CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
2.7 Gadis Misterius


__ADS_3

Setelah penerbangan cukup lama, akhirnya mereka sampai di bandara, mereka turun membawa kopernya masing masing. Riri dan Dio turun dengan membawa bayi kembar mereka, sementara baby sisternya membawa barang barang lain berserta dengan beberapa bodygurad mereka.


Mobil mobil mewah sudah berjejer untuk menyambut mereka, mereka semua segera memasuki mobil dan berangkat menuju villa untuk beristirahat karena waktu di Pulau Jeju sudah hampir malam.


Hardi sudah menyiapkan masing masing villa untuk mereka beristirahat, dia sangat tau menantunya itu sangat sensitif jika berada dikeramaian. Oleh karena itu dia membagi tempat tinggal mereka, Hardi dan istrinya tinggal di villa pertama bersama dengan Ningsih Tio, dan semua bodyguard mereka


Sementara di villa kedua, ada Riri, Dio, Joi, Jiah, Eni, Dila, Rendi, Nita dan Harry. Awalnya Riri hanya ingin bersama dengan Dio dan anak anaknya saja di villa itu, namun ternyata villa yang satu lagi sudah ditempati oleh orang lain, jadi akhirnya Riri harus tinggal di villa kedua bersama dengan yang lainnya.


Setelah membereskan barang barang, mereka turun kebawah untuk mempersiapkan makan malam. Orang orang dari villa pertama pergi ke villa kedua untuk makan malam bersama, karena memang di villa Riri ini lebih luas tempatnya.


Suasana di villa itu begitu ramai, ada yang sedang memasak didapur, ada yang sedang bermain game online, ada juga yang sedang berberes barang barang mereka, ada juga yang sedang berdebat untuk menyiapkan makanan dan minuman.


Sementara Riri masih setia berada dikamarnya, dia belum ingin keluar dari kamar, dia hanya berbaring di ranjang memandangi anak anaknya yang sedang tertidur lelap. Sesekali Riri memotret anak anaknya itu, dia sangat gemas dengan pipi bayinya


"kenapa pipi mereka mirip denganku ya?", tanya Riri sambil mengelus pipi Icezy, lalu mengelus pipi nya sendiri


"tuh kan mirip, Baby Flow juga mirip nih", ucap Riri saat mengelus pipi Flow


"namanya juga mommynya non", sahut Eni yang sedang berberes pakaian Baby twins


"tapi gemoy banget bisa mirip gini", jawab Riri tertawa kecil


"Eni, menurutmu aku harus kurusin badan lagi ga?", tanya Riri


"saya rasa sih ga perlu non, badan nona juga ga berubah sama sekali walaupun udah punya dua buntut",, jawab Eni sambil tersenyum


Tapi Riri justru memasang raut wajah bingung dengan jawaban Eni, dia tidak tau maksud dari '2 buntut'.


"2 buntut itu istilah orang Indonesia untuk mereka yang udah punya anak non", jelas Eni


"oh gitu toh... kok aku gatau ya?", jawab Riri mengangguk anggukkan kepalanya


"non Riri mah mau postur tubuh gimana aja juga tetep cantik", sahut Dila


"iyaa cantiknya nurun banget ke baby twins, apalagi Icezy mirip banget sama non Riri", sahut Eni


Riri tertawa senang mendengsr sahutan dari Eni dan Dila, dia menanyai lagi pendapat dua beby sister itu dan belajar banyak dari mereka untuk mengurus anak anaknya agar lebih baik lagi.


"ngobrol apa sayang?", tanya Dio yang baru masuk kekamar


"eh mas? ini gosipin anak anak", jawab Riri tertawa


"senang banget kamu ya", ucap Dio yang gemas lalu mengacak acak rambut Riri


"oiya Eni, Dila, kalian bisa kan jagain Icezy dan Flow sebentar? aku ingin mengajak istriku menghirup udara segar diluar", tanya Dio kepada 2 baby sister itu

__ADS_1


"bisa tuan, tenang saja", jawab Eni


"baiklah kalau begitu, titip anak anak ya, jangan diberi kesiapapun kecuali kak Joi atau Jiah", perintah Dio


"beres tuan", jawab Dila


"yuk sayang", ucap Dio menggandeng tangan istrinya itu lalu mengecupnya


Pipi Riri merona karena perlakuan manis suaminya, senyumnya merekah seperti bunga mawar yang sedang mekar. Mereka lalu pergi dari kamar dan juga keluar dari villa. Dio mengajaknya kepinggiran pantai, hanya mereka berdua dengan 2 kotak susu ditangan Dio


"ah.. leganya mas, sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku menikmati angin malam di pantai seperti ini", ucap Riri menghela nafasnya


"nikmati waktu kita sayang, memanjakan diri itu penting", ucap Dio yang juga menghela nafas


Riri tertawa lalu berteriak keras untuk melepaskan semua bebannya, begitu juga Dio yang mengikuti jejak istrinya.


