
Di perjalanan pulang,aku dan Nicko saling diam tak bicara. Nicko serius dengan setir mobil dan pandangan nya ke jalanan, dan aku terus saja memandang luar jendela. Aku enggan untuk berbicara kepadanya,dan dia pun seperti nya enggan untuk mulai berdebat kembali dengan ku.
“Ma” panggil Kara yang duduk di kursi belakang.
“Iya sayang” sahut ku sambil menoleh ke belakang dan tersenyum kepadanya.
“Boleh Kara bermain di taman dulu sebelum pulang?” Tanya Kara.
Taman yang di maksudnya adalah taman bermain anak yang sering dia kunjungi bersama Gilbran keponakan dari Keysa.
Aku melirik Nicko sebentar,dia masih saja diam.
“Sayang. Kita kesana nya nanti saja ya, ini sudah sore dan besok Kara harus sekolah”
“Tapi Maa..”
“Kara anak baik kan?” Tanya ku memotong keluhan Kara.
“Iya Ma” jawab Kara dengan sedih.
“Kalau begitu Kara harus nurut sama Mama ya” ujar ku dengan manis agar dia bisa menurutiku.
Lalu Kara hanya diam dengan kecewa.
“Kita ke taman sekarang” ujar Nicko tanpa menoleh ke arah ku.
“Tidak usah,ini sudah sore. Kita pulang saja”
“Aku tidak mau melihat Kara sedih seperti itu” ujar Nicko.
“Ini sudah sore..”
“Kamu Ibu yang baik kan?” Tanya Nicko dengan ketus.
Dia meledek ku dengan mengutip perkataan ku yang di ucapkan kepada Kara.
“Ya” jawab ku singkat.
“Kalau begitu jangan membut Kara kecewa seperti itu,kita bisa bermain sebentar sebelum malam”
Aku terdiam mendengar perintah nya. Aku bukan mau mengecewakan Kara,tetapi aku hanya lelah, lelah dengan segala sesuatu yang baru saja aku lalui,aku hanya ingin istirahat.
Kita sampai di taman yang di inginkan Kara.
“Kita sampai di taman” seru Nicko tersenyum menoleh ke belakang tempat duduk.
“Kita di taman?” Tanya Kara tak percaya.
“Iya dong. Mama kan baik,jadi ngebolehin Kara bermain disini” ucap Nicko.
“Terimakasih Ma”
__ADS_1
Aku hanya diam tersenyum dengan semu kepada Kara.
Nicko menuntun Kara menuju taman bermain di tengah lapangan yang begitu luas. Banyak sekali orang-orang di sekitar sana yang sedang berolah raga, sedang berfhoto, ada juga yang sekedar berpinknik makan di atas rumput hijau,juga anak-anak kecil yang begitu ceria berkeliaran di taman bermain anak yang terletak di tengah-tengah taman.
Taman bermain itu sama seperti taman bermain lain nya. Terdapat permainan pasir lengkap dengan skop dan ember,ada juga jungkat-jungkit,perosotan,ayunan,rumah dari kayu,jembatan berjading dan masih banyak lainnya. Kara senang sekali jika aku ajak kesini dari semenjak dia berusia 3 tahun sampai sekarang,karena letak nya tidak jauh dari apartemen ku.
Kara segera berlari ke taman bermain bergabung dengan anak-anak lainnya yang mungkin tidak dia kenali. Walaupun tidak saling kenal tapi mereka bisa terlihat langsung akrab ketika bermain bersama-sama,apalagi dengan sesama anak perempuan,mereka pasti akan merasa satu frekuensi.
Aku dan Nicko berdiri di samping taman bermain,dan memperhatikan Kara dengan seksama,takut jika ada sesuatu terjadi kepadanya.
“Kamu boleh pulang Nick,biar Kara aku jaga sendiri” ucap ku masih saja menginginkan Nicko untuk pergi.
Dia menatap ku dengan kesal.
“Kenapa kamu ingin sekali aku pergi?” Tanya Nicko.
“Aku hanya meminta kamu untuk pulang,dan beristirahat”
“Iya kenapa? Kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran ku?”
“Bukan begitu,aku hanya merasa bisa menjaga Kara sendiri!”
“Sampai kapan?!” Tanya Nicko dengan kesal,membuat ku tersentak dan terdiam menatapnya.
“Sampai kapan kamu kira kamu bisa mengurus Kara sendiri?” Tanya nya lagi.
Aku mulai terlihat kebingungan dengan pertanyaan yang begitu sulit untuk ku jawab.
