CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.60 Hutan Belantara


__ADS_3

Setelah Ara diseret keluar, kini Riri harus menangani hama yang satunya, yang sedang mematung melihat sahabatnya diseret begitu keji oleh Riri


Riri lalu menatap tajam ke Ara, dia masih tidak menyangka hari ini akan datang, hari dimana dia bertemu lagi dengan Zidan dan Ara di waktu dan tempat yang sama setelah 3 tahun lalu, mereka juga berada ditempat dan waktu yang sama, hanya saja berbeda situasi karena saat itu Zidan dengan bercumbu dengan Ara


Zidan begitu kecewa dan sakit hati, ternyata selama ini dia hanya dibodohi oleh Ara dan membuang berlian yang telah diperebutkan banyak orang


"Bryan, Fikri, apa benar yang dikatakan Sisi tadi?", tanya Riri datar memecah keheningan diruangan itu


"hah?" tanya Bryan


"tentang perasaan kalian, kepadaku", ucap Riri


Fikri dan Bryan saling menatap, mereka tidak menjawab pertanyaan Riri.


"ah benar ternyata", ucap Riri, dia berjalan mendekati Bryan dengan jarak yang sangat dekat


"apa kau juga tau tentang kelakuan Sisi?", tanya Riri pelan


"tidak, aku sungguh tidak tau apa apa Ri", ucap Bryan menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia sungguh tidak ingin mencari mati dengan Riri


"benarkah?", tanya Riri lagi


"benar Ri, aku bersungguh sungguh, dan tidak berbohong, kau bisa melihat mataku kan", jawab Bryan.


Riri lalu menatap mata Bryan dengan tatapan tajam yang mengintimidasi, membuat Bryan menelan ludahnya dan berusaha menyenggol tangan Fikri yang ada disampingnya


"sialan! aku sungguh menyesal dengan kalimat terakhirku tadi", umpat Bryan dalam hati


"istrimu itu bisa membuat orang serangan jantung karena tatapan matanya", bisik Joi


"aku tau itu", ucap Dio tersenyum


Sedangkan Fikri, dia tidak berani berkutik, dia tau betul sikap Riri bahkan sebelum hari ini, dia sudah tau.


"em... aku tau", ucap Riri


"apa?", tanya Bryan


"aku tau kalau kalian berdua menyukaiku, bahkan sebelum kalian bertengkar dan sebelum Fikri menyatakan perasaan denganku", ucap Riri santai


"apa?! Fikri?", tanya Bryan lalu menatap Fikri


"setidaknya aku berani menyatakannya daripada dirimu yang terus memendamnya", sindir Fikri pelan


"diamlah kalian berdua, suamiku ada disini, apakah kalian tidak takut diterkam olehnya? dia bisa seperti singa liar yang kelaparan saat dilanda cemburu", ucap Riri lalu tersenyum dan menatap Dio diatas tangga


Fikri dan Bryan juga ikut melihat Dio, Dio yang tersenyum ke arah Riri, lalu melemparkan tatapan tajam mematikan kearah Fikri dan Bryan, dia sengaja supaya membuat dua lelaki itu tidak berani macam macam.


"ini bukanlah rumah", bisik Bryan


"lalu?", tanya Fikri.


"ini hutan belantara", bisik Bryan


"why?", tanya Fikri bingung


"disini ada begitu banyak hewan buas yang siap mencari mangsa", bisik Bryan menyenggol kaki Fikri


"tutuplah mulutmu itu sebelum kau jadi mangsa selanjutnya bodoh", bisik Fikri


"aku tidak tau jika menantu ku ternyata menjadi idaman banyak lelaki", ucap Hardi pelan


"iya sayang, bisa kau bayangkan sendiri bagaimana jadinya jika Riri tidak benar benar mencintai Dio, lalu meninggalkan Dio saat dia diperlakukan kasar waktu itu", sindir Shila dengan tujuan agar Dio sadar dan berfikir beribu kali untuk mengulangi lagi kesalahannya itu


"aku bisa bayangkan itu ma, akan sangat menggila rasanya", sambung Joi


"diamlah kak", ucap Dio kesal


Mereka benar, jika saja Riri tidak benar benar mencintaiku, maka dia pasti sudah bersama salah satu dari mereka sekarang, yang sudah memperlakukannya dengan sangat baik, aku sangat bodoh jika mencampakkannya, aku sungguh mencintainya. Batin Dio


