
Selepas pulang kerja aku dan Nicko bertemu dengan Riri di sebuah Caffe.
Riri sudah menunggu kami di Caffe Italia, dia sudah lebih dulu memesan sebuah coffe disana. Aku dan Nicko masuk dan segera menghampiri Riri yang sudah duduk di sebuah meja bundar aesthetic dan terkesan mewah.
“Hay Ri”
“Hay Faw”
“Hallo juga Pak Ferdy” sapa Riri kepada Nicko dengan begitu sopan nya.
Walaupun di luar kantor dia tetap memiliki kesopanan dan tau jati dirinya kepada Nicko.
“Mana coba gue liat” pinta ku tanpa berbasa basi.
Karena di kantor dia sudah bilang jika dia sudah berhasil mengecek handphone milik Bima. Dan aku meminta dia untuk menjelaskan nanti ketika kita bertemu di Caffe.
Riri mengeluarkan handphone nya dan memperlihatkan sebuah isi chattingan di layar handphone nya.
Isi chatting nya hanya membicarakan tentang David saja. Misalnya, Bima menanyakan bagaimana kabar David,lalu apa saja yang David butuhkan ketika dia mengunjunginya, dan aneh nya tidak ada percakapan langsung dari David untuk Bima. Jadi seperti ada orang lain yang menyampaikan pesan mereka. Ini aneh, apakah David tidak memiliki handphone? Atau David ini sakit sampai tidak bisa memegang handphone ?
“No si David nya ga ada?” Tanya ku kepada Riri.
“Ga ada, disitu cuma ada no 'Pak Rian' saja orang yang selalu menyampaikan pesan David” jawab Riri.
Aku dan Nicko saling melempar pandang karena kami benar-benar bingung dengan kakak nya Bima ini.
“Tapi coba lo liat chattingan yang lain deh, disitu ada orang juga dari Rumah Sakit apa gue lupa yang bilang katanya ‘Ibu kambuh lagi’” ucap Riri.
Aku dan Nicko langsung mencari chat yang di sebutkan Riri.
Ada pesan dari Sus Rini isinya ‘iya Pak, kemarin Ibu sempat kambuh lagi,tapi sekarang sudah lebih tenang’
“Gue ga sempet liat detailnya,karena lo cuma minta tentang David doang kan sama PT.MFP dan yang gue dapetin cuma soal David doang, dan ga sengaja chat tentang Ibu nya itu ikut ke fhoto sama gue, ya kali aja info itu berguna juga buat kalian”
Nicko menganggukan kepalanya.
“Info ini sangat berguna, dan saya berterima kasih sama kamu karena bersedia membantu kami” ucap Nicko dengan begitu formal nya.
“Sama-sama Pak” jawab Riri.
“Tapi…” lanjut Riri dengan begitu segan untuk melanjutkan kalimatnya. Dia hanya melirik ku meminta bantuan ku.
“Iya, udah gue bilangin masalah libur lo tenang aja,off dulu pasti di acc sama Nicko” ucap ku dengan malas menatap Riri.
__ADS_1
Riri menunjukan sederet giginya kepadaku. Dia terlihat begitu malu namun menyebalkan. Nicko hanya tersenyum dan mengangguk menandakan dia mengerti apa yang Riri inginkan.
“Libur kamu sudah saya atur, kamu tenang saja selama kamu mau membantu saya, saya pasti akan membantu mu”
Riri terus saja tersenyum seperti kuda kepada Nicko berlagak jika dia terlihat malu.
“Makasih Pak Ferdy”
Aku hanya memutarkan bola mataku sambil tersenyum tipis melihat Riri.
Riri berpamitan pulang karena dia ada janji dengan teman-teman nya yang lain, sedangkan aku dan Nicko masih di Caffe dan tetap berinvestigasi disana.
“Nick,coba kamu cek no telepon Sus Rini itu” pinta ku dengan terus bulak balik melihat fhoto-fhoto yang di kirim Riri tentang isi chat Bima.
Nicko langsung mengecek no telepon itu di laptop nya,dan mencari tahu darimana asalnya.
“Kalimantan” ucap Nicko setelah hasil dari pencarian nya keluar dari Website.
Fikiran ku jadi semakin banyak.