“Jangan karena kamu kira kamu sudah berhasil membesarkan Kara sendiri hingga sekarang,membuat kamu merasa mampu untuk melanjutkan kembali membesarkan dia sendiri”
“Kara itu tidak akan selamanya kecil Fawnia. Dia akan beranjak dewasa, suatu saat dia pasti akan menanyakan keberadaan ku,dia juga akan mencari tahu tentang ku,dia akan terus bertanya-tanya kenapa aku tidak ada menemaninya selama hidupnya. Kamu fikir aku akan membiarkan semua itu terjadi kepada Kara?”
Aku memalingkan wajah ku.
“Tidak Faw. Aku tidak akan pernah membuat Kara seperti itu. Aku akan terus menemaninya dari sekarang hingga nanti. Dan aku akan terus menjalani peran ku sebagai Ayah untuk nya,walaupun Kara masih memanggil ku dengan panggilan ‘Om’” pedih memang mendengar Nicko mengatakan hal itu.
Aku pun merasakan bagaimana ada di posisinya,bisa tahu tentang anaknya,namun anaknya belum mengetahui kebenaran itu.
Aku tidak ingin Kara tahu dulu tentang Nicko,karena dia masih rentan polos,dan tentu aku tidak ingin menjadi bahan pertanyaan oma opa nya.
“Aku tidak pernah melarang mu untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada Kara” ucapku dengan sedih kepadanya.
“Aku tidak mau. Kalau bukan kamu yang mengatakannya sendiri kepada Kara” ujar Nicko membuatku begitu berat.
Hari sudah mulai semakin petang. Matahari pun sudah hampir hilang,semua anak-anak kecil yang bermain di sekitar sana satu persatu pergi dari taman dengan orang tua mereka,Kara melihat teman-teman nya yang lain pulang, dan dia pun ikut pulang.
Kara berlari ke arahku,dan aku membungkuk menyambutnya.
“Sudah selesai?” Tanya ku dengan manis.
“Sudah Ma. Terimakasih ya Ma” manis Kara lalu mencium pipi ku.
__ADS_1
Aku tersenyum melihat keromantisannnya.
Kara menatap Om Nicko yang berdiri di sampingku. Nicko menatap Kara dengan menyunggingkan bibirnya. Lalu Kara menarik lengan Nicko mengisyaratakan jika dia meminta Nicko untuk ikut berjongkok mengimbangi tingginya. Nicko menuruti keinginan putri kecilnya.
Kara langsung mencium pipi Nicko. Membuat ku terharu melihat betapa manis nya anak ini.
“Terimakasih Ya Om Nicko” ucap Kara dengan masih memanggil Nicko sebagai ‘Om’ nya.
Nicko mencium pipi Kara.
“Sama-sama Kara” balas Nicko dengan manis sekali.
“Ayo kita pulang” ajak Nicko menggenggam tangan mungil Kara.
Dan aku menggenggam tangan Kara di sisi lain. Kami berjalan bertiga menuju parkiran mobil. Kara adalah alasan kami tertawa, dan dia adalah alasan kami untuk bisa terus bersama. Kami menyayangi nya.
Sesampinya di basement. Nicko menggendong Kara untuk menuju kamar kami, sementara aku membawakan tas dan barang-barang Nciko menuju kamar.
“Om Nicko tidak menginap?” Tanya Kara yang ada di dalam gendongan nya.
Aku mengangkat kedua halisku mendengar pertanyaan Kara.
Nicko tersenyum dulu kepada Kara. Lalu aku menggendong Kara agar dia mengimbangi tinggi Nicko.
“Om Nicko harus pulang dulu Sayang. Om Nicko masih ada pekerjaan”
“Kapan Om tidur lagi dengan Kara?”
Nicko melirik ku dengan dingin,aku ikut meliriknya dengan bingung.
“Nanti kalau Mama sudah mengizinkan ya Nak”
“Mama pasti izinin kan Ma?” Tanya Kara kepadaku.
“Iya sayang. Tapi hari ini Om Nicko harus pulang dulu kerumahnya,nanti kapan-kapan dia pasti akan nemenin lagi Kara bobo”
“Janji?” Tanya Kara mengacungkan telunjuknya.
“Janji”
“Janji” jawab ku dan Nicko secara bersamaan dan melingkarkan telunjuk kami di telunjuk mungil Kara.
Aku terkejut karena kita tidak sengaja sama-sama melingkarkan telunjuk kami,sehingga telunjuk kami bertiga berkaitan. Aku menatap Nicko refleks dan Nicko pun menatapku dengan tatapan dinginnya.
“Yee janji telunjuknya bertiga” seru Kara dengan senangnya.
Lalu kami berdua melepaskan telunjuk kami.
“Om pulang dulu,dan Om janji akan kembali”
“Iya Om,Kara tunggu ya”
__ADS_1
Nicko kembali mencium pipi Kara,lalu dia juga mengecup bibir ku dengan manis. Dia begitu manis sekali terhadapku juga Kara,dia juga tidak segan segan lagi selalu mengecup bibirku seperti ini di depan Kara.