
Setelah keadaan Riri tenang, dia bertanya kepada Jiah tentang kejadian lengkapnya. Nita cukup terkejut mendengar cerita Jiah
"apa katamu? Rendi juga ada disana?", tanya Nita melotot
Jiah mengangguk pelan, sedikit takut melihat ekspresi Nita, Jiah adalah tipe orang yang penakut saat melihat orang lain marah
"dan Rendi diam saja?!", tanya Nita menaikkan nada bicaranya
Jiah mengangguk lagi, yang berhasil membuat Nita marah besar, dia langsung menelfon Rendi dan menyuruhnya datang keapartemennya
Riri hanya diam, hatinya terasa sakit, perutnya juga ikut sakit. Riri mengelus lembut perutnya
"jika dia memang masih memiliki perasaan terhadap wanita itu, lalu aku ini dianggap apa? penghangat ranjang? pemuas *****? apakah dia benar benar mencintaiku? apakah memang ada cinta dihatinya untukku?", ucap Riri
Joi hanya diam menatap sedih kearah Riri, mengingat ucapan Dio yang mengatakan bahwa mereka berhubungan hampir setiap hari, jelas saja jika Riri mengatakan itu
Beberapa menit kemudian Rendi datang ke apartemen Nita, Rendi terkejut melihat Riri ada disana, dia lebih terkejut lagi saat Nita marah dengannya dan menamparnya
"dengan kau diam dan tidak melarangnya, itu sama saja seperti kau menghianatiku", ucap Nita
"Nit, sudahlah, ini masalahku dengan Dio, dia hanya sekretaris, sama seperti Jiah yang hanya adikku, tidak mungkin bagi mereka untuk mencampuri urusan rumah tanggaku", ucap Riri memegang tangan Nita
"maafkan aku non, aku benar benar minta maaf, aku lebih baik tidak ikut malam itu daripada harus menjadi saksi kejadian itu, aku juga merasa bersalah terhadap Nita, terhadap non Riri juga, maafkan aku", ucap Rendi berlutut didepan Riri
Sedangkan Nita juga ikut marah, hatinya sangat sakit, dia benar benar seperti merasakan apa yang dirasakan Riri.
"sudahlah jangan minta maaf" ucap Riri
"non Riri ga boleh lemah, non Riri harus melawan gadis itu, dia tidak tau jika tuan Dio sudah menikah dan menganggap hubungan mereka masih berlanjut, karena itu dia langsung mencium tuan begitu saja", ucap Rendi
Mata Riri langsung berubah, tangisannya kini berubah menjadi amarah, api amarah, kecewa dan cemburu bercampur aduk dan menyelimuti hatinya. Mereka semua melihat perubahan ekspresi Riri, Jiah menjadi takut melihat itu, dia langsung paham dengan mata itu, mata yang sama saat dirumah sakit beberapa minggu lalu setelah Riri membunuh mommynya
"terima kasih infonya Ren", ucap Riri
Riri mengambil handphonenya dan menelfon Varel
"bagaimana?", tanya Riri
Varel menjelaskan secara detail dengan semua jawab yang dia dan Koko dapatkan. Ternyata benar, gadis itu tidak tau jika Dio sudah menikah.
Koko juga berhasil meretas cctv disekitar cafe itu dan mengambil rekaman saat Dio dan gadis itu berciuman.
"benarkah? baguslah, tidak sia sia aku memungutmu", ucap Riri yang tersenyum mendengar itu
Koko juga memberi tahu bahwa Rendi dan Jiah ada di TKP
"lalu apalagi?", tanya Riri
Varel memberitahu nama paparazi yang berhasil mengabdikan momen petaka itu dan mengirimnya ke Riri, dia adalah Zidan, mantan Riri
Riri tertawa mendengar itu, cinta pertama Riri ternyata masih berusaha mendapatkannya, sama seperti cinta pertama suaminya itu
__ADS_1
"ini benar benar gila, kepalaku bisa pecah rasanya", ucap Riri memijat pelipisnya
"nyonya, tuan Dio tidak menolak saat dicium, justru malah memperdalam ciuman itu, mereka seperti melepas rindu", ucap Koko
"kau mau kumutalasi?! berani sekali kau membuatku semakin marah?!!", teriak Riri ditelfonnya membuat mereka semua terkejut
"maaf nyonya, aku hanya menjelaskan detailnya", ucap Koko
"Hubungi Harry dan kirimkan bukti bukti itu ke aku secara pribadi, dan juga kepada Harry, suruh Harry mengurus surat perceraianku dengan Dio", ucap Riri langsung menutup telfonnya
Nita, Rendi, Joi dan Jiah terkejut mendengar ucapan Riri.
