
Setelah perbincangan yang begitu panjang,Papa dan Kara akhirnya kembali.
Kara berlari cepat ke arah ku dan langsung memeluk ku.
“Sudah jalan-jalan nya?” Tanya Mama Nicko dengan manis kepada Kara.
“Sudah Oma. Rumah nya besar sekali, tadi Kara juga main ke kamar Mama dulu, dan Opa bilang nanti Kara akan tidur disana, iya kan Opa?” Tanya Kara membuat ku melirik Papa dengan bingung.
“Kamar ku masih ada?” Tanya ku begitu konyol membuat mereka berdua tertawa.
“Kamu fikir kami bisa memindahkan nya kemana?” Ujar Papa sambil tertawa.
“Tentulah kamar kamu masih utuh dari semenjak kamu tinggalkan. Kami selalu meminta kamar mu untuk di bersihkan dan memastikan seluruh barang nya tidak hilang,karena Mama begitu yakin,suatu saat kamu pasti akan kembali” ujar Papa sambil duduk di samping Mama.
Aku begitu terharu dengan kebaikan keluarga ini. Mereka masih begitu menyayangi ku walaupun aku telah meninggalkan nya dan telah melakukan kekacauan,namun mereka bersikap seolah semua nya baik-baik saja.
Mata ku mulai berkaca-kaca.
“Ma. Kara juga melihat kolam renang, boleh tidak Kara berenang?” Tanya Kara dengan wajah memelas nya.
“Sayang. Kamu kan tidak membawa baju lagi, lain kali kita kalau main kesini bawa baju untuk berenang ya”
Wajah Kara berubah menjadi begitu sedih.
“Kara mau berenang?” Tanya Mama kepada Kara.
Kara mengangguk dengan raut wajah sedih nya.
“Kalau begitu mari kita berenang, biar nanti Oma belikan Kara baju berenang di toko baju dekat sini”ujar Mama nya.
“Tidak perlu Ma. Nanti saja kalau kita kesini lagi aku akan membawa bekal baju untuk Kara”
“Sayang. Apa kamu tega melihat anak kamu sedih seperti ini, apalagi Mama baru pertama kali bertemu dengan nya,Mama tidak mau melihat dia langsung kecewa seperti ini” ujar nya lagi-lagi membuat ku terharu.
“Sudah. Mama akan membelikan dulu Kara baju di depan, ada kok toko baju anak di dekat sini di depan cluster”
“Kara boleh ikut?” Tanya Kara dengan begitu polos nya.
“Kara mau ikut?”
“Mau Oma” seru Kara dengan tersenyum bahagia.
“Baiklah kalau begitu”
__ADS_1
“Ma. Apa tidak merepotkan?”
“Fawnia. Kara cucu Mama, tidak ada yang merepotkan. Yang merepotkan itu kamu, terlalu mengkhawatirkan kami”
Aku terenyuh dengan ucapan Mama,’Kara cucu Mama’.
“Baiklah” jawab ku sambil tersenyum.
“Ayo kita beli baju renang” ajak Mama Nicko menggandeng tangan Kara.
“Ayo Oma”
Lalu mereka pun pergi keluar rumah.
Aku menatap Papa Nicko yang duduk di samping ku sedang merebahkan dirinya di sofa.
“Pa. Boleh aku melihat kamar ku?” Tanya ku dengan pelan-pelan.
“Kamu fikir ini rumah siapa?” Ujar Papa membuatku terkejut.
“Jangan menganggap dirimu tamu disini, ini juga rumah mu, kamu bebas berkeliaran disini tanpa meminta izin siapapun” lanjut nya yang membuat ku bernafas lega,karena aku kira tadi dia sempat memaki ku.
Aku tersenyum kembali mendengar ocehan nya. Lalu pergi dari sana dan berjalan menuju lantai atas, dimana dulu kamar ku dan kamar Nicko berada.
Aku memegang handle pintu dan membuka nya secara perlahan. Kamar tidur ku begitu terang dari cahaya di luar jendela, tempat tidur ku begitu tertata rapih dengan boneka di samping nya. Kamar ini sudah kurang lebih 8 tahun aku tempati, dan 5 tahun lebih aku tinggalkan ternyata tidak pernah berubah sedikit pun.
Tema kamar berwarna pink,dari mulai sprai,selimut,sofa,meja belajar,cat kamar dan hiasan lain nya juga berwarna pink. Aku mendekati meja belajar ku dan melihat laptop juga buku-buku yang masih tersimpan di sana,lalu aku mendekati lemari besar ku dan membuka nya, semua baju-baju ku juga masih tersusun rapih di dalam lemari dengan harum pewangi yang begitu menyengat,sepertinya baju ku selalu di cuci meskipun tak pernah di pakai.
Lalu aku berjalan mendekati tempat tidur dan menatap meja yang menyimpan sebuah fhoto di atas nya. Fhoto kedua orang tua ku,aku duduk di samping nya dan mengusap fhoto kedua orang tua ku. Aku tersenyum melihat mereka di dalam fhoto itu,mereka terlihat begitu bahagia berfhoto dengan berpelukan,aku kembali mengingat kebersamaan mereka yang kerap sekali terlihat romantis di hadapan ku. Aku merindukan mereka.
