
2 hari telah berlalu, namun Riri belum juga terbangun dari tidur panjangnya, sementara Dio tetap setia berada disampingnya dan juga dokter Fira yang selalu rutin mengecek kondisi Riri yang tak kunjung siuman.
Shila dan Hardi juga sama khawatirnya melihat kondisi Riri yang terbaring lemah, dan juga Dio yang kini terpuruk karena rasa bersalah didalam hatinya. Bahkan selama 2 hari Dio tidak pernah memejamkan matanya, tidak makan ataupun minum, dan terus menjaga Riri
"sayang, bangunlah sayang, maafkan aku, aku benar benar sangat mencintaimu Riri, maafkan aku", lirih Dio
"Dio, kau makan lah, sudah 2 hari kau tidak tidur dan makan, kau juga butuh energi untuk menjaga Riri", ucap Hardi
"tidak pa, aku harus disini, bagaimana jika sewaktu waktu dia bangun lalu tidak ada aku disampingnya?", ucap Dio
"heii Dio dengar papa, kau juga butuh tenaga untuk menjaganya, kalau dirimu sendiri tidak kau jaga, bagaimana bisa kau menjaga Riri?, makanlah minimal sedikit, bersihkan badanmu, mamamu akan menjaga disini", ucap Hardi meyakinkan Dio
"benarkah pa? apakah tidak apa apa?", tanya Dio
"iya Dio, urus juga dirimu, mama akan menjaganya disini", ucap Shila
"baik ma, tolong jaga Riri ya ma, aku akan membersihkan diri sebentar, hanya sebentar", ucap Dio
"iya pergilah nak", ucap Shila
Hardi kini juga ikut membantu Rendi mengurus perusahaan. Sementara Harry dan Geri membantu Zikri yang kini sedang menggantikan posisi Riri, karena memang dia yang selalu dititipkan posisi kepercayaan itu oleh Riri
Dio berlari dengan cepat kekamarnya, mandi dan mengganti bajunya, dia makan secepat kilat lalu kembali kekamar Riri hanya dalam waktu 15menit
"ma, aku sudah selesai, mama bisa keluar", ucap Dio
"cepat sekali kau mandi? sudah makan?", tanya Shila
"sudah ma", jawab Dio.
"baiklah, jaga dia, mama keluar dulu", jawab Shila
Beberapa jam kemudian jari Riri bergerak, Dio melihat pergerakan itu dan mulai memanggil Riri
"sayang? kau siuman? bangun sayang aku disini",, ucap Dio pelan lalu mengelus lembut rambut Riri
Riri perlahan membuka matanya, dia terlihat masih setengah sadar, dan mulai ilusi, rasa trauma masa lalu kembali lagi kedalam kepalanya
"mama...", lirih Riri
"mama?", beo Dio, lalu langsung berlari keluar kamar dan berteriak memanggil mamanya
"mamaa!!! mamaa!!! mamaa!!!!", teriak Dio
"ada apa Dio kenapa teriak teriak?",, tanya Hardi dan Shila
"Riri manggil mama",, ucap Dio
"sudah siuman?", tanya Shila
Mereka berlari masuk kekamar Riri, dan terlihat Riri sedang mengigau
"mama...", lirih Riri yang hampir tidak terdengar
Shila segara naik ke atas ranjang Riri dan duduk disamping Riri, lalu mengelus rambut Riri, sedangkan Dio kembali duduk disamping ranjang Riri, dan Hardi menelfon dokter Fira agar segera datang ke mansionnya
"mama...", lirih Riri melihat Shila dengan samar samar dan berusaha membuka matanya
__ADS_1
"iya sayang? ini mama, bangun sayang", jawab Shila menangis
"ma... Riri rindu...", lirih Riri laku meneteskan air mata
"mama disini sayang,", jawab Shila lalu menghapus air mata Riri
"mama... mama kenapa ga pernah nelfon Riri? Riri ini... anak kandung mama... kenapa mama ga pernah datang mengunjungi Riri...", ucap Riri pelan air matanya terus menetes
Kini mereka bertiga paham, bahwa yang dimaksud Riri adalah Ningsih, mama kandung Riri, bukan Shila. Shila tidak sanggup menjawab dan hanya menangis,
"ma... tolong kasih Riri kasih sayang juga... Riri juga pengen mama memanjakan Riri... seperti mama dan ayah... memanjakan Jiah...", ucap Riri pelan
"ma... Riri... ga kuat disini", lirih Riri, air matanya terus menetes
