Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Hari yang begitu berat


__ADS_3

Pagi ini aku sudah datang ke kantor dengan begitu rapih menggunakan baju berlengan pendek berwarna cream dan rok span berwarna lylac. Rambutku di urai bergelombang,dan aku memakai hak tinggi nerwarna cream senada dengan kemeja ku.


Aku berjalan melewati para pekerja yang sedang sibuk di setiap meja kerja nya,namun aku merasa tatapan seluruh karyawan terlihat aneh ketika melihat ku. Aku terus saja berjalan menuju ruangan ku dan berusaha tidak melihat sekeliling ku. Mereka semua memperhatikan ku dan berbisik-bisik ketika aku melewati nya. Aku melirik mereka yang ku dapati sedang memperhatikan ku dengan serius,lalu mereka pura-pura memalingkan wajah nya. Aku kembali berjalan berusaha tak mempedulikan mereka.


Aku menunggu di depan pintu lift untuk naik ke lantai atas,dan aku melihat dua orang karyawan perempuan yang juga menunggu lift bersama di sampingku,sedang berbisik sambil melihat ke arah ku. Aku merasa risih,namun aku terus berusaha untuk diam tak menghiraukan nya. Ketika pintu lift terbuka aku langsung masuk ke dalam nya dan menekan tombol lantai untuk segera pergi menuju ruangan ku.


Aku duduk di meja kerja ku dengan perasaan yang begitu tidak nyaman. Aku penasaran dengan semua karyawan yang terlihat seperti sedang membicarakan ku. Aku terus saja berfikir, apa yang telah aku perbuat hingga membuat mereka sibuk menggosipkan aku.


Lalu aku pergi ke pantry kantor untuk membuatkan minuman yang segar. Dan lagi-lagi semua karyawan menatap ku dengan aneh.


Beberapa wanita menghadang ku dengan angkuh mereka menatap ku dengan sinis. Aku menatap mereka dengan dingin. Mereka bertiga adalah wanita yang di kenal sebagai karyawan sosialita dengan gaya mereka yang begitu high,pakaian mereka yang begitu terndy dan riasan wajah yang begitu mencolok bak model papan atas.


“Jadi ternyata,elo anak adopsi Pak Rio pemilik perusahaan ini?” Tanya perempuan sinis itu dengan begitu kurang ajarnya.


Akhirnya aku tau apa yang telah terjadi di kantor ini.


“Pantes aja lo bisa kerja seenak nya disini,ternyata anak pungut” cemo’oh nya sambil tertawa di ikuti semua teman nya yang begitu menyebalkan.


Aku mendelikan mataku.


“Mulut lo ga pernah di bersihin ya? Kotor banget tuh mulut !!” Ucap ku balik mencela nya dengan sinis.


“Kalo lo ga tau apa-apa mending lo diem, ga perlu banyak omong, ini bukan urusan lo!” lanjut ku lalu berusaha pergi untuk tak mengacuhkan mereka. Namun mereka menghadangku.


“Heh. Seluruh kantor tuh udah tau,kalo lo sebenernya anak yang di urus dari kecil sama keluarga Pak Rio. Tapi katanya, lo malah kabur dari rumah nya dan ga tau terima kasih ya,dan sekarang lo udah bangkrut lo balik lagi sama keluarga Pak Rio buat minta tolong ?. Gila banget sih lo, ga tau di untung”


Aku begitu kesal dengan mulut besar perempuan yang berbisa seperti ular ini.


“Lo tuh harus nya tau diri tau ga. Lo masih bisa kerja disini dengan posisi enak,bisa di terima lagi sama keluarga Pak Rio,dan seharusnya lo ga seenak nya untuk kerja di kantor ini”


Wanita ini memang sudah keterlaluan,dan dia sudah begitu memancing amarahku.


Aku menyimpan cangkir ku dulu dan mendekati nya dengan menyilangkan kedua tangan ku di dada.


“Denger ya ular berbisa. Selama ini yang menilai pekerjaan gue itu atasan gue bukan elo,dan kalo lo ga tau apa-apa lebih baik lo dan temen-temen lo ini diem,kerja yang bener, karena yang gue liat,yang kerja seenak nya itu kalian, ga pernah ada progresif” ucap ku membuat mereka bertiga terkejut memelototiku.


