
Siang hari nya aku pergi ke pantry kantor untuk menyeduh coffee. Namun ketika baru saja aku sampai di depan pantry aku sudah melihat ketiga wanita bermulut ular di pantry, mereka sedang berbincang dengan tertawa. Siapa lagi jika bukan Riri In The Gank.
Mereka terpatung ketika melihat ku yang berdiri di ambang pintu, aku kembali berjalan masuk berusaha tak mengacuhkan mereka dan berjalan menuju mesin coffee automatic. Mereka bergeser memberikan ku ruang untuk bergerak. Mereka terlihat saling menatap satu sama lain seperti ada yang di sembunyikan dariku.
“Kenapa?” Tanya ku tanpa melirik sedikitpun kepada mereka dengan nada yang begitu rendah.
“Ada yang mau di tanyain sama gue?” Tanya ku menebak,dengan tangan terus sibuk membuat coffee caramel.
Mereka diam dulu sejenak dan malah terus melempar pandang.
“Katanya, kemarin anak lo masuk rumah sakit ya?” Tanya Riri akhirnya.
“Iya” jawab ku singkat.
“Terus anak lo sekarang keadaan nya gimana ?” Tanya nya seolah peduli.
Aku menghela nafas, karena begitu malas mendengar basa-basi nya.
“Anak gue baik-baik aja, dia udah pulang juga”
“Oh Syukurlah” ujar Riri terlihat lega.
Aku tahu mereka hanya berpura-pura peduli.
“Terus, kemarin juga Pak Ferdy ga masuk kerja ya?” Tanya Riri seolah mengorek sesuatu.
Aku langsung menatap sinis mata Riri sambil membawa coffee di cangkir.
“O ya?” Tanya ku dengan seolah tidak tahu itu terjadi.
“Kok bisa Pak Ferdy ga masuk kantor juga ya? Lo udah tanya langsung ke Pak Ferdy kenapa dia kemarin ga masuk kantor?” Tanya ku dengan ekspresi wajah yang bodoh.
Riri terlihat diam tak menjawab. Dan aku langsung keluar dari pantry.
Aku berjalan sambil membawa cangkir kopi ku ke ruanganku. Aku melihat Bima berjalan mendekatiku,dari jauh dia sudah tersenyum melihatku.
“Hai, faw” sapa Bima ketika sudah mendekat,dan berhenti di hadapanku.
Aku juga tersenyum dan ikut berhenti di hadapan nya.
“Hay Bim” manis ku.
“Bagaimana keadaan Kara?” Tanya Bima yang sudah tau alasan ku tidak masuk kerja kemarin.
“Kara sudah membaik, dia sudah pulang”
“Syukurlah. Kalau begitu nanti aku menjenguk nya sambil membawa spaghetti kesukaan nya”
Aku tersentak mendengar ucapan nya.
“Oh,kita tidak pulang ke apartemen” ujar ku dengan kaku.
“Tidak? Kenapa? Kalian pindah?”
“Oh bukan. Aku dan Kara sudah kembali ke rumah Pak Rio” ucap ku dengan canggung juga bingung.
Bima tampak terkejut, namun dia berusaha untuk menyembunyikan keterkejutan nya.
__ADS_1
“Oh. Baguslah” jawab nya kaku.
“Tapi, jika kamu mau,kamu boleh menemui Kara di rumah Opa nya”
Bima tersenyum kepadaku.
“Aku tidak mau. Tidak sopan kan aku mengunjungi rumah bos ku hanya untuk menemui cucu nya”
Aku tertawa bersamanya.
“Tapi jika kamu mau,kita bisa bertemu di luar” ujat Bima membuat ku berhenti tertawa.
Aku menatap nya dengan kikuk. Lalu berusaha mencari alasan.
“Kara masih menjalani pengobatan di rumah selama 2 minggu” ucap ku begitu meyakinkan.
“Oh begitu”
Aku menganggukan kepalaku.
“Baiklah. Mungkin setelah Kara sembuh, kita bisa jadwalkan lagi pertemuan kita di luar” ujar Bima dengan manis menatap ku.
Namun aku malah terdiam menatap nya dengan bingung. Tentu aku tidak bisa bertemu dengan Bima di luar tanpa sepengetahuan Nicko. Dan aku yakin Nicko pasti tidak akan memberi izin untuk kita bertemu di luar.
“Sedang apa kalian?”
Tanya seorang pria yang berdiri di samping kami.
Nicko. Dia berdiri gagah, dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celana nya. Dia menatap kami dengan raut wajah tidak senang.
Aku dan Bima saling bertatap dengan bingung.
