
Mereka pun akhirnya berpencar, Riri dan Joi ke kanan, Varel dan Nicolas ke kiri, sedangkan Ara dan Fikri berjaga didekat pintu masuk, mereka juga memanggil beberapa bawahan yang dikirimkan Herman agar berjaga di dalam dan luar pintu masuk
......................
Dilain tempat, Dio dan Rendi yang berada dikantor sedang khawatir dengan keadaan Riri. Jantung mereka berdua berpacu sangat cepat sekarang.
Sebelum masuk kemarkas Alexa, Riri sudah memasang aplikasi penyadap di handphonenya, dia juga meletakkan alat penyadap di masing masing tas anggotanya, termasuk Ara dan Nicolas juga, dan semuanya terhubung ke laptop Dio. Tujuannya adalah agar Dio bisa memantau keadaan mereka jika saja tiba tiba berada diluar kendali
Riri memasang air buds ditelinganya agar dia bisa mendengar pengarahan dari Dio, sedetail itu Riri. Bagaimana pun juga, manusia bisa berubah wataknya jika dalam kondisi tertentu, Riri menyiapkan semuanya untuk berjaga jaga
"Mereka sudah masuk",, ucap Dio
"jantungku berdebar", ucap Rendi
"me too", ucap Dio
......................
Riri dan Joi menelusuri lorong sebelah kanan, mereka berdua melangkah dengan sangat perlahan dan hati hati, setelah berjalan beberapa langkah, mereka menemukan satu kamar di ujung lorong. Namun kamar itu dijaga oleh 2 orang bodyguard
"ah shitt!!", umpat Joi
"sepertinya ini kamar Alexa", ucap Riri
"sepertinya begitu", ucap Joi
"aku belum pernah membunuh orang kak, jantungku sedikit berdebar sekarang", ucap Riri
"apalagi aku? jangankan membunuh manusia, motong ayam pun aku ga tega, kau tau?!", jawab Joi kesal
"tapi kita harus melakukan ini demi menyelamatkan mama dan bundamu, juga ayahmu", ucap Joi
"baik kak", ucap Riri
Riri menatap ke Joi, lalu mengangguk
Dor!!
Dor!!
Dor!!
Dor!!!
Masing masing 2 tembakan dari Riri dan Joi yang diluncurkan begitu saja, berhasil membuat dua penjaga itu merenggang nyawa dan tergeletak dilantai seketika
"mereka mati?", tanya Joi
"menurut kakak? masih hidup setelah kita membuat dua peluru bersarang dikepala mereka?", tanya Riri
"kita masuk sekarang?", tanya Joi
"taun depan", ucap Riri kesal
Riri berdiri didepan pintu, dia menarik nafasnya secara perlahan lalu langsung mendobrak pintu itu, sementara Joi berjaga dibelakang Riri
Setelah pintu terbuka, Riri dan Joi dengan segera menodongkan pistol mereka. Namun ternyata kamar itu bukanlah kamar Alexa, itu adalah kamar...
"Riri?", ucap seorang wanita yang duduk dilantai
"si-siapa? bu-bunda?", tanya Riri terkejut
Yapp, itu adalah kamar tempat Ningsih, Siti dan Tio disekap, itu bukan kamar Alexa
Siti meringkuk dikantai dengan tangan dan kaki yang diikat, wajahnya lebam lembam, hingga Riri hampir tidak mengenalinya, itu seperti bukan wajah Siti. Namun Riri tidak menghiraukan pikirannya, dia berfikir itu adalah Siti walaupun wajahnya bengkak begitu
Riri segera berlari mendekati Siti, lalu membuka ikatan tangan dan kakinya dengan sangat tergesa gesa
"bunda harus segera keluar dari sini", ucap Riri lalu memeluk Siti
"bunda ga nyangka kamu datang kesini untuk menyelamatkan kami Ri", ucap Siti menangis
__ADS_1
"Riri tidak akan diam jika orang orang yang Riri sayangi diganggu bund", ucap Riri lalu menghapus air matanya
"kamu cepat selamatkan mama dan ayahmu", ucap Siti
"dimana mama dan ayah bund? kenapa kalian diletakkan terpisah?", tanya Joi
"tadinya kami diletakkan disatu tempat, namun mama mu memberontak dan marah marah karena mendengar ucapan Alexa yang mengatakan kalau dia ingin membunuhmu besok, jadi Alexa memerintahkan anak buahnya memindahkan mamamu keruangan lain", ucap Siti
"dimana ruangan itu?", tanya Joi
"mereka ada dilorong sebelah kiri, berlawanan arah dengan ruangan ini", ucap Siti
"baiklah, bunda pergi dengan kak Joi, cepat pergi dari sini ya bunda, aku akan menyelamatkan mama dan ayah", ucap Riri lalu membantu Siti untuk bangkit
"bun, dimana kamar Alexa?", tanya Joi
"ada didekat ruang tengah", jawab Siti
"kak, bawa bunda ke mobil dulu, suruh bawahan pak Herman menjaga bunda dimobil", ucap Riri
"lalu kau? bagaimana? harus kutinggalkan disini? sendirian? kau gila?", tanya Joi
"cepatlah bawa bunda, jangan buat usaha kita sia sia, setelah mengantar bunda, kembali lagi kesini, aku akan menunggu", ucap Riri
"kau ini...", ucap Joi
"cepat kak", potong Riri
Joi pun segera membantu Siti untuk berjalan dan mengarah kepintu keluar tadi, sementara Riri menelusuri kamar itu dengan pistol yang selalu setia di tangannya
Riri menggeledah kamar itu dan membuatnya menjadi sangat berantakan. Namun saat dia ingin membuka lemari, lemari tidak bisa terbuka. Karena Riri merasa itu tidak terlalu penting, dia pun pergi meninggalkan ruangan itu
......................
