
“Akuu…” ucap ku menggantung dengan tangan yang masih terus di pegang nya seolah aku ini akan kabur.
Suara pintu ruangan ku dari luar terdengar terbuka. Aku langsung melepaskan dengan pelan pegangan Nicko sebelum orang itu masuk ke dalam ruangan ini. Nicko masih saja menatap ku dengan dalam, dia tidak memperdulikan siapa pun yang masuk ke dalam ruangan nya.
“Sore Pak” itu Bima.
Aku langsung berbalik melihat Bima dan tersenyum kikuk kepadanya. Bima terlihat bingung melihat ku yang sedang berdiri begitu dekat dengan Nicko.
“Pak Zayden sudah menyimpan berkas nya dan katanya dia akan meng handle semuanya” ujar Bima berusaha untuk tetap tenang menatap Nicko.
Aku berusaha kembali melangkah kan kaki ku meninggalkan Nicko, namun Nicko menarik baju belakang ku untuk tetap di posisi ku. Bima melihat itu, namun dia pura-pura tak memperhatikan nya.
“Baik terima kasih” ucap Nicko.
“Kalau begitu saya pulang Pak”
“Iya. Terima kasih”
“Sama-sama”
Lalu Bima menatap ku.
“Aku duluan Faw” pamit Bima dengan wajah yang bingung menatap ku.
“Oke Bim” jawab ku dengan tersenyum ceria menyembunyikan rasa gugup ku di hadapan nya.
Bima keluar dari ruangan Nicko dengan cepat. Namun tangan Nicko masih saja menarik baju belakang ku.
“Sudah lepaskan !” pinta ku dengan kesal.
“Jadi tadi mau bilang apa?”
“Apa?” Tanya ku seolah aku lupa dengan percakapan kita sebelum nya.
“Tadi kamu baru bilang ‘aku?” Tanya Nicko mengingat ucapan ku yang terputus.
“Aku…. Mau pulang” ucap ku dengan santai tersenyum kepadanya.
“Karena Kara pasti sudah menunggu ku” lanjut ku membuat Nicko kesal menatap ku.
Aku pun segera berlari pergi dari hadapan nya, karena takut dia kembali menahan ku.
Sesampainya di rumah,Kara menyambut ku dan Nicko di ruang keluarga.
“Mama… Papa..” dia lebih dulu berlari ke arah ku dan memeluk ku.
“Kara jangan dulu lari-lari!” Seru ku karena khawatir melihat dia yang masih dalam pengobatan.
Aku berjongkok untuk menyambut pelukan nya. Nicko berdiri di samping ku dengan tersenyum dan mengelus lembut kepala Kara.
“Mama sama Papa kok baru pulang?” Tanya Kara dengan mengkerucutkan bibir nya seolah dia kesal.
“Iya. Mama minta maaf ya,Mama pulang nya telat. Karena Mama banyak kerjaan” jawab ku sambil menyelipkan rambut yang menghalangi wajah Kara ke belakang telinga nya.
“Kara habis main apa saja disini dengan Oma?” Tanya ku sambil melirik Mama yang masih duduk di sofa.
“Kara di ajarin berhitung sama Oma Ma. Terus kata Oma, Kara pinter” ujar Kara dengan lucu nya.
__ADS_1
“Iya dong. Cucu Oma kan pasti pinter” ujar Mama dengan bangga nya.
“Ya sudah. Kara kesini lagi, biar Mama dan Papa berganti baju dan beristirahat dulu” ucap Mama.
“Euh tidak. Aku langsung pergi” ucap Nicko.
“Kemana?” Tanya ku dengan heran sambil menggendong Kara.
“Aku kembali ke rumah ku untuk mengerjakan suatu pekerjaan ku”
“Pekerjaan apa?” Tanya ku dengan ketus.
“Proyek yang tadi kita bahas di ruang meeting, aku harus mengerjakan nya di rumah karena file nya ada dikomputer sana”
“Apa tidak bisa mengerjakan nya disini?” Tanya ku kesal.
“Tidak bisa Fawnia. Data nya aku simpan di file di komputer rumah ku, aku lupa memindahkan nya”
“Proyek yang mana sih?” Tanya ku dengan kesal.
“Proyek pembangunan Royal Choice, kamu juga kan tau sendiri kita sedang di kejar waktu untuk proyek itu”
“Ya apa tidak bisa di kerjakan disini saja? Atau kamu bisa mengerjakan nya nanti kan?”
“Ini aku sudah membiarkan nya selama beberapa hari, aku malu dengan Pak Handoko”
Aku hanya diam menatap nya tak lagi berbicara. Aku begitu kesal kepada Nicko karena dia malah meninggalkan aku disini.
“Papa mau pergi lagi?” Tanya Kara dengan lucu.
Nicko lalu tersenyum ketika di tanya oleh Kara.
“Papa ga nemenin Kara?” Tanya manja.
