Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Tamu yang tak di harapkan


__ADS_3

Acara resepsi telah selesai, sekarang tinggal acara makan malam dengan keluarga dan kerabat terdekat kami masih di hotel yang sama hanya saja acara makan malam ini pindah ke sky garden outdoor hotel ini. Tema acaranya standing party, dengan live Musik saxophone yang menenangkan membuat acara makan malam pernikahan kami begitu intimate.


Aku memakai dress tanpa lengan dan panjang nya di atas lututku. Pakaian itu memang minim, namun begitu elegant ketika aku pakai. Di tambah dengan tatanan rambut ku yang aku ikat dengan messy sehingga membuat leher ku terlihat terbuka dan penampilan ku jauh lebih memukau. Sementara Nicko, dia memakai kemeja hitam berlengan panjang, dengan dua kancing atas nya terbuka dan celana kulot berwarna hitam. Nicko pun tampak begitu seksi dengan dada nya yang bisa terlihat itu.


“Mama..” ujar Kara yang menarik dress ku ketika aku dan Nicko sedang mengobrol dengan teman-teman kerja Nicko.


Kara juga sama telah mengganti pakaian dengan dress ball berwarna hitam yang mengembang.


“Hay. Kenapa sayang?” Tanya ku sambil berjongkok untuk menatap nya.


Kara terlihat begitu lesu dan lelah sekali.


“Kara mau tidur” ujar nya dengan cemberut.


Aku tersenyum mendengar nya.


“Kara mau tidur?”


“Iya” jawab nya sambil mengangguk.


“Oke tunggu sebentar”


Aku langsung berdiri dan menatap ke sekitar ku.


Aku mencari Mama atau siapa saja yang bisa aku mintai tolong antarkan Kara ke dalam kamar hotel. Tetapi aku lupa jika Mama sudah lebih dulu ke kamar dan beristirahat, aku tidak mungkin minta tolong Papa untuk mengantarkan Kara, karena dia juga sibuk menyambut tamu yang baru datang untuk ikut makan malam.


“Nick. Aku antarkan Kara ke kamar dulu ya” ujar ku sedikit berbisik kepada Nicko di tengah perincangan dia dengan teman nya.


“Kenapa tidak minta tolong pelayan hotel?”


“Kara pasti tidak akan mau” ucap ku mengingatkan bagaimana rewel nya Kara dengan orang yang tidak di kenal nya.


“Perlu aku antar?”


Aku langsung menatap rekan kerja Nicko yang terlihat masih berdiri di hadapan nya.


“tidak perlu. Aku bisa antarkan Kara sendiri ke kamar”

__ADS_1


“Baiklah” jawab Nicko.


“Ayo sayang” ajak ku sambil menuntun Kara.


Aku dan Kara berjalan melewati beberapa tamu undangan. Sesekali aku menyapa tamu undangan, tersenyum dan meminta izin untuk mengantarkan Kara ke kamar nya dulu.


Aku masuk ke dalam hotel dan kami mulai menuju kamar hotel kami yang berada di lantai yang sama. Aku dan Kara melewati beberapa lorong dan melewati beberapa pintu kamar hotel untuk sampai ke kamar kami. Lalu Aku berhenti di salah satu pintu kamar hotel dan mengetuk pintu nya. Aku melirik Kara yang seperti nya sudah tidak kuat menahan rasa kantuk nya. Aku langsung menggendng nya dan membaringkan kepala Kara di bahu ku. Aku kembali mengetuk pintu kamar hotel itu. Kara seperti nya sudah langsung tertidur di dalam gendongan ku.


Beberapa saat kemudian Mama membuka kan pintu dengan mata yang begitu sayu, mata yang baru bangun tidur dan di paksa untuk membuka pintu kamar.


“Eh maaf sayang, tadi Mama pusing dan langsung tertidur” ucap Mama meminta maaf karena telah membuat ku menunggu cukup lama di depan kamar nya.


“Iya tidak apa-apa Ma, Mama istirahat saja. Euh aku boleh menitip Kara disini?” Pinta ku.


“Oh iya, baringkan saja Kara di tempat tidur ya”


Aku langsung masuk ke dalam kamar Mama dengan berhati-hati takut jika Kara terbangun. Aku tidur kan Kara dengan perlahan dan tanpa bersuara, lalu menyelimuti tubuh nya dengan selimut putih yang tebal.


Mama langsung ikut berbaring di tempat tidur dan ikut berselimut di samping Kara.


Mama tersenyum dengan manis.


“Pergilah. Sapa lagi tamu undangan mu” pinta Mama dengan nada yang begitu lemah karena mengantuk.


