
Aku dan Keysa masih diam di restaurant, menunggu Nicko yang sedang menemani Kara bermain di arena bermain anak.
“Faw” panggil Keysa.
Aku melirik nya untuk menyauti panggilan nya.
“Kok Kara udah mau manggil Nicko Papa?”
Aku sudah yakin Keysa pasti akan banyak sekali mengintrogasi ku dengan segala hal yang terjadi selama dia tidak disini.
“Kara yang minta sendiri”
“O ya?”
“Hmm”
“Dia udah tau tentang Nicko”
“Ya, gue jelasin se simple mungkin. Walaupun awalnya dia ga ngerti kenapa Om Nicko nya ini berubah jadi Papanya. Tapi ternyata dia malah happy kalau tau Nicko itu Papa nya”
“Ya kan selama ini dia ga punya Papa Faw. Jadi dia pasti kelewat seneng pas tahu Papa nya masih ada”
Aku meneguk jus jeruk ku yang masih tersisa di atas meja.
“Entahlah”
Lalu aku teringat dengan lamaran Nicko tadi malam.
Aku mengangkat jari ku dengan perlahan lalu menatap Keysa yang begitu serius mengawasi Kara.
“Key” panggil ku kepada Keysa agar dia melihat cincin yang berada di jari manis ku.
“Kenapa?” Bingung nya.
“Inii..” ucap ku dengan kesal sambil menunjukan cincin ku.
“Ya kenapa?”
Dia masih saja tidak mengerti.
“Ish elo. Ini cincin dari Nicko” ucap ku dengan gemas.
Mata Keysa membulat dia langsung menarik tangan ku dan melihat dengan teliti cincin berlian itu.
“Ini dari Nicko?!” Tanya nya dengan masih saja terkejut.
“Dia lamar elo?”
Aku hanya bisa tersenyum untuk menjawab nya.
“Elo terima lamaran dia?”
“Iya” aku pun masih tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan ku.
“Fawnia!” Keysa masih saja tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
Lalu dia memeluk kuk begitu erat. Keysa begitu terharu akhirnya aku bisa menikah dengan orang yang selama ini aku sayangi. Keysa adalah saksi hidup ku, dia adalah satu-satu nya orang yang tahu bagaimana perasaan ku kepada Nicko.
“Gue seneng banget denger nya Faw”
“Iyaa gue juga masih belom percaya”
Keysa melepaskan pelukan nya. Aku melihat mata Keysa berkaca-kaca.
“Ih lo nangis?” Ledek ku.
lalu dia tertawa sambil mengusap air yang ada di mata nya. Dia menengadahkan kepala nya, menahan air mata agar tidak menetes ke pipi nya.
“Gue bahagia banget Faw. Akhirnya elo nemuin kebahagiaan yang selama ini lo impikan. Selama ini gue selalu kasihan ngeliat elo yang selalu menghadapi masalah dengan sendiri. Gue sebagai sahabat lo, serasa ga ada gunanya, gue ga pernah bisa bantuin elo, gue ga pernah bisa bertindak apapun untuk elo. Elu selalu menghadapi semua masalah elo sendirian. Gue kadang mikir, apa adanya gue di dalam hidup elo itu berguna? Karena sepertinya, elo masih aja selalu sedih sendiri setiap saat”
Ucap Keysa membuat ku ikut sedih.
__ADS_1
“Key” panggil ku yang ikut mengalirkan air mata.
“Lo itu berarti banget di hidup gue. Elo itu adalah salah satu support sytem gue selain Kara. Selama ini gue bisa kuat karena elo yang selalu ingetin gue. Dan asal lo tau, kalau bukan karena elo ceramahin gue mulu, gue ga akan bisa ngelewatin semua nya. Gue beruntung punya elo, Kara juga beruntung punya aunty kaya elo, karena gakan ada orang yang mau menemani Kara dari dia kecil hingga sekarang selain elo Key. Kita berdua berterima kasih banyak sama elo”
Lalu dia kembali menangis dengan dramatis dan kembali memeluk ku.
“Thank you for everything,Key”
“It’s Oke Faw”
Lalu Kara dan Nicko datang menghampiri kami yang masih bersedih dengan berpelukan.
“Mama sama Aunty Key kok nangis?” Tanya Kara membuat Keysa langsung melihat Kara dengan sedih.
“Aunty Key sama Mama lagi ceritain hal sedih jadi kita nangis” ujar Keysa.
“Ceritain apa?” Tanya Kara dengan lucu.
“Ceritain Kara karena Kara sakit” jawab Keysa mencari alasan.
“Jangan sedih lagi Aunty. Kata dokter, Kara sudah sembuh kok” ujar Kara mengobati sedih Keysa.
“O ya?”
“Iya”
Keysa mengusap air matanya dengan tersenyum.
“Kalau begitu Aunty gak akan nangis lagi. Sini peluk Aunty” lalu Kara memeluk Keysa dengan penuh kasih sayang.
Aku melirik Nicko yang berdiri di sampingku. Dia sedang memperhatikan ku entah dari kapan, lalu dia mengusap air mata ku yang menetes di bawah mataku. Nicko mungkin penasaran mengapa aku dan Kara menangis, namun dia mengerti jika aku dan Keysa tidak ingin Kara tahu cerita sebenarnya.
“Bye Faw”
“Bye Key”
Kami berpisah di basement mall.
“Kabarin gue ya” ucap ku.
“Bye Aunty Key” ledek balik Nicko.
Aku tertawa mendengar candaan mereka.
“Nanti main ke rumah aja Key” pinta Nicko.
“Iya pasti”
“Bye semua” lalu Keysa berjalan menjauhi kami sambil terus sesekali melambaikan tangan sampai dia hilang di antara mobil-mobil yang terparkir.
