CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.24 Pertemuan Pertama Dengan Calon Mertua


__ADS_3

Belum selesai mengobrol, Riri ingin melihat penampilan baru Mall yang akan dibuka yang merupakan proyek besar perusahaan mereka. Rendi menunjukkan visualnya dan berkas berkasnya melalui komputer Dio, Riri pun memeriksa dengan sangat teliti setiap incinya, sementara 4 lelaki itu hanya duduk disofa mendengar ocehan dan pertanyaan pertanyaan dari Riri


"seperti itukah dia saat bekerja?", bisik Dio


"iya tuan, bahkan itu bukan apa apa tuan", ucap Geri


"silahkan mengghibah diluar ruangan, aku bisa mendengar kalian semua", ucap Riri datar masih fokus ke komputer Dio


Riri menggunakan headphone ditelinganya, dan kembali fokus ke komputer itu. Dia memeriksa semuanya dan terlihat mencocokkan dengan pekerjaannya dikantornya


Tiba tiba ruangan Dio terbuka, Dio Rendi Geri dan Harry terkejut melihat orang tua Dio ada disini sekarang, sementara Riri yang tidak mendengar dan tidak melihat karena fokus ke komputernya, tidak bergeming dari posisinya


"mama papa? tumben datang kesini? ada apa?", tanya Dio santai, sementara Rendi Geri dan Harry masih berdiri takut karena berani minum teh bareng di ruangan bosnya


"kalian duduklah, tak apa, aku tidak akan menelan kalian hidup hidup", ucap pak Hardi


"mamamu memaksa ingin datang kesini setelah mendengar kabar bahwa ada tamu istimewa dikantor ini hingga putraku berani merangkulkan tangan dipinggang tamu tersebut", lanjutnya


Keempat lelaki itu menelan ludah lalu memandang kearah bos nya


"benarkah itu Dio?", tanya Shila selaku mama Dio


"dia pacarku", ucap Dio datar


"kalau begitu perkenalkan kekami tamu istimewa yang merupakan pacarmu itu Diovano Putra Wira Anggara", ucap Shila antusias, dia sangat senang mendengar berita ini, terlebih saat tau bahwa calon mantu nya itu adalah Riri


Mata Dio dan anak buahnya memandang kearah meja kerja Dio, mereka hampir lupa kalau ada Riri diruangan ini, Shila dan Hardi pun ikut memandang kearah meja kerja Dio


Ada seorang gadis yang sedang fokus bekerja dibalik komputer itu, dan sepertinya tidak menyadari ada tamu tambahan diruangan Dio


"ma pa, dia pake headphone ditelinganya karena aku dan yang lain berisik tadi, jadi dia gamau terganggu", ucap Dio


"tidak masalah, aku bisa melihat itu dikepalanya", ucap Hardi tersenyum


"aku akan memanggilnya dulu", ucap Dio, namun terhenti karena Riri bersuara


"sayang ini gimana sih kok bisa selisihnya banyak begini, aku sudah menghitung lebih dari 5 kali tapi hasil yang benar adalah milikku", omel Riri kesal, Dio pun berjalan kearahnya


"ah ini laporan Rendi, aku akan memarahinya karena sangat ceroboh dalam pekerjaannya", ucap Dio


"kenapa bawa bawa aku sih ni ya tuhan", batin Rendi


Riri memutar kursinya dan berbalik badan yang sedaritadi menatap komputer, menjadi menatap tajam kearah pacarnya itu

__ADS_1


"sayangku", ucap Riri pelan


"em?", tanya Dio bingung, dia tau Riri akan marah


"kita harus tetap mengakui kesalahan kita sekecil apapun itu, karena itu adalah suatu bentuk tanggung jawab dari diri kita sendiri, bagaimana jika aku tidak mengakui kesalahanku seperti yang sekarang kakak lakukan?", ucap Riri lembut yang berhasil membuat kedua orang tua Dio tersenyum bahagia dan para sekretaris yang ada disitu menahan tawa melihat wajah Dio.


"baiklah baiklah aku salah", ucap Dio pasrah


"baguslah", ucap Riri tertawa senang


"sayang bukankah tadi kau berkata ingin berkenalan dengan orang tua ku?", tanya Dio


"sejujurnya disatu sisi aku ingin bertemu dengan orang tua pacarku, tapi disisi lain, aku takut", ucap Riri menghela nafas


Dio mendekatinya dan berjongkok didepan Riri yang masih duduk dikursi


"kenapa takut sayangku? apa yang ditakutkan?", tanya Dio sambil memegang tangan Riri


"aku belum pernah bertemu atau dikenalkan dengan orang tua pacarku, aku takut orang tua kakak ga suka sama ku, mengingat umurku yang masih sangat muda, jauh dari kakak, terlebih lagi melihat kesuksesan dan juga visual dari Divano Putra, aku takut orang tua kakak sudah punya pilihan sendiri untuk kakak", ucap Riri


"aku juga takut jika akan menghadapi pertanyaan dari orang tua kakak mengenai keluargaku, aku belum siap membuka luka lama itu lagi", ucap Riri menunduk


Deg!


