
Di tengah perjalanan aku terus menangis sekuat mungkin dengan ketakutan yang telah menyerang fikiran ku. Aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan ini dari Nicko, aku tidak bisa lagi berbohong kepadanya. Namun apakah terbongkarnya rahasia ini kepada Nicko akan menjadi kan itu masalah baru untuk kehidupan ku?
Aku benar-benar sudah lelah, aku ingin semua nya segera berakhir. Aku ingin merasakan hidup dengan tenang tanpa di hantui bayang-bayang masalalu ku, apalagi tentang Kara. Rahasia yang begitu besar yang selalu ku pikul sendiri selama beberapa tahun akhirnya terbongkar sudah kepada Nicko . Aku ingin mengakhiri semuanya,namun aku tidak sanggup menghadapi semua reaksi keluarga Nicko saat mengetahui semuanya. Aku takut mereka tidak menerima kesalahan yang telah aku dan Nicko lakukan 5 tahun lalu, dan malah membuat mereka membenci ku karena tahu jika Kara adalah cucu kandung mereka di luar ikatan pernikahan.
“Mbak. Kita akan kemana?” Tanya supir taksi itu,karena dia hanya terus berkeliling mengitari Jakarta menunggu ku yang sedang menangis.
“Kita ke Apartemen Alonia” jawab ku sambil menghapus air mata ku dan menenangkan diri ku.
Aku mengambil handphone di dalam tas ku dan segera menghubungi Mbak Susi untuk menanyakan Kara. Namun telepon nya tidak tersambung. aku berusaha menelpon nya lagi tetapi masih tidak aktif.
Biasa nya no Mbak tidak aktif ketika Mbak Susi pulang karena handphone nya rusak dan harus memakai wifi untuk mengaktifkan data. Tapi tidak mungkin Mbak Susi pulang tanpa memberitahu ku
“Pak maaf bisa lebih cepat?” Pinta ku karena begitu panik.
Jakarta memang macet sore itu, membuat ku semakin cemas dan gelisah. Aku terbayang Nicko. Aku takut dia datang ke apartemen dan menemui Kara.
Beberapa saat kemudian, aku sampai di apartemen ku. Aku langsung berlari menuju lift dan menekan lantai dimana kamar ku berada.
Perasaan ku sudah tidak enak, aku takut terjadi apa-apa dengan Kara.
Ketika lift terbuka, aku langsung berlari menyusuri lorong menuju apartemen ku. Dan akhirnya aku sampai di depan pintu apartemen, aku segera menekan tombol kunci kamar nya dan langsung menerjang masuk ke dalam.
“Kara…” teriak ku begitu aku menutup pintu.
Benar saja, rumah sudah rapih dan Mbak Susi tidak terlihat di sekitar apartemen ku..
“Sayang Mama pulang” teriak ku.
“Kara di kamar Ma” teriak Kara membalas sautan ku.
Aku langsung berlari menuju kamar ku.
Dan betapa terkejut nya aku melihat Nicko sudah duduk di atas tempat tidurku dengan hanya menggunakan kemeja dan bermain bersama Kara begitu tenang nya di atas tempat tidur.
Dia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran ku.
“Mama sudah pulang ?” Tanya Kara yang heran karena biasanya aku pulang hampir larut malam.
“Iya,Mama sudah selesai bekerja nya” jawab ku berusaha tersenyum kepada nya.
“Tadi Om Nicko kesini katanya kangen Kara terus ajak Kara bermain di kamar” ujar Kara dengan polos nya.
Nicko masih saja tak menghiraukan ku, dan terus bermain dengan puzzle di tangan nya.
Aku rasa dia belum menemukan apapun,dan dengan cepat aku berjalan menuju lemari ku dan mencari akta kelahiran Kara untuk ku sembunyikan dari Nicko.
Aku singkapkan pakaian ku dan mencari berkas yang aku simpan di map berwarna hijau. Map itu sangat penting bagiku, dan aku tidak ingin Nicko melihat nya.
