
“Ayo kita bicara di dalam” pinta Papa Nicko sambil menggandeng tangan ku, namun aku tertahan di tempatku.
“Tapi Nicko mau ada pertemuan penting dengan seseorang Pa” ucap ku mengingat perintah dari Nicko tadi.
“Mungkin maksud dia orang penting itu Papa” jawab Papa dengan begitu percaya diri nya.
Aku tidak menjawab nya, lalu mengikuti Papa masuk ke dalam ruangan nya.
Ketika kami berdua masuk, Nicko langsung menyambut Papa nya dengan memeluk nya.
“Pa” sapa Nicko.
“Hay Nak”
Papa melepaskan pelukan nya.
“ternyata kamu meminta Papa kesini agar bertemu dengan Fawnia ?” Tanya Papa sambil memegang punggung Nicko terlihat begitu bahagia.
Nicko hanya tersenyum dengan semu dan menatap ku yang masih saja terharu dengan kehadiran Papa.
Papa membawa ku duduk di sofa untuk berbicara.
“Nak. Kemana saja kamu selama ini?” Tanya Papa mulai mengintrogasi ku.
Aku menatap Nicko yang sedang berdiri di samping Papa nya dengan mimik wajah yang begitu penasaran juga. Aku begitu keberatan Nicko mendengar percakapan ku dengan Papa.
“Kenapa menatap ku?” Tanya Nicko dengan heran.
Papa Nicko ikut menatap Nicko dan langsung mengerti apa maksud ku.
“Bisakah kamu keluar sebentar?” Pinta Papa nya membuat mata Nicko terbelalak.
“Keluar dari ruangan ku sendiri?” Tanya nya.
Papa Nicko tak lagi harus meminta dua kali untuk meminta nya keluar. Dan Nicko melangkah pergi keluar dari ruangan nya sendiri dengan terlihat sedikit kesal namun dia tetap keluar dari ruangan nya. Dan tersisalah aku dan Papa Nicko disini.
Aku menghela nafas ku sebelum aku menjawab pertanyaan Papa Nicko.
“Maafkan aku Pa. Papa tentu tau Nicko seperti apa?” Ucap ku dengan merasa bersalah.
“Dulu Nicko bersikeras tidak mau menikah hanya karena ego yang dimiliki nya. Aku tidak mau menjadi penghalang untuk masa depan Nicko, kalian sudah terlalu baik mau mengurus ku hingga besar seperti ini. Dan aku tidak ingin kalian kecewa kepada Nicko hanya karena Nicko memiliki perasaan kepadaku Pa” jawab ku dengan begitu menyakitkan.
Sekarang giliran Papa yang menghela nafas nya setelah mendengar pernyataan ku yang pasti sudah di ketahui nya,hanya saja dia pasti ingin mendengar langsung dari mulutku.
“Nak. Kami memang ingin yang terbaik untuk Nicko, tapi tidak dengan cara membuat kamu pergi dari rumah. Papa yakin akan ada cara lain untuk membuat Nicko dewasa dan bisa menerima keputusan kami,karena apa yang kami lakukan tentu yang terbaik untuk dia”
“Tapi akhirnya? Nicko masih saja selalu membantah kalian kan?” Tanya ku begitu yakin dengan tebakan ku,melihat sekarang saja Nicko masih selalu keras kepala.
“Yah. Begitu lah watak nya,sulit sekali di ubah. Tapi kamu tidak perlu pergi dari rumah dan menghilang selama ini Nak. Mama juga mengkhawatirkan mu”
Aku teringat Mama. Dulu,dialah yang meminta ku untuk membujuk Nicko menuruti keinginan nya. Namun aku malah memilih pergi,karena aku fikir, hanya dengan cara itu bisa membuat Nicko tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan kedua orang tua nya, tapi ternyata sia-sia.
“Bagaimana kamu bisa bekerja disini?” Tanya Papa.
Aku bingung harus menjelaskan nya seperti apa kepada Papa.
