
Hari itu juga aku dan Riri pergi dari kantor Tangerang menuju Jakarta. Aku sudah muak dengan semua ini,hari ini aku ingin segera menyelesaikan segala masalah nya.
Aku pergi menuju dimana Ben berada. Aku ingin segera menemui nya,sebelum dia berbuat hal yang lebih menyebalkan.
Aku menyetir mobil sendiri dengan begitu cepat nya.
“Faw tenang Faw,pelan pelan” ucap Riri dengan panik.
Mobil ku terus melaju dengan cepat menuju kantor Ben.
Begitu sampai di depan gedung nya,aku langsung memarkirkan di tempat parkir dan segera masuk ke dalam gedung kantor itu.
Riri berjalan menyeimbangi langkah ku dengan cepat. Tatapan ku terus lurus ke depan menuju tujuan ku,yaitu ruangan Ben. Aku sama sekali tak menghiraukan karyawan yang tampak bingung melihat ku yang begitu cepat berjalan melewati mereka.
Sesampainya di lantai Ben berada aku langsung menerobos masuk ke dalam ruangan membuat terkejut reseptionist yang berjaga di depan ruangan Ben.
“Ibu,Ibu sebentar Bu” ujar wanita itu berusaha menahan ku.
Namun aku dan Riri tetap masuk ke dalam ruangan itu,sampai aku bisa melihat Ben yang sedang berdiri menerima telepon di tangan nya.
Ben juga tampak terkejut melihatku.
“Maaf Pa,Ibu ini langsung menerobos masuk begitu saja” ujar wanita itu dengan panik.
Aku hanya terus berdiri di tengah ruangan menatap Ben dengan tajam
“It's Ok. Dia tamu penting saya” jawab nya sambil menutup telepon yang mungkin masih tersambung.
“Baik Pak. Saya permisi”
“Ya” jawab Ben kepada wanita itu sambil tersenyum.
Lalu Ben menatap ku dengan manis sambil berjalan mendekati ku.
“Hallo Fawnia” sapa nya dengan begitu manis,namun membuat ku mual.
“Bukan kah kamu mengajak ku bertemu besok?” Tanya nya dengan tangan yang hampir saja menyentuh pipi ku,lalu aku menepis nya dengan sangat kuat.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Ben”
“Tentu saja. Aku juga rindu berbicara dengan kamu” ujar nya dengan masih saja tersenyum dengan manis menatap ku.
__ADS_1
“Apa ada yang masih kamu sembunyikan di kejadian 4 tahun lalu?” Tanya ku mulai meng introgasi nya.
Ben tampak diam dan menatap ku bingung.
“Sembunyikan ? Maksud kamu alasan aku pergi ke Kalimantan dan meninggalkan kamu disana ?” Tanya nya, namun aku hanya diam menatap nya dingin.
“Aku sudah menjelaskan kepadamu Faw. Ada orang yang mau membuat tambang batu ku hancur di Kalimantan,aku harus mencari orang itu dengan bersembunyi selama 4 tahun untuk bisa tahu siapa dalang di balik semuanya. Karena aku meyakini jika orang itu adalah orang dalam. Aku harus membuat skenario seolah-olah aku sudah mati dan tidak ada satu orang pun yang tahu tentang itu. Aku minta maaf” ujar Ben dengan bersungguh-sungguh dan dengan raut wajah yang bersalah.
“Dan dengan cara menghancurkan perusahaan mu di sini juga kan?” Tanya ku membuat Ben lagi-lagi mengerutkan kening.
“Ayolah Ben. Tidak perlu berpura-pura” ujar ku mendesak nya agar jujur.
“Aku tidak mengerti. Apa yang kamu maksud?”
“Ben aku sudah mengetahui semua nya,aku sudah tahu apa yang kamu lakukan setelah kamu berpura-pura mati saat itu. Aku tahu kamu yang sudah menghancurkan perusahaan yang kamu bangun untuk ku kan ? Aku tahu kamu adalah orang di balik semua ini” ucap ku dengan begitu tajam.
Ben tampak begitu terkejut dan kebingungan.
“Fawnia apa yang kamu katakan?” Tanya Ben, dengan sambil menggenggam tangan ku.
“Jangan sentuh dia!” Ucap seseorang yang baru saja masuk ke ruangan Ben.
Itu Nicko. Dia masuk dengan Papa menyusul nya.
Dan tidak lama di susul dengan Orang tua Ben yang terlihat tergesa-gesa masuk ke ruangan Ben.
Setelah semua berkumpul,aku menatap Riri di sudut ruangan,dan menganggukan kepala ku sekali untuk mengisyaratkan segera membawa saksi kuni ku untuk ikut bergabung. Riri langsung mengerti dan dia segera keluar dari ruangan ku.