"Bercerai?", tanya mereka serentak
"pinjam", ucap Diri merampas kunci mobil Rendi dan pergi begitu saja
"kak Karin serius mengatakan itu?", tanya Jiah menatap Joi
"aku tidak tau pasti", jawab Joi memeluk Jiah
"kenapa jadi begini",, ucap Rendi memijat pelipisnya
"apakah Dio sudah tau soal ini? bahwa Riri mengetahui ini juga", tanya Nita
"sepertinya tidak", jawab Rendi
"ayo, kita awasi kakakmu", ucap Joi merangkul Jiah
"hati hati Jiah", ucap Nita
Kini tersisa Rendi dan Nita disana, hari sudah mulai gelap, ini benar benar hari penuh kejutan. Rendi meminta maaf pada Nita atas kesalahannya
Nita memaafkannya, bagaimanapun ucapan Riri benar, dia memeluk Rendi dan bersandar didada Rendi
"apakah mereka benar benar akan bercerai?", tanya Nita
"aku tidak tau sayang, dulu, Dio memang sangat menyayangi gadis itu, dia bahkan sampai menangis sesegukan saat ditinggal pergi oleh Pricilla", ucap Rendi
"aku rasa masih ada sedikit ruang dihatinya untuk gadis itu, karena itu Dio membalas ciumannya dan melupakan statusnya sebagai suami Riri saat melihat gadis itu", sambung Rendi
"aku sangat khawatir dengan Riri, dia keguguran karena memikirkan foto foto itu, dia sangat terluka", ucap Nita
"disaat yang sama, disaat itu juga, saat aku melihat mereka bercumbu, aku juga terluka, aku langsung mengingatmu, dan Riri, bagaimana jadinya jika Riri yang ada diposisiku saat itu, itu juga menyakitkan hatiku sayang",, ucap Rendi memeluk Nita
Nita bangkit dan mengelus pipi Rendi
"maafkan aku, aku terlanjur marah tadi, aku sangat marah rasanya", ucap Nita mengelus pipi Rendi
Rendi tersenyum
"kalau begitu tanggung jawab, ini sangat sakit", ucap Rendi mengerucutkan bibirnya
__ADS_1
"aku tau kau berpura pura", ucap Nita
Rendi tertawa dan mencium bibir Nita, dia rindu dengan bibir indah milik pacarnya itu. Nita tidak melawan, dia membiarkan Rendi melakukannya, dan menikmatinya
...----------------...
Geri yang sudah merasa baikan, ikut dengan Harry yang mendapatkan tugas dari Riri melalui Varel
"kira kira ada apa ini? Riri tidak akan marah besar seperti ini jika bukan kesalahan besar", tanya Geri
"aku juga tidak tau, ini sudah malam dan Riri belum ditemukan keberadaannya, Dio juga tidak bisa menemukan jejak istrinya itu, sepertinya mereka bertengkar hebat", ucap Harry yang sedang menyetir
"satu hari ini benar benar penuh kejutan", ucap Geri
Harry dan Geri datang kerumah Varel, mereka yang terkejut dengan ucapan dan penjelasan Varel masih mematung dihadapan Varel dan Koko
"jadi maksud kalian, nona Riri menyuruhku mengajukan perceraian mereka? dengan bukti bukti ini?", tanya Harry
Varel dan Koko hanya mengangguk, mereka juga memperlihatkan isi bukti bukti itu kepada Harry
"gila, pantas saja Riri marah besar", ucap Geri
"tapi sepertinya aku tidak sanggup melakukan ini", ucap Harry
"kalian harus sanggup, Riri mengancam akan membunuh gadis itu jika surat perceraiannya tidak keluar dalam waktu 24 jam", ucap Koko
"apa katamu?", tanya Harry dan Geri serentak
"dia bahkan sudah bersiap sekarang", ucap Varel menunjukkan rekaman cctv dimansion lama kakek
Terlihat Riri yang sudah menyiapkan beberapa pistol dan alat tempurnya
"dia benar benar dibutakan amarah", ucap Geri
"ayo Ger, kita harus cepat sebelum Riri benar benar melakukan ucapannya itu", ucap Harry panik
Geri dan Harry lalu bangkit dan mengambil berkas berkas yang sudah disiapkan Varel dan Koko
Mereka bergegas menuju kantor pengacara Riri, dan menjelaskan kejadiannya secara mendetail, kecuali adegan saat Riri mempersiapkan pistol pistol itu
"besok pagi sudah bisa diambil, akan saya urus secepatnya malam ini", ucap pengacara itu
"terima kasih pak", jawab Geri dan Harry serentak
...----------------...
Dimansion Riri...
Terlihat Dio dengan keadaan yang sangat kacau, berjalan masuk kekamarnya, dia sangat takut kehilangan Riri, kini dia hanya menangis dikamarnya dan menghirup baju kemejanya yang sering dipakai Riri
Masih tertinggal harum tubuh Riri disana, Dio menyesap kemeja itu dan memeluknya hingga tertidur, dia benar benar putus asa
__ADS_1
Sementara Joi dan Jiah juga pulang kemansion, mereka kehilangan jejak Riri ditengah jalan, kini mereka hanya harus menunggu Riri melancarkan aksinya