“Awalnya aku tidak tahu jika ini adalah salah satu perusahaan kalian,dan aku tidak tahu jika Direktur nya adalah Nicko”
“Dan kalau kamu tahu sejak awal,kamu tidak akan menerima pekerjaan ini?” Tebakan Papa memang tepat.
“Pa. Aku terlalu banyak merepotkan kalian. Kalian sudah mau mengurusku hingga besar seperti ini. Aku tidak bisa membalas semua jasa kalian kepadaku,bukan maksud ku untuk tidak tahu diri,tapi aku hanya ingin mandiri”
“Nak. Jangan selalu berkata seperti itu. Orang tua mu juga begitu berjasa untuk kami. Dia yang membantu kami membuat perusahaan ini, dia adalah dalang dari semua nya. Seharusnya dengan Papa mengurusmu hingga nanti,itu akan membuat Papa bisa membalas semua jasa mereka”
__ADS_1
Aku menangis mengingat kembali orang tua ku. Orang tua ku dan orang tua Nicko memang bersahabat sejak lama sekali, dari mereka hanya memiliki kantor kecil hingga sekarang telah memiliki perusahaan besar seperti ini. Dan kini perusahaan nya pun sudah ada beberapa yang tersebar di Indonesia.
“Pulang lah Nak. Kita perbaiki semuanya” aku menangis mendengar keinginan Papa.
Aku menggelengkan kepala ku begitu pilu.
“Tidak bisa Pa” ucap ku membuat Papa bingung.
“Kenapa sayang?” Tanya Papa sambil mengelus kepalaku.
“Aku sudah punya anak” jawab ku sambil tersenyum dengan bangga nya di dalam kesedihan ku.
Papa Nicko tampak begitu terkejut mendengar nya.
“Aku sudah menikah” lanjutku masih dengan tersenyum pilu.
“Kamu sudah menikah?” Tanya Papa Nicko begitu terkejut nya.
Aku mengangguk dengan bahagia.
“Lalu bekerja dimana suami mu sekarang?”
Raut wajah ku berubah muram mengingat Ben.
“Suami ku sudah meninggal ketika aku akan melahirkan anak ku Pa,dan aku sekarang hanya tinggal berdua di sebuah apartemen”
Papa terlihat sedih mendengar cerita ku
“Papa minta maaf sayang. Semoga suami mu tenang disana”
“Terimakasih Pa”
“Lalu anak mu tinggal sendiri ketika kamu kerja?”
“Aku menyewa babysitter untuk nya”
“Boleh Papa bertemu dengan dia?”
Aku senang mendengar keinginan Papa.
“Tentu,nanti aku ajak Kara untuk bertemu Papa”
“Namanya Kara?”
“Ya Pa. Karamel”
Lalu Papa pun tertawa mengingat memang aku dan Nicko begitu menyukai aroma caramel sejak kecil. Dan dia merasa nama anak ku begitu lucu dengan menamai nya dengan aroma favorite ku dan Nicko. Kami tertawa bersama dengan gembira.
Lalu kegundahan kembali mengusik fikiran ku.
Kara akan bertemu opa nya. Apakah ini ide yang bagus?
Setelah perbincangan kami yang begitu panjang selesai. Papa berpamitan kepada ku dan Nicko masih di dalam ruangan nya.
“Papa pulang dulu Nak. Jaga Fawnia disini Nicko jangan sampai kita kehilangan dia lagi”pinta Papa kepada Nicko.
Aku hanya bisa menunduk sedih mendengar permintaan Papa yang sepertinya tidak ingin lagi kehilangan ku.
Dia berkata seolah kepergian ku adalah masalah terbesar untuk mereka. Nicko hanya diam melirik ku yang tertunduk.
“Faw” Papa Nicko memegang kedua lengan ku dan menatap ku begitu dalam.
“Jika ada apa-apa segera hubungi kami. Jangan menghilang lagi, Kita sudah lelah mencari mu”
__ADS_1
Aku tersenyum begitu sedih mendengar ucapan Papa Nicko. Dan mengangguk dengan sangat pelan kepadanya.