Map itu tidak ada disana, tapi aku terus mencari nya di setiap lemari dan loker dengan cepat dan tergesa-gesa.
“Mencari ini?” Tanya Nicko dengan menunjukan Map hijau yang sudah ada di tangan nya.
Aku terkejut dan tersentak melihat Nicko sudah mendapatkan akta kelahiran Kara. Aku berdiri menatap nya dengan panik.
“Tadi Om Nicko pinjam buku kerja Mama” ujar Kara dengan polos.
Dengan berusaha tenang aku tersenyum kepada Kara agar dia tidak ikut merasakan ketegangan antara aku dan Nicko.
“Kara boleh bermain di luar dulu? Mama mau bicara dengan Om Nicko” pinta ku dengan lembut.
Tanpa menjawab,Kara membawa beberapa mainan nya untuk di bawa keluar dari kamar lalu Kara menutup pintu kamar dengan rapat.
Nicko masih berdiri di tempat nya di dekat jendela dengan terus memegang Map hijau di tangan nya. Aku pun ikut menatap Nicko yang sudah mulai terlihat emosi.
__ADS_1
“Apa ini Faw? Apa maksud nya semua ini?” Tanya Nicko dengan wajah nya yang begitu terlihat kecewa.
“Kenapa nama ku kamu cantumkan di akta kelahiran Kara?”
Nicko sudah membaca nya, aku tidak bisa lagi berdalih.
Ya,nama Nicko aku cantumkan sebagai ayah kandung Kara bukan Ben. Karena aku tahu semuanya akan seperti ini saat aku tahu Ben meninggal,namun aku tidak mengira semuanya akan terjadi secepat ini.
“Apa Kara benar anak ku?”
Aku masih diam menatap Nicko dengan gundah.
Nicko menatap ku tidak percaya.
“Kenapa bisa kamu menyembunyikan tentang Kara dariku selama ini? Kenapa bisa hal sebesar ini kamu sembunyikan dariku Faw?”
Aku benar-benar tidak tahu harus mulai darimana untuk menjelaskan kepada Nicko,karena aku sudah mulai melihat Nicko sudah begitu marah kepadaku.
“Apa mau mu Fawnia?! Katakan apa mau mu?!” Teriak Nicko yang semakin membuat ku takut.
“Dengan menyembunyikan hal besar ini,kamu sudah menyakiti aku maupun Kara Fawnia, kenapa bisa kamu berbuat setega ini kepada kami ?!”
Aku mulai meneteskan air mata. Aku tahu ini berat, tapi ini saat nya Nicko tahu semuanya.
“Menurut mu apa yang harus aku lakukan ketika aku tahu ternyata aku hamil anak kamu Nicko?” Tanya ku dengan mulai menangis karena harus kembali mengenang masa lalu ku yang menyedihkan.
Namun aku melihat Nicko bernafas lega ketika aku mengatakan bahwa Kara adalah anak nya.
“Orang tua mu begitu baik kepada ku selama ini dan mau menerima ku menjadi keluarga mereka tanpa membeda bedakan aku dengan kamu. Tapi apa balasan aku? Aku malah mengecewakan mereka. Aku malah berbuat di luar batas dengan anak satu-satu nya mereka dan malah menyebabkan aku hamil di luar pernikahan! Kamu fikir aku akan setega itu mengatakan kepada mereka jika sebenarnya aku sudah mengandung anak dari kamu ?!” air mata ku sudah tidak dapat terbendung. Aku kembali menangis sejadi jadi nya.
“Apa kamu bisa membayangkan bagaimana kecewanya mereka saat aku mengatakan itu? Bagaimana menyesal nya mereka karena telah mempercayai aku selama ini?” Aku menggelengkan kepala ku dengan raut wajah takut.
“Aku tidak bisa melakukan itu Nicko. Aku tidak mau menyakiti hati mereka”
“Lalu bagaimana dengan aku?” Tanya Nicko seolah semua ini tidak adil.
