Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Makanan kesukaan kami


__ADS_3

Aku masih saja bingung dengan keinginan Nicko yang meminta ku memesan tempat untuk makan siang nya. Aku duduk di meja kerja ku dengan handphone di tangan ku, mencari-cari resto terdekat yang akan ku reservasi. Banyak sekali restoran mahal di sekitar sini,namun aku bingung memilih tempat nya.


Lalu aku teringat tentang masa kecil kami. Aku dan Nicko dulu sama-sama menyukai ikan berkuah kuning dengan di sajikan bersama nasi panas yang akan menambah kenikmatan nya. Namun aku tidak tahu,apakah Nicko masih menyukai menu favorit itu atau tidak.


Aku segera mencari di google dengan kata kunci ‘ikan kuah kuning di sekitar saya’ dan keluar lah beberapa tempat rekomendasi yang muncul di layar ponsel ku. Ada salah satu resoran terdekat dengan kantor yang menyajikan menu tersebut. Restoran itu tidak terbilang besar namun memiliki kesan berkelas, cocok lah untuk seoarang Bos besar yang ingin makan di luar. Aku segera menghubungi bagian resepsionis restoran itu.


“Selamat siang” sapa ku kepada wanita yang ada di sebrang telepon ku.


Lalu aku langsung memesan tempat untuk di siapkan di jam makan siang atas nama Pak Ferdyan,resepsionis itu menanyakan tepat jam dan menu apa saja yang perlu di siapkan agar ketika kami sampai bos kami tidak perlu menunggu lama.


Ketika aku sedang berkomunikasi lewat telepon genggam ku, aku begitu merasakan ada orang yang tengah memperhatikan ku entah dari mana, namun aku membiarkan nya dan terus bekerja dengan serius.


Jam makan siang pun akhirnya tiba, aku menunggu Nicko yang masih menemui tamu di dalam ruangan nya. Lalu tidak lama Bima datang membuka pintu dan menatap ruangan Nicko.


“Pak Ferdy belum selesai?” Tanya nya terus berusaha mengintip Bos nya dari luar ruangan.


“Belum” jawab ku singkat.


“Kamu sudah reseved tempat untuk makan?” Tanya nya,yang seperti nya sudah tahu jika ini adalah jam makan Nicko.


“Sudah”


“Dimana ?”


“Di dekat sini, nama restoran nya ‘Goody fish Restaurant’ “ jawab ku dengan tenang.


“Goody Fish?” Tanya Bima terlihat bingung.

__ADS_1


“Pak Ferdy bilang dia mau makan ikan?” Tanya nya lagi.


“Memang ngga. Dia sama sekali gak bilang mau makan apa,dan aku belum sempat menanyakan itu. Pak Ferdy keburu sibuk kedatangan tamu”


Bima masih saja terlihat bingung dan mengkerutkan kening nya. Dia tampak seperti ragu dengan menu makanan pilihan ku. Lalu tiba-tiba pintu ruangan Nicko terbuka dan beberapa orang telah keluar dari sana. Aku langsung berdiri dan memberikan senyuman kepada mereka orang-orang ber jas yang keluar dari sana. Bima pun ikut berdiri tegap dan membantu membuka kan pintu untuk orang-orang penting ini.


Suara telepon kantor ku berdering di atas meja, dengan sigap aku langsung mengangkat nya.


Belum sempat aku mengucapkan salam, Nicko sudah lebih dulu berbicara dengan ketus nya.


“Ke ruangan saya sekarang dengan Bima” lalu dia menutup sambungan nya tanpa memberi kan ku kesempatan untuk mengucapkan kalimat apapun.


Dengan sedikit kesal aku langsung menutup telepon itu.


Aku langsung merapikan dulu beberapa berkas yang berserakan di atas meja, mematikan komputer ku dan mengambil buku kerja ku untuk masuk.


“Kita di minta masuk” ucap ku kepada Bima yang masih berdiri di hadapan ku dengan masih saja kikuk dan aku masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan Nicko.


