Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Percaya kepadanya


__ADS_3

Keesokan hari nya aku terbangun di pagi hari sekali dan mengerjapkan mata sedikit demi sedikit. Aku melihat Kara di hadapan ku tengah tertidur memunggungi ku. Dia memeluk Papa nya dengan begitu erat, begitu pun Nicko, dia memeluk Kara begitu mesra nya. Aku tersenyum melihat keharmonisan mereka.


Aku bangun dari tidur ku dengan perlahan dan segera pergi ke kamar mandi. Aku menatap diriku di dalam cermin, mengikat rambut ku dan langsung mencuci wajah ku dengan air di wastafel. Aku melihat sesuatu yang melingkar di jari manis ku. Aku hampir lupa, jika tadi malam Nicko sudah melamar ku dan menyematkan cincin indah ini di jari manis ku.


Aku kembali mengingat kejadian tadi malam, itu adalah pertama kali nya Nicko berbuat hal yang begitu romantis kepadaku. Selama ini, aku mengenal Nicko adalah sosok yang sangat dingin dan juga kaku, aku tidak menyangka dia bisa terlihat semanis itu tadi malam.


Setelah selesai mandi aku keluar dengan telah menggunakan baju lengan panjang berwarna creamy dan celana kulot di atas pinggang berwarna coklat. Nicko terlihat menggeliat, dia membuka mata nya sedikit dan langsung mendapati Kara di samping nya. Dia kembali memeluk Kara dan mencium pipi nya. Aku tersenyum melihat itu di pantulan cermin rias ku.


“Hari ini Kara ada jadwal check up ke rumah sakit” ucap ku sambil terus berdandan di depan cermin.


“Ya, aku ingat” jawab Nicko sambil bangun dari tidur nya.


Dia masih saja terlihat tampan walaupun baru bangun dari tidur nya.


“Aku juga ada janji bertemu dengan Keysa”


“Kapan ?”


“Pulang dari rumah sakit seperti nya”


“Mau kemana?”


“Entahlah. Aku sudah lama tidak bertemu dengan nya”


“Baiklah. Aku akan mengantarmu”


Aku langsung membalikan tubuh ku menatap Nicko.


“Tidak perlu. Aku hanya makan saja dengan dia,setelah itu pulang. Aku titip Kara”


Nicko menatap ku tajam.


“Kamu meminta ku tinggal disini hanya untuk menjadi babysitter nya?”


“Bukan begitu” ucap ku dengan lemas.


“Aku dan Kara akan ikut”


“Tapi Kara masih sakit Nick”


“Kalau begitu kamu jangan pergi dulu kemanapun” pinta Nicko sambil dia berjalan menuju kamar mandi.


Aku tidak bisa lagi melawan,aku hanya bisa menarik nafas ku dan menyerah.


Aku merasa ini adalah simulasi untuk ku nanti ketika menjadi istri nya. Tapi jika aku ingat, dari dulu pun aku tidak bisa membantah keinginan nya, dan menuruti semua yang dia minta. Begitu baik nya aku,belum jadi sitri pun aku sudah lulus dalam ujian kesabaran.

__ADS_1


Setelah memandikan Kara, aku memakai kan Kara dress berwarna creamy berlengan pendek dengan sepatu anak berwarna coklat. Aku memakai kan Kara penutup kepala berwarna coklat untuk melindungi kepala nya. Dan setelah Nicko bersiap di kamar nya dia kembali ke kamar ku untuk menjemput kami.


“Ayo” ajak Nicko di depan pintu.


Dia memakai kaos longgar berwarna putih dengan celana yang ikut longgar berwarna hitam. Rambut Nicko pun kini tidak memakai gel sehingga rambut nya messy tampan keren.


“Ayo”


Lalu kami bertiga segera turun ke lantai bawah dan bersiap untuk sarapan. Mama sudah terlihat sibuk menyiapkan makan pagi di meja makan.


“Pagi Oma” sapa Kara sambil menghampiri Oma nya.


“Pagi Kara sayang” sapa Mama sambil mengusap rambut Kara.


“Cucu Oma kok udah cantik sekali, mau pergi check up ya?” Tanya Mama sambil mengelus kepala nya.


