Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Selalu berdebat


__ADS_3

Setelah acara pengumuman terbuka itu telah di umumkan. Nicko kembali menyeret ku kembali ke ruangan.


“Kamu gila ya” maki ku dengan kesal sambil melepaskan genggaman tangan nya.


Nicko menutup rapat pintu ruangan nya, dan mulai menghadapi ocehan ku.


“Apa kamu tidak takut,dengan semua orang tau pernikahan kita akan menjadi dampak buruk ?”


Nicko terus menatap ku dengan dingin.


“Dampak buruk seperti apa?” Tanya nya dengan tenang.


“Akhirnya mereka akan tahu juga, aku cuma tidak ingin mereka shock saat tau di pelaminan” lanjut Nicko.


“Ya tapi kan tidak sekarang” ucap ku terus saja mengelak dengan wajah cemas.


“Apa yang kamu takutkan?” Tanya Nicko menyelidik wajah ku.


Aku mengerutkan kening ku.


“Aku hanya..”


jujur saja aku pun sulit mencari alasan kenapa aku begitu keberatan dengan pengakuan pernikahan ku yang lebih awal kepada seluruh karyawan.


“Apa kamu tidak mau jika Bima tahu tentang pernikahan kita?” Tanya Nicko membuat ku terkejut menatap nya dengan bingung.


“Apa ? Bima ?”


“Aku melihat kamu berbicara dengan Bima di lorong tadi, dan kamu tidak sedikit pun mengakui tentang hubungan kita” aku tercengang dengan ucapan Nicko.


“Kenapa? Kamu sudah memiliki perasaan kepada nya?” Tanya nya lagi semakin membuat ku heran mendengar pertanyaan nya.


“Perasaan apa?” Tanya ku tidak terima.


“Ya aku tidak tahu, kamu kan yang merasakan nya. Kalau tidak ada perasaan apapun,Kenapa kamu masih tutupi tentang pernikahan kita?”


Aku mendelikan mata ku dengan kesal.


“Aku tidak menutupi nya”


“Lalu kenapa kamu tidak langsung bilang saja jika yang memberikan mu cincin itu adalah aku”


“Aku belum mengatakan tentang semua nya kepada Bima, bukan berarti aku punya perasaan kepada nya kan?”


“Lalu kenapa?”


“Aku menghargai perasaan dia”


Nicko terdiam mendengar ucapan ku.


“Dia adalah satu-satu nya orang yang aku anggap teman di kantor ini, karena aku tidak memiliki satu orang pun yang bisa aku percaya sebagai teman selain dia. Semua yang aku kenal disini mereka semua bermuka dua,aku benci itu. Dan hanya Bima yang dengan tulus mau menjadi teman ku di kantor ini,ya walaupun pada akhirnya dia malah menaruh hati kepadaku,tapi dia tidak sama sekali menuntut ku untuk balas menyukai nya” aku berusaha menjelaskan sebaik mungkin kepada Nicko agar dia bisa mengerti.


“Aku tahu dia menyukai mu” ujar Nicko.


Aku menggedikan bahuku.


“Dia memang bilang kalau dia tidak masalah aku menolak nya. Tapi seperti nya sulit untuk dia menerima nya”


Aku menatap kedua mata Nicko dengan begitu dalam.

__ADS_1


“Aku menghargai nya bukan karena aku memiliki perasaan kepadanya. Tapi aku, tidak ingin dia terkejut, jika alasan aku tidak bisa menerima dia karena hati ku telah di miliki oleh atasan nya” ujar ku sambil tersenyum kepada Nicko.


Wajah Nicko pun seketika berubah, dari asal nya begitu tegang jadi lebih rileks walupun belum tampak senyuman di bibir nya.


“Ayolah Nicko. Aku tidak ingin chemistry mu dengan Bima hilang hanya karena aku” pinta ku memohon.


“Selama dia tidak mendekatimu dengan maksud lain lagi, aku akan bersikap seperti biasa kepada nya”


“Sepertinya dia sudah melakukan itu selama ini” ledek ku.


Lalu akhirnya aku bisa melihat senyuman di bibir Nicko. Dan aku pun ikut tersenyum melihat nya.


Malam hari nya di rumah, aku dan Kara sedang bermain di kamar sebelum kami tidur. Aku mengepang rambut Kara dan Kara bermain dengan boneka barbie nya yang cukup besar.


“Ma”


“Hm” gumam ku menyauti panggilan nya.


