
Keesokan harinya aku dan Nicko pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang.
Malam tadi aku dan Nicko sudah berdiskusi tentang misi kita yang selanjutnya. Walaupun ada sedikit perdebatan di antara kita, tetapi akhirnya Nicko mau mendengarkan aku. Dia mau menyetujui ide ku,karena memang tidak ada pilihan lain jika kita ingin cepat masalah ini terungkap.
Kita berdua telah sampai di kantor Ben. Dengan malas nya Nicko ikut turun dari mobil dan lalu menggandeng tangan ku begitu erat,seolah dia takut jika Ben akan kembali merebut ku.
Ide ku memang sedikit gila. Kita harus meminta bantuan Ben untuk masalah kita sendiri. Setelah aku menghancurkan Ben,tiba-tiba saja aku datang menemuinya untuk meminta pertolongan. Nicko sudah pasti terus menolak ide ku ini,tetapi dia pun tidak ada jalan lain lagi. Mungkin Nicko bisa saja membayar orang untuk menemukan data yang dia mau,tapi itu perlu waktu,tidak akan bisa cepat seperti apa yang kita inginkan sekarang. Kita harus mencoba meminta pertolongan Ben,kalau dia tidak mau,itu tidak akan jadi masalah,yang penting kita sudah mencoba nya dulu.
Aku berjalan masuk ke dalam kantor Ben. Semua orang menatap ku juga Nicko. Beberapa dari mereka ada yang berbisik-bisik,entah apa yang sedang mereka bicarakan,aku tidak peduli. Aku yakin,sebagian dari mereka sudah ada yang tahu dengan masalah ku dan Ben,karena dari tatapan mereka,menandakan mereka tahu sesuatu yang besar sampai mereka terus menatap ku begitu terkejut.
Aku dan Nicko menaiki lift untuk menuju ruangan Ben. Seharusnya sudah ada yang memberi tahu Ben tentang kedatangan kami disini,sehingga Ben sudah bersiap-siap di ruangan nya.
Begitu keluar dari lift,karyawan resepsionis Ben hanya berdiri menyambutku datang dan tidak menahan ku sama sekali. Berarti benar,karyawan Ben sudah ada yang memeberitahukan kedatangan ku.
Aku langsung masuk ke dalam ruangan Ben tanpa permisi. Ben sudah menyambutku dengan berdiri bersandar di depan meja kerja nya,dengan kedua tangan di masukan ke saku celana.
Aku terpatung sebentar di dekat pintu masuk dan di susul Nicko berdiri tegap di belakang ku untuk menjaga ku.
“Aku sangat terkejut dengan kedatangan kalian kesini” ucap Ben.
Aku masih diam menatap nya dengan semu. Sedangkan Nicko menatap Ben selalu penuh dengan amarah.
“Aku tahu kamu menemui Kara di sekolahnya” ucap ku tanpa basa basi lagi.
Ben berfikir sebentar lalu dia menganggukan kepala nya,mungkin dia berfikir bagaimana aku bisa tahu tentang hal itu.
“Iya aku menemui Kara di sekolah” ucap nya tanpa perlawanan.
“Apa yang salah?” Tanya nya.
“Aku tidak mengganggunya sama sekali,aku tidak menyentuhnya sama sekali,bahkan aku mengajak Kara berbicara pun tidak”
__ADS_1
“Lalu apa tujuan mu?” Tanya ku dengan masih saja dingin.
Ben menatap ku begitu dalam,seolah dia ingin aku membaca isi hatinya,dia ingin aku mengerti apa yang dia inginkan,itu membuat ku kembali sedih dengan apa yang aku ketahui tentang nya.
“Aku hanya ingin menemui Kara” ucap Ben sambil menundukan pandangan nya,seolah dia sedang membayangkan sesuatu yang menyenangkan namun menyakitkan.
“Aku hanya ingin bisa memeluknya,menggendongnya,mencium pipi nya,untuk sekali saja. Karena hanya itu yang aku harapkan selama 5 tahun ini,dari semenjak aku menikahi mu, dan Kara sudah ada dalam perutmu” ucap nya begitu rintih kembali membuat ku terenyuh.
Nicko pasti juga ikut sedih mendengar ucapan Ben. Karena saat Kara dalam perut ku hanya Ben yang berada di samping ku untuk menjagaku juga Kara.
Aku menatap Ben begitu dalam, mengingat masa dimana dia begitu menjaga aku dan kandungan ku di saat semuanya belum berantakan. Dulu dia sangat menyayangi ku juga kehamilan ku,bahkan jika di ingat yang lebih Ben pedulikan adalah kandungan ku,dia selalu khawatir jika aku merasakan sakit di dalam perut ku,atau dia terlalu takut aku kenapa-kenapa jika di tinggalkan sendiri,aku selalu di minta untuk diam di atas tempat tidur dan tidak boleh berbuat apapun selain istirahat. Dia sudah menyayangi Kara ketika Kara masih di dalam perutku.
