
Kirana kembali datang ke kantor dengan wajah yang masih saja terlihat ketus kepadaku. Aku berdiri untuk menyambutnya namun dia melewatiku begitu saja dan langsung masuk ke ruangan Nicko tanpa meminta confirmasiku lagi. Aku menatap pintu ruangan Nicko dengan kesal merasa rugi telah bersikap manis setiap kali dia datang,padahal balasan dia selalu ketus kepadaku,tapi aku harus tetap melakukan nya demi rasa profesionalitas ku dalam bekerja.
Aku tidak tahu apa yang sedang di bicarakan oleh Kirana dan Nicko di dalam sana,aku pun berusaha untuk tidak mencari tahu. Aku menghela nafasku karena hatiku sudah merasa begitu tidak nyaman, dan memutuskan untuk pergi ke ruang pantry.
Aku berpapasan dengan beberapa karyawan disana dan menyempatkan untuk membalas sapaan mereka dengan senyuman. Semenjak seluruh karyawan kantor telah mengetahui status ku sebagai salah satu anak pemilik perusahaan ini,sikap mereka jadi berubah drastis 180 derajat,mereka jadi sering menyapa ku atau tersenyum kepadaku,sebenarnya itu semua malah membuat ku risih,namun aku membiarkannya.
Sesampainya di pantry terlihat beberapa karyawan keluar dari pantry dengan membawa minuman mereka,aku kira sudah tidak ada orang di dalam sana tapi ternyata di dalam sana ada Davina yang juga sedang membuat susu coklat. Aku langsung teringat kejadian menyebalkan di kantor beberapa waktu lalu,seluruh kantor akhirnya mengetahui kebenaran status ku itu berasal dari Davina. Dia berusaha mempermalukan ku karena membantu Kirana teman dekatnya. Aku jadi merasa semakin tidak nyaman melihat kehadiran nya,tetapi Davina terlihat gugup setiap kali dia melihat ku.
Aku pura-pura tak mempedulikan nya, dan membuka toples susu caramel ku di meja pantry. Aku segera menyeduh susu caramel ku.
Davina mendektiku dengan perlahan.
“Faw. Lo masih marah sama gue?” Tanya Davina dengan hati-hati.
Aku tak menoleh nya,dan terus sibuk menyeduh susu ku.
“Marah untuk apa?” Tanya ku ketus.
“Karena kejadian waktu itu?”
“Karena lo udah sebarin fakta tentang gue?” Tanya ku dengan tegas.
Davina diam membenarkan ucapanku.
“Gue udah maafin lo untuk masalah itu. Lagian kayanya fakta tentang gue juga bakalan ke bongkar kan cepat atau lambat,cuma gue ga nyangka aja caranya harus seperti itu” ucap ku berpura-pura tersenyum meliriknya.
Davina masih saja terlihat tegang dan tidak enak.
“Sorry Faw,gue bener-bener ga ada maksud..”
“Udah lah Dav ga perlu di bahas lagi,yang lalu biarlah berlalu gue udah ga mau ambil pusing tentang hal itu” ucap ku sambil terus mengaduk minuman ku dan menatap Davina dengan tenang.
“Bener Faw?” Tanya nya dengan wajah yang mulai gembira.
“Iya. Dan karena lo gue juga belajar satu hal” ucap ku masih menatapnya dengan tersenyum.
“Apa?” Tanya nya yang mulai terlihat tenang karena dia tahu aku sudah memaafkannya.
“Jangan pernah percaya kepada orang yang tiba-tiba baik kepada kita,karena ternyata justru dia adalah orang yang paling membahayakan untuk kita” jawab ku dengan memberikan dia senyuman yang sinis.
Davina terlihat terkejut mendengar ucapanku. Lalu aku pergi meninggalkannya yang masih berdiri terpatung di tempatnya. Sejujurnya aku masih begitu kesal kepadanya,akan tetapi aku sudah malas mengurusi hal yang tidak ada gunanaya seperti dia.
