
Nicko melirik ku dengan terkejut ketika mendengar nama yang telah aku ucapkan walaupun perlahan dia bisa mendengarnya. Lalu Nicko kembali melihat pria yang terus aku tatap itu dengan ikut tak percaya.
Mataku terus terbelalak melihat Ben berjalan ke arah ku di ikuti dengan 2 orang lain nya yang berjas rapih berjalan di belakang nya. Ben berjalan ke arah ku dengan mimik muka yang sangat berbeda dan postur tubuh yang lebih gagah. Dia begitu terlihat berbeda sekarang, dia lebih berwibawa, lebih tampan, dan lebih berbadan besar berotot. Dia menatap ku dengan raut wajah yang begitu bahagia.
Devina pun ikut bingung melihat ku yang terus terpatung melihat Ben seperti telah melihat hantu. Namun memang benar, aku memang telah melihat hantu di hadapanku. Aku melihat orang yang aku kira telah mati kini dia berjalan ke arah ku.
Setelah sadar aku segera membereskan barang-barang ku yang terjatuh di lantai,Devina membantuku dengan bingung namun dia tidak berbicara apapun saat itu. Lalu kami kembali berdiri. Aku menundukan kepala ku menyembunyikan rasa resah ku melihat Benbenar-benar ada di hadapan ku, dan kali ini bukan di dalam mimpi.
“Selamat pagi Pak Ferdy” sapa Ben kepada Nicko setelah dia sampai di hadapan kami.
Dia mengulurkan tangan kepada NIcko untuk meminta jabat tangan, dan Nicko menyambut tangan Ben dengan bingung.
“Pagi” balas Nicko dengan dingin.
Tentu Nicko dan Ben sudah pasti saling kenal,karena dulu semasa kuliah mereka pernah beberapa kali bertemu di kampus saat Nicko menjemputku pulang. Namun basa basi ini hanyalah sebagai sifat professional mereka saja.
“Maaf Pak Ferdy saya sepagi ini datang ke kantor anda, karena ada hal penting yang harus saya bicarakan mengenai kerja sama kita” ujar Ben.
Nicko melirik ke arah ku. Aku masih saja menatap Ben dengan tak percaya. Karena orang yang telah aku anggap mati selama empat tahun lama nya, kini berdiri di hadapan ku.
“Maaf Pak,saya ada meeting sekarang, saya sudah di tunggu, mungkin kita akan jadwalkan kembali pertemuan kita. Atau kita bisa bertemu sesuai jadwal yang telah di tentukan” ucap Nicko karena memang kehadiran Nicko sudah sangat di tunggu oleh karyawan nya di ruang meeting.
“Oh kalau begitu boleh saya bicarakan semua hal ini dengan sekretaris Pak Ferdy?” Ujar Ben menatap ku sambil tersenyum penuh harap.
Ben tentu tahu, jika hal yang akan di sampaikan nya adalah hal penting, tentu Nicko pasti akan mewakilkan aku untuk mendengar semua persoalan tentang kerja sama kita.
“Fawnia?” Panggil Nicko menyadarkan ku dari kebingungan.
“Maaf saya harus menemani Pak Ferdy untuk meeting. Saya akan panggilkan Bima untuk menemani anda berdiskusi” ucap ku sambil menatap nya dengan sinis walau sebenarnya hatiku masih saja bergejolak menatap Ben ada di hadapanku.
__ADS_1
“Ayo Pak. Kita sudah di tunggu” ujar ku meminta Nicko untuk segera melangkah pergi.
Nicko hanya mengikuti ku,dia menganggukan dengan semu kepada Ben,dan Ben hanya bisa membalas anggukan itu dengan pasrah.
Ben terlihat kecewa kepadaku. Dia ingin sekali menahan ku, namun dia tidak bisa karena ini adalah lingkup kerja. Jadi dia hanya bisa menatap ku menghilang dari dalam lift. Setelah pintu lift di tutup,nafas ku seperti sesak,,aku seperti orang kebingungan melihat Ben tiba-tiba saja muncul.
“Faw” panggil Nicko dia menatap ku dengan khawatir.
Aku menatap Nicko dengan takut.
“Itu Ben, Nicko, itu Ben!” ucap ku berusaha meyakinkan Nicko jika itu benar Ben yang selama ini kita tahu sudah meninggal.
