
Aku terus berjalan menuju skygarden dengan tatapan yang begitu risau. Bisa-bisa nya Ben datang ke acara pernikahan ku dan mengacaukan fikiran ku, dia sangat suka sekali membuat resah hidup ku.
“Faw” panggil seseorang dan menghentikan langkah ku.
Aku langsung menengadahkan kepala ku dan melihat Nicko, dia menyentuh lengan ku dengan raut wajah yang khawatir.
“Are you ok ?” Tanya Nicko.
Aku langsung tersenyum dengan semu dan menggelengkan kepala ku.
“I’m Ok. Mungkin aku hanya sedikit lelah” ucap ku berdalih.
“Kamu perlu istirahat?” Tanya Nicko dengan masih saja khawatir.
“Tidak. Tidak perlu, aku masih harus menyapa semua tamu undangan”
Keysa menghampiri ku dengan gaun hitam yang begitu seksi dan berkelas itu.
“Faw, gue pulang ya, besok gue masih harus kerja pagi” ujar Keysa.
“Oh iya. Thank ya Key udah nemenin gue dari kemarin”
“It’s Ok. Nanti juga kalo gue married kan, lo harus nemenin gue dari pagi sampe malem”
Aku tersenyum mendengar nya. Lalu Keysa langsung memeluk ku dengan penuh haru.
“I’m happy for you Faw, dan jangan lupa oleh-oleh dari liburan kalian nanti” ledek Keysa.
Aku dan Nicko langsung tertawa.
“Ya udah gue balik ya”
“Oke”
“Bye”
“Bye Key, hati-hati”
Lalu Keysa berjalan menjauhi kami.
Setelah acara dinner kami selesai, aku dan Nicko langsung masuk ke dalam kamar hotel kami yang super megah itu. Kamar hotel ini sebenarnya begitu luas untuk aku dan juga Nicko, kamar yang keluarga kami tempati, memiliki masing-masing satu kamar, ruang tamu, dan tempat makan. Gaya kamar ini juga begitu megah seperti kamar kerajaan dengan banyak nya warna kuning emas di sekitar kami.
Aku telah mandi membersihkan keringat yang menempel di tubuh ku,Nicko sudah lebih dulu mandi sebelum aku. Dia langsung duduk di meja dan membuka laptop nya. Aku menggelengkan kepala ku, karena di saat seperti ini pun dia masih sibuk untuk bekerja.
Aku duduk di tempat tidur ku dan mengeringkan rambut ku yang basah dengan handuk.
“Apa kamu masih ingin memegang kantor Papa yang ada di tangerang?” Tanya Nicko tanpa menoleh ke arah ku.
__ADS_1
Aku terdiam sejenak untuk mencerna kembali pertanyan nya. Lalu aku mengangguk dengan bingung.
“Iya” jawab ku.
“Apa kamu yakin bisa mengatasi semua nya sendiri ?”
“Aku tidak pernah tahu jika belum mencoba”
“Papa akan sibuk dua minggu ke depan untuk mengurusi suatu proyek,dan dia meminta Zayden untuk menggantikan Papa sementara waktu. Dan jika kamu mau mencoba, kamu bisa menggantikan Zayden disana”
Mata ku membulat, aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
“Really?”
“Ya”
“Kamu izinin aku?”
“Hanya 2 minggu Fawnia, hanya selama Papa tidak bisa disana”
Aku tersenyum begitu bahagia lalu berlari memeluk Nicko dari belakang nya.
“Thank you thank you thank you” ucap ku dengan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ku.
“Dan besok malam kita akan pergi ke lombok, kita akan membawa Kara untuk honeymoon” ujar Nicko membuat rasa bahagia ku terhenti dan menatap punggung nya.
“Ya”
Aku sama sekali tidak di beri tahu tentang acara honeymoon kita yang super dadakan ini.
“Pekerjaan mu?”
“Aku sedang mengatasi nya sekarang, aku bisa menitipkan nya kepada Zayden dan Bima”
Aku langsung menganggukan kepala ku dengan malu. Aku merasa canggung dengan kata honeymoon yang Nicko ucapkan, rasanya aneh sekali mendengar kami berdua akhirnya telah resmi menikah dan akan berlibur dengan status sepasang suami istri.
“Aku tadi melihat Ben disana” ucap Nicko membuat ku kembali tersentak.
