Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Berusaha untuk tenang


__ADS_3

Sampailah kita di rumah orang tua Nicko,atau rumah kita dulu.


Dengan semangat Kara melepaskan seatbelt nya,dan Nicko pun segera menggendong Kara keluar dari mobil. Aku membawakan tas Kara yang berisi perbekalan nya untuk berenang dan berganti pakaian. Aku pun ikut membawakan barang-barang Nicko yang tertinggal di mobil.


Aku sudah terlihat seperti seorang Ibu sekaligus Istri yang sesungguhnya sekarang. Aku tersenyum melihat Nicko yang dengan semangat menggendong Kara masuk ke dalam rumah nya. Lalu aku berjalan di belakang mereka.


Namun langkah kita berdua terhenti ketika melihat ada seorang wanita menggunakan dress berwarna tosca tengah duduk di ruang tamu dengan Mama.


Kirana. Dia terlihat begitu cantik dan anggun duduk di ruang tamu berbincang dengan Mama Nicko yang memakai baju rumahan nya berwarna hijau bergaris putih.


“Sedang apa kamu disini?” Tanya Nicko begitu ketus kepada Kirana.


Kirana melihat tidak senang dengan kehadiran ku dan Kara yang datang bersama Nicko. Dia berdiri dengan kesal.


“Kamu kemana saja?! Kenapa handphone mu tidak aktif?” Tanya Kirana.


Dia melirik ke arah ku dengan sinis.


Aku diam di samping Nicko dengan begitu santai nya,tidak peduli dengan lirikan mata nya yang tajam. Lalu aku menghampiri Mama dan mencium punggung tangan Mama dengan tersenyum.


“Hay sayang” sapa Mama sambil mengelus rambutku dengan lembut.


“Hay Ma. Papa mana?” Tanya ku melihat ke dalam rumah.


“Papa ada di ruangan nya” jawab Mama. Lalu dia menatap Kara yang masih ada di dalam gendongan Nicko.


“Hallo Oma” sapa Kara sambil melambaikan tangan nya.


“Hallooo Kara.. cucu Omaa” Mama menghampiri Kara dan mencium lembut pipi nya.


“Akhirnya kesini lagi. Hari ini Kara menginap?” Tanya Mama kepada Kara.


Kara menggelengkan kepala nya sambil tersenyum dengan malu.


“Kenapa?” Tanya Mama sambil pura-pura sedih.


“Mama masih kerja Oma,kata Mama nanti kalau Mama libur panjang Kara bole nginap di rumah Oma” jawab Kara dengan polos.


“Oh gampang kalau begitu” ucap Mama sambil melirik Nicko.


“Kita tinggal cubit aja Bos nya untuk memberikan Mama libur yang panjaaanggg sekali biar Kara bisa menginap disini sama Mama” sindir Mama kepada Nicko.


Namun Nicko masih saja bersikap dingin kepada Mama nya. Dan Kirana masih berdiri di hadapan Nicko dengan raut wajah yang tidak senang.


“Kara,ayo turun. Kita sapa dulu Opa di ruangan nya” pinta ku dengan terus tersenyum menyembunyikan rasa risih ku berada di sekitar Kirana.


“Aku juga mau bertemu Papa dulu,ayo kita kesana” ujar Nicko dengan dingin, tanpa menghiraukan Kirana yang berdiri di hadapan nya.


“Nicko!” Panggil Kirana dengan kesal.


“Tunggu sebentar. Aku mau bertemu dulu dengan Papa” ucap Nicko menatap malas Kirana.


“Iya tidak apa-apa biar Kirana Mama temani dulu disini” ujar Mama memegang punggung Kirana dengan lembut.


Kirana tampak kesal, karena dia tertahan di ruang tamu bersama Mama, sedangkan Nicko malah mengikuti ku masuk ke dalam.


Aku masih saja heran, kenapa Nicko masih terlihat dingin kepada Mama nya? Apa Nicko masih menyimpan dendam kepada mereka?