“Nicko tolong mengertilah! Aku tidak ingin mengecewakan orang tua mu, aku tahu mereka ingin yang terbaik untuk kamu, mereka ingin masa depan mu bisa sukses dan bahagia seperti apa yang selama ini mereka impikan dan…”
“Dan apa?!” Teriak Nicko membuatku kembali diam.
Nicko sudah terlihat begitu marah.
“Kamu fikir dengan kepergian kamu selama ini kemarin akan membuat aku bahagia? Kamu fikir dengan kamu menyembunyikan Kara dariku akan membuat kamu tenang? Fikirkan ini baik-baik Fawnia” Nicko menghampiri ku lebih dekat,dia menatap kedua mata ku.
“Aku tidak akan pernah menyesal telah membuatmu melahirkan Kara,aku tidak akan pernah peduli bagaimana tanggapan semua orang tentang ku. Aku akan selalu melindungimu Fawnia,aku tidak akan membiarkan kamu menghadapi semua ini sendirian,aku sudah berjanjikan ?”
Tangisku semakin menjadi.
“Tidak seharusnya kamu menanggung beban seberat ini sendirian sejak dulu,dan tidak seharusnya kamu menikah dengan orang lain selain denganku”
“Nick..” aku coba untuk menjelaskan tentang Ben kepadanya tapi Nicko memegang kedua pipi ku dengan lembut dan membuat ku kembali diam.
“Pekerjaan ku sekarang tidak akan aku lakukan jika saja aku tidak pernah melihat mu pertama kali di kantor,ketika kamu datang melamar pekerjaan” lanjut Nicko membuat ku mengingat kembali ketika pertama kali aku datang ke kantor Nicko dan memang saat itu aku seperti merasakan seseorang tengah memperhatikan ku dari jauh.
“Kamu tahu? Sebelum kamu datang ke kantor itu, kantor itu hampir saja kacau Fawnia. Aku di angkat Papa sebagai Direktur Utama hanya agar aku memiliki kegiatan lain selain memikirkan mu”
“Aku tidak pernah ingin datang ke kantor di pagi hari, aku tidak pernah ingin menghadiri meeting, aku tidak pernah peduli dengan kemajuan perusahaan yang aku pegang saat itu, bahkan aku tidak pernah peduli atas apa saja yang terjadi di kantor itu sampai kamu datang”
Aku terus menatap mata nya dengan haru.
“Kamu yang membuat aku bangkit, kamu yang membuat aku hidup kembali. Obat dari penderitaan ku selama ini hanya kamu Fawnia”
Aku jadi teringat apa yang di katakan Papa,bahwa akhirnya Nicko mau meneruskan perusahaan Papa setelah sekian lama Papa membujuknya.
__ADS_1
“Ini sudah terbukti. Kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan aku, dan kamu di takdirkan hanya untuk aku” ucap Nicko dengan penuh keyakinan.
Aku menggelengkan kepala ku tidak bisa menerima ucapan nya.
“Tidak Nicko. Ini tidak bisa begini”
“Tidak bisa bagaimana maksud mu? Kara adalah salah satu bukti nyata jika kita tidak bisa di pisahkan” teriak Nicko dengan kesal karena aku terus menyangkal ucapan nya.
“Jika kamu mau menyembunyikan kebenaran ini,Kamu bisa saja menuliskan nama Ben di akta kelahiran Kara,tapi kamu malah menuliskan nama ku sebagai Ayah kandung nya. Itu semua karena kamu yakin jika suatu saat nanti kamu akan kembali, dan kenyataan ini tidak akan pernah bisa kamu rubah kan ?”
Aku terus menatap Nicko dengan sedih mendengar semua yang di katakan nya adalah benar.
“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanya ku begitu kalut,tidak tahu lagi harus bagaimana.
“Jangan pernah lagi berusaha untuk menghadapi semua ini sendirian. Aku akan selalu ada untuk mu apapun yang terjadi. Kamu tidak boleh lagi menghilang dariku, kamu harus selalu di samping ku, mulai dari sekarang dan selamanya”
“Tapi Nick..”