"kak Joi, lihatlah gadis mu ini, dia terpaku disana, apa kau tidak berniat membantunya?", tanya Riri menyindir Ara


"itu jatahmu Ri", teriak Joi


"aku sungguh malu karena membawanya kesini", ucap Joi pelan


"kau memang bodoh kak", umpat Dio


"diamlah", ucap Joi kesal


"apa maksudmu Ri? gadisnya?", tanya Zidan yang kini bersuara


"em, Ara, pacarmu yang sangat kau cintai itu, dia datang kesini sebagai gebetan kakak iparku dan mencoba menyingkirkan ku, bukankah kau sudah dengar sendiri tadi?",. jawab Ara


"benarkah itu Ara?! jawab!!", bentak Zidan


"Zidan, ini semua salah paham, kau jangan tertipu dengan omong kosong Riri!", ucap Ara dengan nada panik


Riri tertawa puas melihat ini,


"Zidan, kau sungguh bodoh", ucap Riri tertawa


"kau mencampakkanku demi gadis sampah seperti dia? cup cup cup, ciannya", ucap Riri dengan nada mengejek


"Ri, aku tergoda saat itu karena dia mengatakan bahwa kau berselingkuh dengan Fikri, aku marah, lalu aku berniat ingin membalasmu, tapi ternyata yang terjadi bukanlah itu", ucap Zidan

__ADS_1


Jelas saja Riri tertawa ngakak disitu, dia berjalan mendekati Zidan


"lalu sekarang? apa kau menyesal?", tanya Riri


"sungguh, aku menyesal karena lebih memilih gadis itu dan membuangmu", ucap Zidan


Riri menatap mata Zidan dengan tatapan tajam penuh kebencian dan amarah


"cih, najis", umpat Dio


"hitungan detik", ucap Joi pelan


satu...


dua...


tiga...


Plak!!


Hal yang ingin dilakukan Riri selama ini, terwujud juga pada akhirnya


"nah ini dia", ucap Joi tertawa kecil


"Ri, aku sungguh mencintaimu, kembalilah kepadaku lagi, lupakan masa lalu kita", ucap Zidan


Plak!!


"gadis kecilku sungguh pintar", ucap Joi tertawa kecil,


Sementara Dio sudah mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Zidan,


"kau tenang saja, papa yakin istrimu sangat cerdas", ucap Hardi mengelus pundak Dio


"ulangi", ucap Riri pelan


"aku sungguh mencintaimu Ri, aku benar benar menyesal", ucap Zidan


Plak!!


"triple kill", ucap Joi


"aku juga ingin menamparnya", ucap Shila pelan


"cinta? penyesalan?", tanya Riri pelan


"iyaa, aku bersungguh sungguh", ucap Zidan


"lalu kenapa kau begitu mudah mencampakkanku hanya karena omong kosong dari orang lain?!! itu yang kau sebut cinta?!!", teriak Riri lalu menghajar Zidan hingga bibirnya berdarah dan tersungkur dilantai


"aku tidak tau jika istrimu begitu menakutkan", bisik Joi


"dia pandai bela diri, biarkan saja dia melampiaskan semua amarahnya", ucap Dio


"lelaki itu pantas mendapatkannya, aku juga akan melakukannya jika papa kalian berselingkuh", ucap Shila yang sudah geram mendengarkan Zidan


Membuat Hardi, Joi dan Dio menatap mamanya yang terikut emosi itu


"kau bilang mencintaiku? Zidan? kemana kau saat aku benar benar membutuhkanmu waktu itu?!!", teriak Riri kembali menghajar Zidan


"aku sungguh mencintaimu hingga aku menolak semua lelaki yang mendekatiku, hanya demi bajingan sepertimu!!", teriak Riri lalu melempar Zidan kearah tangga, hingga kepalanya terbentur dan berdarah


"bahkan didepan mataku, kau berani bercumbu dengan Ara? bahkan hingga detik ini sama sekali tidak ada kudengar permintaan maaf dari bibirmu itu!!",, teriak Riri kembali menarik Zidan dan menghajarnya


"aku sungguh berfikir kau adalah lelaki yang pantas ku pertahankan, dan dengan bodohnya aku menyalahkan diriku sendiri atas tindakan hinamu itu! bajingan!!", teriak Riri melemparkan Zidan hingga terbentur kesofa