“Kenapa kalian bisa ada disini?” Tanya Ben dengan sangat kebingungan.
“Mama juga tidak mengerti,Mama dapat telepon untuk segera datang ke kantor mu secepat mungkin. Mama takut terjadi sesuatu dengan mu Ben” ucap Mama Ben dengan khawatir.
Nicko dan Papa hanya berdiri di samping orang tua Ben dengan begitu tenang.
“Aku yang mengubungi mereka” ucap ku menatap Ben dengan begitu tajam.
“Aku yang meminta mereka untuk datang kesini”
“Untuk apa?” Tanya Ben dengan wajah yang benar-benar tidak mengerti.
“Untuk membuktikan kepada mereka siapa yang sudah membuat kekacauan selama ini” ucap ku dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Aku hampir saja ingin menangis dengan rasa kesal ku,namun aku kembali menahan nya untuk bisa lebih kuat mengakhiri semua masalah ini.
“Kamu harus katakan kepada mereka,siapa yang sudah sengaja membuat hancur perusahaan kamu dulu Ben”
Ben diam tak berkutik dan terus mengerutkan kening.
“Kamu harus katakan kepada mereka,siapa yang sudah membuat karir aku hancur selama 4 taun, kamu harus jujur siapa orang yang sudah benar-benar membuat aku tersiksa selama itu dengan anak ku Ben! Katakan!” Ucap ku dengan terus berteriak kepada nya.
“A..aku benar-benar tidak mengerti Faw, sejak tadi kamu terus bilang aku harus jujur,aku benar-benar tidak tahu harus jujur apa lagi kepada kamu” ucap Ben benar-benar sudah membuat aku tidak tahan.
Nicko dan Papa hanya bisa menatap ku dengan pilu. Sedangkan orang tua Ben menatap ku dengan penuh rasa kesal.
“Ada apa ini Fawnia, apa yang kamu mau dari Ben? Kenapa kamu harus berteriak seperti itu?” Tanya Mama Ben tidak terima anak nya terus di bentak di depan semua orang yang ada disana”
Aku langsung berbalik menghadap wajah Mama Ben dan langsung menunjuk Ben yang ada di samping ku dengan begitu lantang.
“Dia!” Ucap ku dengan penuh emosi.
“Dia yang sudah sengaja menghancurkan perusahaan yang aku pegang dulu. Dia juga yang sudah membuat skenario seolah perusahaan itu hancur. Dia yang sudah membuat media menyorot aku sebagai penyebab perusahaan hancur dan menyebabkan kerugian yang sangat besar yang harus aku tanggung sendiri” ucap ku dengan penuh keyakinan.
“Tentu anda ingat kan ?” Tanya ku kepada Mama Ben.
“Anda pasti ingat persis,bagaimana perusahaan Ben hancur dan meninggalkan begitu banyak masalah dan memerlukan dana yang cukup besar untuk kasus itu. Dan anda seharusnya ingat,bahwa aku tidak sepeserpun di bantu oleh kalian untuk bisa membantu kerugian yang harus aku tanggung sendiri. Kalian malah dengan tega mengambil semua aset dan barang-barang yang Ben berikan kepada ku untuk membuat ku tambah menderita selama itu. Kalian ingat itu kan ?” Tanya ku dengan sudah tidak lagi ingat kesopanan ku kepada mereka.
Mereka hanya bisa diam mendengar ucapan ku yang sulit di percaya.
“Dan semua penderitaan aku itu,ternyata ulah anak kalian sendiri” ucap ku kembali menatap Ben dengan emosi yang sudah tidak tertahan lagi.
“Omong kosong apa ini Fawnia” tangkis Ben dengan terus berdalih.
“Jangan karena aku membatalkan kerja sama dengan kalian,kamu menjadi mencari cara untuk membuat skenario”
“Ben,aku bukan kamu. Aku bukan kamu yang pandai membuat skenario,aku tidak pandai beracting,dan bahkan aku tidak pandai berbohong seperti mu”
“Buktikan!” Teriak Ben kepada ku dengan menantang.
“Buktikan jika omongan kamu benar Fawnia”
Aku menatap Ben dengan begitu kesal. Bisa-bisa nya dia masih membela dirinya dengan rasa tak bersalah seperti itu.
Tidak lama Riri kembali ke ruangan itu dan membawa seorang perempuan ikut masuk ke dalam nya.
__ADS_1
Semua orang di dalam ruangan Ben menatap Riri dan wanita yang di bawa nya itu secara serentak,termasuk Ben. Ben begitu terkejut melihat Sheilla ada di ruangan nya. Mata nya terus membulat tak berkedip sedikit pun. Sementara Sheilla terus menunduk merasa takut dan gugup untuk menatap orang-orang yang tengah memandangi nya.