Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Skakmat


__ADS_3

Keesokan pagi nya, aku terbangun dengan melihat Kara yang masih ada di pelukan ku dan aku mencium pipi nya dengan lembut. Aku tersenyum melihat begitu lelap nya malaikat kecil ku tertidur. Lalu aku bangun dengan perlahan dan duduk untuk mengumpulkan nyawa ku dulu. Aku duduk dan memikirkan kejadian tadi malam, aku jadi teringan dengan rasa kesal ku kepada Nicko. Mood ku kembali buruk di pagi hari seperti ini,namun aku masih harus tetap bekerja dan melakukan aktifitas ku seperti biasa.


Aku bergegas untuk mandi dan memakai pakaian kerja ku yang selalu terlihat seperti style ala korea. Aku mengikat rambut ku hari ini dan membangunkan Kara.


“Sayang bangun” bisik ku dengan lembut.


Kara yang masih terlelap hanya bergerak sedikit lalu kembali terdiam dengan mata nya yang masih tertutup.


Aku kembali mengusap rambut nya.


“Kara” panggil ku dengan suara pelan di telinga nya.


Lalu Kara pun terbangun, dia tersenyum kepada ku dan langsung memeluk ku.


Aku tersenyum kepadanya.


“Kita sarapan dulu sayang, Mama mau pergi kerja” ujar ku.


Kara menatap ku dengan mata yang masih sayu, lalu dia menganggukan kepala nya.


Kara bangun dari tidur nya dan aku menggendong dia untuk mencuci wajah nya terlebih dahulu, lalu setelah selesai cuci muka Kara berjalan sendiri memakai sandal dan aku menuntun nya untuk ke luar.


Ketika aku membuka pintu, aku melihat Nicko yang sedang duduk di sofa ruang tengah dengan kepala yang di baringkan ke belakang nya. Dia juga sudah siap dengan pakaian kantornya. Namun seperti nya efek minuman semalam masih tersisa hingga pagi ini,sampai membuat dia masih pusing seperti itu.


Nicko langsung menatap ku dengan sigap begitu aku membuka pintu,namun aku mendelikan mata ku dan berusaha tak mempedulikan nya. Dia berdiri sambil menenteng jas di tangan nya, Nicko berjalan mengejar ku yang akan menuruni tangga.


“Fawnia. Sampai kapan kamu akan terus marah seperti ini?” Tanya Nicko menghalangi jalan ku.


“Sampai rasa kesal ku hilang” jawab ku dengan tajam.


“Fawnia, kita bicarakan dulu ini” pinta Nicko memegang pergelangan tangan ku.


Aku melepaskan tangan ku dari nya. Dan menatap dia tajam sebagai bentuk penolakan.


Kara hanya menatap ku dan Nicko bergiliran dengan wajah yang begitu bingung, namun Kara tak berkomentar apapun dengan perdebatan orang tua nya ini. Aku turun dengan cepat menuntun Kara menuju meja makan. Papa dan Mama sudah duduk disana.


“Selamat pagi Pa, Ma” sapa ku dengan tanpa menatap mereka dan terus saja memasang wajah yang begitu ketus.


“Pagi Oma, Pagi Opa” sapa Kara mengikuti ku.


“Pagi sayang” jawab mereka.


Aku membantu Kara duduk di samping ku dan aku duduk di samping Papa dan Kara. Tidak lama Nicko datang dan dia duduk di samping Mama di hadapan Kara. Nicko sempat melirik ku dengan raut wajah yang hampa namun aku tak menghiraukan nya dan terus mengalas sarapan ke atas piring ku dan juga Kara.

__ADS_1


Mama dan Papa seperti nya begitu cepat menyadari situasi dingin ku dengan Nicko. Mereka pasti telah bisa menebak jika aku dan Nicko sedang bertengkar.


“Ada apa ini? Kenapa kalian perang dingin seperti ini?” Tanya Papa.


Aku diam tak menjawab nya dan tidak menoleh ke arah Papa sedikit pun.


“Mama dan Papa berantem Opa” ucap Kara begitu polos nya.


Mama dan Papa langsung mengerutkan kening nya, dan menatap ku juga Nicko bergantian.


“Nicko?” Tanya Papa karena seperti nya Papa tahu jika aku enggan untuk menjawab.


“Aku terlambat menjemput Fawnia tadi malam Pa” jawab Nicko akhirnya.


“Terlambat? Kenapa bisa?”


“Handphone ku di sita Zayden, bukan hanya punya ku saja tapi semua handphone teman-teman ku juga di sita oleh nya, karena dia bilang ini pesta sekali dan tidak ada yang boleh mengganggu pesta lajang ku”


“Lalu kamu tidak mengabari fawnia?” Tanya Mama.


“Aku menunggu dia selama 3 jam di caffe sampai caffe nya tutup, dan itu sudah lewat tengah malam” jawab ku dengan sinis,dan tanpa menoleh kepada mereka.


“Astaga” ujar Mama terkejut dan menatap Nicko dengan kesal.


“Kamu ini bagaimana. Mama kan sudah berpesan kepada mu untuk menjaga Fawnia baik-baik, kenapa kamu malah menelantarkan dia seperti itu?” Tanya Mama mulai menceramahi Nicko.


“Bagaimana jika sesuatu terjadi kepada nya tadi malam? Jika sampai sesuatu yang tidak di inginkan terjadi kepada Fawnia dan Kara, kamu adalah orang pertama yang akan Papa salahkan” ucap Papa ikut menceramahi Nicko.


