Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Curahan isi hati Bima


__ADS_3

Beberapa saat kemudian sebuah mobil datang dan berhenti di samping caffe. Itu Bima, dia tidak memarkirkan mobil di parkiran karena caffe sudah tutup, jadi dia memarkirkan mobil nya di samping lobby dan menghampiri ku yang sedang duduk manis di kursi panjang yang berada di bawah lampu hias,samping caffe agar cahaya lampu bisa menemani ku.


“Hay” sapa Bima dengan manis.


“Hay” balas ku dengan tersenyum begitu kaku.


Lalu Bima duduk di samping ku, dan dia memandang ke sekitar caffe ini.


“Habis bertemu dengan siapa?” Tanya Bima memulai percakapan.


“Keysa”


“Oh teman mu itu?” Tanya Bima yang masih mengenal Keysa.


“Iya”


“Kenapa tidak bawa mobil?”


Aku menghela nafasku dengan kesal mengingat Nicko.


“Tadinya aku mau bawa mobil sendiri, tapi Nicko melarang ku. Dia mau mengantar ku kesini dan meminta ku menunggu dia untuk pulang”


Lalu Bima menganggukan kepala nya mendengar cerita ku.


“Mungkin dia ingin memastikan keselamatan mu”


“Ya tapi buktinya sekarang mana? Di hubungi pun dia sulit” ucap ku semakin kesal.


“Mmmhh. Aku coba hubungi teman nya ya” ujar Bima merogoh ponsel di saku jaket nya.


“Tidak usah” jawab ku kesal.


“Biar saja dia bersenang-senang, aku ingin tahu sampai kapan dia akan membiarkan ku disini”


“Ini sudah malam Faw. Apa Kara tidak menunggu mu di rumah?” Tanya Bima mengkhawatir kan ku.


“Apa jika aku tidak menemani mu disini, kamu masih akan menunggu Pak Nicko hingga tengah malam?”


Aku diam tak menjawab dan melirik nya. Aku juga sebenarnya tidak ingin menunggu Nicko seperti orang bodoh disini.


“Baiklah. Aku akan menunggu mu sampai Pak Nicko datang” ujar Bima akhirnya menyerah.

__ADS_1


Dia sudah membiasakan diri memanggil Pak Ferdy nya dengan sebutan Nicko,mengikuti ku.


Lalu dia menyandarkan diri nya di kursi dan memainkan ponsel nya.


Kami saling diam, tak bicara dan aku hanya menunggu handphone ku berdering dari Nicko. Aku begitu cemas dan terus melirik arah masuk caffe berharap mobil Nicko segera datang.


“Bagaimana persiapan pernikahan mu?” Tanya Bima memecahkan keheningan.


“Berjalan lancar”


“Syukurlah”


Aku menatap Bima dengan ragu.


“Kamu datang ke pernikahan ku kan?”


Bima menatap ku sebentar lalu dia menghela nafas nya begitu dalam.


“Jika aku kuat untuk melihat pernikahan mu aku akan datang” ucap Bima dengan raut wajah sedih.


“Bimaaa” panggil ku dengan merasa tidak enak.


“Aku hanya bercanda” ucap Bima membuat ku ikut tertawa namun kesal.


“Aku akan datang, dan berharap bisa menemukan calon istri ku disana”


Aku langsung menertawakan ucapan nya.


“Memang nya kamu sudah siap untuk menjalani pernikahan?” Tanya ku meledek nya.


Tawa Bima pun pudar, kini dia terlihat tersenyum namun hampa,sambil menatap lurus ke depan.


“Aku pernah memiliki seorang kekasih” ujar Bima dengan tatapan kosong nya, seolah dia sedang mengingat kembali kekasih nya itu.


“Tapi itu sudah lama sekali. Hubungan kami tidak berhasil. Derajat kami benar-benar berbeda,banyak sekali tantangan yang menghalangi hubungan kami. Salah satu nya adalah orang tua nya,orang tua nya ingin memiliki menantu orang yang sederajat dengan mereka. Sedangkan aku ? Aku hanyalah seorang asissten. Aku mundur sebelum aku terlalu jauh sakit hati oleh mereka,dan sampai sekarang aku masih belum mendapatkan pengganti nya”


Lalu Bima tersenyum melihat ku. Aku ikut tersenyum kepadanya dengan sedih.