"sayang kamu kuat, kamu gadis yang kuat", ucap Shila mengelus rambut Riri
"sayang maafin aku, maaf sayang", ucap Dio menggenggam tangan Riri
"Riri minta izin ma... Riri mau... ikut kakek...", lirih Riri
Dio menggelengkan kepalanya dengan cepat
"no baby, no, no, no sayang, maafin sayang, jangan bicara begitu sayang, aku minta maaf, maafin aku' sayang", ucap Dio menggenggam tangan Riri
"no Riri, kamu kuat, jangan bicara macam macam, mama ga akan kasih izin kamu pergi", ucap Shila sambil menangis
"Dio... Riri fikir dia benar benar sayang denganku... tapi... dia mencampakkanku...", lirih Riri
"sayang aku minta maaf", ucap Dio
"ma tolong bujuk Riri ma, kenapa dia terus bicara begitu ma, Dio minta maaf", lirih Dio
"sayang, Dio benar benar mencintaimu sayang, kamu harus kuat, lawan semua ini, bangunlah Riri",, ucap Shila menangis
Tiba tiba Riri merasakan nafasnya hampir habis, dia merasakan sesak didadanya, ada darah mengalir dari hidungnya. Dio, Shila dan Hardi panik melihat ini
"pa dimana dokter Fira pa?! Riri sayang, bangun sayang, jangan begini", teriak Dio, dia panik tidak karuan melihat Riri
Riri kehilangan kesadarannya lagi. Darah dihidungnya berhenti mengalir. Dio panik tidak karuan, dia menggoyang goyangkan tubuh Riri, tapi Riri tidak membuka matanya. Lalu dokter Fira datang, dia meminta Dio dan Hardi keluar, dia lalu memeriksa kondisi Riri.
"Riri tenggelam didalam trauma masa lalunya, dan sekarang dia mengalami koma",, ucap dokter Fira
Dio bagaikan tersambar petir mendengar itu, kakinya melemas seketika, seperti tidak ada tulang, dia terduduk dilantai dengan tatapan kosong
"kondisinya tidak kritis, namun jika dia tidak cepat bangun dari koma nya dan terus tenggelam didalam trauma masa lalunya, maka itu bisa membahayakan nyawanya", lanjut dokter Fira
"jika terlalu lama koma, itu juga bisa menghapus beberapa ingatan dikepalanya karena dia tenggelam didalam lautan masa lalunya, ini adalah kondisi langka tuan, namun jika ini terjadi, sangatlah berbahaya", ucap Fira
"dok saya harus gimana dok? lakuin apa aja dok, selamatin Riri saya mohon", ucap Shila menangis histeris memeluk Riri
"bisikkan hal hal bahagia kepadanya nyonya, buat dia tersadar dari lautan masa lalunya, datangkan orang orang yang dianggap spesial dan berharga baginya, ini tidak dapat disembuhkan dengan obat obatan, karena ini adalah penyakit mental, berikan dia dukungan terus agar bisa bangkit nyonya", ucap dokter Fira
"karena sesungguhnya pendengarannya masih berfungsi dengan baik, hanya saja, alam bawah sadarnya membawanya hanyut didalam mimpinya", ucap Fira
Hardi lalu membawa dokter Fira dan Shila keluar dari kamar Riri, dan berbicara serius di ruang tamu
Sementara Dio terus merutuki kebodohannya, tidak dia menyangka akan jadi seperti ini karena hal hal yang dianggapnya sepele. Dio terus menangis dan meminta maaf ditelinga Riri
__ADS_1
Dio terus menangis, Hardi merasa kasihan melihat Dio yang terus dihantam rasa bersalah, dia memeluk anaknya itu dan berusaha menenangkannya
"papa akan cari Tio dan Ningsih agar melihat anak mereka, kamu harus kuat, bantu Riri bangkit traumanya", ucap Hardi menenangkan Dio
Hardi memerintahkan bawahannya untuk mencari keberadaan Tio dan Ningsih, dia juga memanggil teman teman terdekat Riri, bahkan juga anggota anggota Riri, bahkan Zikri pun ikut berkunjung kesana dan menceritakan perkembangan perusahaan Riri yang semakin melejit naik.
Hari hari berlalu, sudah hampir seminggu lamanya Riri tertidur didalam mimpinya itu. Harry dan Geri juga sering mengunjungi Riri dan bercerita tentang pekerjaan mereka dan juga kondisi perusahaannya.