"Zidan, apakah kau tau? momen ini adalah momen yang paling aku tunggu, hari dimana aku benar benar melampiaskan seluruh amarahku, bukan karena rasa cintaku padamu, tapi karena kemarahan diriku, betapa bodohnya aku memberikan cinta yang tulus untuk bajingan sepertimu", ucap Riri pelan


"jika kau berfikir aku menghajarmu karena aku masih mencintaimu, kau sungguh salah", ucap Riri


"aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu dan Ara, berkat kalian, sekarang, aku memiliki suami yang begitu mencintaiku dan menjagaku sepanjang waktu", ucap Riri pelan lalu tersenyum


"aku melakukan ini karena aku mencintai suamiku, dan jika kau berharap aku akan kembali padamu, tidak akan pernah itu terjadi",, ucap Riri


"no Riri! kau tidak pernah mencintai suamimu, sejak dulu hatimu hanya untukku, bahkan kau juga mengejarku selama setahun lamanya, mustahil jika tiba tiba kau mencintai orang lain", teriak Zidan


"hahaha aku memang mencintaimu, 'dulu', sebelum aku sadar akan kebodohanku sendiri", ucap Riri


"aku ga akan rela jika kau hidup bersama orang lain selain diriku Ri, jika aku tidak bisa bersamamu, maka orang lain juga tidak akan bisa!", teriak Zidan


Dio sudah tidak tahan mendengar ocehan Zidan, hatinya dilanda cemburu dan ketakutan bahwa Riri akan tergoda dengan kata kata busuknya itu, dia lalu turun dan menarik Zidan


"jika kau berani menyentuh istriku, bahkan jika sehelai rambutnya kau sentuh, aku yakinkan hidupmu tidak akan lama lagi",, ucap Dio lalu melemparkan Zidan begitu saja


Dia kembali berjalan mendekati Zidan, dan menarik bajunya


"aku tidak akan pernah memaafkan orang orang yang sudah berani menyakiti istriku, jadi pergilah dari sini sebelum kubuat kepalamu jadi pajangan dimansion ini!!", teriak Dio yang membuat semua orang tersontak kaget, kali ini Dio benar benar marah


Dio mencampakkan Zidan hingga terbentur tangga, dia lalu menggendong Riri ala bridal style


"sudah cukup kejutan nya sayang, aku tidak ingin kau melanjutkan ini lagi, biarkan kak Joi dan papa yang melanjutkannya, kita kekamar", ucap Dio lembut lalu mencium kening Riri


Dio berjalan melewati Zidan yang masih tersungkur dilantai, dia membawa Riri masuk kekamar mereka dan menutup pintunya tanpa dikunci


Sementara Joi turun dan mendekati Zidan

__ADS_1


"kau sungguh berani menyakiti gadis kecilku ya, bahkan masih juga berani memiliki keinginan untuk merebutnya lagi? kepalamu itu kopong atau gimana?", tanya Joi


Hardi memanggil bodyguardnya dan menyuruh mereka menyingkirkan Zidan, sementara Joi berjalan kearah Ara


"pergi dari sini sebelum kupanggil Riri lagi agar menghajarmu habis habisan", bentak Joi


Tentu saja Ara segera berlari mengambil barang barangnya dan pergi dari sana. Sementara Fikri dan Bryan masih berdiri ditempat. Hardi mendekati mereka berdua yang sudah mematung itu


"apalagi kali ini astaga, singa betina masuk kandang, singa induk yang keluar", batin Bryan


"aku sungguh ingin menghilang dari sini", batin Fikri


"apa kalian benar benar mencintai putriku?", tanya Hardi


"iya tuan, tapi itu dulu, jauh sebelum Riri menikah", jawab Bryan


"siapa diantara kalian yang berani menyatakan cinta?", tanya Hardi


Fikri mengangkat tangannya dengan ragu, dia sungguh tidak ingin bernasib sama seperti Zidan dan Sisi


"nah begini baru gentle, mengakui perasaannya", ucap Joi menepuk pundak Fikri, lalu Fikri tersenyum kecut


"lalu sekarang apa kalian juga berniat merusak rumah tangga anakku?", tanya Hardi menatap dua orang itu dengan tajam


