Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Semakin mencurigakan


__ADS_3

Keesokan hari nya.


Setelah aku menyiapkan semua perbekalan sekolah Kara,aku menyerahkan Kara sepenuh nya kepada Mama. Mama akan mengantarkan Kara ke sekolah nya dengan supir pribadi dan aku tetap meminta Mbak Susi untuk menemani Kara dan Mama agar Mama tidak suntuk menunggu Kara di sekolah.


Di kamar aku juga sudah bersiap mengganti pakaian dengan baju lengan panjang berwarna hitam,dan rok span selutu berwarna hitam untuk pergi dengan Papa menuju makam orang tua ku. Aku pergi dulu ke kamar Nicko untuk berpamitan kepadanya.


Tadi malam kita bertiga masih tidur di kamar ku,karena Kara tidak ingin di bujuk untuk merasakan tidur di kamar Nicko. Karena dia bilang ‘kamar Papa sepi tidak ada apa-apa,tidak seperti kamar Mama,banyak boneka sama banyak fhoto-fhoto’.


“Hay” sapa Nicko begitu melihat ku masuk ke kamar nya.


Nicko sedang berada di balik meja kerja nya di hari libur seperti ini.


“Hay” sapa ku sambil terus mendekati nya.


Aku duduk di lahunan Nicko dengan seenak nya sambil melingkarkan tangan ku di leher nya,aku mencoba mengganggu pekerjaan dia di haru libur ini.


Nicko balas memegang kedua pinggang ku yang ramping itu.


“Kamu sudah siap?” Tanya Nicko menatap pakaian ku yang sudah rapih.


“Sudah” jawab ku sambil tersenyum.


“Kenapa bisa kamu pergi ke makam dengan penampilan cantik seperti ini” ujar nya menggoda ku.


“O ya?” Tanya ku tak percaya.


Nicko hanya tersenyum menatap ku begitu dalam.


“Maaf aku tidak bisa menemani mu ke makam hari ini” ucap Nicko dengan merasa bersalah karena ada pekerjaan yang menunggu nya di pagi hari seperti ini.


“Tidak apa-apa. Aku hanya akan berkunjung sebentar ke makam orang tua ku dan kembali kesini”


“Jangan hanya sebentar. Kamu harus bercerita kepada mereka atas semua yang sudah pernah kamu lalui. Aku yakin,jika mereka bisa mendengar,mereka akan begitu bangga terhadapmu”


Aku tersenyum mendengar ucapan Nicko yang membuat ku haru.


“Baiklah”


Lalu Nicko mencium bibir ku dengan begitu lembut. Lalu dia melepaskan ciuman nya namun kepala kami masih beradu.


“Tapi jika kamu mau bergegas untuk pulang pun tidak masalah. Kara sedang sekolah dan kita bisa menghabiskan waktu berdua di kamar” goda Nicko dengan tatapan nya yang penuh keinginan.


Aku langsung tersenyum mendengar nya.


“Baiklah” jawab ku sambil kembali mencium bibir nya.


Aku rasa ciuman ini sudah berlangsung terlalu lama,membuat hasrat aku dan Nicko malah semakin naik. Aku langsung beranjak dari lahunan Nicko dengan bibir kami masih saja terus beradu,Nicko sama sekali tidak ingin melepaskan ciuman ini,namun aku benar-benar harus pergi karena Papa pasti menunggu ku di lantai bawah.


Aku berjalan mundur sampai akhirnya Nicko mau melepaskan ciuman nya,dan dia malah tersenyum penuh arti kepada ku.

__ADS_1


“Hati-hati dan cepat pulang” ujar Nicko.


Aku terus berjalan mundur untuk meninggalkan Nicko di kamar nya.


“Baiklah. Aku pergi, bye”


“Bye”


Lalu aku menyusul Papa yang sudah menunggu ku di lantai bawah.


“Hay Pa” sapa ku kepada Papa.


“Hay Nak. Sudah siap?” Tanya nya sambil berdiri membenarkan jas hitam nya yang membuat dia sangat begitu gagah dan tampan.


“Sudah”


“Kalau begitu ayo kita pergi”


“Ayo Pa”


Aku dan Papa keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil dengan seorang supir yang sudah ada di dalam nya.


Di dalam perjalanan kami saling diam. Papa terus menatap ke luar jendela melihat pemandangan yang sebenarnya tidak ada indah-indah nya di pagi hari seperti ini sekitar Jakarta.


Aku teringat kembali dengan Bima. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran ku tentang Bima. Lalu aku melirik Papa di samping ku dan seperti nya ini kesempatan ku untuk bertanya tentang Bima.


“Pa” panggil ku.


