
Aku sedang berada di suatu padang rumput yang begitu besar, aku melirik kesana kemari tidak satu orang pun yang terlihat. Aku terus berjalan mencari seseorang yang bisa ku mintai tolong namun sepertinya tidak ada orang satu pun di sini.
“Hallo, ada yang bisa membantuku?” Teriak ku dengan mulai takut.
“Hallo!!” Teriak ku dengan mulai menangis sambil terus berjalanbegitu tertatih.
“Fawnia” panggil suara seorang pria entah dari mana.
Aku melirik sana sini mencari sumber suara itu.
“Iya aku disini” jawab ku kepada orang yang entah dimana.
“Fawnia kamu dimana?” Teriak suara laki-laki itu yang belum bisa aku tebak suara siapa itu, namun aku berharap itu Nicko.
“Fawnia!” Teriak suara itu lagi.
Aku terus memutari padang rumput itu mencari sumber suara itu berasal.
“Iya. A..aku disini” teriak ku membalas nya.
Lalu dari jauh terlihat seorang pria yang berjalan dengan cepat menghampiri ku.
Wajah nya belum terlihat begitu jelas karna cahay matahari yang membuat silau wajah nya.
Aku tersenyum melihat pria itu menghampiriku,walaupun aku belum tahu siapa dia. Namun aku tetap meyakini itu Nicko dan aku berjalan mendekati pria itu.
Namun begitu terkejut nya aku ketika aku melihat jelas wajah pria yang sedang berjalan menghampiriku. Langkah ku terhenti.
“Ben!” Panggil ku dengan pelan.
Ya dia Ben, dia berjalan dengan cepat dan panik menghampiri ku.
“Fawnia” panggil nya.
“Ben” lalu kami berpelukan dengan penuh kesedihan.
Lalu aku melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Ben dengan seksama memastikan jika itu benar adalah dia.
“Ben, kamu kemana saja? Aku khawatir menunggu mu”
“Aku baik-baik saja Fawnia, aku sudah berada di suatu tempat”
Aku terus menatap nya dengan sedih dan bahagia.
“Bagaimana Karamel anak kita? Apa anak kita sudah besar?” Tanya Ben.
Raut wajah ku berubah bingung, aku lupa jika Kara telah bertemu dengan Ayah kandung nya.
“Pasti wajah nya cantik sepertimu kan?”
Aku begitu gelagapan bingung bagaimana menjelaskan nya kepada Ben agar dia tidak terlihat kecewa.
“Kara... Kara sudah tinggal dengan Ayah kandung nya” ucap ku dengan hati-hati.
Ben terkejut mendengar apa yang aku katakan.
“Apa? Kara sudah bersama Nicko?” Tanya nya terlihat sekali dia tidak bisa menerima nya.
“Ben, Nicko adalah Ayah kandung nya”
“Tapi kamu sudah berjanji untuk menjadikan Kara anak ku”
“Tapi kamu pergi Ben, Kara membutuhkan sosok seorang Ayah”
Ben menggelengkan kepala nya sekuat tenaga.
“Tidak.. kamu melanggar janji mu Fawnia”
“Ben dengarkan, kamu menghilang begitu saja setelah Kara lahir aku tidak bisa terus menerus membohongi Kara, dan membuat Kara hidup tanpa Ayah”
“Tidak,kamu sudah berjanji menjadikan Karamel anak ku” Ben benar-benar terlihat begitu risau, dia tidak menerima keputusan ku.
“Ben tolong mengertilah, ini tidak mudah untuk ku”
Aku terus berusaha membuat Ben untuk tenang.
“Tidak.. tidak.. aku harus mencari Karamel!” Ujar Ben dengan kesal dan panik.
Dia melepaskan genggaman ku dan berlari entah kemana.
“Ben… ben!” Panggil ku terus berusaha memanggil Ben dan mengejar nya sebelum dia mendapatkan Kara.
“Ben!!!” Teriak ku dengan takut.
Lalu aku terbangun. Jantung ku berdegup begitu kencang, aku langsung duduk dan memegang kepala ku. Ternyata semua itu hanya mimpi, namun semua itu tampak seperti nyata. Aku melirik jam sudah menunjukan pukul 13.00. Aku mengatur nafasku dan memejam kan mata ku agar bias merasa tenang.
Aku mencuci muka sebelum aku turun ke lantai bawah untuk menemui semua nya. Aku mencari Kara dan aku mendapati nya ada di taman belakang, sedang duduk di tengah kebun bunga bersama Opa nya. Opa terlihat sedang menunjukan beberapa bunga di sekeliling nya kepada Kara, dan Kara terlihat begitu tenang sekali ada bersama Opa nya.