“Apa Mama menikah dengan Papa seperti dengan Papa Ben?” Tanya Kara membuat ku terpatung sejenak.


“Iya. Tapi kalau sekarang Mama menikah beneran, kalau dulu dengan Papa Ben hanya bohongan”


Lalu Kara melirik ke belakang menatap ku.


“Memang menikah bisa boongan ya Ma?”


“Ada. Mama dan Papa Ben cuma acting menikah”


“Kaya di film film?”


“Iya” jawab ku lalu Kara kembali menatap ke depan dan menyisir boneka nya.


“Ma”


“Nanti setelah Mama menikah dengan Papa Nicko, apa Kara masih di sayang Mama?”


Aku tertawa mendengar pertanyaan nya.


“Ya tentu. Kara kan cinta selamanya Mama. Mama dan Papa akan selalu sayang sama Kara sampai Kara dewasa nanti”


“Tapi kata Oma, Mama dan Papa menikah nanti bisa buat adik untuk Kara”


Aku tercengang, mata ku membulat, aku begitu terkejut dengan ucapan Kara.


“Oma bilang apa?” Tanya ku memastikan apa yang aku dengar tidak salah.


“Iya. Oma bilang Mama dan Papa akan segera membuat adik untuk Kara”


Aku menggaruk rambut ku yang tidak gatal, dan aku bingung bagaimana menjawab nya.


“Tidak sayang”


“Mama tidak akan buat adik untuk Kara?” Tanya nya memperjelas pernyataan ku.


“Bukan, bukan seperti itu” ucap ku begitu bingung menjawab kepolosan Kara.


Karena apa yang ada di dalam fikiran nya dengan isi kepala ku sangat berbeda.


“Selamat malam bidadari Papa” ujar Nicko ketika dia masuk ke dalam kamar ku tanpa permisi dengan telah menggunakan piyama polos nya berwarna ungu gelap.

__ADS_1


“Papa!” Panggil Kara begitu ceria.


Nicko langsung berbaring di depan Kara yang masih di kepang oleh ku.


“Pa” panggil Kara.


“Iya”


“Pa kata Oma, nanti Mama dan Papa akan buat adik untuk Kara?” Tanya Kara dengan masih saja polos mempertanyakan hal yang hanya akan membuat kikuk Nicko dan aku.


Wajah Nicko pun ternyata tidak kalah terkejut nya dengan ku. Dia membulat kan mata nya lalu menoleh aku yang ada di belakang Kara. Aku berpura-pura tak memperhatikan nya dan terus memainkan rambut Kara.


“Kara sudah tanya Mama?”


“Sudah”


“Apa jawaban nya?”


“Tidak” jawab Kara begitu jujur.


Nicko melirik ku lagi.


“Apa kamu tidak mau Kara memiliki adik?”


Tanya Nicko memulai lagi berdebat dengan ku.


Aku melepaskan tangan ku dari rambut Kara yang belum selesai ku urus dan bernafas begitu lemah menatap Nicko.


“Kara saja masih kecil Nicko”


“Umur Kara sudah mau 5 tahun, sudah pantas Kara untuk menjadi kaka”


“Ya tapi kan..”


“Kara juga sudah bisa di lepas sendiri kan?”


“Apakah harus kita membahas ini sekarang?”


“Kara mau punya adik?” Tanya Nicko membuat Kara menjadi tameng nya.


“Mau” ucap Kara membuat Nicko semakin memiliki kekuatan.


“Dengar kan? Kara saja menginginkan nya”


“Aku masih mau mengurus perusahaan dulu”


“Tidak. Setelah menikah kamu harus menuruti segala keinginan ku”


Aku membuka mulut ku dengan lebar mendengar ocehan nya.


“Kamu tidak sadar, selama ini aku sudah menuruti segala keinginan kamu, bahkan dari kecil”


“Dan setelah menikah, kamu harus lebih menuruti ku”


Aku menghela nafas dengan kesal.


“Aku hanya ingin kamu menjadi istri yang seutuh nya untuk ku. Aku tidak ingin kamu bekerja dengan memegang perusahaan sendiri, aku tidak ingin di jadikan yang kedua oleh mu. Aku ingin hanya ada aku di dalam fikiran mu, dan aku mau kamu selalu ada di samping ku” Ucap Nicko dengan serius.


Inti nya adalah, aku tidak di izinkan bekerja sendiri oleh nya terkecuali bekerja di samping nya.

__ADS_1


__ADS_2