Disisi lain, Ara dan Fikri melihat Joi datang dengan membawa seseorang, mereka berdua pun segera bangkit dan menghampiri Joi.
"ini bunda, bawa dia kemobil dan jaga mobilnya dengan ketat, jangan sampai kita kecolongan", ucap Joi memberikan bunda kepada Fikri
"baik kak", ucap Fikri langsung membawa bunda keluar darisana
"Ara, kau ikut denganku, kita temani Riri", ucap Joi
"lalu mereka ini bagaimana? apakah tidak apa apa?", tanya Ara menunjuk kearah bodyguard yang pingsan itu
Joi menatap Ara sejenak, lalu dia mengeluarkan kotak hitam dari tasnya yang berisi banyak obat bius
"whoa", ucap Ara terkagum
"bantu aku menyuntikkan ini kemereka", ucap Joi
"baik",, ucap Ara
Ara segera melakukan perintah Joi, dia seperti menikmati ini, padahal sebelumnya dia cukup kesal, tapi semakin dia lakukan, sepertinya cukup menyenangkan baginya
"dimana Riri?", tanya Ara
"masih disana", jawab Joi
Ara hanya menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan kegiatannya. Setelah selesai merea berdua berniat menyusul Riri, namun ternyata Riri duluan muncul didepan mereka
"kau mengagetkanku Riri", pekik Ara yang terkejut melihat Riri tiba tiba didepan matanya
"ah iya, apakah Varel dan Nicolas sudah kembali?", tanya Riri
"belum", jawab Ara
"kita susul saja?", tanya Riri menatap Joi
"tentu saja", jawab Joi sambil membereskan kotak tempat obat bius itu
"tadi saat disana aku menemukan lemari yang tidak bisa dibuka kak, aku merasa ada sesuatu didalamnya, tapi apa ya?", tanya Riri
__ADS_1
"mungkin mamamu disana?", ucap Ara
"tidak, kata bunda mamaku diruangan lain", ucap Riri
"apakah kau yakin?", tanya Ara
Joi melirik ke Ara sejenak, dia merasa seperti ada yang aneh dengan ucapan Ara
"kenapa kau sepertinya tidak percaya?", tanya Joi
"maafkan aku jika lancang mengatakan ini, tapi aku merasa sedikit aneh", ucap Ara
"maksudmu?", tanya Riri bingung
"apakah kau tidak merasa aneh? kenapa bunda mu dan mama mu diletakkan diruangan yang berbeda? kan mereka sama sama tawanan juga", ucap Ara
"tadi bunda bilang katanya mamaku memberontak", ucap Riri
"benarkah? semoga hanya feelingku saja, jantungku berdebar cukup kencang sekarang", ucap Ara
"Ara, kau tidak mencoba mengadu domba kami disaat saat seperti ini kan?", tanya Joi sedikit bingung dengan ucapan Ara
"tentu saja tidak kak, aku tidak akan menyia-nyiakan nyawaku setelah diberi kesempatan untuk hidup lagi", jawab Ara cepat
Riri kemudian memikirkan ucapan Ara tadi, dia mencoba menelaah ucapan bundanya saat baru dibebaskan Riri tadi.
Sambil berfikir mereka ingin melanjutkan langkahnya dengan hati hati kearah lorong sebelah kiri tempat Nicolas dan Varel pergi tadi
"tunggu", ucap Riri tiba tiba
"ada apa?", tanya Joi
"kita cukup lama berada dilorong kanan, tapi kenapa Varel dan Nicolas belum kembali juga? bahkan hingga detik ini?", tanya Riri menatap Joi
Joi dan Ara saling menatap dan ikut berfikir dengan maksud ucapan Riri
"jika mereka memang tidak menemukan apapun, harusnya mereka sudah kembali sejak tadi, atau setidaknya bertemu dengan kita ditengah jalan", ucap Ara sambil berfikir
"apa mungkin?....", ucap Joi terpotong
Mereka bertiga menutup mulut dan membelalakkan matanya, terdiam dengan pikiran mereka masing masing
.
.
.
.
.
Sedikit Fun fact dari author:
Kalo boleh jujur, saat nulis bab ini dari akhir sampai awal, author ikut merinding dan deg deg-an cuy, seriusan π
Terkadang, sangking deg deg-an nya itu, sampe sampe ga sanggup untuk ngelanjutin nulis ini lagi. Harus nunggu sampe jantungnya aman dulu, baru lanjut nulisπ
Dan bukan cuma di bab ini aja, tapi di beberapa bab tertentu, ni jantung terasa ikut lari maraton juga :')
Author gatau apakah para pembaca yang membaca novel ini ikut deg deg-an juga atau ngga. Kemungkinan sih keknya ngga yakan? Karena mungkin itu emang cuma perasaan author doang.
Tapi author berharap kalau para pembaca juga ngerasain hal yang sama saat author menulis bab ini dan bab yang lain juga
Terima kasih atas dukungan kalian sejauh ini, author seneng banget, love youπ
Terus nantikan kelanjutan setiap eps ya guys, selalu uptade tiap hari kok, walaupun belakangan ini sibuk bngt dan cuma bisa up sehari 2X, tapi tetep diusahakan untuk nge up kelanjutan epsnya
Silahkan beri saran dan dukungan kalian lewat komentar, lalu tinggalkan like dan sekuntum bunga mawar untuk author
Thank you guys ππ¦
__ADS_1