Tiba-tiba rasa cemas menyerangku kembali mendengar ucapan Nicko.
Aku menundukan kepala ku.
“Ya. Aku bertemu dengan nya” ujar ku berusaha untuk jujur.
“Bertemu?” Tanya Nicko langsung membalikan badan namun tetap di kursi nya dengan raut wajah yang begitu terkejut.
“Tadi saat aku mengantarkan Kara sepertinya Ben mengikuti ku, dan menemui ku di lorong”
__ADS_1
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Nicko dengan dingin.
“Dia bertanya bagaimana rasa nya aku bisa menikah untuk yang kedua kali nya”
“Lalu ?”
Aku masi terus menunduk tak menatap wajah Nicko.
“Aku hanya menjelaskan kepada dia, jika pernikaha kami dulu aku anggap tidak pernah terjadi. Karena dulu aku sama sekali tidak pernah merasakan kebahagiaan yang seperti ini, dan dia tidak menerima nya. Dia malah membahas tentang Kara”
“Kenapa dia masih bersikeras ingin mendapatkan Kara?”
Aku mengangkat bahu ku dengan sedih.
“Aku harus bicara dengan nya” ujar Nicko terlihat kesal.
“Tidak!” Timpal ku langsung dengan panik.
“Tidak perlu, aku bisa mengatasi nya sendiri”
Nicko memegang tangan ku dengan wajah nya yang begitu pilu.
“Aku tidak mau dia terus mengganggu mu seperti itu” ucap nya dengan khawatir.
“Aku bisa mengatasi nya Nicko,percayalah, aku bisa menghadapi Ben sendiri” Ujar ku dengan penuh percaya diri.
Lalu Nicko menarik ku ke dalam lahunan nya. Aku tersentak dan duduk di pangkuan Nicko, dia memeluk ku dan menatap mata ku begitu dalam.
“Dia pernah bisa mendapatkan kamu kan ? Aku hanya takut dia bisa mendapatkan kamu kembali”
Aku mengerutkan kening ku dan tersenyum tipis mendengar ucapan nya.
“Bahkan setelah kita menikah pun, kamu masih merasa takut untuk kehilanganku?” Ledek ku.
“Tentu saja. Perjalanan hidup kita baru saja di mulai, akan banyak kerikil yang mengganggu kebahagiaan kita” jawab nya.
“Aku pernah melewati masalah yang lebih besar dari pada kerikil itu”
“Lalu kamu pergi menghilang dariku” timpal Nicko.
Aku tersenyum menatap nya, lalu membenarkan rambut nya dan mengelusnya dengan lembut.
“Aku pergi karena aku tidak tahu jika ternyata ada kebahagiaan yang besar di balik masalah besar ku. Dan sekarang aku belajar, untuk tidak menghindari masalah, aku akan selalu menghadapi nya dan menyelesaikan semuanya” ucap ku dengan begitu percaya diri.
Nicko berusaha memasang senyum di wajah nya. Lalu dia mendekatkan wajah nya kepada ku, dan aku pun memudahkan dia untuk mencium bibir ku dan aku melingkarkan tangan di leher nya. Aku mengganti posisi lahunan ku dengan menghadap kepadanya. Aku mencium bibir Nicko di lahunan nya, dan terus berciuman hingga dia menanggalkan pakaian nya. Nicko juga membantu melepaskan pakaian ku dan kami kembali berciuman. Nicko memeluk ku begitu erat sambil terus mencium ku dengan bergairah. Dia menggendong ku untuk berpindah ke tempat tidur, mematikan lampu dan melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh kami.
Hal itu pun kembali terjadi. Kali ini kami melakukan nya dengan tanpa rasa canggung dan penuh hasrat. Tubuh Nicko begitu hangat di pelukan ku, tubuh atlestis nya membuat ku begitu terhipnotis untuk terus menempel dengan nya. Dan karena tubuh mungil ku, Nicko bisa dengan mudah memindahkan ku kesana kemari.
__ADS_1
Malam itu terasa begitu panjang untuk ku dan juga Nicko. Kami terus menghabiskan malam dengan terus bercumbu. Nicko tidak sedikitpun melepaskan aku di dalam pelukan nya, dia terus mencium bibir ku dengan manis. Lalu setelah merasa lelah kami tertidur dengan berpelukan tanpa memakai sehelai baju di tubuh kami. Hanya selimut lah yang menutupi kami dari kedinginan.