Aku masuk kembali ke ruangan ku dengan suasana hati yang tidak enak. Aku berusaha menenangkan diriku dan fokus kembali kepada pekerjaanku.
Telepon berdering,tidak tahu mengapa aku begitu yakin jika itu dari Nicko.
“Hallo”
“Ke ruanganku sekarang” benar saja,telepon itu darinya.
Nicko menutup teleponnya sebelum aku sempat menjawab.
__ADS_1
Aku melirik ruangan Nicko,dan masih melihat Kirana yang berdiri di samping Nicko terlihat masih saja berbicara.
Aku mengetuk dulu pintu ruangan Nicko sebelum masuk,untuk menandakan jika aku akan masuk. Lalu aku membuka pintu dan menghampiri Nicko.
“Bapak panggil saya?” Tanya ku begitu formal.
“Apa aku masih ada pekerjaan hari ini?”
“Masih Pak. Nanti sore Bapak ada pertemuan di luar dengan client”
“Dengarkan?” Ucap Nicko kepada Kirana.
Kirana menatap ku dengan begitu sinis. Lalu aku langsung memalingkan wajah enggan untuk balik melihat wajah nya.
“Apa kamu tidak bisa meminta waktu untuk membahas pernikahan kita? Itu juga hal penting Nicko” pinta Kirana dengan memelas.
“Pernikahan,pernikahan,pernikahan terus yang kamu bicarakan. Pernikahan mana yang kamu maksud?” Tanya Nicko begitu dingin.
“Nicko ! Kita ini sudah bertunangan, dan orang tua kita sudah berjanji akan segera menjodohkan kita. Orang tua ku sudah banyak menanyakan tentang tanggal pernikahan kita Nicko!” Kesal nya merengek.
Aku hanya bisa diam di tempatku sambil memalingkan wajah ku tidak berfokus untuk menonton drama mereka. Aku masih menunggu Nicko untuk mengusirku, tapi dia malah diam saja.
“Yang menjodohkan kita adalah orang tua ku. Sementara aku tidak pernah setuju dengan itu”
“Lalu apa artinya pertunangan kita?” Tanya Kirana dengan dramatis.
“Pertunangan itu bagiku hanya pura-pura demi membahagiakan Mama ku saja,dan aku tidak pernah menginginkan pertunangan itu terjadi”
Aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Aku merasa bodoh melihat dua orang ini bertengkar di hadapanku,lalu dengan perlahan aku berbalik dan hendak pergi dari ruangan itu.
“Mau kemana kamu?” Tanya Nicko.
Aku kembali berbalik dengan tatapan yang amat sangat bingung.
“Saya..”
“Diam disitu sampai aku perintahkan pergi!” Ucap Nicko memperintahku.
Aku tidak tahu apa maksud nya meminta ku untuk diam disana dan mendengarkan perdebatan mereka,apa Nicko hanya ingin membuktikan jika dia sama sekali tidak tertarik dengan pembahasan pernikahan yang terus di bicarakan Kirana ?
“Kalo mereka bersikeras ingin menikahkan mu,Suruh saja orang tua ku yang menikah denganmu” enteng Nicko membuat Kirana naik pitam.
“Apa?” Tanya Kirana tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Kirana terlihat kesal sekali mendengar jawaban Nicko yang begitu terlihat tak peduli. Lalu Kirana berbalik menatapku dengan tajam.
“Ini semua pasti karena dia!” Ujar Kirana membuat ku menatapnya dengan bingung.
Dia berjalan cepat menghampiriku dengan ekspresi wajah yang kesal. Dia menatap ku tajam seolah dia akan segera menikam ku.
“Dengar. Aku tahu persis bagaimana masa lalu mu dengan Nicko,aku juga tahu bagaimana kamu berusaha untuk menghargai orang tua Nicko dengan tidak mengambil anak satu-satu nya mereka. Lalu kenapa sekarang kamu malah datang kembali dan mengacaukan semuanya lagi Fawnia!” Ujar Kirana membuat ku terkejut.
