
Keesokan pagi nya aku terbangun karena suara ketukan pintu yang begitu kencang. Aku mengerjapkan mata ku sedikit demi sedikit, dan mengerutkan kening ku karena begitu berisik nya suara ketukan pintu membangunkan ku sepagi ini. Aku membuka mata ku dan melihat tangan Nicko masih melingkar di tubuh ku. Aku membangunkan Nicko dengan perlahan.
“Nick bangun”
Dia ikut mengerjapkan mata nya dengan begitu berat.
“Sepertinya itu Kara yang mengetuk pintu” ucap ku.
Lalu Nicko melirik arah pintu dan bangun dari tidur nya. Kami berdua memakai pakaian kami yang berserakan di lantai dan segera membuka kan pintu. Dan benar saja ternyata itu Kara yang telah berdiri di depan pintu dengan sebuah piring di tangan nya, ada Mama juga yang menemani Kara di belakang nya.
“Hay sayang” sapa ku sambil berjongkok untuk menyapa nya.
“Selamat pagi Mama, selamat pagi Papa” sapa Kara.
Lalu dia mencium pipi ku, dan Nicko pun membungkuk untuk mendapatkan ciuman dari Kara. Kami berdua tersenyum dengan sikap manis nya Kara.
“Kara bawakan Mama dan Papa sarapan” ujar Kara membuat ku tambah terharu.
“Iya Maaf ya, dari tadi Kara rewel terus bertanya kemana kalian, dan dia khawatir kalian akan kelaparan kalau tidak sarapan” ucap Mama terlihat merasa tidak enak.
Aku tersenyum kepada Kara dan membelai rambut nya yang terurai panjang.
“Terima kasih ya sayang,Mama dan Papa memang lapar” ucap ku sambil tersenyum kepada Kara.
“Ini Kara bawakan sandwich sama susu kotak untuk Mama Papa”
Aku langsung mengambil piring dari tangan Kara.
“Kara mau disini sama Mama sama Papa ?” Tanya ku.
Kara langsung melirik ke Oma nya yang masih berdiri di belakang dia. Kara sedang meminta izin kepada Oma nya atas tawaran ku.
Mama langsung mengangkat halis nya dan melirik ku penuh arti. Mama mungkin sebenarnya tidak ingin mengganggu kami sebagai pengantin baru.
“Tidak apa-apa Ma, aku mau di temani Kara” ujar ku seolah mengerti apa yang di fikirkan Mama.
“Baiklah kalau begitu” ujar Mama.
“Mama kembali ke kamar ya”
“Iya Ma. Terima kasih banyak”
Mama menganggukan kepala nya.
“Bye Kara”
“Bye Oma”
Lalu Mama kembali ke kamar nya. Dan aku menuntun Kara masuk ke dalam kamar di ikuti Nicko yang menutup pintu kamar.
Aku mendudukan Kara di meja makan dan menyimpan makanan nya di meja, aku duduk di kursi yang satu nya dan ketika Nicko datang dia mengangkat Kara lalu mendudukan Kara di lahunan nya.
__ADS_1
“Kara sudah sarapan?” Tanya Nicko.
“Sudah Pa, tapi hanya sedikit, karena tadi Oma mau kasih Kara soup yang ada daun nya” ujar Kara membuat aku dan Nicko tertawa.
“Jadi Kara kesini karena ga mau makan soup sama Oma ya?” Tanya ku begitu paham dengan dia yang sangat sulit makan sayuran.
Kara menggangguk sambil mengerecutkan bibir nya.
“Oke jadi sekarang kita makan bertiga ya” ujar Papa nya sambil membawa sandwich nya.
Nicko makan terlebih dahulu, lalu dia menyuapi Kara.
“Mama mana ?” Tanya ku dengan berlagak sedih.
Lalu Nicko menyuapi ku sambil tersenyum. Dengan senang aku langsung membuka mulut untuk mendapatkan suapan dari Nicko.
Kami melanjutkan sarapan kami di meja makan sampai habis.
Setelah habis kami langsung kembali ke tempat tidur dan membawa Kara. Kara sepertinya masih mengantuk dan aku mengelus rambut Kara sambil bersenandung untuk menidurkan nya, lalu dia benar-benar tersihir oleh nyanyian ku dan tertidur.
Kami berdua memeluk Kara dengan begitu hangat di tempat tidur. Nicko terus mengelus elus rambut Kara dengan wajah seolah dia tengah memikirkan sesuatu.
“Apa yang kamu fikirkan?” Tanya ku dengan pelan karena takut membangunkan putri kecil kami.
“Aku masih belum percaya dengan kehadiran Kara” ucap nya dengan terus menatap Kara.