“Baiklah” lalu aku mencium kening Kara dan keluar dari kamar hotel Mama.


Aku menutup pintu dengan rapat dan memastikan jika pintu kamar nya telah terkunci. Lalu aku kembali hendak pergi kembali ke skygarden. Namun ketika aku berbalik aku mendapati seseorang tengah berdiri di tengah lorong menggunakan kemeja hitam dan jas berwarna hitam juga. Dia begitu terlihat tampan dan menawan dengan pakaian nya yang serba hitam seperti itu.


Ben. Aku terkejut dan terpatung melihat dia berdiri tegap di hadapan ku, sedangkan dia menatap ku dengan begitu dingin.


“Apa aku terlambat?” Tanya Ben dengan nada yang datar.


Aku menyadarkan diriku dan berusaha untuk tenang menghadapi nya. Aku terlihat sedikit gugup namun aku berusaha tersenyum kepadanya.


“Oh tidak. Acara makan malam belum lama di mulai, kamu bisa kesana untuk mencicipi jamuannya” jawab ku dengan tersenyum,lalu berjalan berusaha melewati nya.


Ben menarik tangan ku dan mengembalikan ku untuk berdiri di hadapan nya. Raut wajah ku seketika berubah menjadi resah. Ben menatap ku begitu dalam, dia tak berbicara namun tatapan nya terus membuat ku begitu gugup. Aku memalingkan wajah ku kepadanya.

__ADS_1


“Apakah kamu bahagia dengan pernikahan mu sekarang?” Tanya Ben berusaha menatap mata ku.


Aku menganggukan kepala dengan begitu semangat nya,lalu balas menatap mata nya dengan penuh keyakinkan.


“Tentu saja”


“Bagaimana rasanya bisa menikah untuk yang kedua kali nya?” Tanya nya membuat ku menatap dia dengan sinis.


“Bagiku ini adalah pernikahan pertama ku” ujar ku membuat Ben menatap ku tajam.


“Dengan mu dulu, aku tidak pernah merasakan perasahaan bahagia sebagai seorang pengantin seperti ini, tidak pernah merasakan kebahagiaan di hari pernikahan, tidak merasakan senang nya dengan keluarga besar. Aku menganggap pernikahan itu hanyalah sebuah kebohongan, sebuah acting, bahkan aku menganggap pernikahan itu tidak pernah terjadi” ujar ku.


Ben terlihat begitu kecewa.


“Tapi Kita pernah menikah Fawnia. Kita pernah terikat dalam ikatan janji yang begitu sakral”


“Perjanjian mana yang kamu maksud?” Tanya ku dengan menahan rasa amarah ku.


“Kamu lupa! Di dalam ucapan janji pernikahan ada kalimat yang mengucapkan jika kita akan terus bersama selamanya hingga akhir hayat, berjanji jika tidak akan ada kebohongan di dalam rumah tangga, bahkan di dalam janji itu di sebutkan bahwa kita harus bisa menjaga satu sama lain selama hidup. Dan bahkan yang kamu lakukan malah sebaliknya kan ? Kamu meninggalkan aku, kamu ber pura-pura mati, bahkan kamu meninggalkan aku dengan begitu banyak masalah Ben. Jadi pernikahan sakral mana yang kamu maksud ?” Tanya ku dengan masih menahan emosi ku yang hampir meledak.


“Pernikahan kita seharusnya tidak pernah terjadi Ben,dan tidak seharusnya juga aku merasakan penderitaan itu selama 4 tahun lamanya” ucap ku yang masih saja mengungkit masalalu ku yang suram.


“Aku telah menjelaskan semua nya Faw. Apapun yang aku lakukan adalah untuk kamu dan anak kita”


“Anak Nicko!” Ucap ku mengkoreksi ucapan nya.


“Dia adalah anak Nicko, kamu harus ingat itu” ucap ku.


“Tapi kamu sudah berjanji untuk menjadikan dia anak ku, bahkan kamu pun sudah berjanji dia akan tetap menjadi anak ku apapun yang terjadi kan ?”


“Itu saat semua nya baik-baik saja Ben, dan sekarang hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Anak ku sudah bahagia dengan Papa kandung nya, dan dia tidak memiliki Papa lain selain Nicko!” Tegas ku sambil kembali berjalan melewati Ben dengan begitu cepat.


“Fawnia!!” Panggil Ben.


Aku tak menghiraukan nya dan terus berjalan dengan cepat.


“Fawnia!!” Panggil nya, namun aku berhasil menjauh dari Ben dan menghilang dari hadapan nya.

__ADS_1


__ADS_2