
Dokter pun akhirnya keluar dari ruangan ICU. Aku dan Nicko langsung berdiri dengan sigap menghampirinya.
“Bagaimana?” Tanya Nicko.
“Semua berjalan dengan baik,transfusi darah sudah di lakukan. Dan cedera di kepala bagian belakang dia pun sudah kami tangani, dia hanya mengalami trauma kepala ringan. Itu akan sembuh selama 2 minggu” ucap dokter dengan tenang.
“Jadi Kara tidak kenapa-napa?” Tanyaku.
“Anak Ibu tidak apa-apa. Dia pingsan hanya karena benturan nya begitu keras di bagian belakang,namun itu tidak membuat anak ibu mengalami cedera yang begitu berat”
Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega setelah mendengar apa yang di katakan dokter.
“Namun dia masih harus beristirahat, tidak boleh melakukan aktivitas yang berat”
“Apa sekarang saya boleh menemui anak saya?” Tanya ku.
“Boleh silahkan”
Aku dan Nicko langsung masuk ke dalam ruang ICU dan melihat Kara yang masih berbaring di tempat tidur dengan infusan darah di samping nya. Kepalanya pun tampak di perban melingkar, dan dia masih belum sadar dari biusan yang di berikan dokter.
Aku berdiri di samping tempat tidur Kara dan mengeleus rambutnya dengan lembut.
“Sayang” panggil ku dengan lirih di telinga nya.
“Maafkan Mama ya, karena Mama ceroboh sudah meninggalkan Kara sendirian di kamar” ujar ku dengan penuh penyesalan.
Nicko mengusap punggungku.
“Faw. Berhentilah menyalahkan diri sendiri”
Aku tak menghiraukan Nicko yang ada di sampingku, tatapan ku tidak lepas dari Kara yang sedang berbaring lemah di hadapan ku.
“Semua ini bukan salah mu,bukan juga salah Kara ataupun Mama. Tapi mungkin harus seperti ini cara agar Kara memulai kehidupan baru nya”
Aku tersenyum menatap Nicko,dan bersandar di bahu nya, menatap anak kami yang sedang terbaring di tempat tidur. Nicko segera menghubungi orang tua nya dan memberi tahu jika Kara telah selesai di tangani dan tidak lama mereka pun datang. Mereka langsung menatap Kara dengan sedih, apalagi Mama, dia begitu sedih menatap Kara dan terus mengelus rambut Kara.
“Sayang. Bangung Nak, ini Oma”
Papa Nicko mengelus punggung Mama, seperti hal nya Nicko yang mengelus punggung ku untuk menenangkan ku.
“Maafkan Oma Nak, karena selama ini Oma tidak pernah tahu tentang Kara, dan Oma tidak melihat mu dari bayi”
Aku terenyuh mendengar Mama berkata seperti itu. Aku tidak menyangka, jika Mama bisa begitu menyayangi Kara,aku beruntung memiliki mereka semua.
Malam pun tiba. Aku masih menunggu Kara dengan duduk di samping tepat tidur nya. Kara masih di haruskan untuk menginap di rumah sakit, setidak nya hingga kondisi nya mulai terlihat membaik.
Tiba-tiba Kara terbangun.
“Mama..” suara rintihan nya.
Aku langsung sigap berdiri dan mencondongkan badan ku untuk mendekati Kara.
“Hay sayang” sapa ku dengan lembut.
“Kara dimana Ma?” Tanya dia menatap sekeliling nya dengan mata yang masih sayu.
“Kara masi di rumah sakit sayang” jawab ku sambil terus mengelus lengan nya.
“Kara tadi pagi kenapa bisa jatuh di kamar?” Tanya ku dengan hati-hati dan menahan sedih ku melihat kepala nya yang masih di perban.
Lalu dia menatap ku dengan sayu. Mata nya masih terlihat begitu berat dan raut wajah nya pun terlihat begitu lelah.
“Kara tadi main di kamar, terus Kara naik ke kursi untuk bawa permen caramel dari Om Nicko, tapi Kara malah jatuh terus kepala Kara kena meja”
__ADS_1
Aku begitu kasihan mendengar nya.
“Maaf ya sayang. Mama malah tinggalin Kara di kamar” aku hanya bisa terus meminta maaf kepada Kara karena masih terus merasa bersalah kepadanya.
“Om Nicko mana ?” Tanya Kara dengan lemah.
“Om Nicko lagi beli makan dulu” jawab ku sambil tersenyum.
Tidak lama, Nicko pun datang. Dia terkejut melihat Kara yang sudah siuman, lalu dengan cepat dia menghampiri kami dan berdiri di sisi lain tempat tidur.
“Kara” sapa Nicko dengan bahagia.
“Om Nicko”
“Kara sudah bangun?”
Kara hanya menganggukan kepala nya dengan lemah.
“Om Nicko Kara mimpi Om Nicko” ucap Kara.
“Mimpi ? Mimpi apa nak?”
“Kara Mimpi,Kara bermain dengan Om Nicko di taman. Dan Kara manggil Om, Papa” ucap nya membuat ku terkejut, begitu pun dengan Nicko.
Kami saling melempar pandang, kami terkejut dengan Mimpi Kara yang seolah memberi petunjuk untuk dirinya sendiri, namun karena mungkin Kara masih terlalu kecil untuk mengerti, dia tidak menyadari, jika mimpi itu adalah suatu petunjuk untuk nya.
“Kara” panggil ku sambil memegang tangan nya.
“Mulai dari sekarang Kara harus memanggil Om Nicko dengan panggilan Papa” ucap ku dengan begitu bahagia. Dan Nicko pun tampak begitu tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
“Kenapa Ma?”
“Karena Om Nicko ini adalah Papa nya Kara” aku mulai menangis begitu terharu, akhrnya aku bisa mengungkapkan yang sebenarnya kepada Kara.
