Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Makan bersama Pak Direktur


__ADS_3

“Faw” panggil Bima menyadarkan ku dari lamunan.


“Ya” jawab ku dengan spontan.


Terlihat Bima menatap ku di kaca spion dengan mengerutkan kening nya, lalu aku menatap Nicko yang juga sedang menatap ku dengan bingung.


“Kita sudah sampai” ujar Bima memberitahu ku.


Aku langsung menyadari jika mobil sudah berhenti di depan restoran yang meminta aku segera turun dari sana. Aku dengan panik langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana lalu Nicko pun ikut keluar dengan pintu yang sudah di buka oleh seorang pelayan restoran.


Bima kembali melajukan mobil nya ke parkiran. Dan aku berjalan mengikuti Nicko di belakang. Seorang pelayan yang lain nya datang menghampiri kami untuk menyambut bos besar ini.


“Selamat siang Pak, Bu” sapa dia dengan begitu sopan.


“Selamat siang. Saya sudah reservasi tempat atas nama Pak Ferdyan untuk makan siang sudah di siapkan ?” Tanya ku dengan manis.


“Oh sudah Bu, mari ikut saya” pinta nya dengan berjalan menunjukan kursi untuk bos besar ini.


Dan ketika sudah sampai di meja nya, Nicko begitu terkejut dengan hidangan yang sebelum nya sudah aku pesan kan. Yang pasti mata dia membulat melihat ada Ikan kuah kuning yang begitu menggiurkan untuk nya. Terlihat begitu masih panas dan aroma nya pun tercium begitu enak.


Nicko melepaskan jas nya sebelum dia duduk, aku membantu dia melepaskan jas nya dan menyimpan nya dengan rapih di lengan ku. Dia melipat dahulu lengan kemeja nya yang panjang karena takut terkena kotor noda makanan. Pelayan yang sedang berdiri di samping Nicko akan membantu Nicko untuk menyiuk ikan berkuah itu ke dalam mangkok nya.


“Tidak perlu” ucap nya menahan pelayan itu agar diam.


“Biar saya saja” lanjutnya dengan dingin.


Pelayan itu menundukan kepala nya dengan sopan dan kembali mundur ke tempat nya.


“Kalau begitu jika perlu bantuan bisa panggil saya lagi Pak,Bu” ujar pelayan itu sebelum pergi.


Aku tersenyum manis kepada pelayan yang ramah itu, lalu dia pergi kembali mengerjakan hal lain.


“Kenapa masih berdiri?” Tanya Nicko melihat ku yang masih saja berdiri dengan kaku.


“Maaf Pak. Saya keluar sekarang,jika sudah selesai saya kembali kesini” ujar ku hendak pergi.


“Mau kemana ?” Tanya nya menghentikan langkah ku.


“Saya mau tunggu di luar dengan Bima”


“Kenapa tunggu di luar? Panggil Bima kesini segera dan katakan jika kita akan makan bersama” pinta Nicko dengan begitu tegas nya.


Aku segera mengeluarkan ponsel ku dan segera menghubungi Bima.

__ADS_1


“Bim diminta Pak Ferdy kesini segera” ucap ku ketika Bima sudah mengangkat telepon dariku.


Aku terus menatap Nicko yang bersikap begitu dingin kepadaku. Dia mulai mengambil makanan yang ada di hadapan nya. Dan tidak lama Bima berlari ke arah kami dengan melesat.


“Maaf Pak. Ada apa?” Tanya Bima yang terlihat ter engah-engah karena lelah berlari.


“Duduk. Kita makan bersama” pinta NIcko membuat Bima menatap ku bingung.


Aku pun malah menjadi bingung menatap Bima yang seperti terkejut dengan perinta Bos nya ini.


“Baik Pak” jawab Bima. Lalu dia duduk di meja yang terpisah di samping Nicko dan aku ikut duduk dengan Bima.


Nicko melirik ke arah kami dan mengkerut kan kening nya.


“Kenapa kalian berdua duduk disana?” Tanya nya dengan kesal.


Dia kembali membuat ku dan Bima saling melempar pandang ter heran-heran.


Mau nya Nicko tu apasih ? Gumam ku dalam hati.


“Duduk bersama disini, meja ini kan luas makanan yang di pesan Fawnia pun cukup banyak, jadi saya minta untuk kalian menghabiskan semua makanan ini bersama” tunjuk Nicko kepada hidangan makanan yang banyak di atas meja nya.


“Baik Pak” jawab Bima tanpa membantah lagi.


