Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Pertemuan yang mengharukan


__ADS_3

Rumah ini sudah banyak berubah sejak aku tinggalkan terakhir kali namun kenangan di dalam nya tidak akan pernah hilang. Lalu kenangan masalalu kembali mengusik fikiranku. Aku jadi teringat bagaimana dulu aku dan Nicko selalu bersama dirumah ini setiap harinya. Bagaimana jahil nya dia, bagaimana perhatian nya dia, bagaimana dia memperlakukan ku begitu istimewa di rumah ini, aku begitu mengingat jelas kenangan manis ku dengan Nicko dirumah ini.


“Kara mau jalan-jalan liat rumah Opa tidak?” Tanya Papa kepada Kara.


“Mau” jawab Kara tanpa ragu dan juga canggung.


Aku senang karena Kara begitu mudah untuk menjalani pendekatan dengan Opa dan Oma nya.


“Ya sudah, kalau begitu kita jalan-jalan di rumah Opa ya nanti kita makan ice cream, Kara suka?”


“Suka Opa” seru Kara.


“Kalu gitu kita keliling dulu ya. Bye bye sama Mama dan Oma” ujar Papa kepada kami berdua.


Lalu Kara menuruti ucapan Opa nya,dia langsung melambaikan tangan kepada kami berdua dengan wajah yang begitu ceria.


“Bye.. byee”


“Bye bye sayang. Jangan nakal ya”


“Oke Ma”


Lalu tinggalah aku berdua dengan Mama duduk berdua dengan perasaan ku yang masih canggung. Raut wajah ku seketika berubah menjadi gugup karena tiba-tiba saja merasakan ketegangan berhadapan kembali dengan Mama Nicko,mengingat terakhir kali aku meninggalkan nya dengan keadaan dia kesal.


“Sayang” panggil Mama Nicko menyentuh tangan ku.


“Coba ceritakan kepada Mama, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kamu pergi dari rumah,dan menikah tidak memberitahu kami?” Tanya Mama begitu sedih dan penasaran.


“Cerita nya sangat panjang Ma” ucap ku sambil tertunduk sedih, karena tidak mungkin aku menceritakan semua kepada Mama sekarang. Bahkan aku ragu untuk mengatakan yang sejujurnya kepada mereka.


“Aku dan suamiku Ben ,menikah karena suatu keterpaksaan. Ben sakit, dan dia perlu segera menikah” ucap ku secara garis besar saja, sama seperti apa yang aku ceritakan kepada Papa


“Dia sakit? Sakit apa?” Tanya nya.


Aku diam, mencari sebuah alasan untuk bisa berbohong kepadanya. Karena kejujuranku hanyalah akan menimbulkan pertanyaan tentang Kara.


“Dia punya penyakit kanker mah, dan dia di minta orang tua nya untuk segera menikah. Lalu kami bertemu ketika aku kabur dari rumah, dan sebulan kemudian kami langsung menikah. Maaf Mah, aku tidak memberi tahu Mama karena orang tua Ben tidak menyetujui kami,sedangkan Ben ingin segera menikah. Aku kenal Ben dari semenjak kita kuliah,dia teman satu kampusku”

__ADS_1


“Orang tua Ben tidak menyetujui kalian?” Tanya Mama mencoba memahami cerita ku.


“Iya. Orang tua Ben mengira aku wanita yang tidak baik-baik” ucap ku terbata bata.


“Kenapa orang tua nya bisa mengira seperti itu? Apa yang mereka tahu tentang mu? Mereka tidak boleh menghina anak Mama seperti itu!” Ucap mama terdengar begitu kesal,anak nya di perlakukan seperti itu.


Namun aku coba untuk meredam emosi nya.


“Ma. Sudah lah, semua nya sudah berakhir, semenjak Ben pergi,aku sudah tidak pernah mau mengaku mereka seperti keluarga lagi. Dan mereka pun sudah tidak akan pernah mengganggu ku lagi”


“Lalu kenapa kamu tidak langsung pulang sayang? Kenapa kamu harus pergi seperti itu? Mama merasa bersalah kepada Jenny Ibu mu karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik”


Aku langsung menggelengkan kepala ku, tidak ingin Mama Nicko merasa seperti itu. Aku merasa sedih karena Mama Nicko menyebut nama Mama kandung ku.


“Bukan Ma. Justru aku pergi karena aku rasa sudah cukup untuk merepotkan kalian. Kalian sudah terlalu baik kepadaku,kalian sudah mau menyekolahkan ku hingga kuliah dan bisa bekerja seperti sekarang, itu semua sudah cukup Ma”


Mama menatap ku dengan pilu.


“Fawnia. Kami berdua adalah orang tua kamu, walaupun kami bukan orang tua kandung mu, tapi kamu tetap harus menghargai kami sebagai orang tua kamu. Tidak ada orang tua yang merasa cukup untuk mengurus anak nya, sekali pun anak nya sudah sukses besar. Anak adalah salah satu tanggung jawab orang tua terbesar hingga kami tutup usia nanti. Jadi kamu jangan pernah berfikir jika kamu merepotkan kami. Kamu adalah satu-satu nya janji yang Mama miliki kepada Jenny,Ibu mu, jadi tolong, bantu Mama untuk menepati janji itu”


Aku langsung memeluk Mama Nicko begitu sedih, aku menangis di dalam pelukan nya.


