
Jam makan siang pun sudah tiba, aku menunggu Nicko di ruangan ku dengan begitu lelah nya. Aku menunggu dia untuk mengajak ku makan siang tapi dia tidak kunjung keluar,sementara 30 menit lagi akan ada client yang datang menemui nya.
Aku melihat Nicko di balik jendela kaca ku, dia masih terlihat duduk di meja nya memainkan komputer dan terlihat begitu serius menatap komputer nya. Aku berdecak dengan kesal sambil terus menatap jam di tangan ku. Waktu sudah semakin sedikit,dan dia malah masih di dalam untuk bekerja.
Aku beranjak dari tempat duduk ku dan masuk ke ruangan nya.
“Kenapa masih disini?” Tanya ku dengan emosi ketika aku sudah berdiri di hadapan nya.
“Aku masih bekerja” jawab nya tanpa menoleh ku.
“Ini sudah waktu nya makan siang”
Dia diam tak menjawab.
“Nicko!” Panggil ku dengan emosi.
“Aku tidak akan makan sampai kamu memaafkan ku”
Aku mengerutkan kening ku mendengar ucapan Nicko yang sudah tampak seperti anak kecil.
“Jangan seperti anak kecil Nicko, kamu perlu makan, dan sebentar lagi client akan datang menemui mu”
Nicko diam dan terus menatap layar komputer nya.
Aku menggelengkan kepala ku karena merasa semakin kesal kepada nya, lalu aku ke luar dari ruangan nya dan segera meminta seorang staff pria untuk membelikan makanan di restaurant lantai bawah.
Beberapa saat kemudian staff pria itu datang masuk ke ruangan ku dan memberikan pesanan yang aku minta.
“Ini Bu”
“Terima kasih, kembalian nya ambil saja” ucap ku sambil mengambil alih kantung makanan di tangan nya.
“Oh,terima kasih banyak bu”
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kepadanya, lalu dia keluar dari ruangan ku. Aku menatap Nicko di balik jendela,lalu aku kembali ke ruangan Nicko dan menyimpan makanan di atas meja ruang tamu nya.
Nicko masih tidak menatap ku, dia terus berpura-pura tidak melihat ku dan dengan serius memainkan keyboardnya. Aku menghampiri Nicko dan langsung mengambil alih komputer nya. Nicko tidak dapat mencegah ku dia hanya bisa pasrah melihat aku yang telah mengotak atik komputer nya. Aku simpan dulu file yang baru saja di kerjakan nya,lalu mematikan komputer nya.
Nicko hanya diam tak berkomentar, lalu aku berdiri tegap di samping nya dan menatap dia dengan sinis.
“Aku minta kamu makan dulu”
Nicko diam tak menjawab. Lalu aku menarik tangan nya untuk berdiri dan menyeret nya untuk duduk di sofa. Aku berdiri di samping nya dengan melipat kedua tangan ku. Nicko membenarkan jas nya dan dia duduk dengan rapih tapi tetap tidak menyentuh makanan di hadapan nya.
“Dengarkan aku. Jika kamu sakit, yang akan merawat mu adalah aku, bukan client mu atau pekerjaan mu, jadi cepat makan jangan membuat ku tambah kesal” ucap ku dengan tajam.
Seseroang mengetuk pintu ruangan Nicko.
“Masuk” teriak ku.
Itu Bima dia masuk ke ruangan Nicko dan menghampiri kami.
“Perusahaan dari Joinus sudah datang Pak” ujar Bima
Bima tampak bingung namun dia hanya bisa mengangguk kan kepala nya sekali dan menuruti perintah ku. Bima pasti sudah mengira hal ini karena ulah Nicko tadi malam.
“Baik. Saya permisi” ujar Bima lalu dia keluar dari ruangan Nicko.
Dengan terpaksa Nicko mengambil makanan di hadapan nya dan membuka box makanan berala jepang itu.
Dia melirik ku dulu dengan dingin sebelum akhirnya dia menyantap makanan nya dengan begitu lahap. Aku terus berdiri di samping nya menunggu makanan nya habis. Aku bantu membuka kan minuman untuk Nicko lalu dia pun langsung menghabiskan minum itu. Setelah itu aku meminta office boy membereskan nya, dan aku langsung menyiapkan bahan meeting dengan client yang sudah menunggu.
