
Dio dibuat amat sangat terkejut dengan cerita istrinya itu, sampai sampai wine itu menyembur dari mulutnya
"apa sayang? emas?", tanya Dio menganga
"iya sayang, hanya aku dan karyawan rahasiaku yang tau itu, kak Joi dan Fikri gatau karena mereka sudah pulang duluan", ucap Riri menenggak winenya
"karyawan rahasia? maksudmu sayang?", tanya Dio bingung
"nanti aku kenalkan", ucap Riri yang hanya dibalas anggukan dari Dio
Setelah selesai bercerita mereka juga menyelesaikan mandinya, ditambahkan dengan 1 ronde dari Dio.
Setelah selesai berpakaian mereka turun kelantai bawah, ternyata makanan yang diminta Riri tadi sudah tersedia dimeja makan.
*Flashback*
Saat akan mandi Dio menelfon pelayan rumahnya agar menyiapkan makanan yang diminta Riri tadi
Dio tidak ingin membuat istrinya menunggu makanan itu, bisa bisa Riri akan mengamuk lagi nanti
*Flashback off*
Riri duduk dimeja makan, dia hanya menggunakan kemeja putih oversize milik suaminya
"whoa... aku suka ini", ucap Riri menunjukkan steak dipiringnya
"makanlah sayang, kenyangin ya, kau sudah bekerja keras belakangan ini", ucap Dio mengacak acak rambut istrinya itu
Riri tersenyum manis kepada Dio, dia lalu melahap steak daging itu dengan sangat *****. Biasanya Riri tidak terlalu suka steak, tapi entah kenapa kali ini dia makan dengan sangat lahap, seperti begitu menginginkan makanan ini
Dio tersenyum melihat tingkah Riri, tingkah ini yang dia rindukan dari istrinya itu. Dio mengambilkan lagi potongan steak, lalu meletakkannya dipiring Riri
"apakah boleh aku makan lagi mas?", tanya Riri
"boleh saja, siapa yang akan melarang? makan saja sayangku, berat badanmu tidak akan bertambah hanya karena makan ini", ucap Dio
"kalau bertambah?", tanya Riri
"tidak masalah juga, aku tetap menyukaimu, dan selalu mencintaimu", jawab Dio tersenyum
Riri tersenyum, lalu memakan lagi steak yang sudah dipotongkan suaminya itu.
Setelah selesai makan, mereka bersantai dirooftop dengan beberapa desert yang dipesan Riri tadi.
Dio cukup bingung dengan Riri yang tidak seperti biasanya, istrinya itu biasanya sangat menjaga pola makannya dan memperhatikan defisit kalori disetiap makanan yang masuk kemulutnya
Tapi kali ini, Riri terus saja makan tanpa peduli berapa kalori yang masuk ke tubuhnya. Tapi Dio mengesampingkan pikiran itu, dia berfikir mungkin Riri memang sedang bersenang senang saja
...----------------...
Seminggu kemudian....
Suasana dirumah Riri sangat canggung bagi Jiah, dia masih takut Riri akan marah kepadanya. Sudah 3 hari sejak kepulangannya ke mansion Riri, tapi dia tidak sangat jarang bertemu Riri, saat sarapan Riri sudah pergi kerja lebih dulu dan saat makan malam Riri juga tidak ada dimeja makan karena dia terus bekerja diruang kerjanya
Jiah merasa gugup, jantungnya terus berdetak kencang, dia masih takut untuk menemui Riri, tapi dia juga tidak tahan jika harus diam diaman terus dengan Riri
Sebenarnya hanya Jiah yang canggung, Riri sendiri sering memperhatikan Jiah dari cctv dilaptopnya, dia juga tidak marah lagi dengan Jiah. Hanya saja, Riri menunggu Jiah sendiri yang datang kepadanya.
....