Kita sampai di depan ruangan Papa,kita menggedor dulu pintu sampai ada suara yang berteriak.


“Iya masuk” ucap Papa di dalam ruangan.


Nicko langsung membuka pintu nya dan membawa Kara masuk ke dalam ruangan Papa.


“Opaa!” Teriak Kara.

__ADS_1


Nicko menurunkan Kara dan membiarkan Kara berlari ke Papa nya yang sedang duduk di balik meja kerja nya.


“Haii..”


Papa terkejut melihat kehadiran kami dan dia pun menyambut Kara yang berlari ke arah nya. Papa langsung menangkap Kara dan mendudukan Kara di lahunan nya,dia mencium dan memeluk Kara begitu erat.


“Hallo sayang,kenapa baru kesini?” Gemas Papa sambil mencubit lembut pipi Kara.


“Iya Opa. Mama dan Kara baru libur,jadi baru bisa kesini lagi”


“Oohh”


“Hay Pa” sapa ku sambil menciun punggung tangan Papa.


“Hay Nak. Kenapa kalian bisa bersama?” Tanya Papa menunjuk ku dan juga Nicko.


“Aku..” ucap ku bingung melirik Nicko yang terus diam enggan menjawab.


“Aku minta jemput Nicko Pa. Karena mobil ku mogok”


“Ooh. Sudah di bawa ke bengkel? Perlu Papa panggilkan montir langganan Papa kesana?” Tanya Papa membuat ku khawatir.


“Oh tidak Pa. sudah aku tangani,semua hampir beres kok” jawab ku menolak tawaran nya dengan cepat.


Aku terlihat kikuk ketika aku berbohong.


“Baiklah” jawab Papa.


Lalu Papa kembali menatap Kara yang ada di lahunan nya.


“Dan cucu Opa sekarang mau main apa?” Tanya nya gemas.


“Kara bawa baju berenang loh Opa” pamer Kara,yang seperti tidak sabar untuk segera masuk ke kolam renang.


“O ya?”


“Kara mau belajar lagi berenang?”


“Mau dong Opa” ucap Kara.


Lalu Kara mendekatkan bibir nya ke telinga Papa seolah dia ingin membisikan sesuatu.


“Soalnya Mama ga pernah izinin Kara berenang selain di rumah Opa” bisik Kara yang masih saja bisa terdengar oleh ku ataupun Nicko.


“Oh gitu” jawab Papa ikut berbisik mengikuti Kara.


Perbincangan Papa dan Kara membuat Nicko mengkerutkan kening nya dan melirik ku.


“Kalau begitu ayo” ajak Papa sambil menurunkan Kara dari lahunan nya.


Papa dan Kara keluar bersama dengan tingkah yang lucu mereka. Sebelum keluar ruangan Papa,Nicko menarik tangan ku.


“Tidak pernah mengizinkan dia berenang?” Tanya Nicko heran,dan membuat ku juga heran dengan pertanyaan singkatnya.


“Belajar berenang kan juga penting untuk anak seusia nya. Supaya ketika dia besar dia sudah bisa berenang” ujar Nicko mencoba menceramahi ku.


Aku mengerutkan kening ku mendengar ucapan nya.


“Percayalah. Membesarkan dia sendiri itu tidak mudah” sindir ku kepada Nicko.


Dia lalu terdiam dan membiarkan ku pergi meninggalkan nya yang terpatung di tempat nya berdiri untuk perpikir.


Aku menghampiri Papa dan Kara yang sudah berada di kolam renang,aku menggantikan Kara baju dengan baju renang nya. Dan Papa masih menunggu salah satu pembantu nya membawakan Papa pakaian untuk berenang.


“Pa. Apa Papa tidak keberatan terus di kerjai Kara seperti ini?” Tanya ku begitu merasa tidak enak.

__ADS_1


“Kenapa harus keberatan?” Tanya Papa yang ikut duduk di kursi panjang samping kolam.


