
Malam hari nya aku Kara dan Nicko bersiap untuk pergi tidur. Kami bertiga duduk di tepi tebing villa dan memandang laut lepas di hadapan kami, Kara menjadi penengah antara aku dan Nicko dan dia diam dengan ice cream di tangan nya.
Kara telah memakai baju piyama baby doll berwarna pink, aku dan Nicko memakai baju tidur senada berwarna biru muda.
“Matahari nya sudah hilang ya Ma?” Ujar Kara sambil terus memperhatikan bulan yang sudah berada di atas kepala kami.
“Iya sayang. Tugas matahari sudah selesai, sekarang giliran bulan yang berjaga di malam hari”
“Bulan ga tidur ?” Tanya nya dengan polos membuat aku dan Nicko tersenyum.
“Bulan ga pernah tidur sayang,begitupun matahari. Karena matahari ada tugas lagi untuk menerangi tempat lain, dan nanti setelah bulan berjaga disini, bulan juga akan ada di tempat lain untuk menemani malam-malam di tempat lain”
“Mereka tidak lelah?” Tanya nya masih membuat ku bingung untuk menjawab.
“Tidak sayang. Mereka tidak akan pernah merasa lelah. Sekarang kalau Kara sudah selesai makan ice cream nya kita harus tidur” pinta ku melihat ice cream di tangan nya sudah mulai habis.
“Kenapa kita harus tidur Ma? Kita kan sedang liburan” ucap nya dengan tingkah yang begitu lucu, membuat ku dan juga Nicko tertawa mendengarnya.
“Memang nya kalau kita sedang berlibur, kita tidak boleh tidur? Tidur itu kan istirahat, agar besok kita bisa semangat untuk menghabiskan waktu liburan disini. Kara memang nya mau besok malah kecapean buat liburan?” Tanya ku membujuk nya.
Kara mengerucutkan bibir nya lalu menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu mari kita tidur”
“Sini Papa gendong” ujar Nicko sambil menggendong Kara dan membawanya ke tempat tidur.
Lalu kami berbaring di tempat tidur yang sangat luas ini. Seperti biasa Kara menjadi penengah untuk kami, aku menarik selimut untuk menutupi tubuh kami bertiga berbaring,Kara berbaring dengan menatap langit-langit sementara aku dan Nicko tidur dengan menghadap Kara. Lampu sudah di matikan namun Kara seperti nya belum ingin tidur.
Kara lalu melirik ku.
“Mah. Kok nama Kara itu Karamel? Seperti nama permen?” Tanya nya.
Aku baru menyadari jika Kara sudah semakin besar dan dia sudah banyak ingin tahu tentang segala hal.
“Karena Papa suka sekali dengan aroma caramel. Suka susu Caramel, suka permen Caramel, suka bolu caramel dan semua yang rasanya Caramel Papa suka” ucap ku menjelaskan dengan lucu.
Nicko menatap ku begitu dalam. Entah apa yang di fikirkan nya,tapi memang dari awal yang tersirat di fikiran ku hanyalah karamel, karena karamel adalah hal yang selalu membuat ku mengingat Nicko.
Sekarang Kara melirik Nicko.
“Benar Pa?” Tanya Kara.
Lalu Nicko membelai kepala Kara dengan lembut.
“Iya Sayang”
“Kok sama dengan Kara? Kara juga suka sekali dengan Karamel”
__ADS_1
Nicko tertawa dengan ucapan anak nya itu, lalu dia menganggukan kepalanya.
“Terus arti P di belakang nama Kara itu apa Ma? Soalnya waktu itu guru Kara pernah tanya itu tapi Kara tidak tau” Tanya Kara membuat ku terdiam dan berfikir dengan resah.
Karena arti P’ di dalam nama Kara sebelumnya adalah Prawira,nama belakang dari Ben, karena dulu aku berfikir jika Ben juga berhak memiliki nama dari anak ku.
Nicko menatap ku dengan bingung, aku melihat Nicko pun seperti nya sedang menunggu jawaban ku.
“P itu adalah Pamela” jawab ku sambil tersenyum menatap nya.
“Karamel Madhava Pamela. Yang artinya anak Mama dan Papa yang paling manis di dunia”
“O iya?”
