whoa? itu juga berlaku untukmu, bodoh sekali kau ini", ucap Fikri kesal


"maaf", ucap Ara menelan ludah


Mereka berjalan kesuatu ruang bawah tanah yang merupakan ruangan persenjataan milik alm. Kakek Riri. Mereka semua segera bersiap siap dan mengambil porsinya masing masing


Namun Ara, karena masih awam, dia masih kurang paham cara menggunakan pistol, jadi tidak sengaja menarik pelatuk dan...


Dor!!


Peluru itu hampir saja mengenai kepala Varel


"kau gila?!!", tanya Varel


"maaf, aku gatau cara make pistol", ucap Ara langsung meletakkan lagi pistolnya


"pegang, simpan baik baik, dan gunakan hanya saat genting",, ucap Joi


"dia hampir membunuhku bahkan saat aku belum bertemu dengan musuh", ucap Varel kesal


"Apakah aku juga ikut Ri?", tanya Fikri


"lalu? kau mau kepalamu jadi pajangan diruanganku?",, tanya Riri


"tentu saja aku ikut, mana senjata untukku", ucap Fikri menjauh dari Riri lalu mencari senjatanya


Handphone Riri berdering, terlihat nama suaminya dilayar handphone itu, dia segera mengangkatnya. Riri berbicara dengan sangat serius dan hati hati, kemudian dia tersenyun saat mendapatkan kabar akan mendapatkan bantuan dan perlindungan double


"aku akan bergerak, tepat jam 7 malam nanti sayang", ucap Riri


"aku dan Rendi akan mengamankan semuanya, kau hati hati ya sayang, jaga dirimu baik baik", ucap Dio dalam telfonnya


"baiklah suamiku, jaga mereka yang disana ya", ucap Riri lalu mematikan telfonnya


Mereka berkumpul mengelilingi meja, Riri lalu mengeluarkan banyak obat tidur dan juga kotak besar berisi suntikan panah kecil


"kita tidak akan menggunakan pistol? tapi menggunakan ini?", tanya Joi


"ini lebih baik daripada pistol", ucap Ara


"ya setidaknya kau bisa menggunakan ini dengan lihai", jawab Fikri


"aku suka ini", ucap Varel


"masing masing dari kita bawa 50 suntikan, karena kita tidak tau seberapa banyak penjagaan disana", ucap Riri


"apakah itu cukup?", tanya Joi


"cukup, itu sepertinya cukup", jawab Nicolas


"bukankah kita juga butuh tali untuk mengikat mereka?", tanya Ara


"iya, kau benar, tapi kalian isi dulu semua suntikan ini, aku akan mengambil talinya", ucap Riri


Mereka mengerjakan perintah Riri, dan Riri menyiapkan beberapa perlengkapan lain, dia bahkan menyiapkan makanan dan vitamin untuk mereka makan agar kuat dan terjaga.

__ADS_1


Setelah semua persiapan selesai, mereka memasukkan barang barangnya ke tas yang sudah disediakan Riri. Lalu makan mereka bersama untuk mengisi tenaga


"minum dan bawa vitamin ini juga, ini untuk menambah stamina dan menjaga kalian agar tidak mengantuk", ucap Riri memberikan botol botol vitamin


Mereka semua menuruti perintah Riri, setelah semuanya benar benar sudah selesai dan matang, mereka berangkat menuju markas Alexa


...----------------...


Didalam mobil...


"kita akan menyerang tepat jam 7 malam, dna kita juga mendapat bantuan dan perlindungan double", ucap Riri


"baik nyonya", jawab Varel


"Varel, apa kau sudah memeriksa adik adik Harry?", tanya Riri


"sudah nyonya dan sudah saya amankan juga", jawab Varel


"lalu Jiah? dia baik baik saja kan? aku hampir lupa dengannya", ucap Riri


"dia baik baik saja non, dia tadi sedang diluar lalu sempat diganggu oleh beberapa preman, namun dalam sekejap mata preman preman itu langsung tekapar dihajar Jiah habis habisan", ucap Varel


"tidak sia sia aku mengajarinya", ucap Riri tersenyum


Nicolas mendengar itu, lalu memegang tangan Riri, dia menatap Riri dengan tatapan sendu


"kenapa kau ini?", tanya Riri bingung lalu melepaskan tangan Nicolas


"tolong jaga Jiah ya Ri, jaga dia baik baik, aku tidak akan sanggup jika kehilangan dia", ucap Nicolas


"kenapa kau khawatir? dia itu adikku", jawab Riri kesal


"dia anakku", ucap Nicolas


Tentu saja mereka semua terkejut dengan pengakuan Nicolas


"kau serius? aku sedang tidak ingin bercanda", ucap Riri


"aku serius Ri, dia anakku, anakku dan Alexa", ucap Nicolas


"whoa", ucap Ara


"bisakah kau berhenti bilang 'whoa?' Ara?", ucap Joi kesal lalu menutup mulut Ara


Riri menatap Nicolas dengan tatapan yang sulit dijelaskan, cukup lama Riri diam menatap Nicolas


"apa kau tau? bahwa Alexa juga menggunakan Jiah sebagai senjatanya? untuk menyerangku?", tanya Riri


"apa maksudmu? Alexa melibatkan Jiah?", tanya Nicolas balik


"ah dia gatau ternyata", ucap Varel


"benar benar payah", ucap Fikri


"anakmu itu selalu dijadikan boneka oleh Alexa, bahkan pernah hampir dijual di diskotiknya", ucap Joi


"whoa gila", ucap Ara menganga


"astaga Ara", gerutu Joi


"bajingan", ucap Nicolas mengepalkan tangannya


"simpan amarahmu untuk nanti, tunjukkan kasih sayangmu sebagai ayah dan lawan Alexa", ucap Joi


"kak Joi benar, kau harus melindungi anakmu", ucap Varel


"setidaknya kau harus sedikit berguna", sambung Fikri


"aku setuju dengan kak Joi, Fikri dan Varel",, jawab Ara tersenyum


"tak akan kubiarkan dia lolos", ucap Nicolas


"goodluck", ucap Ara menepuk pundak Nicolas


"fighting", ucap Fikri


"aku tunggu pembuktian darimu", ucap Riri


Riri melihat dengan seksama ekspresi Nicolas, terbaca dengan jelas dimatanya, dia sangat marah saat mendengar kenyataan tentang Jiah tadi


"bagaimana dengan Rara? apakah dia baik baik saja? dia pasti drop sekarang", batin Riri


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2