“Aku tidak menerima bantahan, jika tidak,aku akan memecat mu” ucap Nicko membuat ku menatap nya dengan bingung lalu tersenyum sambil menangis mendengar lelucon nya.
Nicko menarik ku ke dalam pelukan nya dan akhirnya tangis ku pun kembali pecah di dalam dada bidang nya. Aku begitu merindukan nya,sangat sangat merindukan nya, setiap saat aku berharap bisa kembali memeluk nya seperti ini dan kita bisa bersama seperti dulu lagi tanpa adanya masalah. Dan kini semua nya terkabul, keinginan ku terkabul,akhirnya cintaku yang tersesat akhirnya kembali, dan pelukan hangatnya masih terasa seperti dulu.
“Jadi Kara adalah anak ku?” Tanya Nicko ketika aku masih ada di dalam pelukan nya.
Dia masih ingin mendengar kenyataan yang membuat dia bahagia ini.
“Ya”
“Selama 4 tahun lebih kamu mengurusnya sendiri?”
“Ya”
“Apakah Kara tahu tentang Papa kandung nya? Atau dia malah mengenal Ben sebagai Papa nya?”
“Tidak”
Nicko melepaskan pelukan nya.
“Jadi?”
Aku menghela nafasku dulu dan menghapus air mata ku yang membasahi pipi.
“Aku selalu mengatakan kepada Kara jika Ben adalah orang baik, dan dia adalah suami ku atau Papa sambung Kara. Dan dia tahu jika Papa kandung nya sedang pergi bekerja dan tidak bisa pulang karena sibuk” ucap ku mengatakan hal yang di ketahui Kara hanya sebatas itu.
“Berarti Kara boleh tau sekarang jika aku adalah Papa nya?” Tanya nya dengan antusias.
“Nick, untuk yang satu itu bisakah kamu tunda dulu ? Setidak nya sampai orang tua kamu mengetahui ini?”
“Kapan saat nya itu?”
“Aku tidak tahu. Kita harus mencari waktu yang tepat untuk mengatakan kepada mereka,dan kita harus siap dengan segala konsekuensi yang ada”
“Aku akan selalu siap Fawnia. Dan aku akan selalu memegang janji ku,untuk tidak akan pernah meninggalkan mu juga Kara” ucap Nicko membuat ku terharu.
Dia mencium bibir ku dengan lembut.
Ciuman ini akhirnya kembali terasa, aku kembali bisa mencium bibir Nicko dengan penuh kasih sayang. Nicko dengan semangat terus mencium bibir ku melekatkan diriku pada tubuh nya,seolah Nicko tidak membiarkan aku pergi untuk saat ini.
“Maaa, apa bicara nya sudah selesai?” Suara Kara terdengar di luar pintu dengan manis nya.
Aku dan Nicko langsung menghentikan ciuman kami dan tersenyum mendengar Kara yang menunggu kami di luar kamar. Dengan cepat Nicko membuka kan pintu untuk Kara dan berjongkok untuk mengimbangi tinggi Kara. Dia menatap Kara dengan sedih, namun dia menahan tangis nya lalu memeluk Kara dengan begitu erat. Kara yang tidak mengerti apapun hanya bisa diam, dan menerima pelukan Nicko.
“Kita sudah selesai bicaranya, Kara mau lanjut bermain?” Tanya Nicko sambil mengusap rambut Kara dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Mauu” seru nya dengan tersenyum.
Lalu Nicko menggendong Kara ke atas tempat tidur dan lanjut bermain disana. Aku senang sekali melihat kebersamaan mereka tanpa khawatir rasa takut seperti dulu. Aku sudah begitu lega karena akhirnya Nicko tau jika Kara adalah anak nya. Nicko sudah mengetahui semuanya, sekarang tinggal orang tua Nicko, aku tinggal tunggu saatnya tiba.