__ADS_1
Aku menatap Kirana dingin,dan mencerna setiap pernyataan nya. Nicko berdiri dari duduknya.
“Kirana!” Teriak Nicko memperingati.
Namun aku dan Kirana masih terus bertatapan dengan begitu sinis.
“Kenapa kamu malah kembali di saat aku dan Nicko hampir menikah?”
Aku masih saja diam terus menatap nya dengan amarah. Tiba-tiba ekspresi dia berubah menjadi senyum jahat.
“Kenapa?” Tanya nya dengan lebih santai.
“Kamu tidak mau melihat Nicko bahagia dengan wanita lain? Kamu masih begitu mencintai Nicko sampai kamu harus kembali menggagalkan pernikahan nya?”
“Kirana sudah cukup,ini tidak ada hubungan nya dengan Fawnia” teriak Nicko memperingati.
“Sangat egois sekali kamu ya,kamu menikah dengan bahagianya bersama orang lain,sementara Nicko tidak boleh bahagia, Hah ! Coba jawab,kamu hanya mau menggugu ego mu kan ?!” Ucap nya lagi dengan sedikit berteriak.
Kirana sudah tidak bisa di biarkan,aku sudah tidak bisa lagi bersikap tak acuh kepadanya.
“Kamu fikir,kamu sudah mengetahui segalanya tentang ku dan juga Nicko?” Tanya ku dengan dingin.
“Apa kamu sudah begitu puas dengan segala cerita yang hanya kamu dengar dari orang lain?”
Kirana diam tak menjawab,dia hanya terus menatapku dengan kesal.
“Tidak semua apa yang kamu dengar itu benar Kirana!” Ujar ku dengan berani memanggilnya tanpa ‘Mbak’ .
“Kamu belum tahu apa yang terjadi sebenarnya antara aku dan Nicko. Kamu tidak pernah tau apa yang telah kami lalui sejak kami kecil hingga saat ini kan ? Kamu tidak tahu Kirana,yang tahu hanya garis kecil nya saja”
Nicko ikut diam mendengarkan di balik meja kerjanya.
“Aku tidak pernah memaksakan diri untuk memiliki Nicko,aku tidak pernah meminta Nicko untuk terus bersamaku. Bahkan aku pernah rela tersakiti demi keinginan orang tua nya yang ingin menikahkan Nicko dengan wanita lain,aku rela pergi untuk mengharagai orang tua Nicko,tapi apa hasilnya ? Kamu tahu sendiri kan,Nicko tidak mau menuruti keinginan orang tuanya untuk menikah. Apa itu salahku?”
Kirana masih saja diam,dia terlihat tidak tahu harus berbicara apa. Hanya menatap ku emosi.
“Dan sekarang jika Nicko masih tidak ingin menikah dengan pilihan orang tua nya lagi,dia tidak ingin menikah dengan kamu itu juga jelas bukan salah ku. Mungkin kamu kurang memahami Nicko,kamu tidak mendalami sisi lain Nicko,dan kamu tidak bisa mendapatkan hati Nicko. Hanya aku yang mengerti Nicko, bahkan orang tua nya sendiri tidak bisa mengenadlikan Nicko,dan hanya aku yang bisa melakukan nya. Kamu tahu kenapa ?” Tanya ku dengan begitu tajam.
“Karena yang Nicko percaya hanya aku” lanjut ku dengan berani nya.
Aku sudah tidak bisa diam lagi dengan hinaan Kirana, aku memang harus bisa membungkam mulut berbisa nya ini.
Aku menarik nafas ku untuk menahan diri,dan agar pembahasan ini tidak terlalu jauh.
Kirana masih terdiam, dia terlihat terkejut dengan ucapan ku.
“Aku akan tunggu di ruang meeting” ucap ku kepada Nicko yang hanya menatap ku dengan tak percaya.
“Permisi”
Lalu aku keluar dari ruangan Nicko dengan cepat dan perasaan yang kembali kesal.
__ADS_1