CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.38 Saling Kenal


__ADS_3

*Flashback On*


Saat perjalanan kearah parkiran, Rendi dan Nita sama sama gugup, ingin bicara tapi masih gengsi


"em.. aku belum tau namamu", ucap Rendi gugup


"namaku? oh namaku Anita Zahfira", ucap Nita berusaha menyembunyikan kegugupannya itu


"aku Rendi", ucap Rendi


"Rendi gitu aja?", tanya Nita menatap Rendi


"iya Rendi gitu aja", ucap Rendi yang juga menatap Nita


"singkat banget ya namamu", ucap Nita tertawa


Dan disitulah obrolan mereka dimulai, tanpa terasa akhirnya diparkiran. Rendi membuka bagasi mobil Riri dan menemukan paperbag yang dibilang Riri tadi


"wah banyak banget, apa nih?", tanya Nita sambil nutup mulutnya


"iya memang banyak, kemarin nona Riri belanja banyak, katanya untuk kawan kawannya dikantor", ucap Rendi


"gumush banget si Ri", ucap Nita lalu mengambil paperbagnya, tapi tangannya ga muat untuk ngambil semuanya


"sini biar aku aja",, ucap Rendi


"ah ngga gausa, aku bisa kok", ucap Nita, tapi tiba tiba kakinya terpelekok, karena pakai high heels, nita kehilangan keseimbangannya dan hampir jatuh


Tapi Rendi dengan cekatan menampung punggung Nita, dan tatapan mereka bertemu. Jarak antara dua tubuh itu sangat lah dekat, Nita mengalungkan tangannya dileher Rendi. Membuat jantung keduanya berpacu sangat cepat


"cantik", gumam Rendi yang sedaritadi enggan melepas posisi nya itu


Nita yang mendengarnya pun langsung blushing pipinya, Rendi melihat itu lalu melepas posisinya


"kamu kenapa? apakah demam? kok pipimu merona gitu?", tanya Rendi polos lalu menyentuh dahi Nita


"a-aku ti-tidak apa apa",, ucap Nita gugup


Lalu Nita berusaha berjalan tapi kakinya terpelekok lagi, dan lagi lagi Rendi cepat menampungnya, tapi kali ini Rendi seperti memeluk dari belakang


"harusnya hati hati Nit", ucap Rendi pelan lalu menggendong Nita ala bridal style dan meletakkannya di kursi depan


"ma-mau ngapai?", tanya Nita gugup melihat Rendi berjongkok didepannya dan memegang kakinya


"mau memijit kakimu sebentar",, ucap Rendi tanpa melihat Nita


Nita diam tak merespon, dia terus melihat Rendi yang sedang memijit kakinya


"tenanglah, rileks saja, aku bukan orang mesum", ucap Rendi tersenyum menatap Nita, karena sadar dia sedang diperhatikan


"apakah sudah hilang sakitnya?", tanya Rendi


"sudah, terima kasih banyak ya", ucap Nita tersenyum


"kenapa karyawan nona Riri yang satu ini sangat cantik?", gumam Rendi masih menatap Nita


"terima kasih", ucap Nita mendengar gumaman Rendi


"kau mendengarnya?", tanya Rendi


"tentu saja, wajahmu didepan wajahku, bagaimana bisa aku tidak mendengarnya? pendengaran ku masih berfungsi dengan baik", ucap Nita


"kalau begitu tuliskan nomor telfonmu, aku ingin bertemu lagi denganmu diluar kantor", ceplos Rendi


"kenapa aku bisa begini? biasanya aku sangat canggung dengan wanita", batin Rendi


"baiklah, beri aku kertas dan penanya", jawab Nita gugup


Rendi memberi kertas dan pena, Nita menulis nomornya disitu dan disimpan baik baik oleh Rendi


"terima kasih", ucap Rendi yang di balas senyuman dari Nita


Mereka pun kembali kekantor dengan membawa paperbag yang banyak itu


"aku akan kembali kekantorku, pekerjaanku sudah menunggu", ucap Rendi ke Nita


"em baiklah, hati hati ya Ren", ucap Nita tersenyum

__ADS_1


"em terima kasih",, ucap Rendi berbalik badan, tapi langkah nya terhenti karena Nita menggenggam tangannya


"kenapa?", tanya Rendi


"semangat kerjanya", bisik Nita


Blushh!!


Pipi Rendi memerah dan tersenyum salah tingkah,


"jantungku ini kenapa ya kok deg deg an aja", batin Rendi


"terima kasih, kamu juga ya, fighting!", ucap Rendi tersenyum lalu pergi kekantornya


Selama dimobil dia sangatlah bahagia mengingat pertemuannya dengan Nita tadi, dia terus tersenyum dan menatap nomor Nita yang dia pegang


*Flashback Off*


Geri menyetir mobil dan disampingnya duduk seorang gadis yang sedang gelisah tak menentu. Sedangkan dikursi belakang ada dua nona dan tuannya yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Rara, kau tidak apa apa kan? jika belum mau pulang, aku akan putar balik mobilnya", ucap Geri


Riri yang mendengar itupun langsung memindahkan laptopnya ke paha Dio


"Ra, kau kenapa? atau kita pulang saja ya?", tanya Riri mendekati Rara


"aku gapapa Ri, cuma takut papaku marah", ucap Rara


"ga akan marah, nanti aku bantu bicara", ucap Riri mengelus pundak Rara, Rara pun merasa sedikit tenang


Lalu Riri kembali berkutik dengan laptopnya. Riri dan Dio selalu berdebat jika mengenai masalah pekerjaan, dan fashion.


Selera Dio adalah barang barang mahal nan mewah dengan harga yang fantastis. Sedangkan Riri, walaupun dia suka dengan barang mewah, tapi dia adalah pecinta dan pemburu diskonan. Lebih suka hal sederhana daripada harus buang buang uang untuk barang yang belum tentu berguna.