“Iya Oma, biar Kara cepat sembuh”


“Pinter sekali, kalau begitu kita sarapan dulu ya”


“Iya Oma”


Kami bertiga duduk di kursi masing-masing di ikuti dengan Papa yang baru saja datang.


Pemeriksaan Kara berlangsung dengan cepat, karena dokter hanya memeriksa kepala nya dan juga kondisi Kara, karena Kara sudah terlihat membaik , akhirnya Kara sudah bisa sembuh dengan cepat. Lalu setelah selesai pemeriksaan di rumah sakit, kami bertiga pergi ke sebuah restaurant di dalam mall dimana Keysa mengajak ku untuk bertemu.


Kami telah sampai di mall besar jakarta, Nicko menggendong Kara untuk menaiki lift ke lantai atas dan aku berjalan di samping nya.


“Fawnia” teriak seseorang ketika kami baru saja keluar dari lift dan berjalan ke arah foodcourt.


“Keysa!” Balas ku langsung berlari menghampiri nya dan memeluk nya begitu erat.


“Akhirnya lo pulang juga”


“Iya, gue udah penat banget disana Faw”


“Lah gue kira lo betah disana?”


“Betah gimana? Kalau tujuan gue disana liburan ya pasti gue betah, lah ini malah ngurus kerjaan yang bikin gue mumet”


Aku tertawa mendengar ocehan nya.


“Aunty key” sapa Kara kepada Keysa.


“Eh Kara,kok di gendong Om Nicko sih kan kasian Om Nicko berat” ujar Keysa menggoda Kara.

__ADS_1


“Bukan Om Nicko Aunty Keey, tapi Papa”


Keysa terkejut mendengar ucapan Kara,dia melirik ku dengan membelalakan mata nya.


“Oh udah panggil Papa” ujar Keysa begitu tak menyangka.


“Iya” jawab polos Kara.


“Apa kabar Key?” Tanya Nicko.


“Baik Nick. Lo apa kabar?”


“Baik juga”


“Ya udah yuk kita ngobrol nya sambil makan, gue udah laper banget ga kuat”


“Ayo” ajak ku sambil menganggukan kepala ku.


Ini adalah makanan khas italia yang di sukai Keysa. Dia sangat senang sekali makan di tempat ini. Seperti biasa aku memesakan Kara spaghetti kesukaan nya dengan saus carbonara, sedangkan aku dan Nicko hanya memesan cemilan, karena sarapan tadi pun masih membuat kami kenyang.


Aku melihat Kara seperti terus melihat sesuatu di belakang ku, aku ikut menoleh ke belakang, mencari apa yang di lihat Kara. Itu adalah arena bermain anak seperti carousell mini, rumah balon, kincir angin mini dan lain lain . Ya itu adalah playground anak.


“Kara. Makananya di habiskan dulu ya”


“Tapi nanti boleh main kesana ga ma?” Tanya nya memelas.


“Sayang, Kara kan masih sakit, nanti kalau sudah sembuh, Kara mau kemana saja Mama pasti bolehkan”


Kara mengerucutkan bibir nya dengan kecewa, lalu dia menatap Papa nya yang berada di samping nya.


“Pa. Boleh Kara bermain disana?” Tanya nya seolah dia tidak memperdulikan peringatan ku.


“Kara..” panggil ku.


“Boleh. Tapi habiskan dulu makanan nya”


“Nick. Kara masih belum boleh kelelahan”


“Aku yang menjaga nya, aku yang akan memastikan jika tidak akan terjadi apa-apa kepadanya”


Aku membuang wajah ku dan diam tak lagi bicara. Aku harus mulai percaya kepada Nicko, dan aku pun yakin dia pasti bisa menjaga Kara.


Kara juga terlihat begitu bahagia bisa di izinkan oleh Papanya,kini Kara malah lebih terlihat begitu dekat dengan Nicko di bandingkan aku. Namun aku tak mempermasalahkan itu,karena aku sudah terlalu kenyang mengurus Kara sendiri selama 5 tahun.


Keysa yang melihat kami pun hanya bisa tersenyum dengan gembira.

__ADS_1


__ADS_2