“Tapi kenapa..?? Bukankah kamu bilang dia…?” Ujar Nicko seperti sulit untuk merangkai kata-kata,namun aku cukup paham apa maksud nya.
“Iya itu memang, itu informasi yang aku tahu selama ini. Dan orang tua Ben pun percaya dengan kematian itu, kamu lihat sendiri kan bagaimana orang tua Ben menyalahkan ku dengan kematian Ben?” Ucap ku meyakinkan nya dengan mengingatkan kepada Nicko tentang kejadian di kantor orang tua Ben.
“Lalu kenapa dia tiba-tiba saja hidup kembali?”
“Aku juga masih tidak percaya dia masih hidup” ucap ku dengan panik.
Nicko menggenggam tangan ku dengan erat.
“It’s Okay. Kita akan cari tahu apa tujuan nya”
Aku hanya bisa diam melihat Nicko menenangkan ku. Karena sebenarnya aku masih amat sangat terlalu khawatir melihat Ben masih hidup, aku takut jika akan menjadi suatu masalah baru untuk ku dan juga Nicko. Setelah semuanya selesai, setelah akhirnya aku dan Nicko akan hidup bahagia, kenapa harus ada masalah baru lagi yang muncul di kehidupan ku? Apakah penderitaan yang aku alami masih belum selesai?
Selama meeting berlangsung, Aku dan Nicko tampak tidak fokus dengan pembahasan meeting kita. Nicko berusaha untuk fokus melihat persentasi karyawan nya yang sedang di depan, sedangkan aku sama sekali tidak bisa berfokus dengan meeting ini. Aku masih terlihat begitu takut dan bingung. Nicko ikut khawatir melihat ku.
“Berhenti Milen” pinta Nicko kepada Milen sang departemen keuangan nya.
__ADS_1
“Iya Pak” jawab Milen lalu menghentikan persentasinya.
“Maaf untuk hari ini saya akan serahkan meeting ini kepada Zayden dan Bima. Semua hasil meeting bisa kalian serahkan kepada mereka, dan jika ada diskusi kalian bisa diskusikan kepada mereka untuk sementara”
Semua orang yang ada di dalam sana saling melempar pandang. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bersuara untuk sekedar bertanya ‘ada apa?’.
Aku pun hanya bisa diam, karena aku tahu jika Nicko begitu sangat mengkhawatirkan ku, dan dia pun ikut terganggu dengan memikirkan Ben,mantan suami ku.
“Ayo” ajak Nicko kepada ku.
Aku menganggukan kepala kepada Nicko, dan berusaha menyembunyikan ekspresi wajah ku yang sedang bingung di hadapan semua orang. Aku membereskan laptop dan barang bawaan meeting ku ke dalam tas lalu ikut keluar dengan Nicko.
Nicko berjalan begitu cepat ke luar ruangan dan dia segera pergi ke lift untuk membawa kami kembali ke ruangan kami.
Aku bersandar di dinding lift dengan terus menatap kosong di depanku. Nicko mendekati ku dia memegang lengan ku.
“Faw. Kamu perlu bicara dengan dia” ujar Nicko dengan berat hati.
Aku yakin Nicko juga sebenarnya tidak ingin melihat ku berbicara dengan Ben, orang yang telah menolong ku saat dulu dan mau menikahi ku. Namun dia harus membiarkan itu, dan melawan ego nya, agar semua permasalahan ku dan Ben bisa tuntas. Belum lagi kami akan segera melangsungkan pernikahan, aku tidak mau Ben membawa masalah untuk rumah tangga ku yang belum juga ku bangun.
“Ya. Aku tahu” jawab ku dengan raut wajah yang linglung.
“Kalian harus segera membahas tentang Kara, tentang ku, dan juga kalian”
Aku menghela nafas ku mendengar ucapan Nicko.
“Aku hanya perlu satu pembahasan dengan nya” timpal ku tanpa menoleh Nicko dan membayangkan Ben.
“Membahas tentang penderitaan ku selama ini yang telah di buat oleh nya” lanjut ku dengan sinis.
__ADS_1
Aku begitu marah kepada Ben, karena dia sudah banyak menaruh begitu penderitaan selama dia tidak ada. Dia telah membuat ku terpuruk karena kematian nya, dan kini dia hadir lagi dalam kebidupan ku dengan berlagak seolah tidak terjadi apapun. Aku sangat membencinya.