“Apakah kamu masih akan menemuinya?” Tanya ku membuat Ben membalas tatapan ku dengan dingin.
“Aku tahu kamu tidak akan pernah mengizinkan ku bertemu Kara,tapi apa salahnya jika aku hanya ingin melihat dia dari jauh,apa itu pun di larang?” Ucap Ben dengan penuh keyakinan seolah dia bisa membaca fikiran ku.
Aku menarik nafasku dulu sebelum aku kembali berbicara kepadanya. Aku melirik Nicko yang ada di belakang ku melihat wajah nya sebelum aku mengatakan sesuatu kepada Ben. Nicko hanya bisa diam,dia tidak bisa berbuat apapun selain menuruti ku.
Mata Ben membulat,dia menatap ku tidak percaya.
“Apa?” Ucap Ben tidak percaya.
Aku tak ingin mengulangi pertanyaan ku,aku hanya diam menatap nya dengan serius.
“Apa kamu bersungguh-sungguh”Tanya Ben meyakinkan apa yang di dengar nya tidak salah.
Aku menganggukan kepalaku dengan begitu yakin.
“Kalian mengizinkan aku bertemu dengan Kara? Apa aku tidak salah dengar?” Tanya nya masih saja tidak yakin.
“Dengan syarat!” ucap ku mempertegas lagi ucapan ku yang mungkin tidak di dengar Ben.
__ADS_1
Wajah Ben berubah menjadi berbinar,senyuman terpancar di bibir nya,ekspresi bahagia nya sangat tidak bisa di sembunyikan nya. Sebahagia itu dia akhirnya bisa bertemu Kara,dia terlihat begitu tulus menyayanginya,dan aku yakin dia tidak akan pernah berbuat macam-macam kepada Kara jika dia bertemu Kara nantinya.
“Apapun syarat nya akan aku lakukan. Apapun yang kalian mau akan aku turuti,aku tidak akan peduli lagi dengan reputasi ku sekarang,aku tidak peduli dengan semua yang aku miliki,aku hanya ingin bisa memeluk Kara,bisa menggendong nya dan bisa berbicara dengan dia” Ben terlihat begitu bahagia.
“Oke. Aku akan mengabari mu secepatnya”
Aku yakin jika tidak ada Nicko,Ben sudah pasti akan memeluk ku untuk berterima kasih. Tetapi karena ada Nicko,Ben jadi hanya bisa berdiam diri di tempat nya dengan ekspresi bahagia yang tidak bisa di gambarkan.
Setelah selesai berbicara dengan Ben,aku dan Nicko kembali ke mobil kami di parkiran. Kami berdua berdiam diri sejenak di dalam mobil. Kita seperti sedang merenungkan hal yang baru saja kita lakukan.
Nicko masih tidak menyalakan mobilnya,dia masih seperti memikirkan sesuatu.
“Apa yang kamu fikirkan?” Tanya ku melihat Nicko begitu aneh sekali.
“Seharunya aku marah,tahu Ben akan menemui Kara,tapi kenapa aku malah merasa tenang sekarang” ucap Nicko mengutarakan fikiran nya.
Aku mengelus lengan Nicko dengan lembut sambil tersenyum manis kepadanya.
“Aku sudah bilang. Ben tidak mungkin berbuat macam-macam kepada Kara. Selama Kara di dalam kandungan,Ben hanya memikirkan keselamatan Kara. Dia begitu antusias dengan kehadiran Kara,aku sangat merasakan kasih sayang Ben kepada Kara”
Nicko melirik ku dengan ekspresi bingung,mungkin dia fikir kenapa bisa-bisa nya aku berkata seperti itu kepada Papa kandung dari Kara.
“Tetapi,bagaimanapun Kara itu milik mu. Dia hanya anak mu bukan anak Ben. Ini sudah menjadi takdir Kara untuk bisa bertemu dan di sayangi Papa kandung nya. jadi bagaiman pun Ben menunggu dan menjaga Kara untuk menjadi anak nya,jika takdir berkata tidak,Ben tidak bisa memenuhi apa yang dia inginkan. Kara itu anak mu,dan Ben hanya membantu melindungi nya selama dia di dalam kandungan ku” aku terus memberikan Nicko pengertian agar dia merasa tenang.
Nicko menganggukan kepala.
“Ya kamu benar,bagaimana pun Ben sudah menjaga kamu dan Kara saat dulu. Setidak nya dia memiliki imbalan untuk itu” jawab Nicko.
Aku tersenyum mendengar dia akhirnya mengerti dan mau menerima.
Nicko menyalakan mobil nya,lalu kita pergi dari sana.
__ADS_1