Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Teman baru Kara


__ADS_3

Pulang kerja aku segera menghampiri Kara di taman bermain bersama keluarga Keysa. Mereka membawa Keysa ke taman bermain ketika Gilbran sepupu Keysa meminta untuk bermain disana,dan Kara pun di bawa serta dengan mereka.


Ketika sampai di taman, aku segera turun dari mobil dan menghampiri Kara yang begitu asik bermain di ayunan.


“Karaaa” teriak ku membuat keluarga Keysa pun ikut menatap ku.


“Mamaa” Kara berlari ke arah ku dan memeluk kaki ku.


“Hay sayang” sapa ku berjongkok memeluk tubuh mungil nya.


“Bagaimana tadi sekolah nya?” Tanya ku.


“Seru Ma. Tadi Kara banyak temen di sekolah baru” jawab nya dengan raut wajah yang begitu bahagia.


“Oh iya? Iya kata Guru Kara,besok Kara harus bawa buku gambar dan pensil warna Ma”


“Mmmm baiklah,akan Mama siapkan”


Aku dan Kara berdiri lalu menghampiri keluarga Keysa yang duduk di samping taman.


“Hallo Ka Jenny” sapa ku kepada Bibi dari Keysa yang begitu sangat ramah. Aku mencium kedua pipi nya.


“Hay Faw. Sudah selesai kerja nya?” Tanya Ka Jenny.


“Sudah Ka, aku tidak enak menitipkan Kara lama-lama dengan kalian” jawab ku menatap suami Ka jenny yang tidak kalah ramah nya.


“Kamu ini,kita kan bukan orang lain Faw. Lagian Gilbran juga kayaknya seneng tuh ada temen” ujar Bibi Jenny ini dengan begitu tulus dan baik nya.


“Ya sudah Kak aku pulang dulu ya. Sekali lagi aku berterima kasih karena sudah mau di repotkan”


“It’s Ok Faw. Don’t worry about it”


“Baiklah. Kita pulang dulu ya Ka” pamit ku.


“Ayo salam dulu sama aunty Jen dan Uncle Zoe” pinta ku kepada Kara agar terbiasa menghormati yang lebih tua.


Lalu Kara dengan manis nya mencium punggung tangan Kak Jenny dan suami nya.


“Bye Kak”


“Iya. Hati-hati ya Faw. Bye bye Kara”


Lalu Gilbran pun melambaikan tangan kepada Kara di tempat dia bermain, dan Kara pun membalas lambaian tangan nya.


Aku mengambilkan tas gendong Kara dan menyimpan nya di satu tangan ku, dan tangan lain nya menggenggam tangan Kara dengan erat nya. Sepanjang berjalan Kara terus menceritakan kisah dia bersekolah tadi pagi,dan dia berusaha mengingat nama teman-teman nya itu begitu antusias nya. Aku menanggapi nya dengan begitu serius seolah aku mengerti dengan cerita nya bersama teman-teman nya itu.


Lalu saat kita berdua sampai di parkiran,Kara melihat seseorang jauh di samping nya dan dia berteriak.


“Om Tampan”


lalu dia berlari menghampiri laki-laki yang tengah berdiri dari jauh itu dengan kemeja putih dan celana katun nya.


Nicko.

__ADS_1


Aku terkejut melihat kehadiran nya disini,dan terpatung sejenak lalu mengejar Kara. Nicko berjongkok dan melentangkan kedua tangan nya untuk menyambut Kara memeluk nya, dan benar saja Kara langsung memeluk nya begitu erat. Hati ku begitu terenyuh melihat Kara tiba-tiba bisa sedekat itu dengan Nicko tanpa dia tahu bahwa yang telah di peluk nya adalah Papa nya yang selama ini selalu dia pertanyakan.


“Om kok disini?” Tanya nya kepada Nicko dengan tangan yang masih melingkar di leher nya.


“Iya. Om tadi liat Kara lagi main di taman,terus Om bawakan sesuatu untuk Kara” jawab Nicko dengan nada nya yang begitu lucu.


“Kejutan ?” Tanya nya. Lalu Nicko mengangguk dengan pelan dengan tersenyum.


Lalu Kara pun terlihat senang mendengar nya.


“Ini untuk Kara” Nicko membawakan beberapa permen Caramel di dalam sebuah toples di dalam Papper Bag kecil berwarna coklat.


“Permen Caramel!” Seru Kara begitu bahagia nya.


“Iya. Kara suka?” Tanya nya.


Tentu Kara suka. Dia memiliki watak seperti mu, dan dia memiliki makanan favorit sepertimu. Pecinta caramel.


“Suka sekali Om. Mama selalu membelikan Kara Caramel kalau pulang. Dirumah Kara pun banyak sekali permen Caramel” jawab Kara dengan polos nya.


