CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.87 Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

Hardi sudah menerima pesan dari Dio tentang kembalinya Joi dan Fikri, dan juga keadaan sudah aman, jadi mereka bisa kerumah sakit sekarang


"Kita akan kerumah sakit hari ini", ucap Hardi saat sarapan


"apakah sudah aman?", tanya Shila


"sudah, tadi Dio juga sudah memastikannya", jawab Hardi


"lalu bagaimama kondisi Riri? apakah dia terluka?", tanya Shila khawatir


Hardi diam sejenak dan menatap Herman, lalu menatap Shila, lalu menatap Jiah yang ikut menunggu jawaban dari Hardi. Hardi lalu menghela nafas nya


"Riri belum kembali, hanya Joi dan Fikri yang kembali", ucap Hardi


"lalu? kemana dan dimana kak Karin? kenapa dia tidak kembali? apa yang terjadi?", tanya Jiah panik, dia sungguh takut jika terjadi sesuatu dengan Riri


"tenanglah dulh nak, kakakmu masih menyelesaikan beberapa urusan disana, dia akan segera kembali sebelum matahari terbenam", ucap Herman


"sebelum matahari terbenam katamu? ini saja matahari baru terbit!", seru Shila melotot


"ya begitu informasi yang kudapat dari anak buahku", ucap Herman


"lalu bagaimana kondisinya? dia baik baik saja kan?", tanya Jiah


"aku harus jawab apa? dibilang baik ya tidak, dibilang buruk juga tidak, sangat sulit menjelaskannya, kita hanya bisa mendapatkan jawabannya setelah bertemu langsung dengan Riri", ucap Herman


"kenapa begitu?", tanya Hardi


"karena, amarah Riri tidak dapat dikendalikan, dia mengamuk habis habisan, aku tidak tau apa saja yang sudah dilakukan, tapi aku bisa pastikan bahwa Riri menjadi sangat mengerikan saat ini", ucap Herman


Hardi, Shila dan Jiah menghela nafas, tidak tau harus bagaimana. Mereka sangat khawatir dengan kondisi Riri, terlebih lagi dengan kondisi mental Riri


"aku harap kak Karin baik baik saja, aku tidak ingin dia terluka", batin Jiah dalam hati


Mereka lalu menyelesaikan sarapannya dan bergegas kerumah sakit, tentu saja Jiah juga ikut kesana, terlebih lagi saat mendengar kabar bahwa ayah dan mamanya juga disana.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya merekaa sampai dirumah sakit milik Dio, tempat Geri dirawat.


Mereka bergegas pergi keruang VVIP dilantai paling atas. Jiah berjalan paling belakang, pikirannya sedang tak normal, entah apa yang membuatnya menjadi merasa seperti ini.


Hardi membuka pintu ruangan itu, seiisi ruangan melihat kearah pintu yang terbuka


"papa?", tanya Dio dan Joi serentak


"Hardi?", panggil Tio


Hardi dan yang lainnya masuk kedalam ruangan itu kecuali Jiah, dia terdiam didekat pintu, dia tidak ingin masuk, dia belum siap bertemu dengan mamanya lagi.


"kenapa jantungku berdegup kencang begini? kenapa aku menolak bertemu mama?", batin Jiah


Jiah terus mengatur nafasnya dan detak jantungnya yang seperti habis lari maraton.


"baguslah kau kembali dengan selamat", ucap Hardi memeluk Joi


"iya pa, adik ipar itu benar benar luar biasa", jawab Joi


",mengerikan lebih tepatnya bukan luar biasa", ucap Fikri pelan


"ssttt", bisik Harry dan Geri menatap Fikri


Herman lalu menghampiri Tio

__ADS_1


"syukurlah kau selamat", ucap Herman menepuk pundak Tio


"maafkan semua kesalahanku, semua kecerobohanku... maafkan aku", ucap Tio menahan tangisnya


"sudah sudah, tenangkan dirimu", ucap Herman memeluk Tio, dia menenangkan Tio dan menepuk nepuk pundak Tio


"aku merasa sangat bersalah dengan Riri, aku tidak becus menjadi ayahnya Her...", ucap Tio menangis


Tio tak sanggup lagi menahan rasa bersalahnya terhadap kehidupan Riri, dan semua kesalahan yang dia lakukan, bahkan dia membuat hidup Riri diambang bahaya beberapa hari lalu.