Hari ini Riri memutuskan untuk makan malam bersama dimeja makan, dia sudah menyuruh pelayannya untuk menyiapkan berbagai macam menu bertema daging sapi. Belakangan ini Riri sangat suka daging, dia tidak peduli dengan kalori atau timbangan badannya,, Riri juga lebih sering memakai pakaian suaminya daripada pakaiannya sendiri
Joi, Jiah dan Dio sudah menunggu dimeja makan, mereka cukup terkejut saat melihat begitu banyak makan dimeja makan. Tapi saat pelayan mengatakan bahwa itu adalah permintaan Riri, mereka hanya mengangguk angguk saja
"ada apa dengan istrimu? dia kan biasanya sangat anti dengan daging?", tanya Joi bingung
"kak Karin tidak suka daging?", tanya Jiah pelan
"iyaa, dulu Riri sangat tidak suka daging, dia akan mengamuk jika ada daging dimeja makan ini", ucap Joi
"lalu ini apa? ini semua kan daging", ucap Jiah menunjuk kemeja makan
__ADS_1
"jangankan kalian, aku juga bingung sebenarnya", ucap Dio
"dia bahkan lebih sering makan makanan manis, biasanya dia sangat memperhatikan setiap kalori yang masuk kemulutnya, tapi kini tidak lagi", sambung Dio
"ssttt dia datang", bisik Joi
Mereka semua langsung diam dan bersikap normal, Dio memotong steak kesukaan istrinya itu dipiringnya,
Riri turun dan berjalan kemeja makan menggunakan hoodie oversize milik suaminya dan hotpants yang tertutupi oleh hoodienya
"hello", ucap Riri tersenyum
"hello nyonya muda, kemana aja baru nongol", ucap Joi
"hello istriku, sini makan, aku sudah siapkan ini untuk istriku tercinta", ucap Dio menyerahkan piringnya ke Riri
"thankyou suamiku", ucap Riri mengecup pipi Dio
"kakak apa kabar? aku sibuk ngurus kerjaan kantor, jadi belum sempat bersantai", ucap Riri sambil makan
"ah begitu, ohiya... wanita itu... apa sekarang dia menjadi anggotamu juga?", tanya Dio sambil mengunyah
"yang mana?", tanya Riri bingung
"ah Basree?", tanya Riri
"aku tidak tau namanya", ucap Joi
"iya dia sekarang bekerja denganku, dan untukku", ucap Riri santai
"jika dia menolak?", tanya Dio
"ada kosekuensinya", jawab Riri
"dasar", ucap Dio
Riri hanya tersenyum, dia lalu melirik kearah Jiah yang sedaritadi diam
"Jiah? kau membenciku? aku menunggu jawabanmu beberapa hari ini, tapi kau tidak kunjung menemuiku, aku fikir aku tidak perlu menemuimu terlebih dahulu karena aku ingin menunggumu untuk mempersiapkan diri, tapi aku rasa aku salah, aku rasa kita saling tunggu menunggu satu sama lain", ucap Riri menatap Jiah
"kurasa aku benar, kita saling menunggu ya", ucap Riri yang hanya dibalas tatapan sendu dari Jiah
"maafkan aku jika membuatmu takut waktu itu, aku seharusnya tidak menunjukkan amarahku kepadamu, gara gara hari itu kau jadi membenciku dan sangat canggung denganku, padahal sebelumnya kau sangat mengkhawatirkan ku, aku minta maaf ya, Jiah", ucap Riri lalu tersenyum ke arah Jiah
"habiskan makananmu dan jangan menangis, jelekmu akan luntur jika menangis", ucap Riri memberikan sepotong daging miliknya kepiring Jiah
"btw, itu daging kesukaanku", ucap Riri sambil mengunyah
Riri melanjutkan makannya, lalu Jiah berdiri dari posisinya dan berlari kearah Riri, dia memeluk Riri dan menangis
"sudah kubilang jangan menangis", ucap Riri santai dan memeluk Jiah
"aku fikir kakak masih marah denganku, aku takut akan membuat kakak marah lagi saat melihatku", ucap Jiah
Riri justru tertawa mendengarnya, membuat Jiah kesal dan menghapus air matanya
"kenapa kakak tertawa", ucap Jiah kesal
"aku rasa kau tidak begitu, jika memang begitu tidak mungkin kau ada dimeja makan ini", ucap Riri
"benar juga", gumam Jiah
Riri mengambil sepotong daging lagi dan memasukkannya ke mulut Jiah
"tutup mulutmu dan makan sana, kita bicara lagi nanti diruang kerja kakak, okey?", ucap Riri
Jiah tidak menjawab dan hanya mengangguk, baginya Riri terlalu santai dan tenang daripada sebelumnya yang amarahnya sangat mengerikan
Mereka melanjutkan makannya lagi, Dio terus menambahkan daging kepiring milik istrinya, dia sangat suka melihat Riri makan dengan sangat lahap.
