Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Flashback ‘kepergian Ben’


__ADS_3

Saat itu usia kehamilan ku baru memasuki usia 8 bulan. Perut ku sudah semakin membesar, dan tendangan bayi di dalam perut ku pun sudah semakin aktif. Ben sangat senang sekali jika sudah bisa merasakan pergerakan bayi di dalam perut ku, dia akan terlihat tersenyum dan bahagia setiap kali merasakan tendangan nya. Ben begitu menunggu kehadiran bayi ku.


Pagi hari di apartemen yang sama,aku sudah terbangun dengan memakai baju daster ku untuk membuat kan Ben sarapan sebelum dia pergi ke kantor nya. Aku membuat kan dia pancake dan jus mangga untuk santap sarapan nya di pantry.


“Pagi” sapa Ben saat dia keluar dari kamar dan menghampiri ku.


“Pagi” sapa ku kembali.


Dia duduk di pantry dan memainkan ponsel nya dengan serius. Ben sudah terlihat begitu rapih dengan kemeja nya yang berwarna biru dan celana juga sepatu yang telah aku siapkan sebelum nya. Setiap pagi dia pergi ke kantor yang berada tidak jauh dari apartemen dan akan pulang sore hari.


Ben memiliki perusahaan tambang batu bara juga di kalimantan, namun dia bisa meng handle nya dari sini, dan sesekali jika ada genting dia pasti akan ke kalimantan untuk sementara waktu, tapi karena kini dia harus menemani ku yang sedang hamil besar, Ben jadi hanya memantau pertambangannya disana lewat ponsel dan menyimpan orang kepercayaan nya disana.


“Ada apa?” Tanya ku ketika melihat Ben yang begitu serius mengotak atik ponsel nya.


“Batu bara ku ada masalah” ujar Ben tanpa menoleh ku.


“Yang di kalimantan?”


“Iya”


Aku menuangkan jus ke dalam gelas Ben,lalu menyimpan nya di hadapan Ben.


“Apa orang kepercayaan mu tidak bisa meng handle?”


“Masalah ini besar Faw” ujar Ben begitu serius.


“Lalu?”


Ben diam tak menjawab. Dia mengerutkan kening nya terus mengetik di ponsel nya.


“Kenapa kamu tidak kesana saja Ben?” Tanya ku.


“Aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendiri di sini”


“Aku baik-baik saja. Usia kandungan ku baru 8 bulan, masih ada waktu kurang lebih 6 minggu sebelum kelahiran ku”


Ben diam menatap ku.


“Kamu tidak akan pergi lama kan?” Tanya ku.


“Tidak. Aku tidak akan meninggalkan kamu, keadaan mu lebih penting”


“Tapi perusahaan mu juga lebih penting Ben”


“Orang kepercayaan ku bisa mengatasi semuanya” ujar Ben yang bersikeras tidak ingin meninggalkan ku.


“Baiklah” aku menyerah.


Aku tahu Ben begitu mengkhawatirkan ku. Karena kehidupan ku selama ini begitu tergantung kepadanya. Hanya dia yang aku miliki, keluarganya tidak pernah ada yang mau menemui ku. Aku hanya punya Ben.


Malam hari nya ketika aku dan Ben sedang tertidur dengan lelap suara ponsel Ben terdengar. Ben langsung mengangkat telepon nya.


“Hallo”


“Apa?!!” Ucap Ben dengan kencang, membuat ku terbangun dan melihat nya.


Ben langsung berdiri, dia langsung menuju kamar mandi dan mengganti pakaian nya.


“Oke. Aku kesana”


Ben menutup telepon dan melempar kan nya ke tempat tidur. Dia terlihat begitu tergesa-gesa mengganti pakaian nya.


“Ada apa?” Tanya ku yang masih duduk di tempat tidur ku.


“Ada masalah di tambang batu bara ku”


“Masalah apa?”


“Aku tidak bisa menjelaskan nya sekarang. Yang pasti aku harus pergi kesana untuk beberapa hari”


Ben memasukan baju-baju ke dalam koper nya dengan cepat.


“Apa harus sekarang? Tidak bisa di tunda besok pagi? Biar kamu menyiapkan semua nya dengan tenang”


“Tidak bisa”


Ben terlihat begitu khawatir juga panik. Entah masalah apa yang sedang di alami nya, namun aku tidak pernah melihat Ben se khawatir ini sebelum nya.


“Kamu sudah membeli tiket?”


“Aku bisa urus nanti”


“Baiklah”

__ADS_1


Ben meresleting koper nya. Dia memasukan barang-barang kecil ke dalam tas kecil nya. Lalu Ben menghampiri ku.