Ningsih dan Siti ikut menangis mendengar itu. Hati Ningsih terasa sangat sakit, rasa bersalahnya terhadap kehidupan Riri sangatlah menjadi beban dipundaknya. Shila melihat itu dan menghampirinya, begitu juga Siti, mereka berkumpul dan memeluk Ningsih


"aku yakin putrimu baik baik saja, aku tau dia anak yang kuat dan tangguh",, ucap Shila


",terima kasih Shil, karena kau sudah menjaga putriku selama aku tidak ada, aku tidak tau harus bagaimana cara berterima kasih denganmu", ucap Ningsih terisak


"sudahlah, jangan ulangi kesalahanmu lagi, itu sudah cukup", ucap Shila


"anakmu itu kuat, kau sendiri sudah melihatnya kan", ucap Siti


"memang apa yang kalian lihat?", tanya Shila penasaran


"yang pasti bukan hal yang menyenangkan", ucap Siti


Herman lalu menghampiri Geri dan Rara, dia mengelus tangan Geri


"gimana keadaanmu? sudah merasa baik?", tanya Herman


"sudah pa, masih sakit sih memang", ucap Geri


"sebentar saja itu ntar juga sembuh", ucap Herman menepuk nepuk tangan Geri


"papa, ini tuh luka tembak bukan luka tergores pisau", ucap Rara kesal


"papaa!", seru Rara kesal


Herman tertawa melihat putrinya yang begitu sensitif terhadap Geri.


Setelah selesai menangis, mereka mengobrol sebentar disana, lalu Hardi menyadari ada sesuatu yang kurang, dia memperhatikan sekeliling ruangan.


"ada apa pa?", tanya Dio


"mana adikmu? tadi dia ikut dengan kami, kenapa sekarang tidak ada ?", tanya Hardi


"sejak kapan aku punya adik? mama hamil lagi?", tanya Dio bingung


"hah? serius ma?", tanya Joi


"hah? apa apaan kalian ini?!", ucap Shila kesal


"kenapa? kalian mau adik baru?", tanya Herman menggoda


"jangan macam macam kau Herman, sebelum ku suntik mati disini", ucap Shila kesal.


Herman dan yang lainnya tertawa melihat ekspresi Shila


"bukan itu maksud papa, Jiah, dia kan adikmu, tadi dia ikut kesini", ucap Hardi


"O", jawab Joi


"lalu dia dimana sekarang?", tanya Joi

__ADS_1


"gatau papa", jawab Hardi


"yasudah biar aku saja yang mencarinya", ucap Joi langsung bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar


Setelah menutup pintu, dia melihat Jiah yang sedang meringkuk disamping pintu, Joi sedikit bingung. Pasalnya dia tak pernah melihat gadis kecil ini meringkuk begini, Joi pun mendekatinya dan berjongkok dihadapan Jiah


"hello", ucap Joi pelan


Jiah mengangkag kepalanya, dan terlihatlah wajah Joi didepan matanya.


"kak Joi?", tanya Jiah


"em ini aku, kau kenapa? bangunlah,. cerita padaku jika ada masalah", ucap Joi mengelus rambut Jiah


Jiah menangis dan langsung memeluk Joi, tentu saja sang pemilik tubuh sedikit terkejut dengan gerakan Jiah yang tiba tiba, dia bingung harus apa. Dia lalu menepuk nepuk pundak Jiah


"kakak baik baik saja kan? apa ada yang terluka?", tanya Jiah melepaskan pelukannya lalu meneliti tubuh Joi dari ujung ke ujung


Joi tersenyum kecil melihat tingkah Jiah


"kau khawatir denganku?", tanya Joi


"tentu saja aku khawatir, kakak itu kan kakakku juga, bagaimana bisa aku tidak khawatir", jawab Jiah kesal


"aku tidak apa apa, tenang saja", ucap Joi mengacak acak rambut Jiah


"kak, aku merindukanmu", ucap Jiah memeluk Joi lagi


"haha kau sangat lucu ternyata ya", ucap Joi memeluk Jiah balik


"kak, dimana kak Karin?", tanya Jiah mengendurkan pelukannya


"Riri? ah dia masih ada urusan disana, tapi kupastikan hari ini dia akan pulang", ucap Joi


"benarkah?", tanya Jiah


"em, benar", jawab Joi


"sekarang, ayo masuk, temui mama dan ayahmu", ucap Joi menggenggam tangan Jiah


"aku...", ucap Jiah tak bergerak dari posisinya


"kenapa?", tanya Joi


"tidak", jawab Jiah ragu


Mereka lalu masuk kedalam ruangan itu, pandangan pertama Jiah melihat mama dan ayahnya didalam sana yang sedang terbaring dengan selang infus disampingnya


"sana temui mamamu", bisik Joi


Namun Jiah tak bergerak, justru bersembunyi dibalik tubuh Joi


"Jiah, maafkan mama", ucap Ningsih


"Jiah, sini", ucap Tio


Jiah pun perlahan mendekat ke arah Ningsih


"apakah sakit?", tanya Jiah


"tidak, ini sudah sepantasnya mama dapatkan", ucap Ningsih

__ADS_1


Ningsih lalu memeluk Jiah, mereka berdua menangis bersama. Ningsih meminta maaf atas perlakukannya selama ini kepada Jiah, sedangkan Jiah meminta maaf atas keegoisannya selama ini kepada Ningsih, Tio dan Riri


Mereka perlahan lahan berdamai dan coba menerima semua kenyataan yang ada.


__ADS_2