Sebenarnya aku merasa kasihan kepada nya karena di ceramahi oleh orang tua nya dan tidak ada yang membela nya, namun rasa kesal mengalahkan rasa kasihan ku. Aku masih saja mengingat perempuan-perempuan yang bersama dia tadi malam, namun aku tidak ingin membahas nya disini, karena aku yakin Mama dan Papa akan lebih memarahi Nicko tanpa ampun.


Setelah selesai sarapan aku dan Nicko berpamitan kepada Kara dan kepada Mama Papa. Lalu aku berjalan lebih dulu ke luar rumah dan berjalan cepat menuju mobil ku yang terparkir di samping mobil Nicko.


“Mau kemana?” Tanya dia melihat aku melewati mobil nya begitu saja.


“Mau kerja. Kamu fikir akan kemana aku pergi?” Jawab ku dengan begitu ketus nya.


Nicko mengejar ku yang hampir masuk ke dalam mobil ku sendiri dan dia menahan pintu mobil ku, namun aku lebih dulu menutup pintu dan tangan Nicko terjepit keras sekali.


“Aaaaa” jerit nya.


Aku membiarkan dulu untuk beberapa saat agar dia merasa kesakitan dan baru aku membuka pintu mobil kembali, Nicko langsung menarik tangan nya dan mengibas-ngibas tangan yang baru saja terjepit. Aku mendelikan mata ku menatap nya tak peduli. Aku menyalakan mobil ku dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Nicko sendiri.


Sesampai nya di kantor pun Nicko masih saja mengikuti ku dari basemant. Namun aku enggan untuk memperdulikan nya dan segera masuk kantor tanpa menoleh nya sedikit pun.

__ADS_1


Aku berjalan dengan cepat menuju pintu lift. Lift sudah terbuka dan hendak menutup kembali namun aku berlari menuju lift itu sebelum terlambat,dan beruntung lah seseorang di dalam menahan pintu lift tetap terbuka sampai aku berhasil masuk. Begitu aku masuk, aku melihat Nicko dari jauh yang juga berusaha mengejar ku di dalam lift, namun aku langsung menutup pintu lift dengan tanpa menghiraukan nya sama sekali,dan Nicko pun tertinggal di luar lalu lift berjalan naik.


Karyawan di belakang ku pun pasti kebingungan melihat aku yang bersikap tidak sopan kepada Direktur Utama kantor ini,tapi mereka menyadari,jika yang sudah berlaku tidak sopan ini juga adalah calon istrinya, dan mereka sudah pasti tidak berani untuk ikut campur. Aku terus berdiri membelakangi karyawan yang ada di belakang ku. Pintu lift terbuka namun bukan di lantai tujuan ku, karyawan yang di belakang ku pun dengan sopan menundukan kepala nya kepada ku dan tersenyum sebelum mereka keluar lift, aku membalas senyuman nya dengan semu, lalu kembali menutup lift nya.


Lantai lift kembali naik dan sampai lah di lantai kantor ku berada. Aku menarik tali tas ku ke atas lengan dan berjalan dengan cepat menuju ruangan ku. Ketika masuk ke dalam ruangan aku langsung menyalakan komputer ku dan langsung bekerja. Aku tak menghiraukan ada Nicko di dalam ruangan atau tidak, aku berusaha untuk membiarkan nya dulu sampai Nicko tahu apa kesalahan nya.


Beberapa saat kemudian Nicko akhirnya datang, dia hanya menatap ku dengan diam lalu dia berjalan menuju ruangan nya. Aku terus saja mengotak atik komputer ku dan tidak mempedulikan Nicko.


Aku akan terus bersikap dingin kepadanya sampai dia menyadari kesalahan dia itu terlalu besar.


Ketika siang hari aku pergi ke pantry membuat minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokan ku yang panas, dan berharap bisa menenangkan fikiran ku yang juga panas. Aku berjalan membawa gelas tinggi ku kembali ke ruangan ku tapi ternyata ada Zayden menghadang ku.


Aku menatap nya dengan malas.


“Fawnia” panggil Zayden.


Aku menghentikan langkah ku dulu dan menatap nya dengan sinis.


“Faw aku..”


Aku tak mau mendengarkan nya dan kembali berjalan melewati nya.


“Fawnia tunggu” panggil Zayden kembali menghalangi jalan ku.


Aku menghentikan langkah ku,menarik nafas yang dalam dan menatap dia dengan begitu malas nya.


“Maafkan aku,semalam aku tidah seharusnya menyita handphone Nicko. Nicko tidak salah, aku yang memaksa nya”


Aku masih diam mendengar ocehan nya,yang berusaha menyelamatkan Nicko.


“Acara itu kan hanya sekali Faw, dan aku meminta Nicko untuk menikmati pesta nya, karena nanti setelah menikah dengan mu belum tentu kita bisa bersenang-senang seperti itu kan?”


Ujat Zayden seolah apa yang di katakan dia bisa di benarkan.


Aku menganggukan kepala secara perlahan.


“Ya apalagi bersenang senang dengan ada wanita di dalam nya” jawab ku dengan ketus.


Zayden terlihat bingung dan mengerutkan kening nya.


Dengan malas aku mengeluarkan handphone ku dari saku rok ku, dan memperlihat kan bukti fhoto yang sudah aku simpan tadi malam.


Zayden terihat terkejut dan dia mulai terlihat panik.

__ADS_1


“Itu… itu bisa aku jelaskan”


Aku langsung kembali berjalan menghindari nya dan semakin tak ingin mendengarkan pembelaan apapun dari Zayden.


__ADS_2