“Iya”
“Sudah sekarang tidur,jika tidak ,besok kita akan kesiangan untuk bermain lagi di pantai”
Kara lalu tersenyum dan menarik selimut nya, dia menatap Papa nya yang ada di belakang nya lalu melingkarkan tangan di leher Papa nya dan dia menutup matanya.
Aku tersenyum melihat tingkah manis Kara seperti ini, dia bisa langsung merasakan sayang yang begitu besar kepada Nicko. Ikatan batin yang mereka miliki begitu kuat.
Lalu Nicko mencium kening Kara dan dia mengelus rambut ku.
“Good Night. I Love You” bisik Nicko.
Keesokan nya. Seperti biasa aku bangun lebih awal dan bersiap untuk menyiapkan pakaian Kara dan Papa nya. Aku mandi terlebih dahulu dan membuka isi koper kami, menyiapkan pakaian traveling kami dan juga sepatu kami untuk berkeliling di pulau ini.
Aku membangunkan Kara dan Nicko dengan perlahan.
“Sayang bangun, ayo kita jalan-jalan” ucap ku di telinga Kara.
Kara sedikit menggeliat dan membuka matanya menatap ku dengan masih merasa ngantuk.
“Ayo kita jalan-jalan sayang”
Kara menguap lalu dia bangun dengan memaksakan diri. Aku menggendong Kara dan membawanya ke kamar mandi untuk memandikan dia.
Aku menggosok badan Kara dan mengeramasinya, kami bercanda sesekali di kamar mandi dan Kara mencipratkan sedikit air ke tubuh ku.
“No Kara” ucap ku memperingati.
“Maaf Ma” ucap Kara sambil terus tertawa.
Lalu aku kembali memandikan Kara.
Setelah selesai aku membersihkan tubuh mungil Kara,aku membalut tubuh basah Kara dengan handuk dan aku gendong kembali ke kamar untuk memakai baju.
__ADS_1
Ternyata Nicko sudah bangun. Dia sedang menerima telepon di balkon dan menutup pintu balkon, dia terlihat seperti serius berbicara dengan orang di sebrang telepon nya. Aku memakaikan Kara pakaian yang sudah tersedia di atas kasur dengan wajah yang bingung juga penasaran kepada Nicko.
Dia telah selesai berbicara lewat telepon lalu Nicko kembali masuk ke dalam kamar sambil terus menatap layar ponsel nya.
“Ada apa?” Tanya ku khawatir.
“Zayden. Ada masalah kecil di kantor, dia tidak bisa mengatasinya”
“Tentang apa?”
“Bukan masalah besar, aku sudah membantunya, sekarang sudah baik-baik saja” jawab Nicko.
Namun aku masih merasa ragu. Aku khawatir dengan keadaan kantor sekarang, tetapi aku harus mempercayai Nicko. Jika dia sudah berkata tidak ada apa-apa berarti memang semuanya aman. Aku tidak boleh meragukan nya.
“Waa anak Papa sudah cantik” puji Nicko sambil menyubit kecil Pipi Kara.
“Iya dong Pa, karena Mama nya jiga cantik” ucap Kara membuat ku tersenyum.
“Oh iya? Memang Mama cantik?” Ledek Nicko.
“Cantik. Coba lihat”
Kara memegang kedua pipi ku dan dia gerakan ke arah Nicko agar Nicko melihat jelas wajah ku.
“Tidak. Lebih cantik Kara” ujar Nicko terus menjahilinya.
“Mama juga cantik Pa” ujar Kara sangat tidak ingin melihat ku sedih.
“Tidak. Mama suka cemberut soalnya, jadi tidak cantik”
“Mama coba senyum” pinta Kara dengan mempraktekan cara dia tersenyum.
“Mama tidak bisa” ucap ku dengan seolah sedih.
“Begini. Gigi mama perlihatkan seperti Kara”
Dia terus menunjukan sederet gigi putih nya kepadaku.
“Begini?” Tanya ku sambil ikut unjuk gigi ku namun wajah begitu sedih.
“Iya seperti itu. Sekarang cantik kan?” Tanya Kara meminta pendapat Nicko.
“Nah ini baru cantik” ledek Nicko.
Dia tersenyum seperti puas melihat wajah konyol ku.
Aku menggelengkan kepala ku dan kembali memakaikan sepatu pink milik Kara.
__ADS_1