“Kalian fikir gue ga pernah liat kinerja kerja kalian seperti apa? Kerjaan cuma gosip, ga pernah ada kemajuan, susah banget cari link buar kerja, dan sekarang kalian malah sibuk urusi urusan orang lain! Siapa yang harus nya ngaca?” Ucap ku dengan begitu tegas dan mengancam.


Ketiga perempuan itu tampak ketakutan dan bingung,namun mereka semua berusaha terlihat berani di hadapanku.

__ADS_1


“Siapa bilang kita ga ada progresif? Lo jangan ngada-ngada ya,gue bisa laporin lo karna lo fitnah gue” ujar wanita ini dengan berusaha tenang.


“Lo nantangin gue?” Tanya ku dengan tatapan ku yang tajam dan sinis.


“Iya. Gue ga suka sama lo!” Ujar nya dengan jujur.


“Kalau gitu lo keluar dari kantor ini,biar lo ga perlu liat-liat gue lagi. Beres kan?”


“Lo ga tau malu ya. Seluruh kantor tuh udah tau status lo hey. Lo masih mau bertahan di kantor ini dengan kisah lo yang memalukan?!” Tanya nya berusaha memojokan ku.


“Gue ga peduli” ucap ku dengan dingin.


“Gue malah berterima kasih karena akhrinya kalian semua tahu kalau dulu gue di adposi sama Pak Rio. Jadi gue ga perlu pura-pura rajin lagi karena kenyataan nya Pak Rio masih menganggap gue anak nya ,yaa walaupun gue udah ninggalin mereka. Lo ga tau kan gimana sayang nya kedua orang tua Pak Ferdy sama gue. Kasih sayang mereka sama gue,bisa bikin lo semua di keluarin dari kantor ini. Paham ?!” Ucap ku dengan nada yang mengancam.


Mereka semua diam dengan wajah yang begitu kesal tak bisa lagi berkutik melawan ku.lalu aku mengambil kembali cangkir caramel ku yang sepertinya sudah dingin itu, dan berjalan menabrak mereka dengan penuh amarah.


Aku masuk ke dalam ruangan ku dengan hati yang masih begitu kesal. Aku duduk dengan emosi dan menyimpan cangkir di meja lalu berfikir. Bagaimana mereka bisa tahu tentang masalalu ku ? Siapa yang membocorkan nya ? Apa mungkin Nicko ? Tapi itu sangat tidak mungkin.


Seseorang masuk ke dalam ruangan ku di saat aku sedang berfikir keras.


Kirana. Dia datang dengan pakaian minim nya yang begitu anggun.


Aku memutarkan bola mata ku melihat dia yang so baik kepadaku.


“Aku mau bertemu Pak Ferdy. Atau yang kamu kenal dengan Nicko” ledek Kirana membuat ku aneh menatap nya.


Kirana pasti telah mengetahui tentang masa lalu ku juga Nicko. Guman ku dalam hati.


Kirana tampak tersenyum sinis menatap ku. Seolah dia telah mengetahui hal yang begitu besar tentang ku dan Nicko.


“Pak Ferdy sedang ada tamu di ruang meeting, mbak bisa tunggu di ruangan nya ya” jawab ku manis dan berusaha mengalihkan perhatian ku kepada pekerjaan yang ada di hadapanku.


Kirana dengan perlahan mendekati ku. Dia berdiri tepat di depan meja kerja ku.


“Maaf ya,aku baru tahu tentang kamu dan juga Nicko” ujar Kirana terlihat begitu so baik.


“Kemarin aku baru saja mendapatkan cerita dari calon Mama mertua ku tentang masa lalu kalian” ujar Kirana seolah hal itu akan mengusik fikiranku.


Aku berusaha untuk tak mempedulikan nya dan kembali fokus dengan pekerjaan ku.

__ADS_1


“Jadi ternyata kamu ga punya orang tua,dan kamu di urus sama orang tua Nicko dari kecil? Baik banget ya keluarga Nicko” oceh nya yang masih saja tak ku hiraukan. Aku terus mengotak atik komputer ku.