"non, gedung baru yang nona rancang sendiri, kini sudah jadi dan siap dihuni, kami semua sedang menunggu nona untuk peresmian gedung itu", ucap Geri
"bangunlah non, gedung itu kan impian nona Riri, Zikri juga sudah memimpin dengan baik, dia mengerjakan tugas dan menghandle kantor dengan baik, dia menjalani tugasnya dengan amanah", ucap Harry
"bu Karin, saya selalu menjaga kepercayaan bu Karin walaupun bu Karin tidak ada, saya pastikan bu Karin tidak akan kecewa melihat pekerjaan saya, jangan lupa kasih saya bonus juga ya bu", ucap Zikri
"Bu Karin ibu tau ga? kami rindu melihat tatapan tajam dari mata elang bu Riri di ruang meeting, dan juga, target yang bu Karin perintahkan ke saya, udah saya capai bu, bahkan berkali kali lipat lagi", ucap Killa
"bu Riri, katanya kuat, bangun dong, jangan tidur mulu gini, saya rindu makan siang bareng bu Riri lagi", ucap Yuli
Riri meneteskan air mata mendengar mereka semua. Mereka melihat itu, dan menyadari ada respon dari Riri
"ayo Riri, bangun, lawan trauma mu itu, kau itu kuat Ri", ucap Fikri.
"bangun sayang, aku ga akan pernah mengecewakanmu lagi, aku janji sayang, ayo bangun", ucap Dio ikut meneteskan air mata
Tiba tiba terlintas sebuah ide dikepala Fikri, dia lalu duduk di samping Dio.
"Ri, apa kau tau? mantanmu itu, kini sedang bersenang senang dengan selingkuhannya, dengan orang yang membully mu dulu, aku sudah mencari tau tentang dia, dan kau tau? ternyata dia juga hanya memanfaatkanmu dulu, apa kau akan diam saja diperlakukan begitu? sungguh bodoh kau ini",, ucap Fikri kesal
"siapa Zidan?", batin Dio
Riri perlahan menggerakkan jarinya mendengar ucapan Fikri, memang benar bahwa Riri masih menyimpan dendam dengan Zidan. Dio melihat itu pun campur aduk rasanya, dia senang Riri menunjukkan responnya, tapi masih bertanya tanya, siapa itu Zidan?
"bangun Ri, balaskan dendammu itu ke Zidan, buat dia hancur, jangan hanya diam dan memendam dendam itu sendirian, aku tau kau masih menyimpan dendam ke Zidan, jangan kau banggakan cinta pertamamu itu, bajingan seperti dia tidak pantas mendapatkan cintamu", ucap Fikri
"cinta pertama? selingkuh? dendam? apa maksudnya semua itu?", batin Dio
"Ri, Diovano Putra ini, benar benar mencintaimu, cinta yang dia berikan, lebih besar daripada cinta yang kuberikan padamu",, ucap Fikri
"dia mencintai Riri? tunggu, apa maksudnya?", batin Dio
"Riri, Dio sudah menemanimu selama seminggu lebih, dia melupakan dirinya sendiri, dia juga menelantarkan pekerjaannya demi menjagamu, apa kau tau? sekarang dia sudah kurus, wajahnya juga tidak seganteng dulu, bahkan sekarang lebih ganteng aku lagi", ucap Fikri
"pede banget setan, jelas ganteng akulah!", batin Dio
Dio lalu melihat tubuhnya sendiri, dan memang benar dia menjadi lebih kurus
"Riri, tunangan mu itu sangat menyesali kesalahannya, dia begitu mencintaimu, bangunlah dan beri pelajaran kepadanya, kau sudah cukup menyiksanya Riri. Bangunlah dan tampari wajahnya yang sok ganteng itu, lampiaskan semua amarahmu ke dia, jangan tidur seperti ini, apa kau rela jika kekasihmu yang sangat kau sayangi itu diambil Ara lagi karena kau terus tidur seperti ini?", tanya Fikri
"yak!! berhentilah mengoceh, aku tidak akan pernah selingkuh walau Riri tidur berapa lamapun", ucap Dio yang kesal
"diamlah! kau ingin Riri terus tertidur seperti ini? aku ingin membangunkannya!", ucap Fikri kesal
"Ri bangunlah dan lihatlah betapa bodohnya calon suamimu ini, aku ingin sekali menjambak rambutnya sekarang",, ucap Fikri
"heii kau, walau begini aku tetap calon suaminya", bentak Dio
"heii!!! diamlah kalian berdua, lihat itu! Riri siuman!", teriak Yuli memukul Dio dan Fikri. Sontak mereka menoleh kearah Riri yang perlahan membuka matanya
__ADS_1