Meeting berjalan dengan lancar, aku dan Bima begitu serius memperhatikan persentasi yang di lakukan oleh client kami. Bima sempat memperhatikan ku, mungkin dia penasaran dengan keadaan aku dan Nicko setelah kejadian tadi malam,namun dia menahan pertanyaan nya dan kembali fokus kepada meeting kami.
Setelah selesai meeting ,aku dan Bima kembali mengikuti Nicko ke ruangan nya. Nicko langsung duduk di balik meja kerja nya sementara aku dan Bima berdiri di hadapan nya. Aku memberikan berkas kepada Nicko dan Nicko menerima nya tanpa ada bicara apapun kepadaku. Bima berdiri di samping ku dan memperhatikan kami berdua. Dia merasa aneh melihat kami yang saling dingin dan begitu kaku.
“Terima kasih” ujar Nicko dengan masih enggan menatap ku.
__ADS_1
“Sama-sama” jawab ku, lalu aku berlalu begitu saja dari ruangan Nicko dan membuat Bima semakin tidak enak dengan keadaan kami.
Bima mengikuti ke luar ruangan dan menghampiri ku yang telah duduk di meja kerja ku.
“Kamu masih bertengkar dengan Pak Nicko?’ Tanya Bima penasaran.
“Mungkin” jawab ku tanpa menoleh nya.
Bima menghela nafas nya.
“Ini semua salah ku, andai saja aku tidak melihat media sosial ku tadi malam,kalian pasti tidak akan bertengkar seperti ini”
Aku menatap sinis Bima.
“Sebelum aku melihat itu, sudah aku siapkan gencatan senjata untuk nya. Kamu bayangkan, jika malam tadi kamu tidak datang, bagaimana nasib ku? Mungkin saja akan ada hal yang lebih parah menimpaku kan”
Bima diam membenarkan ucapan ku.
“Sudahlah. Aku tidak ingin ikut campur terlalu jauh dengan masalah kalian”
“Ya itu benar, bekerja saja dengan benar, dan tetaplah memihak ku” ucap ku dengan sinis.
“Wow” ucap Bima terlihat tidak setuju dengan apa yang aku katakan.
“Aku tentu harus membela kalian berdua, karena kamu adalah teman baik ku dan bagaimana pun, Pak Nicko adalah bos ku, dia prioritas utama ku”
Aku menatap nya dengan malas dan mendelikan mata ku.
“Baiklah, aku akan kembali ke ruangan ku” ujar Bima sambil melambaikan tangan nya untuk mengucapkan selamat tinggal dan dia menghilang dari ruangan ku.
Ketika waktu pulang telah tiba, aku bergegas dengan cepat membereskan barang-barang ku dan segera pergi dari ruangan ku tanpa berpamitan kepada Nicko. Aku kembali pulang dengan sendiri, dan aku tidak tahu apa Nicko mengikut ku atau tidak, mungkin Nicko sudah begitu lelah dan dia telah menyerah untuk meminta maaf kepadaku, tetapi aku tak mempedulikan hal itu, aku akan terus bersikap seperti ini sampai rasa kesal ku sudah hilang.
Ketika sampai di rumah aku langsung masuk ke dalam rumah dan tidak melihat siapapun di sekitar sana. Biasanya ada Mama yang menyapa ku di ruang keluarga,tapi terlihat sepi sekali disana. Aku juga tidak mendengar Kara menyambut ku pulang, namun aku benar-benar begitu lelah,dan ingin segera masuk ke kamar ku dulu. Aku pun langsung naik ke lantai atas untuk mencari nya di kamar.
__ADS_1
Dan setelah sampai di depan pintu kamar ku, tangan ku tiba-tiba di tarik oleh seseorang dengan kencang. Nicko, dia menarik tangan ku untuk masuk ke dalam kamar nya dan mengunci pintu kamar nya, kunci nya dia simpan di atas meja di samping kami agar aku tidak bisa kabur. Aku hanya bisa diam dengan kaget melihat sikap Nicko.
“Cukup! Aku sudah lelah” ujar Nicko dengan tatapan nya yang sayu.