“Tapi kok bisa ya,anak yang di asuh mereka dengan rasa kasihan dan kasih sayang, malah meninggalkan orang tua yang sudah begitu baik mau menampung nya dari kecil hingga besar tapi dia malah pergi gitu aja tanpa pamit,dan sekarang malah balik lagi disaat dia sudah tidak punya suami.ck…ck…ck Tidak tahu malu sekali”


Aku lalu menatap nya dengan sinis.


“Masih ada yang mau Mbak Kirana bicarakan ? Saya begitu sibuk sekali dengan pekerjaan saya hari ini” ujar ku dengan rasa kesal yang tertahan.


Dia tertawa sinis mendengar ku yang mulai tidak nyaman dengan ocehan nya.


“Aku sempat heran,kenapa bisa kamu yang hanya sekretaris nya,bisa tahu tentang masalah pribadi Nicko dan juga selalu di pertahankan di kantor ini. Padahal sebelum nya Nicko tidak pernah betah dengan karyawan yang tidak becus dalam bekerja”


Aku sudah mulai terpancing, aku merasa kesal dengan ocehan nya. Lalu aku menatap dia dengan ketus.


“Dari mana anda bisa menilai jika saya bekerja seenak nya ? Apa anda melihat langsung pekerjaan saya?”


“Beberapa atasan disini itu adalah temanku,dan tentu saja mereka pasti melaporkan setiap perilaku kamu disini. Awal nya aku heran,kenapa bisa-bisa nya Nicko terus membela mu dan mempertahan kamu untuk bekerja disini padahal pekerjaan mu saja tidak becus!” Cemooh nya membuat ku sudah mulai naik pitam.


Aku berdiri untuk menghadapi nya dengan menatap nya tajam.


“Mbak Kirana. Saya mohon maaf jika anda merasa kesal karena saya lebih tahu tentang Nicko di bandingkan anda” ucap ku begitu jelas kepadanya.


Kirana menatap ku dengan sinis sekarang.


“Harusnya anda berfikir kenapa Nicko tidak bisa seterbuka itu kepada anda. Kenapa masih saja banyak rahasia yang Nicko simpan sendiri, termasuk tentang saya” ucap ku dengan sinis yang benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap angkuh nya,seolah dia sudah mengetahui segala sesuatu tentang Nicko.


“Mungkin anda bukan lah wanita yang di percaya Nicko,anda juga mungkin bukan wanita special untuk nya,jadi dia tidak pernah mengatakan hal apapun tentang dirinya kepada anda. Dan kenapa anda bisa membuang waktu anda untuk mengurusi masalah saya? apa anda khawatir saya akan mendekati Nicko?” Sindir ku begitu percaya diri.


“Khawatir? Khawatir kamu akan mendekati Nicko?” Lalu dia tertawa begitu hambar..


“Jangan bermimpi Fawnia. Bagaimana pun kamu hanya sekretaris Nicko,dan kamu juga bukan tipe yang di inginkan Nicko,kami sudah bertunangan dan sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan,jadi jangan berharap terlalu tinggi” ujar nya yang begitu yakin. Aku tersenyum sinis mendengar ucapan nya.


“Kalau begitu tidak ada yang perlu kamu takutkan. Kamu fikirkan saja pernikahan mu dan Nicko” ucap ku dengan sudah tidak tahan lagi dengan pembicaraan formal ku.


“Berdo’a lah agar pernikahan kalian akan terjadi,karena yang aku ingat,dulu Nicko pernah meninggalkan calon pengantin wanita nya ,dan bisa saja hal itu terjadi kepadamu kan ?” aku sudah muak,aku memang harus memberikan dia pelajaran agar dia diam.


Kirana terlihat kesal, wajah nya mulai memerah dia sudah begitu naik pitam mendengar omongan ku yang malah membuat dia takut dan sekaligus marah.


“Kurang ajar kamu ya” Kirana mengangkat satu tangan nya begitu tinggi dan dia hampir menamparku jika saja aku tak menangkap tangan nya.

__ADS_1


__ADS_2