“Kamu telah mau merawat nya sampai sebesar ini,dan kamu mampu melakukan nya tanpa sosok seorang ayah untuk Kara. Bagaimana kamu melakukan nya ? Bagaimana kamu bisa menjaga Kara sendiri sampai aku kembali ?” Ujar Nicko sambil menatap ku dengan haru.
“Aku hanya merasa memiliki suatu ikatan batin dengan mu Faw. Mungkin semua ini karena Kara. Aku telah merasa memiliki persaan yang kuat dengan nya walaupun aku belum tahu ada kehadiran Kara di hidupku” jawab Nicko kembali mengelus kepala Kara.
“Mulai detik ini dan selamanya, aku akan menjaga dia, dan menjadi Papa yang baik untuk nya” ucap Nicko dengan bersungguh-sungguh.
Aku tersenyum dengan ucapan nya.
Sore hari nya setelah kita pulang dari hotel, kita langsung membereskan barang-barang untuk pergi honeymoon ke Lombok seperti apa yang telah di janjikan Nicko. Aku mengemas baju-baju aku dan Kara ke dalam koper, aku juga harus membantu Nicko mengemas baju di dalam kamar nya.
“Setelah ini kita harus berada dalam satu kamar, kamu harus pilih kamar mana yang akan kita pakai bersama?” Tanya Nicko sambil melipat pakaian nya.
Aku berfikir dengan apa yang di minta nya, sambil terus merapikan pakaian Nicko yang akan di masukan ke dalam koper.
“Kara pasti akan membesar dan dia perlu kamar sendiri juga” ucap ku.
Nicko mengerutkan halis nya.
“Kita disini hanya sementara Fawnia, kita akan pindah ke rumah ku”
Sekarang aku yang mengerutkan kening menatap nya.
“Kenapa begitu? Bukan nya Mama meminta kita untuk tinggal disini?”
“Aku tahu. Tapi rasanya akan aneh jika kita terus diam disini sementara kita sudah berkeluarga”
__ADS_1
“Apa Mama tidak akan keberatan dengan keputusan itu ?”
“Aku akan membuat Mama mengerti”
Lalu aku hanya bisa diam mengikuti nya.
Setelah membantu Nicko untuk mengemasi barang-barang nya di koper dan mengabsen kembali barang-barang Nicko yang sering terlupakan. Setelah di pastikan selesai Aku dan Nicko menemui Kara, Mama dan Papa di ruang keluarga.
“Hay Ma, hay Pa” sapa ku kepada mereka berdua.
Aku melirik Papa. Papa seperti nya sedang tidak enak badan di lihat dari raut wajah nya yang begitu kusut dan suara nya terdengar begitu lemah.
“Papa sakit?” Tanya ku kepada Papa yang sedang tersenyum melihat ku.
Papa menggelengkan kepala nya dengan wajah bingung.
“Papa baik-baik saja. Sangat baik”
“Papa terlihat tidak sehat” timpal Nicko yang juga menyadari raut wajah Papa yang berbeda.
“Tidak. Papa hanya kelelahan saja karena acara kemarin”
“Kalau begitu istirahat lah” pinta Nicko.
“Iya nanti Papa beristirahat ya. Kalian hati-hati disana, jaga Kara baik-baik. Jangan sampai ceroboh meninggalkan Kara dimanapun”
Aku menganggukan menerima perintah Papa.
“Nicko jaga Kara dan Fawnia. Ingat, jangan sampai kamu meninggalkan dia sendiri lagi” ucap Papa memperingatkan Nicko.
“Baik Pa” jawab Nicko sambil tersenyum.
Lalu Papa memegang kedua lengan Kara dan menatap mata Kara.
“Kara disana tidak boleh nakal, tidak boleh makan sembarangan, dan harus selalu dengan Mama dan Papa ya” pesan Papa kepada Kara.
“Oke Opa”
Kara mencium pipi Opa nya dan Opa nya balas mencium kening Kara. Lalu sekarang giliran Mama. Mama memeluk Kara dengan erat.
“Oma pasti kangen banget sama Kara”
“Kalau Oma kangen Kara, Oma langsung telepon Kara ya” jawab Kara mencoba menenangkan Oma nya.
“Kara langsung angkat telepon nya?” Tanya Mama.
“Iya dong Oma, Biar Oma ga sedih di tinggal Kara”
“Kara disana sebentar kok, nanti Kara kembali dan kita main lagi ya Oma” ujar Kara terus menenangkan Oma nya.
Lalu Mama tersenyum dan mencium kedua pipi Kara.
__ADS_1
Aku tersenyum bahagia, dan Nicko menarik bahu ku untuk mendekat ke tubuh nya. Aku melirik Nicko sambil tersenyum, karena begitu bahagia nya bisa melihat Kara begitu menyayangi Oma dan Opa nya, begitupun Oma dan Opa nya begitu terlihat sekali peduli dan bahagia dengan kehadiran Kara di antara mereka.