CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.93 Pendarahan


__ADS_3

Dikantor Dio...


Dio terus saja gelisah karena sikap istrinya yang berubah tiba tiba tadi, dia terus gelisah membuat Joi ikut risih melihatnya. Bahkan saat meeting penting tadi, Dio sama sekali tidak fokus ke meetingnya dan hanya sibuk sendiri, hingga membuat Joi kesal dan harus menggantikan posisi Dio


"kau ini kenapa? bukankah tadi baik baik saja saat dirumah?", tanya Joi


"tadi Riri tiba tiba marah dan membanting pintu mobilku dengan sangat kuat", ucap Dio


"memangnya kau buat kesalahan apa?", tanya Joi yang langsung menatap Dio


"aku tidak tau, aku hanya mengatakan kepadanya kalau dia terus saja makan dan mengemil, padahal Jiah sudah mengatakan bahwa dia sudah sedikit gendut", ucap Dio santai


Joi langsung menyemburkan teh yang diminumnya saat mendengar ucapan adiknya itu, dia langsung melemparkan berkas ditangannya kearah Dio


"bodoh sekali kau ini! jelas saja dia marah!", ucap Joi kesal


"apa maksudmu kak?",, tanya Dio belum paham


"apa kau tidak ingat kesalahan terakhirmu padanya sampai dia koma lebih dari seminggu?",, tanya Joi


"tentu saja aku ingat dan tidak akan pernah lupa", jawab Dio


"harusnya kau belajar dari kesalahanmu itu!",, ucap Joi kesal


"apasih kak aku ga paham", tanya Dio bingung


"hal hal yang kau anggap biasa aja, bisa menyinggung perasaannya, wanita itu sangat sensitif terhadap ucapan orang lain, apalagi dari orang yang dia cintai", ucap Joi


"dan tadi, kau sudah menyinggung perasaannya, kau sudah melukai hatinya, hanya karena omonganmu itu yang kau anggap biasa aja", ucap Joi


Dio terdiam, kini dia paham dengan penjelasan kakaknya, dia mengacak acak rambutnya.


"kau ini sudah beristri, harusnya kau lebih pahami lagi istrimu itu, mungkin dia sedang datang bulan makanya menjadi sangat sensitif seperti itu", ucap Joi


Dio terdiam lagi, dia sedikit berfikir, lalu menatap Joi yang sedang minum teh


"aku rasa Riri tidak pernah datang bulan lagi kak, kami berhubungan hampir setiap hari", ucap Dio


Joi menyemburkan tehnya lagi


"kak itu teh mahal, bisakah kau meminumnya dengan sangat hati hati?", tanya Dio dengan ekspresi datar


"apa kau bilang tadi?", tanya Joi mengelap mulutnya.


"itu teh mahal...", ucap Dio terpotong oleh Joi


"bukan... sebelumnya", ucap Joi


"aku rasa Riri tidak pernah datang bulan lagi, kami berhubungan hampir setiap...", ucap Dio terpotong lagi


"kau gila", ucap Joi


"maksud kakak?", tanya Dio


"kau ini membuat darah tinggiku naik, kau bodoh atau polos atau gimana sih?", tanya Joi kesal, dia ingin sekali rasanya meremas wajah adiknya itu

__ADS_1


"hah?", tanya Dio


"apa kau sudah periksa?", tanya Joi


"periksa apa?", tanya Dio balik


Joi memegang wajah Dio dengan kedua tangannya, dan mendekatkannya kewajahnya


"mungkin saja istrimu sedang hamil Dio!!! kenapa kau sangat polos?!!", pekik Joi, dia sangat kesal dengan Dio


Dio menganga dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya


"ekspresi apa itu?! sialan kau!", ucap Joi kesal ingin memukul Dio


"siapa yang hamil?", teriak Shila tiba tiba yang sudah ada diruangan Dio


Membuat Joi dan Dio menoleh kearah mamanya itu


"mama? sejak kapan mama disini?", tanya Joi melepaskan tangannya dari wajah Dio


"kenapa aku tidak tau kalau mama datang?", tanya Dio lagi


"kalian sibuk berdebat sampai tidak dengar kalau kami sudah disini beberapa saat lalu?", tanya Hardi balik


"jawab mama siapa yang hamil?", tanya Shila


Joi dan Dio saling menatap tidak tau harus memberikan jawaban apa


"jawab mama", ucap Shila


"dasar anak nakal! harusnya kau belajar dari kesalahanmu yang lalu! bagaimana jika Riri benar benar hamil?! itu akan sangat menyakiti hatinya", ucap Shila