"sayang, uangmu itu banyak, gausa terlalu pelit, kau terus memburu diskonan saat berbelanja online mau pun offline",, ucap Dio


"aku memang suka diskonan kak, kalau ada yang murah untuk apa beli yang mahal? kecuali memang wajib dan harus", ucap Riri


"jika kau tidak mau uangmu berkurang, kau bisa pakai blackcard milikku, Riri sayang", ucap Dio mencubit pipi Riri, dia sangat gemas melihat Riri terus mengutak atik laptopnya untuk mencari barang barang diskon, itu sangat risih dimatanya


"baiklah, besok aku mau ke mall, mana blackcard mu? sini!", ucap Riri


"nih, pakailah, puaskan belanjamu tapi jangan beli diskonan", ucap Dio menyerahkan blackcard nya


"terserahku, wlekk", ucap Riri mengejek


"kalau saja tidak ada Geri dan Rara disini, sudah ku terkam kau sayang", ucap Rendi menatap Riri


Setelah perdebatan cukup panjang dengan Dio, akhirnya mobil Riri sampai disebuah rumah mewah milik keluarga Rara


"aku seperti kenal tempat ini", ucap Dio


"apa kau pernah kesini?", tanya Rara


"ntahla, lupa", ucap Dio


Kedatangan mereka disambut oleh salah satu pelayan di rumah mewah itu


"nona Aurora? sudah pulang non?", ucap Bi nining


"sudah Bi, papa mana?", tanya Rara


"ada diruang TV non", jawab Bi nining


"kenapa dia dipanggil Aurora? bukankah namanya Rara?", bisik Dio ke Riri.


"Rara itu dia pakai saat pertama kali bertemu denganku, karena namaku Riri, dia pakai nama Rara, begitu", bisik Riri


"mari non, tuan, silahkan masuk", ucap Bi nining


"iya bi", jawab Riri tersenyum, lalu mereka masuk


"kau kenapa Ger?", tanya Dio yang melihat wajah Geri pucat


"sepertinya saya masuk ke kandang singa tuan", bisik Geri


"maksudmu?", tanya Dio. tapi tak kunjung dijawab Geri

__ADS_1


Mereka melangkah masuk ke ruang TV, terlihat seseorang yang sedang duduk disofa, lalu menoleh kebelakang saat mendengar ada yang masuk


"Aurora? kau sudah sampai?", tanya pak Herman lalu berjalan kearah Rara


"papa", ucap Rara lalu memeluk papanya


Riri melihat pemandangan itu meneteskan air mata, dia juga ingin sekali merasakan momen itu juga, ntah kenapa dadanya terasa sesak sekarang, Dio yang paham langsung merangkul pundak Riri dan mengelus lengannya


Rara yang tersadar akan keberadaan Riri langsung melepaskan pelukan dari papanya.


"pa, aku bawa teman, mereka yang nemenin aku", ucap Rara


Herman langsung melihat kearah Dio Riri dan Geri


"Geri?", tanya Herman


"om Herman?", tanya Geri


"papa kenal?", tanya Rara bingung


"Ger, kau kenal dengan papa Rara?", tanya Riri


"Riri? kau kah itu?", tanya Herman


"om kenal dengan tunangan saya?", tanya Dio


"Diovano? tunangan?", tanya Herman


"papa kenal Riri?", tanya Rara


"siapa Rara? tadi dia menyebut nama Rara?", tanya Herman


"hah? gimana sih ini maksudnya?", tanya Riri


Mereka semua bingung dan saling menatap satu sama lain. Lalu Herman membawa mereka keruang kerjanya dan menjelaskan semuanya.


"hah?!!", ucap Rara, Riri, dan Dio secara serentak, mereka terkejut saat mengetahui Geri adalah orang yang akan dijodohkan dengan Rara


"benarkah itu Ger? kenapa ga bilang ke aku kalau Rara ini mau dijodohkan denganmu?", tanya Riri


"saya sendiri gatau non kalau gadis itu adalah Rara, karena saya cuma ketemu dengan om Herman", ucap Geri menggaruk kepalanya


"wah", ucap Dio dan Riri tak percaya dan saling menatap


"lalu, bagaimana om bisa kenal Riri dan Dio?", tanya Rara


"tentu saja kenal, kakek Riri adalah rekan bisnis papa, dan papa Dio adalah teman papa, kami bertiga rekan bisnis", ucap Herman


"lalu kenapa bisa menjodohkanku dengan Geri?", tanya Rara lagi


"Aku melihat Geri adalah orang kepercayaan pak Wahid yang sangat bekerja keras, jujur dan sopan santun, aku ingin dia jadi mantuku", ucap Herman


Rara hanya diam, begitu juga dengan Geri


"sekarang giliran papa bertanya, siapa itu Rara?", tanya Herman


"aku pa", ucap Rara


"hah?", tanya Herman bingung


"karena bertemu dengan Riri aku juga minta dipanggil Rara, nama Riri adalah Karina, namaku adalah Aurora, jadi singkat saja, Riri, Rara", ucap Rara


Herman tertawa mendengar penjelasan putrinya itu,


"jadi gimana? kalian setuju?", tanya Herman


Rara dan Geri saling menatap, mencari jawaban dimata mereka


"yasudah, pdkt aja dulu, jawabnya nanti saja, kita ngobrol dulu", ucap Herman


Mereka pun mengobrol bersama, seputar bisnis dan juga perkembangan perusahaan mereka. Herman tak henti hentinya memuji Riri dan Dio, karena dua perusahaan itu sangatlah berkembang pesat saat berada di tangan mereka


Setelah merasa cukup mengobrol, merekapun pamit pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2