“Sudah pesan tempat untuk saya?” Tanya Nicko dengan menatap ku begitu dingin.


“Sudah Pak” jawab ku.


“Mohon maaf Pak. Mungkin Fawnia belum tahu dengan restoran langganan Bapak untuk makan siang,dan dia juga belum tahu dengan menu makanan yang ingin di pesan Bapak,jadi saya menyarankan Fawnia untuk me reservasi ulang restoran nya sekarang” aku menatap Bima dengan bingung.


Aku tidak ingat jika Bima telah mengatakan itu tadi. Dia belum memberitahukan ku restoran mana yang dia maksud untuk ku reservasi ulang.


“Coba hubungi lagi Restoran L’Avenue,apakah tempat nya sudah di siapkan atau belum?” Tanya Bima dengan gerakan mata memberikan kode.

__ADS_1


Ternyata Bima sedang berusaha menyelamatkan ku, secara tidak langsung dia memberitahukan ku nama restoran langganan Nicko dan meminta ku untuk menghubungi restoran itu secepat mungkin.


“Oh iya sebentar saya hubungi dulu” ucap ku mengeluarkan telepon yang aku selipkan dengan buku kerja ku.


“Memang restoran mana yang kamu hubungi sebelum nya?” Tanya Nicko membuat ku menatap nya dengan diam.


Aku melirik Bima sebentar,dia terlihat sedikit cemas karena mungkin dia takut jika aku akan di omeli Nicko atas kecerobohan ku di hari pertama bekerja.


“Goody Fish Restaurant” jawab ku dengan ikut gugup juga.


Nicko terlihat menatap ku kaku, dia kembali mengingat sesuatu,aku bisa melihat itu dari gerak mata nya.


“Saya bisa batalkan reservasi nya sekarang Pak” ucap ku dengan cepat segera menghubungi restoran Goody Fish itu sebelum Nicko berkomentar.


“Tidak perlu” jawab nya sambil bangun dari duduk nya, dia memasang kancing jas nya dan keluar dari meja kerja nya.


“Saya sedang ingin makan ikan siang ini” lanjut nya lagi sambil melewati ku dan Bima begitu saja.


Bima terlihat bingung namun dia segera mengikuti Nicko dan membuka kan pintu untuk nya. Aku masih terdiam dengan ponsel ku,karena Nicko dan Bima sudah berhasil membuat ku bingung,namun aku segera melupakan nya dan cepat berjalan keluar ruangan dan mengikuti mereka yang sudah berjalan begitu cepat.


Kita pergi menggunakan mobil yang di kendarai oleh Bima. Mobil BMW berwarna hitam mengkilat dan terlihat begitu mewah.


Untuk pertama kalinya lagi aku duduk di kursi belakang berdua dengan Nicko di dalam mobil. Ada rasa gugup dan canggung namun aku berusaha se tenang mungkin dan mengontrol rasa gugup ku.


Di dalam perjalanan aku terus terdiam memandang keluar jendela untuk menghindari kontak mata dengan Nicko yang duduk di sebelah ku.


Aku melamun dengan kehidupan ku yang menyedihkan ini, mengingat tentang semua masalah yang masih belum bisa ku atasi. Aku harus bertahan bekerja seperti ini demi Kara, dan aku merasa tidak memiliki orang lain lagi selain dia. Aku begitu merindukan masa-masa kajayaan ku dulu ketika orang tua ku masih ada.

__ADS_1


Dari kecil aku selalu di jadikan ratu di dalam rumah oleh orang tua ku. Rumah yang begitu besar dan megah yang hanya ada keluarga kecil di dalam nya, dan lebih banyak pembantu yang bekerja disana di banding kan dengan isi keluarga. Teringat sekali aku yang selalu bahagia dan tanpa ada masalah yang mengganggu ku. Aku selalu hidup enak, hidup dengan layak dengan penuh kemewahan, dan aku tiba-tiba saja berfikir,andai saja orang tua ku masih ada, aku tidak akan seperti ini.


Aku merindukan mereka.


__ADS_2