“Kenapa Sus itu bilang Ibu nya kambuh ya? Apa Ibu nya sedang sakit parah ?”
“Mungkin” jawab singkat Nicko.
“Dan aku juga masih terfikirkan tentang David, kenapa Bima dan David berkomunikasi harus memakai perantara ?”
“Aku juga memikirkan hal itu”
“Kita coba menelepon Sus Rini ini dulu” ujar Nicko.
“Tapi kita tidak boleh memakai no telepon pribadi Nick. Aku takut Sus ini bilang kepada Bima kalau ada no telepon tidak di kenal menghubunginya, dan Bima tau bahwa itu kita”
“Kamu tenang saja. Aku menghubungi no ini dengan privat nomor. Nomor ku tidak akan bisa lihat nya” jawab Nicko sambil mulai mengetikan no Sus Rini itu di handphone nya.
Aku membulatkan mulutku dan menganggukan kepalaku.
Nicko me-loudspeaker telepon nya. Telepon itu tersambung, beberapa detik kemudian telepon itu di angkat, suara perempuan di sebrang sana menyapa.
“Hallo”
“Hallo” jawab Nicko.
“Iya dengan siapa ini?”
__ADS_1
“Maaf. Apa ini benar dengan Bu Susi dari Rumah Sakit Pulang Pisau ? Saya mendapatkan no Ibu dari kerabat saya di Kalimantan, saya mau konsultasi untuk berobat Bu” ucap Nicko dengan berbohong.
Rumah Sakit yang di tanyakan Nicko mungkin salah satu Rumah Sakit yang berada di Kalimantan.
“Ibu Susi?” Jawab Sus itu di sebrang telepon.
“Maaf salah sambung Pak, saya bukan Bu Susi, saya juga tidak bekerja di Rumah Sakit sana” lanjutnya nya.
“Salah sambung? Ibu tidak bekerja disana ?”
“Iya saya tidak bekerja di Rumah Sakit Pulang Pisau,kerabat Bapak mungkin keliru, saya bekerja di RSJ Sambang Lihum” dia masuk ke dalam jebakan.
Jawaban Sus Rini itu membuat aku dan Nicko tercengang.
“Oh Maaf maaf Bu, kerabat saya mungkin keliru. Iya memang sebelum nya dia pernah mengunjungi RSJ juga untuk memasukan saudaranya, jadi mungkin dia salah memberikan saya no telepon, maaf Bu sudah mengganggu” ucap Nicko.
Lalu dengan cepat dia mematikan telepon itu sebelum Sus Rini ini bertanya lebih lanjut.
Nicko memandang sejenak layar handphone nya.
“Rumah Sakit Jiwa” ucap ku dengan perlahan.
“Mungkin ini alasan Bima tidak mau menceritakan tentang keluarganya, Ibu nya ternyata sakit jiwa” ucap Nicko.
“Masalah Ibu nya sudah terpecahkan, sekarang tentang David, kita masih harus mencari petunjuk lain nya tentang David”
“Ini akan sulit Faw. Satu-satunya cara adalah kita pergi ke Kalimantan dan mencari tahu perantara itu dimana, setelah itu kita pasti akan tahu dimana David berada, dan apa hubungan nya dengan PT.MFP,juga tentang papa mu yang ada di fhoto itu”
Aku terdiam sejenak mendengar ide dari Nicko.
“Tapi kita berdua tidak bisa pergi kesana bersama, Bima pasti akan bertanya kemana kita pergi,bahkan di hari libur pun dia pasti akan banyak menghubungi ku terkait pekerjaan, dan aku tidak mungkin membiarkan kamu pergi sendiri kesana”
Sebuah ide bodoh muncul begitu saja di kepala ku. Aku tahu ide ini tidak seharusnya aku bicarakan, tapi bisa saja ini adalah salah satu jalan untuk kami bisa mendapatkan petunjuk lain.
Aku menundukan kepala ku sebelum aku mengatakan isi kepala ku kepada Nicko.
“Ada orang yang tahu sekali tentang Kalimantan, dan dengan mudah dia bisa mendapatkan info tentang orang lain di sana” ucap ku.
“Siapa?” Tanya Nicko berusaha membaca fikiranku.
Lalu aku menatap wajah Nicko dengan tegar.
“Ben”
__ADS_1