Sementara sepasang suami istri itu sedang berteriak kencang dan tertawa lepas, ada sepasang mata gadis yang melihat mereka dari kejauhan.


"serasi banget ya mereka (bahasa Korea)", gumam gadis itu pelan lalu kembali meluruskan pandangannya kearah pantai


Belasan menit berlalu, Riri dan Dio masih setia duduk ditempat mereka tadi, saling bercerita dan melepaskan beban mereka selama ini.


"mas, jadi sebenarnya siapa pelaku dibalik bangkrutnya perusahaan rival kita?", tanya Riri yang masih berada dipelukan suaminya


"hm? ah itu... tentu saja itu ulah sekretaris kesayanganmu itu sayang", jawab Dio sambik tertawa kecil


"dua duanya sayangku, ah Rendi juga ikut turun tangan sih biasanya", jawab Dio


"mas aku ngerasa belakangan ini terlalu santai, ga ngurusin perusahaan", ucap Riri


"fokus aja ke anak anak sayang, perusahaanmu diambil alih Geri dan dibawah pengawasan mas juga, tenang aja", jawab Dio


"aww...",


Suara teriakan kecil seorang gadis mengejutkan Riri dan Dio, mereka segera berdiri dan menoleh kebelakang. Ternyata gadis yang tadi mengamati mereka sudah ada dibelakang mereka dan tidak sengaja mendengar percakapan Riri dan Dio


"neo nuguseo? (kamu siapa?)", tanya Riri


"kamu bisa bahasa Korea sayang?", tanya Dio lalu dijawab anggukan dari Riri, lalu mereka fokus lagi ke gadis itu


Gadis itu berusaha berdiri karena terjatuh tadi, lalu melihat kearah Riri dan Dio hingga wajahnya terlihat jelas. Namun keanehan terjadi, tak hanya Riri, tapi gadis itu juga sama terkejutnya saat mereka saling berhadapan


"Gia oennie? (kakak Gia?)", tanya gadis itu pelan dengan jari telunjuknya mengarah ke Riri


"joesonghabnida, dangsin-eun nugu-ibnikka (maaf, anda siapa?)", tanya Dio

__ADS_1


"Joesonghabnida.. (maafkan saya)", ucap gadis itu lalu melesat pergi menjauh dari Riri dan Dio


"dia.. mas itu..", ucap Riri lalu tersadar dari lamunannya


"itu siapa sayang? tadi dia memanggilmu dengan nama Gia?", tanya Dio


"hanya ada 1 orang yang berani memanggilku dengan nama itu mas, dan orang itu sudah pergi beberapa tahun lalu", jawab Riri yang masih berfikir


"nona Riri!", panggil Harry dari kejauhan sambil berlari kearah Riri dan Dio


Riri menoleh kearah Harry, lalu seketika kepalanya menjadi pusing karena kilasan kilasan masa lalu kembali menghantuinya seketika itu juga. Dio dengan cekatan menampung tubuh istrinya, begitu juga dengan Harry yang ikut khawatir.


"ada apa sayang? kamu kenapa?", tanya Dio


"non, nona kenapa? ada apa tuan?", tanya Harry


"tidak ada Har, tidak apa apa, kaki ku salah pijak tadi", jawab Riri beralasan sambil meremas lengan suaminya dan tersenyum canggung


"yakin non? apa saya panggilkan dokter Fira saja? atau gimana non?", tanya Harry


"tidak Harry, tidak perlu, ohiya ada apa tiba tiba kesini?", tanya Riri balik


"ah itu non, saya mau bilang Icezy dan Flow sudah bangun, sekarang lagi main sama tuan Joi dan Jiah", jawab Harry


"benarkah? ah baiklah, jangan bawa anak anakku keluar villa ya, soalnya cuacanya dingin banget diluar", ucap Riri


"baik non, saya permisi dulu ya", ucap Harry


"oke, langsung masuk ke villa ya, jangan kemana mana lagi", sahut Riri


"baik non", jawab Harry lalu meluncur pergi dari sana. Sementara Dio kebingungan dengan sikap istrinya


"dia bukan anak kecil sayang, tidak perku dibilangin begitu", sahut Dio


"mas, kita cari gadis tadi", ucap Riri


"kenapa sayang? emang dia siapa dan kenapa bisa kenal kamu?", tanya Dio


"akan aku beri tahu diperjalanan", jawab Riri


"mas ambil kunci mobil dulu kalau begitu", ucap Dio


"kita jalan aja mas", ucap Riri menahan tangan suaminya


"jangan macem deh sayangku, kamu ga boleh capek, udah tunggu disini, mas ambil mobil sebentar aja kok", ucap Dio

__ADS_1


Riri kemudian mengangguk dan kembali duduk sambil menunggu suaminya datang kembali bersama mobil mereka


__ADS_2