“Papa pulang dulu. Jaga diri kalian baik-baik”
“Baik Pa” jawab ku.
“Sampai bertemu lagi Fawnia”
“Sampai bertemu lagi Pa”
Dan Papa Nicko pun keluar dari ruangan di ikuti ajudan nya yang telah berdiri sejak dari tadi di depan pintu.
Kini tinggal aku berdua di ruangan ini dengan Nicko. Dan untuk mencegah kecanggungan,aku segera pergi keluar untuk meninggalkan nya namun Nicko menarik tangan ku dengan begitu cepat.
Aku tersentak di hadapan Nicko dan menatap mata Nicko dengan bingung.
“Kamu dengar kan?” Tanya Nicko begitu dekat sekali dia berbicara di depan wajah ku.
“Kita sudah sangat lelah mencarimu”
Lalu aku menatap Nicko dengan malas nya. Seolah aku malas mendengar omong kosong nya.
“O ya?” Ucap ku dengan ketus.
“Aku kira kamu sudah begitu saja melupakan aku. Karena aku fikir, kamu sudah bahagia menikah dengan wanita pilihan orang tua mu” ledek ku membuat dia menatap ku tajam.
Tangan Nicko masih saja menggenggam lengan ku begitu erat nya.
“Kamu berbicara tentang ku? Atau berbicara tentang dirimu sendiri?” Balik nya menyinggung tentang pernikahan ku dan Ben.
Aku terdiam menatap Nicko. Andai saja dia tahu alasan terbesar Ku melakukan itu semua, Nicko pasti akan sangat terkejut dan tidak akan percaya.
“Sudahlah aku mau kembali bekerja” ucap ku berusaha melepaskan tangan ku. Namun Nicko malah semakin mengencangkan genggaman nya di pergelangan tangan ku dan menarik ku dengan kencang sehingga menabrak tubuh kekarnya.
Aku terkejut dan menatap nya begitu dekat sekali. Namun kali ini jantung ku berdebar begitu cepat, aku terkejut karena bisa kembali menatap wajah Nicko dengan jarak sedekat ini lagi.
“Dengar” pinta nya membuat ku menajamkan pendengaran ku.
“Pernikahan ku tidak pernah terjadi Fawnia, bahkan sampai kamu meninggalkan aku,pernikahan itu tidak pernah terjadi sampai sekarang” ujar Nicko begitu tajam menatap ku.
“Bahkan perasaan yang aku miliki untuk mu,masih tersimpan rapih di dalam hatiku hingga saat ini” lanjut nya membuat ku tertegun,namun aku langsung teringat sesuatu.
Aku menatap kedua bola mata nya dengan tersenyum seolah aku tidak percaya dengan apa yang di katakan nya, Nicko melupakan satu hal.
“Kirana” ucap ku begitu singkat namun membuat Nicko mengkerutkan kening nya.
“Kamu ada janji bertemu dengan Kirana sekarang”
Nicko semakin bingung dengan ucapan ku. Dan benar saja Kirana baru saja masuk begitu saja ke dalam ruangan ku dan hampir saja memergoki aku sedekat ini dengan Nicko.
Aku langsung melepaskan genggaman Nicko dan menjauh darinya namun tetap berdiri di hadapan Nicko, menatap Nicko yang tiba-tiba kikuk.
“Ferdyy” seru Kirana sebelum dia melihat keberadaan ku disini.
Aku menatap Nicko dengan tatapan begitu meledek nya seolah tatapan ku berkata ‘Kena kau’
“Kamu?!” Tanya Kirana setelah dia melihat keberadaan ku yang tengah berdiri di depan Nicko.
“Sedang apa kamu disini?” Tanya Kirana.
Aku membalikan badan ku dan tersenyum begitu manis kepadanya.
“Aku sedang bekerja Mbak Kirana. Pekerjaan ku sudah selesai. Permisi Mbak, permisi Pak Ferdy” ucap ku dengan sinis ketika menyebut namanya dengan penekanan. Lalu aku keluar dari ruangan itu dan melewati Kirana dengan angkuhnya.
__ADS_1