Kami bertiga kembali pulang ke rumah sebelum malam tiba. Kami sampai di rumah dan langsung memarkiran mobil di garasi. Kara tertidur dan Nicko membantu menggendong Kara untuk masuk ke dalam rumah. Aku membawa kan barang-barang Kara dan Nicko yang ada di dalam mobil.
“Nicko!” Panggil seorang wanita yang sudah berdiri di depan pintu rumah kami.
Kirana. Dia berdiri dengan tatapan yang begitu kecewa dengan gaun indah dan simple yang di pakai nya.
Nicko melirik ku, dan aku ikut melirik nya. Kami tidak tahu Kirana akan datang kerumah. Dan aku mulai panik, karena aku takut jika Nicko akan langsung mengatakan semua nya kepada Kirana.
Nicko berjalan masuk ke dalam rumah dan menghampiri Kirana. Kirana terus menatap Nicko dengan tatapan yang kecewa.
“Kenapa kamu disini?” Tanya Nicko dengan dingin.
Aku berdiri di belakang Nicko, untuk melindungi diri, karena aku merasa berat sekali harus behadapan dengan Kirana. Aku merasa bersalah, karena sampai sekarang Kirana belum tahu yang sebenarnya. Aku seperti sedang mempermainkan perasaan dia.
“Kamu kemana saja selama ini?” Tanya Kirana dengan kesal.
“Aku coba hubungi kamu tapi kamu tidak pernah mau angkat telepon aku. Semua pesan aku pun kamu abaikan Nick! Kamu kenapa?” Tanya Kirana dengan dramatis.
Nicko masih diam tak menjawab. Aku begitu kikuk berada di perdebatan mereka berdua.
“Sini. Biar Kara aku bawa” ucap ku sambil hendak mengambil alih Kara yang masih tertidur di gendongan nya.
__ADS_1
“Tidak perlu. Biar aku yang menidurkan nya” pinta Nicko.
“Aku tidurkan Kara dulu, nanti kita bicara” ujar Nicko sambil masuk melewati Kirana.
Kirana melirik ku dengan tajam. Aku membalas tatapan nya dengan dingin dan ikut masuk ke dalam rumah. Aku terkejut dengan tamu yang berada di dalam rumah tengah duduk dengan Mama dan Papa.
Itu adalah orang tua Kirana. Pak Handoko dan istri nya. Aku dan Nicko berhenti dulu di hadapan mereka.
“Hallo Pak Handoko” sapa ku dengan sopan.
“Hallo Fawnia” balas nya dengan ramah.
Istrinya terlihat begitu kaku kepada ku dan Nicko.
“Tidurkan dulu Kara. Ada yang mau kami bicarakan” ujar Mama kepada Nicko.
“Iya Ma. Pak Handoko saya tinggal dulu sebentar” ujar Nicko.
“Iya silahkan”
Lalu kami kembali berjalan sambil meninggalkan senyuman dan anggukan kepala kepada mereka semua yang berada di ruang tamu.
Nicko menidurkan Kara di atas tempat tidur dengan perlahan seperti dia sedang meletakan bom yang akan meledak kapan saja.
Aku mulai risau,aku mulai takut dengan kehadiran keluarga Kirana.
“Kamu kenapa?” Tanya Nicko yang melihat ku begitu panik.
“Nick. Apa yang akan kalian bicarakan?”
“Aku tidak tahu” jawab Nicko dengan santai seolah dia tidak merasakan ketegangan apapun.
“Aku takut”
“Takut kenapa?”
“Aku takut kalau Kirana mulai tahu semuanya dan dia menyebarkan gosip itu di kantor”
Ucap ku sambil mengigit kuku jari ku.
“Kenapa harus takut?”
“Nicko..” panggil ku dengan kesal.
“Kalau seluruh kantor tahu ternyata kamu punya anak dariku di luar pernikahan, bagaimana dengan reputasi kamu sebagai direktur di kantor? Dan bagaimana kalau gosip itu menyebar luas di media? Kamu tidak takut perusahaan kita akan hancur?” Tanya ku dengan begitu panik.
“Fawnia” panggil Nicko sambil mengusap lengan ku.
“Bisa kamu tenang?” Pinta Nicko dengan terus mengelus lengan ku.
“Aku pastikan semua nya akan baik-baik saja. Aku sudah memikirkan semua nya. Kamu harus bisa percaya” ujar Nicko begitu yakin.
Aku menatap nya dengan masih saja takut.
“Oke aku percaya” jawab ku akhirnya.
“Kamu mandi, ganti pakaian mu, dan temani Kara tidur”
Aku menganggukan kepala ku dengan wajah ku yang masih risau. Nicko melangkahkan kaki hendak kembali keluar kamar. Aku menahan tangan nya.
“Kamu tidur lagi disini kan?” Tanya ku dengan khawatir.
Nicko tersenyum mendengar permintaan ku. Dan dia kembali menghampiri ku dan berdiri begitu dekat di hadapan ku.
“Jika kamu meminta, aku akan tidur disini malam ini” ucap nya.
“Aku akan terus meminta kamu untuk menemani aku dan Kara tidur disini sampai kamu di haruskan untuk tidur bersama kita” ucap ku mengingat bulan depan kami akan menikah dan Nicko memang sudah harus tidur bersama ku dan Kara tanpa di minta.
Dia kembali tersenyum.
“Baiklah”
__ADS_1
Lalu Nicko mencium bibir ku dengan lembut sebelum dia melangkahkan kaki ke luar kamar dan menutup pintu.
Aku menatap pintu kamar ku dengan risau. Aku cemas dengan apa yang akan mereka bahas. Aku takut masalah baru muncul ketika aku sudah merasa tenang.