“Maafkan aku. Aku harus pergi”


Aku menganggukan kepala ku dengan ikut cemas melihat nya. Ben mencium kening ku dengan lembut.


“Kabari aku jika ada apa-apa”


“Iya”


“Aku akan pulang segera”


“Iya Ben”


Lalu Ben menyeret koper nya ke luar kamar. Dia melirik ku sekali lagi di ambang pintu lalu tersenyum dengan semu.


“Bye. Hati-hati” ucap ku.


Ben menganggukan kepala nya lalu dia menutup pintu kamar dengan rapat. Aku masih terduduk di tempat tidur ku, memikirkan masalah apa yang sedang di alami Ben. Aku berdo’a agar masalah Ben bisa cepat terselesaikan dengan baik dan dia cepat pulang.


Ke esokan nya aku menelepon Keysa untuk menemani ku di apartemen.


“Hallo Key”


“Hallo kenapa?”


“Key. Lo bisa nemenin gue ga?”


“Kemana?”


“Di apartemen. Ben pergi soalnya”


“Kemana?”


“Kalimantan. Ada masalah di tambang batu bara nya”


“Masalah ? Masalah apa?”


“Gue juga ga tau, ga ngerti. Yang pasti tadi malem dia buru-buru banget pergi kesana ngedadak. Lo sini ya temenin ibu hamil ini,kasian kan masa lo tega ngebiarin gue yang lagi hamil sendirian di apartemen” ucap ku dengan penuh penghayatan untuk bisa di kasihani oleh Keysa.


“Kebiasaan deh, kehamilan lo di jadiin alesan. Ya udah pulang kerja gue kesana” kesal Keysa yang sudah begitu bosan mendengar aku menjadikan kehamilan untuk membuat dia mengasihani ku.


Aku tertawa mendengar jawaban Keysa.


“Hehe oke”


“Bye Aunty Key, thank you”


Lalu aku menutup telepon nya menunggu Keysa datang menemani ku.


Malam hari nya Keysa akhirnya datang membawa kantung yang berisi makanan di kedua tangan nya. Kami berdua duduk di sofa ruang tamu dan makan pizza yang di bawakan Keysa. Keysa juga terlihat begitu menyayangi anak ku, dia selalu mengelus perut ku dan sesekali membawa bayi ku berbincang. Aku tertawa mendengar Keysa mengajak bayi ku berbicara seperti orang dewasa.


Keesokan hari nya, ponsel ku berdering di atas meja makan ketika Keysa sedang menyetel lagi di speaker yang kencang.


“Kecilin dulu!” Pinta ku kepada Keysa.


Lalu dia mengambil remot dan mengecilkan volume lagu nya. Aku melihat nama Ben di layar ponsel ku.


“Hallo Ben”


“Hai” sapa Ben dengan terdengar begitu lemas.


“Apa kabar mu?”


“Aku baik”


“Keysa masih menemani mu disana?”


“Masih. Dia sedang libur bekerja, dia mau menemani ku check up nanti”


“Salam kan dari ku untuk Keysa”


“Oke”


Lalu kami diam beberapa saat.


“Bagaimana masalah tambang mu?” Tanya ku.


“Aku masih sedang mengatasi nya”


“Apa masalah nya terlalu besar?”


“Ya” jawab nya dengan singkat.

__ADS_1


Aku mengerucutkan bibir ku.


“Aku berdo’a agar masalah mu cepat selesai dan kamu bisa cepat pulang”


“Iya. Aku berharap untuk bisa segera cepat pulang dan menemui mu juga Karamel”


Aku mengelus perut ku sambil tersenyum.


“Apa bayi ku baik-baik saja?”


“Iya dia baik-baik saja, dia juga merindukan mu” ucap ku dengan tersenyum.


“Syukurlah”


Aku terus mengelus perut ku dengan lembut.


“Faw. Jika aku tidak bisa menemani kelahiran mu bagaimana?” Tanya Ben begitu terdengar sedih.


“Kenapa?”


“Aku hanya bertanya. Aku takut masalah ku disini tidak bisa aku atasi dengan cepat”


Raut wajah ku berubah tersenyum dengan semu.


“It’s Oke. Aku akan baik-baik saja disini, aku tidak akan mengganggu pekerjaan mu disana. Jika sudah waktunya aku melahirkan tapi kamu masih sibuk, aku tidak akan mengganggumu”


“Terima kasih, aku sangat menyayangi mu Fawnia” ucap Ben terdengar pilu.