Lalu aku duduk di samping Bima dan mulai ikut makan dengan Nicko.


Selama makan, tidak ada yang berbicara sedikit pun di antara kami bertiga dan hanya bisa saling mencuri pandang. Aku melirik Nicko secara diam-diam, melihat begitu lahap nya dia makan dan memperhatikan penampilan nya yang begitu berbeda. Aku tidak menyangka sekali jika Nicko yang ku kenal dulu ternyata masih menyukai ikan kuah kuning hingga saat ini. Dan aku teringat Bima yang mengatakan jika Nicko pun masih menyukai susu caramel, yang juga sama dengan minuman favorit kita sejak kecil.


Dia belum sepenuh nya berubah. Lalu aku menggelengkan kepala ku, menghilangkan segala fikiran tentang Nicko dan kembali makan.


Setelah makan siang selesai, kita bertiga kembali ke kantor di sambut dengan beberapa orang karyawan yang akan memberitahukan suatu berita penting kepadanya. Aku mencatat semua inti penting pembicaraan mereka di catatan ku, dan terus mengikuti kemana mereka akan pergi. Lalu di tengah perjalanan Nicko dan para pengikut nya berhenti.


“Fawnia” panggil nya sambil berbalik mencari ku.


“Iya Pak?” Tanya ku.


“Jadwal saya dengan Pak Adnan sudah di tentukan?” Tanya Nicko.


“Sudah Pak. Hari kamis jam 08.00 pagi” jawab ku mengingat dengan sebagian jadwal Nicko di luar kepala.


Nicko tampak diam dulu sejenak mendengar jawaban ku.


Lalu Bima menyenggol lengan ku membuat ku melirik nya.

__ADS_1


“Pak Nicko tidak biasa meeting pagi Faw” bisik nya secara perlahan kepadaku. Membuat ku mengangkat kedua halis ku.


“Baik kalau begitu” jawab Nicko dengan tidak terlihat keberatan sama sekali.


“Jadwalkan saya dengan perusahaan Frasindo untuk selanjutnya, segera hubungi perusahaan itu dan secepat nya beri tahu saya” pinta nya dengan tegas lalu dia kembali berjalan di ikuti dengan pengikut nya.


Bima lagi-lagi menatap ku. Dia pasti merasakan ada yang aneh dengan Nicko hari itu, namun dia masih belum mau menanyakan nya kepadaku.


Setelah hampir seharian aku bekerja akhirnya waktu pulang ku sudah tiba. Aku membereskan dulu berkas-berkas ku dan memasukan semua barang ku ke dalam tas. Aku mengambil beberapa berkas untuk ku bawa masuk ke dalam ruang Nicko sebelum aku pulang.


Aku melihat Nicko sedang duduk di meja kerja nya dengan serius menatap komputer di depan nya.


“Permisi Pak, ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani” ucap ku sambil menyodorkan berkas itu ke meja Nicko.


“Simpan saja dulu,nanti saya tanda tangan” jawab nya dengan dingin.


“Baik. Kalau begitu saya pulang Pak” ucap ku berpamitan.


Lalu aku berjalan hendak meninggalkan ruangan nya.


“Fawnia” panggilnya membuat ku tertahan dan membalikan badan kembali.


“Besok kamu akan kembali kan?” Tanya nya yang membuat ku terpatung menatap nya begitu dalam.


Kenapa dia bertanya seperti itu ? Apa dia khawatir jika aku akan kembali menghilang?


“Apa saya di pecat?” Tanya ku dengan dingin.


Dia menggelengkan kepalanya sedikit dengan bingung.


“Tidak”


“Berarti besok saya masih kembali untuk bekerja” jawab ku masih saja ketus.


Dia menganggukan kepala nya dengan semu.


Lalu aku menganggukan kepala ku sekali kepadanya lalu pergi dari ruangan Nicko.


Aku keluar dan menutup pintu nya secara perlahan. Berdiam sejenak di balik pintu nya dan kembali memikirkan apa yang di tanyakan nya barusan.


Apakah dia benar-benar takut jika aku kembali menghilang?


Nicko sudah mulai kembali mengusik fikiran ku. Walaupun kita bisa seterusnya bersikap profesional seperti ini, tapi sepertinya tidak akan menutup kisah lama yang sudah kembali untuk di kenang. Aku masih saja selalu gugup jika berhadapan dengan nya, dan aku yakin Nicko pun masih ada perasaan canggung ketika kembali bertemu dengan ku. Ini hanya masalah waktu.

__ADS_1


__ADS_2