Maafkan aku Ma. Aku sudah mengecewakan mu. Aku sudah melewati batas ku dengan Nicko. Aku harap Mama bisa memaafkan ku suatu saat nanti.


Lalu kami melepaskan pelukan kami. Aku menyeka air mata ku di pipi dan mengusap ingus ku yang hampir saja keluar.


“Bagaimana dengan Nicko? Apa yang terjadi dengan pernikahan nya dulu?” Tanya ku, mengingat kejadian dulu yang menyebabkan aku dan Nicko kabur dari rumah.


Mama terlihat menghela nafas nya, dan dia kembali mengingat kejadian itu.


“Semenjak kepergian kamu,Nicko terus menyalahkan Mama karena kamu tidak pernah kembali. Dia tak henti-henti nya mencari kamu. Dia dengan tegas menolak perjodohan yang Mama minta. Malah dia menghukum Mama dengan tidak pernah berbicara kepada Mama sampai beberapa bulan Nak. Mama begitu bingung, ada apa dengan kalian, dan kenapa Nicko sampai tidak mau kehilangan kamu. Mama tahu dia sangat mencintai kamu, tapi Mama hanya mau yang terbaik untuk dia Nak, Mama harap kamu mengerti” ujar Mama Nicko dengan begitu dramatis nya.


“Ma. Aku pergi karena aku merasa bersalah kepada Mama, Nicko terlalu mencintai aku Ma,dia tidak lagi menganggap ku sebagai adik nya. Perasaan kami sudah tumbuh menjadi cinta, kami bukan anak kecil lagi, kami ini bukan saudara kandung,perasan kami pun tidak bisa di paksakan. Karena itu, aku memilih pergi,karena aku tidak mau Mama kecewa dengan Nicko,dan aku kira dengan kepergian ku,Nicko akan menuruti kemauan Mama”


Mama menyeka air mata di pipi nya dan menarik nafas nya. Lalu dia menggelengkan kepala nya dengan pelan.


“Nicko depresi” ucap Mama membuat ku membulat kan mata.

__ADS_1


“Nicko mengalami depresi setelah dia mencari kamu selama berminggu-minggu. Awalnya dia jatuh sakit dan banyak berdiam diri di kamar juga tidak mau makan. Ketika kami membawa nya ke dokter, dokter mnyarankan membawa Nicko ke psikiater. Dan psikiater bilang Nicko depresi berat,dia harus menjalani pengobatan” ucap Mama semakin membuat ku terkejut dan bersalah.


“Maafkan aku Maa. Aku tidak tahu semua ini akan seperti ini. Aku tidak tahu jika Nicko masih mencari aku,tolong maafkan aku” ucap ku dengan memegang kedua tangan Mama.


“Nak. Kamu tidak bersalah, Mama yang salah. Mama seharusnya tidak memaksakan Nicko yang mengakibatkan Nicko jadi banyak beban seperti itu. Tapi sekarang Nicko sudah sembuh,walaupun tidak sepenuh nya,namun dia sudah mau menjani hidup nya dengan lebih baik lagi. Dan dia sekarang akhirnya mau meneruskan perusahaan Papa sebagai Direktur Utama” ucap Mama dengan bangga nya.


“Aku tahu Ma” ucap ku dengan hat-hati.


Mama menatap ku bingung.


“Aku bekerja sebagai sekretaris nya Nicko” ucap ku.


“Kamu sekretarisnya Nicko?” Mama terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Aku menganggukan kepalaku sambil tersenyum.


“Sudah berapa lama?” Tanya Mama dengan masih terlihat bingung.


“Belum lama ini. Dan aku bertemu Papa minggu lalu di kantor Nicko”


“Kenapa Nicko tidak pernah bilang sama Mama?”


“Mungkin Nicko menunggu waktu yang pas untuk mengatakan nya Ma. Atau mungkin dia ingin aku sendiri yang menghampiri Mama seperti ini”


Mama Nicko kembali tersenyum dan membelai lembut rambut ku.


“Kalau begitu,kamu kembali pulang ya Nak. Tinggalah disini,agar rumah ini kembali hidup” pinta Mama Nicko membuat ku tersenyum dengan masam.


“Tidak Ma. Aku sudah menjadi seorang Ibu sekarang, dan aku mau mengurus anak ku sendiri dirumah”


“Tapi kan kamu hanya tinggal berdua dengan Kara, kalau kamu tinggl disini,Mama jadi bisa punya teman disini Faw, Mama bisa ikut mengurus Kara, Kara jadi tidak perlu babysitter..”


“Ma. Aku mohon. Bukan nya aku tidak menghargai Mama dan Papa, tapi aku hanya ingin menjalankan peran ku sebagai seorang Ibu,aku tidak mau merepotkan orang tua ku tentang itu. Dan aku juga Kara pasti akan sering mengunjungi kalian kesini”


“Jangan hanya berkunjung. Menginaplah disini, temani Mama dan Papa” pinta Mama begitu pilu.


“Baiklah” jawab ku sambil tersenyum kepada nya.

__ADS_1


__ADS_2