“Bima itu sudah bekerja di perusahaan Papa sangat lama ?” Tanya ku dengan awal basa basi.


Papa menganggukan kepala nya.


“Iya. Dulu tepat 3 tahun lalu Papa benar-benar sedang membutuhkan asiten di kantor itu,karena tiba-tiba saja asiten Papa yang sebelum nya mengundurkan diri dengan alasan yang tidak jelas,dan lalu Bima datang melamar sebagai asisten di saat Papa benar-benar membutuhkan itu,Papa coba memberikan dia training selama 3 bulan,dan ternyata dia hebat dia cekatan,dan juga cukup pintar”


Jawab Papa dengan begitu membanggakan Bima.


“Tapi apa tidak ada kandidat lain pada saat itu? Maksud aku kan itu perusahaan yang besar Pa,pasti banyak yang mau bekerja di perusahaan Papa itu”


Papa sempat berfikir memikirkan sesuatu.


“Mungkin karena waktu itu,asisten Papa sebelum nya langsung keluar dari kantor dan Papa tidak sempat membuat iklan lowongan untuk posisi sebagai asisten,dan kebetulan saat itu juga sedang ada laki-laki yang melamar pekerjaan dengan pakaian rapih,dengan bicara yang cukup sopan dan ber-intelek ke kantor jadi Papa langsung mau coba saja dia untuk bekerja. Dan ternyata dia adalah pengganti asisten Papa pada saat itu”


Aku malah menjadi semakin aneh dengan cerita Papa. Kenapa bisa Bima tiba-tiba datang ke kantor untuk melamar pekerjaan sebagai asisten di saat Papa sedang benar-benar membutuhkn asisten.


“Lalu dengan latar belakang Bima ? Apa Papa sempat lihat dulu?” Tanya ku dengan mulai menjurus ke alasan ku bertanya tentang Bima.


“Tentu saja. Papa pasti membaca riwayat keluarga Bima juga. Dia itu anak kedua dari dua bersaudara,tetapi dia tinggal hanya bersama Ibu nya dan Kaka nya bekerja di luar kota”


“Ayah nya?” Tanta ku karena ada yang tertinggal dari cerita Papa.

__ADS_1


“Ayah Bima sudah tiada sudah lama sekali”


“Oo” jawab ku dengan membulatkan mulutku.


“Papa tahu,jika dulu nya Ayah Bima adalah seorang pengusaha besar juga?”


Papa mengerutkan kening menatap ku.


“Benarkah?”


Aku malah balik bingung menatap Papa.


“Papa tidak pernah mendengar hal itu”


Sepertinya memang Papa tidak pernah peduli dengan gosip yang selalu beredar di kantor.


“Aku pun hanya mendengar sepintas dari tempat kantor ku. Katanya dulu Bima adalah anak seorang pengusaha besar” ucap ku seolah berita itu tidak lah penting.


“Mungkin memang benar seperti itu,melihat kepintaran Bima sangat ahli sekali di bidang properti”


Aku sempat ingin mengakhiri percakapan Bima ini,karena sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu aku ketahui,tetapi aku teringat dengan berkas yang ada di dalam tas Bima waktu kemarin.


“Oh iya satu lagi Pa”


Papa kembali menatap ku dengan tersenyum dan tanpa keberatan di tanya-tanya terus oleh ku.


“Papa tau dengan perusahaan Mitra Falcon Property ?” Tanya ku membuat ekspresi wajah Papa berubah seketika.


Papa menatap ku dengan terkejut dengan membulat kan mata nya,membuat ku kebingungan.


“PT. MFP?” Tanya Papa balik.


Aku memikirkan singkatan yang masuk akal itu.


“Iya” tanya ku dengan mengangguk namun tetap bingung.


“Kenapa kamu bertanya tentang perusahaan itu?” Tanya Papa dengan ekspresi dingin yang sebenanrnya tidak bisa aku gambarkan.


Seperti nya Papa tidak ingin membicarakan perusahaan itu.


“Oh tidak. Aku hanya pernah melihat perusahaan itu di headline jika aku tidak salah, tapi aku tidak pernah melihat perusahaan itu bekerja sama dengan kita” ucap ku berdalih.


Papa memalingkan wajah nya keluar jendela.


“Perusahaan itu sudah tidak ada” jawab Papa dengan dingin.


Aku langsung diam,dan mengakhiri percakapan kami.


Sepanjang perjalanan aku mencuri pandang melirik Papa. Papa jadi melamun,pasti sedang ada yang di pikirkan Papa. Apa ada kaitan nya dengan perusahaan yang aku katakan tadi ?

__ADS_1


Papa bilang perusahaan itu sudah tidak ada,tetapi Bima jelas-jelas membawa berkas itu kemarin ke kantor.


__ADS_2