“Oh. Saya baru saja membuat coffee di pantry” Ujar ku sambil memperlihatkan cangkir kopi ku.
Nicko berjalan cepat menghampiri kami berdua. Lalu dia merampas coffe caramel di tangan ku dengan menatap ku tajam penuh arti. Dia kesal, aku bisa lihat itu.
“Terima kasih” ujar Nicko begitu saja.
Lalu dia pergi meninggalkan kami yang masih terpatung di tempat kami.
“Bim. Aku ke ruangan ku dulu ya” ujar ku dengan bingung kepada Bima.
“Oke”
“Bye”
“Bye Faw”
Lalu aku berjalan cepat menuju ruangan ku.
Aku tak menoleh sedikit pun ke ruangan Nicko, dan langsung saja duduk di meja kerja ku,mulai kembali menyibukan diri. Tidak lama suara Telepon berdering. Aku sudah tahu jika itu pasti dari Nicko,dan dengan malas aku mengangkat telepon nya.
“Ya” sapa ku.
“Ke ruangan ku!” Ujar Nicko dengan ketus, lalu dia memutus telepon nya.
Aku menatap dengan kesal gagang telepon itu, seolah Nicko ada di dalam nya. Lalu dengan malas aku masuk ke ruangan Nicko. Aku menghentakan kaki mendekati meja kerjanya,dan berdiri dengan malas di hadapan nya.
__ADS_1
Nicko masih tidak menatap ku, dia hanya diam menatap kosong komputer nya.
“Ada apa?” Tanya ku.
“Apa yang kamu bicarakan dengan Bima?” Tanya nya dingin.
“Tidak ada” jawab ku singkat.
“Tidak ada gimana? Jelas-jelas tadi kamu berbincang dan tertawa di lorong”
“Aku hanya membicarakan pekerjaan” ujar ku berdalih.
“Dengan menyebut nama Kara?” Tanya Nicko dengan begitu menyebalkan.
Aku tidak tahu sejauh mana dia mendengar percakapan aku dengan Bima,Sampai dia tahu jika Bima membicarakan tentang Kara.
“Dia hanya menanyakan keadaan Kara” jawab ku masih dengan sabar.
“Untuk apa?”
“Ya, mungkin dia hanya ingin tau keadaan Kara,karena dia tau kalau Kara masuk rumah sakit, dia juga mengenal Kara kan?”
“Lalu?”
“Lalu apa?” Tanya ku mulai kesal.
“Apa dia mau menjenguk Kara?”
Aku menatap malas Nicko, aku begitu bosan dengan sifat menjengkelkan nya,namun aku begitu tahu dia seperti ini karena cemburu.
“Kalau bos nya mengizinkan dia pasti akan datang” sindir ku dengan tatapan yang amat sangat malas.
“Ya tentu aku tidak akan mengizinkan,selain bos nya aku juga Ayah Kara yang berhak menentukan siapa yang boleh jenguk dia dan siapa yang jangan”
Jawab nya dengan nada kesal.
“Iya Nicko. Kamu ayah nya,dan aku juga tidak mengizinkan dia menjenguk Kara karena kamu juga pasti tidak mau Bima menjenguk nya” ucap ku dengan nada begitu rendah tidak ingin terpancing emosi.
“Bagus,kalau kamu paham itu” ucap Nicko dengan bangga hati.
Aku memutarkan bola mata ku dengan malasnya.
“Masih ada yang mau di bicarakan Pak Ferdy?” Tanya ku dengan meledek nya.
“Tidak ada. Terimakasih”
Aku memicingkan mata menatap nya lalu berbalik berjalan menuju pintu keluar.
“Euh Fawnia” panggil Nicko kembali, aku membalikan badan dan berdiri di tempatku.
“Terima kasih untuk Caramel nya” ucap Nicko sambil menunjukan cangkir yang tadi dia rampas di lorong dengan senyuman yang di buat manis oleh nya.
Aku mengkerutkan kening ku menatap nya kesal.
“Aku membuat Caramel itu untuk ku sendiri. Tapi, sama-sama” ucap ku masih saja ketus, lalu keluar dari ruangan Nicko.
Aku duduk di meja kerja ku dengan perasaan kesal entah kenapa, lalu aku melirik ke ruangan Nicko,dan aku mendapati Nicko sedang tersenyum sendiri entah membayangkan apa. Aku kira dia begitu senang, karena aku mulai menghargai Nicko sebagai Ayah Kara. Dia tampak begitu bahagia, dan tanpa di sadari aku pun ikut tersenyum melihat dia tersenyum.
__ADS_1