Lalu aku teringat dengan fhoto ku dan Nicko di dinding tepat di belakang ku. Aku berdiri dan membalikan badan ku,aku melihat begitu banyak fhoto yang aku tempel di dinding dekat tempat tidur ku,sehingga setiap kali aku bangun aku menatap semua fhoto itu. Aku memang senang sekali berfhoto bersama Nicko,lalu aku cetak dan aku pajang di dinding tempat tidurku.
Ku lihat lagi satu persatu fhoto itu. Ada fhoto kami ketika masih berumur 5 tahun di taman,ada juga fhoto kami memakai sekolah dari SD,SMP, dan SMA, ada juga fhoto box yang ku tempel disana,dan masih banyak lagi fhoto kami berdua dengan setiap momment bersama yang aku abadikan di dinding kamar ini.
Lalu aku menatap sebuah fhoto diriku dan Nicko yang sedang berada di acara kelulusan sekolah kami,aku mengambil fhoto itu dan membalikan badan ku untuk melihat lebih jelas dari cahaya yang datang dari arah pintu. Di dalam fhoto itu aku sedang memakai dress biru dan Nicko yang memakai jas biru, fhoto itu di ambil secara candid atau ketidak sadaran kami ketika aku dan Nicko sedang berdansa dengan kebahagian yang terpancar dari wajah kami berdua. Di dalam fhoto itu aku sedang melingkarkan tangan di leher Nicko dan Nicko memegang pinggang ku dengan kedua tangan nya, kami sedang bertatapan sambil tersenyum merekah lalu teman kami diam-diam memotret kami,dan aku ingat persis itu adalah pertama kali nya Nicko mencium bibir ku dan menyatakan perasaan nya kepadaku.
Tiba-tiba senyum kesedihan muncul dari wajah ku. Aku tersenyum mengingat kejadian itu namun aku pun sedih mengingat semua nya. Aku menahan tangis ku dan menengadahkan kepala ku, tiba-tiba aku melihat sosok laki-laki yang tengah berdiri di luar kamar dengan memakai kemeja coklat,celana katun hitam dan sepatu kulit,sedang berdiri begitu tegap memandangi ku. Aku terkejut melihatnya seperti telah melihat hantu.
Nicko. Dia menatap ku dengan dingin dan tidak berbicara sedikit pun. Seketika aku merasa panik, malu karena Nicko telah mempergoki ku tengah tersenyum melihat fhoto kami berdua,lalu aku menyimpan kembali fhoto kita di dinding dan berdiam diri terus membelakangi Nicko menyembunyikan rasa canggung ku kepada nya.
Aku mendengar langkah kaki Nicko mendekati ku,namun aku terus diam di tempat ku berdiri membelakanginya.
“Kenapa?” Tanya nya yang sudah berdiri di samping ku dan ikut memandangi fhoto kami berdua.
__ADS_1
“Kamu teringat sesuatu tentang fhoto itu?” Sindir Nicko.
Aku diam untuk sejenak dan berusaha untuk tak melirik nya. Aku berusaha mencari alasan yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan Nicko.
“Ya. Aku ingat tentang acara kelulusan kita di sekolah” jawab ku mencari jawaban tepat untuk nya.
Lalu Nicko menatap ku,namun aku terus membuang wajah ku tak ingin bertatapan dengan nya.
“Apa Kara sudah pulang dengan Mama?” Tanya ku mencari sebuah pengalihan untuk menghindari nya.
Aku pura-pura mencari Kara di depan pintu dan hendak pergi kabur dari samping Nicko namun Nicko menarik tangan ku membuat ku terhentak ke pelukan nya.
Aku begitu terkejut dan menatap nya dengan membulat kan mata begitu lebar,namun dia menatap ku dengan dingin.
“Kenapa?” Tanya nya lagi.
“Kamu mengingat masa lalu kita?” Tanya nya membuat ku terdiam tak berkutik.
“Kamu merindukan nya?” Tanya Nicko mencoba membaca fikiran ku.
Aku terus diam menatap kedua matanya dengan bingung tidak tahu harus menjawab apa.
“Apa kamu juga masih menyimpan perasaan itu?”
Aku mengkerutkan kening ku menatap nya dan menertawakan ucapan nya.
“Apa maksud kamu?” Tanya ku sambil tersenyum sangat hambar.
“Perasaan apa yang kamu maksud?” Tanya ku dengan berusaha tenang.
Nicko masih saja mendekap ku,walaupun aku menghalangi tubuh kami dengan kedua tangan ku, dia terus saja memeluk ku dengan satu tangan nya.
“Apa kamu masih akan terus bersandiwara seperti ini Fawnia?” Tanya nya tajam membuat ku kembali diam dan menatap nya takut.
“Sampai kapan kamu akan berpura-pura seperti ini?”
Aku masih saja mengunci mulut ku,dan menatap nya dengan gugup.
“Aku akan menunggu Faw,akan selalu menunggu mu” ucap Nicko yang semakin membuat ku gugup.
Lalu tiba-tiba dia mengecup kecil bibir ku membuat ku tersentak menatap nya,lalu dia melepaskan pelukan nya dan pergi dari hadapan ku.
Aku masih terpatung berdiri di tempat ku dan fikiran ku mulai goyah dengan ucapan dan sikap Nicko yang baru saja di lakukan nya. Dia mencium bibir ku,dan mengatakan dia akan selalu menunggu ku. Aku mulai resah dan sekaligus juga takut.
__ADS_1