"tentu saja tidak tuan", jawab mereka serentak dengan cepat


Hardi mengangguk anggukkan kepalanya


"baguslah jika memang tidak, apakah kalian bisa kupercaya?", tanya Hardi


"bisa tuan", jawab mereka serentak


"baiklah kalau begitu", ucap Hardi lalu pergi meninggalkan mereka


"heii, kalian berdua benar benar menyukai adik iparku?", tanya Joi


"iya kak, tapi dulu",, jawab Fikri


"wah, gadis kecilku begitu mempesona ternyata", ucap Joi


"gadis kecil?", beo mereka berdua


"sudahlah, kalian pulang saja, atau mau disini menghadapi amarahnya Dio yang sedang dilanda cemburu itu?", tanya joi


Mereka berdua menggelengkan kepalanya dengan cepat


"aku sungguh ingin pulang, siapa juga yang mau menjadi mangsa selanjutnya", batin Fikri


"pertanyaan macam apa itu? sungguh manusia bodoh jika menjawab pertanyaan itu dengan jawaban iya", batin Bryan


"barangkali dari kalian ingin melihat kelanjutan dari keganasan adikku itu, aku sungguh bersedia memberikan kalian untuknya", batin Joi. tertawa dalam hati melihat ekspresi dua manusia itu


"baguslah kalau begitu, pulanglah", ucap Joi menepuk pundak Fikri


Setelah Fikri dan Bryan pulang, mereka semua masuk kekamar Dio dan Riri. Terlihat Riri yang sedang menangis didalam pelukan Dio. Mereka selalu melihat ini, Riri menjadi menakutkan didepan musuhnya, tapi sesaat kemudian menjadi drop didepan kekasihnya dan menumpahkan semua kesedihannya


"sayang sudah jangan menangis lagi",, ucap Dio masih memeluk Riri


"jangan menangisi manusia seperti mereka Ri, air matamu sangat berharga", ucap Shila mengelus rambut Riri.


"maksud Riri ma, kenapa mereka seperti itu ke Riri? apa salah Riri? kenapa mereka semua menghianati Riri, dan mencampakkan Riri begitu saja, lalu dengan mudahnya meminta Riri kembali, cinta? sahabat? apa maksudnya?", ucap Riri menangis sejadi jadinya


Mereka melihat Riri yang bisa berubah ubah dalam sekejap mata, sedikit heran, tapi memang begitulah sikap Riri


"Ri, kamu ga salah apa apa, hanya saja kamu bertemu dengan orang yang salah", ucap Hardi mengelus rambut Riri


"Ri dengar papa, papa pastikan mereka mendapat hukuman atas perbuatan mereka kepadamu", ucap Hardi, Riri hanya mengangguk dan menangis


"mas, apa mas bakal ninggalin aku juga jika mengalami kasus yang sama seperti cerita Zidan tadi?", tanya Riri menatap Dio


"sungguh bodoh jika dia melakukannya, aku sendiri yang akan menghajarnya habis habisan Ri", ucap Joi


"no baby, tidak akan, aku bukan lelaki bodoh seperti dia, aku tidak akan pernah melepaskanmu apapun yang terjadi", ucap Dio memeluk Riri dengan erat


"jika Dio melakukannya, papa sendiri yang akan memberinya hukuman Ri, kau tenang saja", ucap Hardi


"aku takut, aku sungguh takut itu akan terjadi lagi, kenangan itu selalu muncul dikepalaku, aku sangat takut", ucap Riri yang masih menangis, kini tubuhnya gemetar, benar benar kenangan pahit itu menyiksanya seperti ini


Shila menangis melihat Riri menjadi seperti ini, hatinya begitu terluka melihat Riri ketakutan seperti itu. Riri tertidur dipelukan Dio, lalu Dio meletakkannya di ranjang, membiarkannya istirahat.


"kamu urus Riri, biar papa yang mengurus mereka", ucap Hardi


"makasih pa", ucap Dio


Dio terus memandangi wajah Riri, dan terus menciumi pipinya, dia juga merasa takut saat Zidan mencoba mengambil Riri dari nya tadi. Terlebih lagi mengingat bahwa Zidan adalah cinta pertama istrinya itu.


Semua orang tau bahwa cinta pertama sangatlah sulit dilupakan dan dibuang dari kehidupan kita.


Bahkan Dio sendiri masih sulit melupakan cinta pertamanya yang dia temui sebelum mengenal Riri, ntah sekarang rasa itu masih ada atau tidak, yang jelas dia sungguh mencintai istrinya itu


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2