“Ya. Aku tidak enak saja Pa”


“Papa lebih keberatan jika kamu masih belum mau kembali kerumah ini”Ujar Papa kembali mengungkit masalah itu.


Aku bernafas begitu dalam dan menatap Papa dengan pilu.


“Pa. Jangan bahas itu dulu ya”


“Kalau begitu,berhenti merasa jika kamu dan Kara adalah orang asing di rumah ini” pinta Papa dengan serius.


Aku tersenyum mendengarnya.


“Baiklah”


Lalu tidak lama Nicko datang ke kolam renang dengan tanpa memakai baju dan hanya memakai kolor boxer berwarna hitam.


“Biar aku yang menemani Kara berenang” ujar Nicko menghampiri Papa.


Papa menatap Nicko dengan bingung. Tapi Papa menganggukan kepalanya.


“Baiklah” jawab Papa tanpa keberatan.


“Papa masih ada pekerjaan kan?” Tebak Nicko yang sepertinya dia sudah tahu apa yang di lakukan Papa di ruang kerja nya tadi.


“Ya. Tapi sebenarnya Papa bisa menundanya untuk Kara”


“Tidak perlu. Aku yang akan menemani Kara kali ini” ujar Nicko dengan masih saja dingin kepada Papa nya sendiri.


“Horeee!! Berenang sama Om Nicko” seru Kara dengan begitu bahagianya.


“Ayo” ajak Nicko menggandeng tangan Kara ke sisi kolam renang yang lebih dangkal untuk Kara belajar.


Tiba-tiba Papa tersenyum melihat Kara dan Nicko yang begitu bahagia di dalam kolam renang.


“Kalau begitu Papa kembali ke kantor ya. Nanti kita bertemu di meja makan”


“Baik Pa”


Lalu Papa pun pergi kembali ke ruangan nya.


Dan aku menatap Nicko juga Kara yang sudah mulai berenang di dalam kolam. Kara terlihat sekali begitu bahagia bisa belajar berenang dengan Nicko,dan Nicko pun tampak senang melihat kebahagiaan Kara.


Beberapa saat kemudian,Mama dan Kirana datang menghampiri kami di kolam renang.


“Omaaa!!” Sapa Kara ketika melihat Oma nya di samping kolam.


Mereka berdua berdiri di hadapan ku untuk melihat Nicko dan Kara.


“Loh. Kok sama Om Nicko? Opa mana?” Tanya Mama kepada Kara.


“Papa lanjut kerja Oma,Om Nicko mau gantiin Opa”


“Oh begitu” jawab Mama sambil tersenyum.


Kirana terus saja berdiri di samping Mama Nicko dengan terus mencuri pandang kepada ku yang ada di belakang nya dengan ketus.


“Sepertinya kamu sudah pantas menjadi Ayah Nicko” ujar Mama membuat ku terkejut mendengarnya.


Dan aku melihat Nicko pun sempat tersentak dengan ucapan Mama namun dia berusaha untuk tenang memegangi Kara.


“Mama tidak sabar melaksanakan pernikahan mu dengan Kirana di gelar, dan segera memberikan cucu juga untuk Mama dan Papa”


Hatiku merasa tersayat. Aku begitu pengap mendengar ucapan Mama yang begitu menyakitkan ku. Dia mengharapkan cucu dari Nicko dan Kirana,sementara dia tidak sidar jika Kara juga adalah cucunya dari Nicko dan aku.

__ADS_1


Aku mulai sesak,jantungku mulai menggebu. Dengan menundukan kepala aku pergi dari kolam renang dengan cepat. Kirana sadar dengan kepergian ku,begitupun dengan Nicko. Nicko terus melirik ku yang pergi dari hadapan nya dengan raut wajah yang khawatir. Namun aku terus saja pergi menuju kamar ku dulu di lantai atas untuk merenung dan menenangkan diri.


__ADS_2