“Iya sayang. Kara selama ini selalu bertanya tentang Papa Kara dimana kan? Kara selalu bertanya,kenapa Papa Kara tidak menemani Kara bermain seperti teman Kara. Dan sekarang Papa Kara ada disini, Papa Nicko, yang akan selalu menemani Kara”
“Kenapa Ma?” Tanya Kara yang masih terlalu polos untuk mengerti keadaan nya.
“Kara. Mungkin Kara belum mengerti, tapi yang harus Kara tau, kalau Om Nicko yang Kara kenal ini adalah Papa kandung Kara” pinta ku memberikan dia sedikit pengertian.
Kara lalu melirik Nicko, dia menatap nya dengan dingin. Nicko tampak begitu tegang di tatap Kara seperti itu. Aku yakin, Nicko pasti takut dengan reaksi Kara.
“Bener ? Om Nicko ini Papa kandung Kara?” Tanya Kara masih dengan wajah polos nya.
Nicko hanya bisa mengangguk sambil mengusap pipi lembut Kara.
“Mama bilang Papa Kara itu tampan” ucap Kara dengan lucu nya.
Nicko terlihat mengerutkan kening nya sambil t ersenyum tipis.
“Memang nya Papa tidak tampan ?” Ucap Nicko akhirnya memanggil dirinya dengan sebutan Papa, persis seperti apa yang dia inginkan.
“Om Nicko, eh” Ujar Kara sambil menutup mulut nya karena dia lupa dengan panggilan baru Nicko.
Aku dan Nicko pun tertawa melihat tingkah nya.
“Papa tampaaan sekali” ujar Kara dengan terlihat menggemaskan.
“O ya?” Tanya Nicko tak percaya bualan Kara.
“Iya. Mama juga suka bilang kalau Papa tampan, iya kan Ma?” Tanya Kara melirik ku.
Nicko juga ikut melirik ku dengan mata nya yang meledek, aku malah menjadi kikuk dengan ucapan Kara yang hanya akan membuat Nicko besar kepala.
__ADS_1
Aku tersenyum kepada Kara.
“Iya sayang, Papa memang tampan” jawab ku tanpa melirik Nicko yang pasti sudah merasa bahagia sekarang karena pengakuan ku.
Ya memang benar adanya, Nicko memang tampan, bahkan aku belum pernah menemukan orang yang setampan Nicko di hidupku selain Papa kandung ku.
“Boleh Papa peluk Kara?” Tanya Nicko yang masih saja canggung kepada anak nya sendiri.
“Boleh dong Pa, Mama juga suka sering peluk Kara kalau Kara sakit, kata Mama biar Kara cepat sembuh”
Dia memang anak yang kuat,dia malah tidak menangis lagi saat tau jika dia di rumah sakit. Bahkan mungkin rasa sakit di kepala nya saja tidak dia rasakan.
Nicko langsung memeluk Kara dengan hati-hati, lalu dia memejam kan mata nya memeluk hangat tubuh mungil Kara yang masih terbaring. Aku melihat begitu bahagia dan leganya Nicko bisa memiliki Kara seperti ini. Aku juga begitu bahagia karena akhirnya aku dan Nicko bisa hidup bahagia seperti apa yang kita inginkan.
Nicko melirik ku yang masih berdiri menonton dia memeluk Kara.
“Kamu mau ikut bergabung?” Ucap Nicko menawariku.
Aku tersenyum mendengar nya, dan aku pun ikut memeluk Kara dengan hati-hati.
Inilah keluarga kecil kami yang sempurna, dengan berbagai macam masalah yang telah kami lalui, akhirnya kami kembali bersama.
Nicko mencium kening Kara dengan begitu lembut. Lalu dia mengelus rambut nya.
Beberapa jam berlalu. Kara sudah mulaii tertidur nyenyak dan aku masih duduk di samping tempat tidur Kara, sementara Nicko duduk di sisi lain nya. Handphone Nicko berdering, telepon masuk untuk nya lalu dia segera keluar untuk menerima nya.
Lalu tidak lama dia kembali sambil mengotak atik handphone nya dan berdiri dan tertahan di depan pintu.
Aku menghampiri Nicko dan berdiri di hadapan nya.
“Kamu pulang saja Nick,Kamu perlu istirahat dan besok ada pekerjaan penting yang menunggumu”
Nicko tidak menatap ku dia terus serius memainkan ponselnya.
“Aku tidak akan pulang”
“Tapi besok kamu ada meeting penting Nicko”
“Kara lebih penting untuk ku”
“Nicko”
“Kamu tenang saja,aku akan meminta sekretarisku untuk meng handle semuanya besok”
Aku hanya bisa memutarkan bola mata ku mendengar jawaban nya.
“Baiklah. Terserah” jawab ku lalu berbalik hendak kembali ke samping Kara.
Namun aku menyadari sesuatu, aku baru mencerna perkataan Nicko dan langsung berbalik kembali menatapnya dengan tajam.
“Sekretaris?” Tanya ku dengan terkejut.
Nicko hanya terus berdiri di tempatnya dengan memandang ku dingin.
“Bukankah sekretarismu aku?” Tanya ku lagi.
“Siapa lagi?” Ledek Nicko.
Aku memicingkan mataku menatapnya tajam.
“Kara lebih penting dari pada aku harus menuruti perintah dari Bos ku yang menyebalkan” sinis ku dengan tatapan yang begitu tajam,lalu berbalik menjauhinya dan kembali duduk di samping Kara dengan perasaan kesal.
Nicko menggelengkan kepala nya menatap ku sambil tersenyum, lalu dia duduk di sofa untuk melanjutkan pekerjaan nya lewat handphone nya.
__ADS_1