Nicko bingung bagaimana menjelaskan nya kepada Kara. Dia melirik ku seolah meminta bantuan menjawab nya,namun aku melempar pandangan ku darinya.
“Tidak Nak. Papa hanya harus bekerja lagi”
Aku menatap tajam Nicko, dan raut wajah Kara berubah menjadi cemberut.
“Main nya sama Mama ya,Papa nya terlalu sibuk” ucap ku kepada Kara dengan sedikit menyindir Nicko.
Kara mengangguk dengan perlahan, wajah nya masih saja cemberut. Aku kembali menatap Nicko dengan tajam dan membawa Kara ke lantai atas.
Mama terlihat tersenyum dan menggelengkan kepala melihat ku dan Nicko.
Aku mendudukan Kara di tempat tidur.
“Kara tunggu disini ya, Mama mandi dulu dan ganti baju. Nanti kita main bareng , oke?”
“Oke Ma” jawab Kara dengan lemas.
Lalu aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh ku. Aku menatap wajah ku di cermin kamar mandi, dan berusaha menenangkan diri dari semua kepenatan pekerjaan yang baru saja aku lalui. Dan barulah aku mandi.
Setelah selesai mandi aku langsung memakai handuk kimono berwarna putih dan membalut rambut ku dengan handuk putih juga. Aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar.
Aku tak memperhatikan Kara di tempat tidur, karena aku kira dia sedang bermain dengan gadget nya dengan tenang. Aku membuka lemari pakaian ku dan membawa nya ke tempat tidur. Lalu akuu terkejut melihat seseorang yang tengah duduk di samping Kara sambil menatap ku dengan terpatung.
__ADS_1
“Nicko!!” Teriak ku kepadanya.
Nicko hanya menatap ku dengan heran. Aku langsung merapatkan handuk kimono ku takut jika bagian dalam tubuh ku terlihat.
“Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya ku kesal sambil terus membenarkan handuk kimonoku agar dada ku tak terlihat.
“Aku sedang menemani Kara bermain” Jawab nya mulai kikuk.
Kita berdua jadi saling kikuk, lalu dengan kesal aku membawa semua pakaian ku kembali kamar mandi, dan memakai pakaian ku di dalam sana.
Aku terkejut melihat Nicko ada di kamar ku, aku tidak mau bertelanjang dada di hadapan nya lagi apalagi ada Kara yang melihat. Aku masih malu kepadanya. Dan atas kejadian di 5 tahun lalu, aku pun masih selalu malu jika mengingat dia sudah pernah melihat seluruh tubuh ku.
Aku keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian,dan masih memakai handuk di kepala ku. Aku menatap Nicko dengan tajam.
“Katanya mau pulang?” Sindir ku kepadanya sambil duduk di meja rias ku
“Aku tidak mau Kara cemberut dan marah, jadi aku memutuskan untuk tinggal”
“Kenapa tidak pindah lagi kesini ?” Tanya ku mulai menggosokan rambut dengan handuk.
“Kenapa memang nya?” Tanya nya.
“Ya agar Kara tidak banyak menanyakan mu”
“Benarkah?” Tanya Nicko kepada Kara yang sedang bermain puzzle.
“Iya Pa. Karena teman ku Gilbran kalau tidur selalu di temani Mama dan Papa nya” ucap Kara membuat ku terdiam sejenak mendengar ucapan yang selalu di minta nya hampir setiap malam.
Ya. Kara kerap kali menanyakan kenapa Nicko tidak menemani nya tidur di kamar seperti teman-teman nya, dan selalu meminta aku untuk menghubungi Nicko, namun aku tidak mau. Karena aku tidak ingin mengganggu istirahatnya.
Aku melirik Nicko di pantulan cermin, dia mengusap rambut Kara dengan lembut.
“Kara mau Papa tidur disini ?” Tanya Nicko.
“Mauu” jawab Kara dengan wajah lucu nya.
“Kalau begitu coba minta izin ke Mama” ujar Nicko.
“Maa…” panggil Kara.
Aku terus menatap diri ku di cermin sambil berdandan memakai lotion dan cream di wajah.
“Ya” panggil ku seolah tidak tahu dengan percakapan mereka.
“Papa boleh tidur disini?”
Aku mempertimbangkan dulu sebentar permintaan Kara. Dan membalikan tubuh ku menatap nya dengan tersenyum.
“Kalau Papa tidak sibuk, Papa bole tidur disini” Ledek ku kepada Nicko.
“Memang Papa sibuk?” Tanya Kara kepada Nicko.
“Tidak. Papa banyak waktu untuk Kara,mungkin Mama yang tidak mau Papa tidur dengan Kara” balas Nicko meledek ku.
Aku melirik Nicko dengan tajam. Dan menggelengkan kepala ku.
“Papa tidur disini malam ini ya” ucap ku kepada Kara.
__ADS_1
“Horeee… Papa tidur sama Kara”
Aku tersenyum melihat kebahagiaan Kara yang terpancar di wajah nya. Dan Nicko pun tersenyum melihat Kara.