“Kalau begitu ambil. Ini untuk Kara” ujar Nicko,tetapi Kara tak langsung mengambil nya. Kara menatap ku dengan memelas dan takut.


“Ma. Boleh Kara ambil permen nya?” Tanya Kara begitu memelas.


“Memang kenapa ? Mama selalu marah kalau Kara makan permen?” Tanya Nicko.


Kara menggelengkan kepala nya.


Aku begitu sedih mendengar jawaban Kara. Andai saja Kara tahu bahwa Nicko bukan lah orang lain.


“Boleh sayang, asal makannya…”


“Harus dua perhari karena nanti gigi Kara bolong” potong Kara dengan polos nya membuat ku tersenyum mendengar nya.


Lalu dengan bahagia Kara mengambil alih papper bag yang di pegang oleh Nicko.


“Bilang apa?” Tanya ku mengingatkan sesuatu kepada Kara.


“Terimakasih Om” ucap nya dengan manis.


“Sama-sama” jawab Nicko sambil mengusap kepala Kara begitu lembut.


Nicko berdiri setelah dia memberikan permen caramel kepada Kara.


“Sedang apa kamu disini?” Tanya ku dengan ketus nya.


“Aku mengikuti mu” jawab nya dengan jujur.


“Untuk apa?” Tanyaku.


“Untuk tahu rumah mu” jawab nya membuat ku merenyitkan dahi.


“Bukan kah di file lamaran ku ada alamat rumah ku?”

__ADS_1


“Bisa saja kamu memberikan alamat yang tidak benar”


ya asal nya memang aku ingin memberikan alamat yang salah untuk lamaran ku kepada Nicko ketika aku tahu jika perusahaan tempat ku bekerja adalah milik nya. Tapi semuanya terlambat,aku tidak bisa mengganti alamat ku di personal file yang sudah tercatat di kantor.


“lalu dimana Bima?” Tanya ku melihat ke belakang nya mencari sosok Bima.


“Kenapa menanyakan dia?” Sinis nya kepada ku.


Aku hanya takut Bima curiga kepada Nicko yang telah mengikuti ku,dan dia membuat gosip di kantor yang hanya akan membuat masalah baru untuk ku.


“Aku mau pulang, jika sudah tidak ada yang mau di sampaikan aku akan pergi” ucap ku dengan dingin.


“Aku mau ke rumah mu” ujar Nicko dengan dingin nya kembali membuatku merenyitkan dahi dengan bingung.


“Untuk apa?”


“Agar aku tahu dimana kamu tinggal”


Baru saja aku mau memarahinya Kara menyela ucapanku.


“Om mau main di rumah Kara?” Tanya Kara kepada Nicko.


Nicko menundukan kepala nya menatap Kara sambil tersenyum


“Boleh Om main kerumah Kara?” Tanya Nicko kepada Kara.


“Tidak. Aku tidak akan mengizinkan nya” jawab ku sebelum Kara mendahului ku.


“Kenapa?”


“Karena aku tidak mau” jawab ku dengan tegas.


“Aku akan tetap mengikuti mu” lalu dia berlalu begitu saja menuju mobil nya.


Aku berdecak kesal dengan sikap keras kepalanya yang semakin menjadi. Aku heran, kenapa semakin lama tidak bertemu dia semakin keras kepala seperti ini.


Dan dia benar-benar mengikuti ku ke apartemen. Sudahlah, aku akan membiarkan nya melakukan apa yang dia inginkan. Tidak ada salah nya juga dia tahu apartemen ku dimana, memangnya mau apa dia jika sudah tahu apartemen ku ?


Dan sesampainya di apartemen, Nicko masuk ke dalam rumah membuka sepatu nya dan duduk di sofa dengan tanpa permisi.


“Kara. Kita ganti pakaian dulu” pinta ku dengan tersenyum manis kepadanya.


Aku begitu tidak nyaman dengan kehadiran Nicko di apartemen ku sebenarnya, namun aku harus terus berpura-pura ramah kepada Nicko di hadapan Kara.


Aku memakai kan Kara baju kaos berwarna ungu muda, dan celana pendek yang berwarna senada. Sedangkan aku memakai baju rajut berlengan panjang berwarna cream dan celana sepaha ku untuk bersantai dirumah. Lalu kami berdua keluar dari kamar dan menemui Nicko di ruang tamu.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?” Tanya ku masih saja ketus.


“Aku mau mengajak Kara bermain” jawab Nicko melirik Kara dengan tersenyum.


“Asiikk. Kara punya teman main” dia pun berlari ke kamar nya dan membawa beberapa mainan nya ke ruang tamu.


Kara terlihat begitu bahagia sekali dengan kehadiran Nicko. Namun kebahagiaan yang di dapatkan Kara malah membuat ku takut. Aku takut ikatan batin yang di rasakan mereka akan kuat,dan akhirnya terbongkar dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2