“Aku juga tidak mengerti. Kenapa harta bisa menjadi suatu acuan untuk orang tua agar anak nya bahagia,padahal itu belum tentu”


Aku mengingat orang tua Nicko dulu yang begitu ingin mendapatkan besan orang kaya juga sebelum nya.

__ADS_1


“Aku dan Nicko sudah saling mencintai dari kami kecil. Sejak saat itu aku dan Nicko selalu bersama, di tempatkan di satu sekolah yang sama, di kegiatan yang sama, dan selalu bertemu setiap hari nya. Awal nya aku mengira dia sahabat ku, tetapi seiring berjalan nya waktu, perasaan kami tumbuh dengan sendiri nya, dan kami mulai saling mencintai. Tapi orang tua Nicko tidak pernah menyetujui kami, dia tidak mendukung hubungan kami, karena dia sudah menganggap ku sebagai anak kandung nya dan orang tua Nicko senang sekali menjodohkan Nicko dengan wanita pilihan nya”


Bima membenarkan jaket nya dan terus memperhatikan ku dengan serius.


“Aku pergi dari keluarga mereka pun karena aku kira dengan kepergian ku Nicko akan bisa menuruti keinginan orang tua nya untuk menikahi wanita lain, tetapi ternyata salah. Selama 5 tahun aku pergi ,Nicko masih menyimpan perasaan nya, dan dia masih mencintai ku” ucap ku mengingat begitu setia nya Nicko kepada ku.


“Dan kamu malah menikah dengan pria lain?” Tanya Bima.


Aku hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan nya, karena Bima tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa.


“Hebat sekali Pak Nicko. Itu berarti kamu adalah cinta sejatinya, dan sekarang kamu akan menjadi cinta terakhirnya” ucap Bima dengan merasa takjub.


Aku menundukan kepala ku.


“Aku hanya menyadari satu hal. Sejauh apapun aku pergi dan sekeras apapun aku untuk melupakan nya, jika kita di takdirkan untuk bersama, kita pasti akan kembali, bagaimana pun keadaan nya. Dan jika kita tidak di takdirkan untuk bersama, akan selalu ada hal yang membuat kita akan terpisah dan tidak akan pernah bisa untuk bersama, sebagaimana pun di paksakan” ucap ku memberi sedikit petuah kepada Bima.


Dia merenungkan ucapan ku.


“Bim. Jika wanita itu di takdirkan untuk mu, sekeras apapun keluarga nya menentang hubungan kalian, kalian pasti akan bersama bagaimana pun keadaan nya” ucap ku menatap Bima dengan mengerutkan kening.


“Jadi jangan terlalu berharap dengan apa yang ego mu inginkan, karena akan terasa sakit jika semua tidak berjalan seperti apa yang kamu harapkan. Let it flow, biarkan semua mengalir apa adanya,lambat laun kamu pun pasti akan menemukan nya, atau malah dia yang menemukan mu”


Bima menatap ku begitu dalam, dan aku mengangkat halis ku untuk meyakinkan dia dengan ucapan ku. Bima lalu tersenyum dengan manis.


“Kamu itu wanita hebat Faw. Beruntung sekali orang-orang yang sempat memiliki mu” ucap Bima memuji ku.


“Dan kamu benar. Andai saja aku tidak terburu-buru untuk mengatakan perasaan ku kepada mu, pasti aku tidak akan merasa canggung seperti ini kepada kalian”


Aku memutarkan bola mata ku.


“Tidak perlu membahas itu kembali, aku sudah melupakan nya, aku mau kita tetap berteman”


Bima mengangguk dengan ragu.


“Ya asalkan Pak Nicko tidak memecat ku, aku akan tetap menjadi teman mu”


Lalu aku tertawa mendengar celotehan nya,dan Bima kembali melihat ponsel nya. Dia langsung membuka sosial media nya dan terlihat sebuh fhoto di laman beranda sosial media nya.


Aku melihat Bima begitu serius melihat fhoto di layar ponsel nya, lalu dia dengan cepat menggeserkan fhoto itu ke fhoto yang lain.


“Itu Nicko kan?” Tanya ku yang sudah terlanjur melihat sekilas wajah Nicko di layar ponsel nya.

__ADS_1


__ADS_2