
Aku berdiri dan mendekati Sheilla dengan perlahan. Sheilla tampak ketakutan dan kebingungan, namun dia hanya bisa diam menunggu ku berbicara.
“Akhirnya kita bertemu kan Shel” ujar ku dengan tenang.
“Selama ini aku berusaha untuk tidak mencari mu karena aku kira dulu perusahaan aku dan Ben hancur karena murni kecerobohan ku, dan aku membiarkan kamu untuk bebas meninggalkan aku dalam kehancuran Shel” ucap ku dengan menekan kan kalimat terakhir ku.
Sheilla terus terdiam tak berbicara.
“Tapi akhirnya aku menyadari satu hal. Bahwa ada yang kamu sembunyikan dari aku. Suatu hal yang amat begitu besar sampai kamu lari tidak mau membantuku. Bukan begitu?”
“Faw, aku..”
“Aku belum selesai!” Ucap ku memotong ucapan nya dengan begitu kesal dan menatap nya tajam.
Sheila kembali diam,dia memalingkn matanya dari tatapan tajam ku. Aku kembali berdiri tegak dan berjalan kesana kemari di hadapan Sheila dengan berusaha untuk tenang.
“Kamu tahu Shel? Saat perusahaan Ben hancur, satu satu nya yang aku harapkan untuk menolong aku itu hanya kamu Shel, hanya kamu!”
“Tapi ternyata kamu malah lari, dan tidak pernah muncul lagi di hadapan aku. Ada apa Shel ? Apa ada yang kamu sembunyikan?”
Tanya ku dengan menaruh kedua tangan ku di meja menatap nya dan terus menyudutkan nya.
“Kamu itu adalah harapan aku satu-satu nya untuk menolong aku di saat orang-orang menghakimi ku dan mengira aku sudah berkorupsi dengan uang client yang sama sekali tidak pernah aku ambil sepeserpun. Seharusnya kamu ada disana menolong ku Shel, seharusnya kamu membantu ku untuk membuat pembelaan dan memperbaiki kesalahan perusahaan itu. Kamu sendiri tahu,Saat itu aku masih sedih karena di tinggalkan Ben, masalah ku sudah cukup berat karena sudah kehilangan nya, dan di tambah lagi aku harus mengalami kehancuran dengan masalah perusahaan Ben. Aku hampir gila karena semua nya Sheil,aku rasa hidup ku sudah berakhir”
Aku menarik nafasku dulu sebentar untuk mengatur emosi ku.
“Dan kamu tau apa yang lucu?” Tanya ku sambil sedikit tertawa.
Lagi-lagi aku menatap tajam mata Sheila yang sudah ketakutan.
“Ternyata Ben tidak mati Shel. Dia masih hidup. Selama ini dia berpura-pura mati dengan alasan yang tidak jelas” Sheilla terlihat hanya tersentak mendengar nama Ben di sebutkan dan tidak terlihat begitu terkejut dengan apa yang aku katakan.
Aku menyunggingkan senyum ku melihat ekspresi nya.
“Kenapa kamu tidak terlihat terkejut?”
“Oh. Atau mungkin sebenarnya kamu sudah tahu dengan skenario kematian Ben? Benarkan apa kata ku Shel?” Tanya ku dengan segala dugaan ku selama ini.
__ADS_1
“Fawniaa dulu aku hanya takut,aku tidak tahu harus berbuat apa, aku pergi karena aku takut” jawab Sheilla dengan sangat terbata-bata dan terlihat sekali jika dia sangkat takut untuk jujur.
“Aku ingin kamu jawab dengan jujur Shel. Fikirkan tentang perusahaan mu, fikirkan tentang karyawan mu, dan juga keluarga kecil mu” ucap ku memperingati nya.
“Tapi benar itu adanya Faw” ujar Sheilla begitu meyakinkan.
“Aku hanya takut. Aku hanya shock karena kehancuran perusahaan Ben. Aku pergi karena aku takut di bawa ke ranah hukum” ucap nya dengan terus berdalih.
Namun sayang nya aku terlalu bisa membaca kebohongan nya.
“Baiklah kalau seperti itu” jawab ku dengan begitu tenang dan berdiri di hadapan nya dengan dingin.
“Kalau begitu,senang bekerja sama dengan kamu. Dan aku harap kamu bisa mendapatkan perusahaan lain untuk bisa bekerja sama dengan mu” ucap ku sambil menyilangkan kedua tangan ku di dada.
Sheilla berdiri dengan cepat dan menatap ku dengan sedih.
“Fawnia aku mohon. Masalah pribadi kita jangan di bawa di dalam kerja sama perusahaan kita”
“Sebenarnya aku juga ingin seperti itu Shel, tapi kamu tahu? perusahaan ku di Jakarta juga sudah mulai hancur karena suatu masalah pribadi, dan semua ini karena masalalu ku. Jika kamu tidak bisa membantu, maka perusahaan ku pun tidak bisa membantu mu. Terimakasih” ucap ku dengan begitu mudah nya.
Sheilla tentu akan tahu, jika di perusahaan ini saja menolak bekerja sama dengan nya akan menjadi dampak buruk untuk track record nya nanti. Dan sudah pasti dia akan kesulitan mencari perusahaan yang mau bekerja sama dengan dia.