Dio memeluk Riri dan menghadap orang tuanya, dia memberi kode kepada para sekretarisnya itu agar keluar dari ruangan. Mereka pun paham dan beranjak pergi. Sementara orang tua Dio memberi kode agar membawa Riri kepada mereka dan juga tersenyum


"tenanglah sayangku, orang tua ku tidak akan menanyakan itu semua, mereka akan menyukaimu", ucap Dio melihat kode orang tua nya dan melepas pelukan nya dari Riri


"kenapa kakak begitu yakin?", tanya Riri pelan dan masih menunduk


"ayo berdiri, aku ingin menunjukkan sesuatu",, ucap Dio membantu Riri berdiri, lalu Riri membalikkan badannya, dan Jreng!


"astaghfirullah!", ucap Riri terkejut melihat ada tamu tambahan diruangannya, sementara para sekretarisnya itu ntah hilang kemana


"sini akan ku jelaskan", ucap Dio menarik tangan Riri dan berjalan mendekati orang tua nya


"Riri, ini orang tua ku", ucap Dio berhasil membuat mata Riri hampir copot


"hah?", ucap Riri spontan menatap Dio dan menutup mulut nya


"haha gapapa Riri, sini duduk disebelah mama", ucap Shila dengan lembut menarik Riri dan membuatnya duduk disampingnya


Mendengar kata 'mama', ntah kenapa membuat Riri terasa sedikit tenang, dia merasa seperti sangat familiar dengan suara dan sebutan dari wanita disampingnya. Riri terus menatap wajah Shila dan Hardi, Riri merasakan sesuatu yang sangat familiar didalam hatinya

__ADS_1


"apa ini? de ja vu? aku seperti pernah mengalami ini sebelumnya, tapi... kapan?", batin Riri


Mata Riri terus menunjukkan beribu pertanyaan yang muncul di kepalanya. Shila dan Hardi mengerti situasi, Shila mengelus lembut rambut Riri


"rambutmu sangat indah sayang", ucap Shila mengelus rambut Riri dengan lembut.


"aku seperti pernah mendengar ini, sentuhan ini begitu familiar dan hangat bagiku", batin Riri


"panggil saja aku papa dan istriku mama, jangan sungkan dengan ku", ucap Hardi tersenyum dan mengelus rambut Riri


"papa?", tanya Riri, tiba tiba pandangan Riri kosong, dia seperti melihat kilasan balik masa lalu dikepalanya


"papa? papa pa...", ucap Riri terpotong karena seperti merasakan ada suara melengking menusuk ke telinganya dan kepalanya menjadi sangat sakit tiba tiba


Riri meringis kesakitan memegang kepalanya dan hidungnya mengeluarkan darah. Dio, Hardi dan Shila panik melihat Riri. Tak lama kemudian Riri pun hilang kesadarannya


"Bawa kerumah sakit sekarang, kami akan menyusul", ucap Hardi,


Dio pun menggendong Riri dan berlari ke arah lift, sementara Hardi menelfon Rendi agar segera menyiapkan mobil dan memberi tau kondisi Riri


Rendi, Geri dan Harry panik berlari keluar menyusul Dio melalui tangga karena akan sangat lama jika menunggu lift. Rendi segera menyiapkan mobil dan menunggu di lobi


"Geri, Harry, kalian bawa orang tua tuan Dio ya ke rumah sakit", ucap Rendi masuk ke mobil,


Geri dan Harry segera menyiapkan mobil untuk orang tua Dio. Dio pun datang membawa Riri ditangannya


"rumah sakit Ren, cepat", ucap Dio panik tak karuan melihat Riri drop tiba tiba,. ntah apa penyebabnya juga belum pasti, padahal tadi baik baik saja


Setelah sampai dirumah sakit, dokter Fira yang kini sudah menjadi dokter pribadi Riri pun ikut panik melihat Riri, dan segera menangani Riri. Orang tua Dio datang dan ikut panik, terutama Shila, dia menangis melihat Riri drop tiba tiba


.


.


.


Kira kira apa yang dilihat Riri didalam kilasan balik dari masa lalunya sampai jadi drop begitu? Nantikan terus episode selanjutnya ya


makasih udah mampir kesini :)


stay safety ya guys :)


bye bye >•<

__ADS_1


__ADS_2