"maaf ma, aku tidak tau", ucap Dio


"apa Riri sudah tau atau sudah memeriksanya?", tanya Hardi


"tidak tau pa, Riri tidak pernah cerita soal itu, dan dia selalu bercerita semua hal kepadaku, tapi tidak pernah membahas hal itu", jawab Dio


"berarti kemungkinan Riri belum tau", ucap Hardi


"bagaimana jika gadis kecilku itu benar benar hamil? lalu dia bertindak nekat karena ulahmu tadi?", tanya Joi


"ah iya kau benar kak, arghh",, ucap Dio menggaruk garuk tengkuknya


"'ah iya?', jawaban macam apa itu?! kau ini benar benar ingin ku hajar ya", pekik Joi kesal


Joi sangat kesal dengan Dio


"Joi ada benarnya, Riri itukan nekatan orangnya, tapi hamil atau tidaknya, itukan belum pasti", ucap Hardi


"Dio, selesaikan urusanmu itu dengan istrimu sebelum semakin besar", ucap Shila


"iya ma", jawab Dio


Baru saja mereka menghela nafas, tiba tiba Rendi menerobos masuk keruangan Dio dia berlari menghampiri Dio, membuat mereka semua terkejut

__ADS_1


"ada apa Ren? bukan kah kau sedang meeting tadi?", tanya Dio


"maaf tuan, maaf nyonya, maaf tuan, saya menerobos masuk, maaf, ada hal penting yang harus saja sampaikan", ucap Rendi dengan nafas tersenggal senggal


"ada apa? apa yang begitu penting?", tanya Joi


"tadi saat sedang meeting Nita terus menelfon saya, tapi saya tidak angkat, setelah meeting selesai saya telfon balik, lalu Nita memberi kabar bahwa Nona...", ucap Rendi terputus


"nona? Riri? kenapa Riri?", tanya Shila


"nona Riri ditemukan pingsan diruangannya dan mengalami pendarahan nyonya, sekarang sudah dirumah sakit, dibawa Harry tadi", ucap Rendi


"pe-pendarahan katamu?", tanya Dio terbata


Mereka berempat bagaikan tersambar petir mendengar ucapan Rendi, Dio langsung berlari menyambar jas dan kunci mobilnya, sedangkan Joi mengejarnya.


"mari saya antar tuan", ucap Rendi mempersilahkan Hardi dan Shila


"baik, ayo Rendi cepat", jawab Hardi


Dio melajukan mobilnya, dia sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu. Kesalahan nya kembali terulang lagi, kebodohannya kembali terulang lagi. Air matanya mengalir tanpa aba aba


Joi mencoba menenangkan adiknya itu, dia jiga ikut khawatir dengan keadaan Riri, dia sudah menelfon Jiah agar ikut menyusul kerumah sakit. Jiah pun bergegas menuju rumah sakit, karena kebetulan dia sedang diluar rumah


Ternyata Jiah lebih dulu sampai dirumah sakit daripada Dio dan Joi, Jiah berlari ke IGD dan melihat semua orang menunggu disana


"mana kak Karin?", tanya Jiah panik


"masih didalam, duduklah dulu tenangkan dirimu", ucap Rara merangkul Jiah


Beberapa menit kemudian, Dio dan yang lainnya datang.


"dimana Riri? bagaimana keadaannya?", tanya Dio panik


"masih didalam tuan", jawab Geri


Dio dan Joi melihat baju Harry yang penuh darah, sudah bisa dipastikan itu adalah darah istrinya. Tentu saja Dio lemas dan akhirnya terduduk


Beberapa menit mereka menunggu, akhirnya dokter wanita itu keluar dari IGD dengan wajah sendu, lalu ranjang Riri didorong keluar dan akan dipindahkan ke ruang VVIP


Dio melihat wajah pucat Riri, dan baju Riri yang masih ada bekas darahnya. Dio lalu menghampiri dokter itu


"bagaimana kondisi Riri?", tanya Hardi


"maaf tuan, benturan yang terjadi diperutnya sangat keras, hingga membuat pendarahan hebat terjadi, ini menyebabkan gugurnya janin", ucap dokter itu


"tapi saya merasa ada yang perlu saya selidiki lagi, karena kasus nyonya Riri ini, sedikit... berbeda, akan saya beritahu lagi setelah kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut ya tuan, nyonya", ucap dokter itu lagi


"Riri hamil?", tanya Ningsih


"iya nyonya, apakah tidak tau?", tanya dokter itu


Domter itu lalu menatap mereka semua satu persatu


"apakah tidak ada yang tau bahwa Riri sedang hamil? nyonya? tuan?", tanya dokter itu lagi

__ADS_1


Dokter itu lalu terdiam sejenak, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka, hanya Rara yang menggelengkan kepalanya pelan. Dokter itu kemudian menutup mulutnya.


__ADS_2