“Tunggu” ucap Sheilla dengan lantang menghentikan langkahku.
Senyum ku terpancar di bibir,lalu aku kembali menyembunyikan senyuman ku dan aku berbalik menatap nya, dan berdiri di tempat ku menunggu dia membuka mulut.
Sheilla tampak berat sekali untuk berbicara. Dia mengepalkan kedua tangan nya sambil terus menundukan kepala.
“Aku minta maaf Faw. Aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan saat itu. Aku benar-benar terpaksa. Aku tidak bermaksud untuk membuat karir mu ikut hancur, dan aku pun tidak bermkasud untuk menjerumuskan kamu kedalam kesengsaraan itu. Tapi aku benar-benar terpaksa, karena jika tidak malah aku yang akan merasakan kesengsaraan itu Faw”
Aku masih diam membiarkan dia menyelesaikan ceritanya.
“Aku di minta untuk menghancurkan perusahaan itu. Aku di minta untuk memanipulasi data seolah perusahaan itu sedang di ambang kehancuran,dan aku tidak tahu jika apa yang sudah aku lakukan akan membuat kerugian yang cukup besar Faw”
Sheilla mulai menangis. Suaranya bergetar ketika dia berbicara, dia terlihat begitu ketakutan. Sheilla berjalan mendekati ku dan menatap mata ku dengan sedih.
“Aku kira kamu bisa mengatasi nya sendiri dengan semua asset dan harta yang sudah Ben berikan kepada kamu, aku kira kamu bisa dengan mudah membayar semua kerugian itu dan menutup kasus nya lalu menutup perusahaan Ben. Aku tidak tahu jika orang tua Ben malah tega mengambil semuanya dari kamu, aku benar-benar tidak tahu Faw. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melakukan itu semua, aku bersumpah” ujar Sheilla sambil menangis mengenang semua kepedihan masa lalu kami.
__ADS_1
Aku pun mulai bersedih mendengar ceritanya. Aku tahu persis bagaimana baiknya Sheilla, dia tidak mungkin melakukan itu jika tidak ada paksaan,kecurigaan ku benar.
“Lalu siapa yang menyuruh mu melakukan itu” tanya ku dengan mulai meneteskan air mata.
Sheilla hanya terus menangis seolah berat untuk menjawab nya.
“Jawab Sheilla jawab!” Teriak ku sambil memegang kuat kedua bahu nya.
Namun Sheilla terus saja menangis tak henti.
“Tolong jawab Sheil, siapa yang sudah menyuruh mu membuat ku menderita?!” Tanya ku dengan terus berteriak dan menggoyang kan tubuh Sheilla agar mau membuka mulut nya.
“Ben yang menyuruh ku Faw. Ben orangnya”
Bagai di sambar petir aku langsung melotot mendengar nama Ben.
Sheilla pun terus menangis dengan pengakuan nya yang selama ini dia sembunyikan.
Ben adalah orang yang sudah membuat perusahaan dia sendiri hancur dengan ada aku di dalam nya, dia yang sudah membuat karir aku hancur,dia juga yang telah membuat aku tercoreng nama nya di dunia property, dan sekarang dia juga yang akan membuat perusahaan keluarga Nicko hancur dengan ulah nya.
“Aku minta maaf Faw, aku minta maaf aku hanya mengikuti perintah yang Ben minta. Aku tidak bermaksud membuat mu menderita”
Air mata ku mengalir di pipi ku.
“Jadi kamu tahu jika Ben sebenarnya masih hidup kan?” Ujar ku memperjelas rasa penasaran ku.
Sheilla dengan tangis nya mengangguk dengan rasa bersalah nya.
“Dulu Ben menghubungi ku jika dia sedang ada masalah di tambang batu bara nya di Kalimantan. Dia bilang akan ada orang yang mau menghancurkan usaha nya disana,bahkan ada yang sempat mencelakai nya,Orang itu coba membunuh Ben. Ben terpaksa melakukan ini Faw,dia harus berpura pura mati agar pelaku itu bisa diam. Dan Ben takut kalau kamu akan kenapa-napa,dia meminta aku untuk menutup perusahaan itu,dia meminta aku untuk mengambil segala cara agar perusahaan nya terlihat hancur. Dan setelah itu Ben benar-benar menghilang tidak lagi menghubungi ku Faw. Aku minta maaf,aku benar-benar tidak ada maksud membuat kamu terpuruk”
Aku langsung menggelengkan kepala ku melihat betapa tega nya Sheilla orang yang pernah aku percayai dulu kini menjadi manusia menyedihkan.
“Bener-bener tega kamu Sheil. Bisa-bisa nya kamu dan Ben membuat aku tersiksa selama 4 tahun”
Sheilla kembali menyentuh tangan ku dengan wajah sedih yang penuh harap.
“Aku mohon Faw maafkan aku. Aku tahu kesalahan aku terlalu besar, aku tahu aku salah. Aku mohon kamu bisa memaafkan aku”
__ADS_1
Aku menatap kedua mata Sheilla dengan begitu tajam.
“Hanya ada satu cara untuk memperbaiki ini semua”