Aku diam tak menjawab nya.


“Aku berharap masalah ku bisa cepat selesai”


“It’s Ok Ben”


“Aku istirahat dulu,nanti akan ku hubungi lagi”


“Baiklah”


“Bye”


“Bye Ben”


Lalu telepon pun terputus. Aku menatap layar ponsel ku dengan kecewa. Sebenarnya aku sangat ingin jika Ben bisa menemani kelahiran Karamel nanti, tapi jika masalah nya di sana terlalu berat, aku tidak ingin membuat Ben terganggu dan tidak fokus menyelesaikan masalah nya. Aku pun harus menerima resiko nya, aku tidak boleh egois dengan keinginan ku.


Satu bulan kemudian ketika malam hari di apartemen ku. Keysa belum pulang, dan aku sendiri di dalam kamar ku. Aku menerima sebuah pesan dari Ben.


“Maafkan aku karena aku masih harus bekerja untuk beberapa saat di kalimantan. Maafkan aku karena harus mengecewakan mu, aku harap persalinan mu akan lancar walaupun tanpa aku menemani mu. Aku mencintai mu Fawnia, maafkan aku karena ternyata masalah ku di sini terlalu besar. Aku melakukan ini untuk masa depan mu juga Karamel. Berjanjilah untuk tetap menjadikan Karamel sebagai anak ku ketika dia lahir. Maafkan aku karena aku harus pergi untuk beberapa saat. Love You”


Lalu tiba-tiba perut ku merasa kram. Perut ku melilit begitu sakit. Aku merasa perut ku sudah tidak tahan lagi, bayi ku akan lahir, aku bisa merasakan itu.


Aku menjatuhkan diri ku di lantai untuk menahan rasa sakit ku. Aku kembali meraih ponsel ku di atas tempat tidur. Aku berusaha menghubungi Keysa. Namun telepon nya tidak tersambung, aku terus meronta menahan sakit. Dan beberapa saat kemudian Keysa datang mencari ku di kamar dan terkejut melihat ku yang sudah bersimbah darah di antara kaki ku.


Keysa dengan panik menelpon security apartemen untuk membantu ku ke rumah sakit. Beberapa orang segera datang untuk menolong, mobil ambulance datang dengan cepat dan segera membawa ku ke rumah sakit. Aku di tempatkan di UGD untuk segera mendapatkan penanganan.


Aku terus meronta ronta di atas tempat tidur.


“Tahan ya Faw. Lo kuat kok lo pasti kuat” ujar Keysa menenangkan ku.


“Sakit banget Key. Perut gue sakit!”


“Gue telepon Ben ya”


“Jangan jangan!” Ucap ku menahan Keysa sambil menahan rasa sakit ku.


“Ben sedang dalam masalah”


“Tapi lo juga lagi dalam masalah”


“Jangan please. Jangan ganggu dia” ujar Keysa.


Dokter dan suster masih sibuk memeriksa jalur keluar bayi dan memasangkan infusan di tangan ku. Keysa keluar sejenak. Aku terus saja di biarkan kesakitan di atas tempat tidur. Lalu Keysa kembali menghampiri ku.


“Mertua lo nelepon nanyain kabar elo, gue bilang ke mereka kalo lo lagi dalam masa pembukaan di rumah sakit” ucap Keysa.


Aku diam tak menjawab nya, aku terus menahan sakit di perut ku. Keysa menerima pesan yang masuk ke dalam ponsel ku.


“Ini dari mertua lo” ucap Keysa sambil membuka pesan itu.


“Mereka katanya udah hubungin Ben?”


Aku menggelengkan kepala ku. Aku sudah berjanji untuk tidak mengganggu Ben yang sedang bekerja,tapi orang tua nya malah mengatakan persalinan ku kepada Ben.


Aku terus saja meronta kesana kemari tidak sabar untuk segera mengeluarkan anak di dalam perut ku. Beberapa jam kemudian akhirnya dokter dan suster memberikan tindakan, bayi ku sudah mau keluar. Dia akhirnya keluar dari rahim ku, suara tangis akhirnya terdengar begitu menggema di ruangan persalinan ini. Aku pun bernafas begitu lega setelah mendengar suara pecah tangis dari bayi ku. Keysa yang terus berada di samping ku begitu bahagia dengan kelahiran Karamel.

__ADS_1


Lalu setelah itu aku mendengar kabar tentang pesawat yang di tumpangi Ben mengalami kecelakaan, dan semua awak kapal tidak bisa di selamatkan.


...__****__...


__ADS_2