"kak, aku fikir kakak terlihat sedikit... agak... berisi", ucap Jiah melihat Riri
__ADS_1
"benarkah?", tanya Riri sedikit berfikir
"ini karena suamiku yang terus menambahkan daging kepiringku", ucap Riri santai sambil terus mengunyah
"tapi kau tidak menolaknya dan tetap memakannya", sindir Joi
"tentu saja, mana mungkin aku tolak", jawab Riri
Dio hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah Riri yang berdebat dengan kakaknya. Beberapa menit kemudian, mereka menyelesaikan makan malamnya, setelah bubar dari meja makan, Riri, Dio dan Joi pergi keruang kerja
Mereka membahas tentang perusahaan yang sudah menjadi milik Riri yang ada di Belanda. Jiah mengetuk pintu dan perlahan masuk keruang kerja Riri membawa tas berisi benda benda penting yang dilemparkan Riri saat dirumah sakit
Jiah meletakkan tas itu diatas meja kerja Riri
"apa ini Jiah?", tanya Riri yang kemudian mengeluarkan isinya satu persatu
"ah ini",, ucap Riri melihat jari manis Alexa yang sudah diresin
"kak, aku boleh bertanya?", tanya Jiah
"silahkan", ucap Riri
"apa itu benar benar jari mommy?", tanya Jiah
"em.. menurutmu?", tanya Riri balik
"sepertinya iya", jawab Jiah
Riri tersenyum, lalu mengeluarkan semua barang yang ada ditas itu dan menyusunnya dengan rapi dimejanya
"aku memang membunuh mommymu, tapi tidak dengan ini", ucap Riri menunjukkan pistol
"tidak merekam suaranya", ucap Riri menujukkan alat perekam suara
"ini juga bukan jari asli miliknya", ucap Riri menunjukkan jari itu
"aku memang membunuhnya dengan pisau tapi bukan pisau ini", ucap Riri menujukkan pisau
Jiah sedikit bergidik takut dengan Riri
"apakah kau marah denganku?", ucap Riri
"sedikit kak", ucap Jiah
"kalau begitu kau bisa menghukumku, akan aku terima", ucap Riri menyerahkan pisau itu
Tentu Jiah membelalakkan matanya dan sedikit mundur dengan kepala yang geleng geleng
"tidak kak tidak, bukan itu maksudku, aku hanya kesal karena aku sangat mengkhawatirkan kakak saat itu, tapi kakak justru marah denganku", ucap Jiah cepat
"kau tidak marah soal mommy mu?", tanya Riri
"tidak", jawab Jiah singkat
"why?", tanya Riri lagi
"dia pantas mendapatkannya atas semua perbuatannya selama ini ke kakak, dan keorang lain", ucap Jiah
"maaf ya", ucap Riri
"jangan minta maaf kak, aku yang harus minta maaf", ucap Jiah
"aku juga sudah menentukan jawabanku", ucap Jiah menegakkan badannya
Riri menunggu jawaban Jiah, dia sedikit tegang sekarang, begitu juga dengan Dio dan Joi yang sedaritadi diam mendengarkan percakapan dua orang itu dari sudut sofa
"aku akan hidup sebagai adik kakak, aku ingin bersama kakak", ucap Jiah menegakkan badannya
Mereka semua menghela nafas lega, Riri tersenyum dan memeluk Jiah
"terima kasih atas pilihan dan jawabanmu", ucap Riri
__ADS_1
"sama sama kak", ucap Jiah
Malam itu diakhiri dengan tawa ria mereka berempat diruang kerja Dio. Akhirnya mereka kembali berdamai, kini hanya tinggal urusan orang tua Riri.