Aku masih teringat dengan mimpi buruk ku. Tiba-tiba saja aku takut Ben merenggut kebahagian yang sudah aku miliki sekarang,namun aku segera menangkis semua omong kosong yang ada di fikiran ku. Mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Lalu aku berjalan dengan tersenyum menghampiri Kara dan Papa.
“Aduuhhh, seru sekali sepertinya” ucap ku membuat mereka berdua kompak melihat kedatangan ku.
Aku duduk di samping Kara sambil memasang senyuman manis ku kepadanya.
__ADS_1
“Iya Ma, Opa sedang bercerita tentang Mama dan Papa waktu kecil di taman ini” ujar Kara dengan manis nya.
“O ya?” Tanya ku dengan tersenyum sambil menatap Papa.
“Iya Ma, kata Opa, Mama sama Papa waktu kecil senang sekali bermain air di taman,terus baju Papa sama Mama basah”
Aku tertawa mendengar kisah itu, lalu t eringat begitu lucu nya aku dan Nicko saat kecil.
“Iya sayang”
“Ma” panggil Kara.
Aku menatap nya dengan tersenyum.
“Mama kok ga pernah cerita tentang Papa Nicko ke Kara?” Tanya nya dengan polos.
Aku tersentak mendengar pertanyaan nya. Aku menatap Papa dengan bingung.
“Itu karena Mama mau Kara tau dari Opa saja” jawab ku begitu meyakinkan.
“Iya. Mama kan pasti lupa, kalau Opa kan ingatan nya kuat” jawab Papa membantu ku menjawab.
Lalu Kara tertawa.
“Ya sudah, sekarang waktunya Kara berisitirahat ya sayang, Kara harus nurut, biar Kara cepet sembuh” bujuk ku.
Kara menggelengkan kepala nya dengan cemberut.
“Kara masih mau sama Opa” ucap nya sambil memajukan bibirnya begitu menggemaskan cara dia merajuk.
Papa tersenyum mendengar ucapan Kara, dia mengelus rambut Kara.
“Kara sayang. Kara harus istirahat dulu, bener Kata Mama, biar Kara cepat sehat dan kita bisa bermain lagi” ujar Papa.
“Kalau Kara sudah sembuh, kita berenang lagi ya Opa” pinta Kara dengan lucu.
Papa menganggukan kepalanya sambil tersenyum menatap Kara.
“Janji Opa?” Kara kembali mengeluarkan telunjuk nya untuk meng ikrar kan janji mereka.
Papa langsung mengeluarkan telunjuk nya juga dan mengaitkan nya di jari Kara.
“Janji”
Lalu mereka berdua tersenyum bersama.
“Ayo” ajak ku sambil menggendong Kara yang sudah terasa semakin berat ini.
“Ma?”
“Mmm” Aku bergumam untuk menyauti nya.
Aku ikut berbaring di samping Kara.
“Apa Papa Nicko benar Papa Kara?” Tanya Kara yang masih saja penasaran dengan Nicko.
Rasa penasaran Kara begitu kuat, dia pasti bingung dengan kehadiran Nicko yang tiba-tiba saja menjadi Papa nya.
Aku memiringkan badan ku menghadap Kara dan menopang kepala ku dengan tangan ku.
“Iya sayang, Papa Nicko itu adalah Papa Kara”
“Lalu kenapa papa Nicko baru dateng sekarang? Papa Nicko ninggalin Kara?” Tanya nya dengan wajah polos nya.
Aku terenyuh mendengar pertanyaan nya. Aku masih belum bisa menjelaskan hal apapun kepada Kara, karena dia masih terlalu dini.
“Tidak sayang. Papa Nicko tidak pernah meninggalkan Kara atau pun Mama,tapi Papa Nicko hanya sibuk bekerja”
“Benarkah?”
“Iya”
“Kalau begitu sekarang Papa Nicko jangan bekerja, biar Papa Nicko ga ninggalin Kara lagi”
Aku menggeserkan badan ku lebih dekat dengan Kara dan mengelus kepalanya.
“Papa Nicko,tidak akan lagi meninggalkan Kara. Sekarang Papa Nicko akan ada disini bersama Kara, Oma,Opa dan Mama”
Wajah Kara berubah menjadi senang.
“Kita akan tinggal disini Ma?” Tanya Kara terlihat begitu bahagia.
Aku melihat begitu bahagia nya dia bisa tahu akan tinggal disini.
“Iya”
“Bersama Oma dan Opa?”
“Iya. Kara senang?”
“Senang Ma, terimakasih Mama, I Love You”
“I Love you too sayang”
__ADS_1
Lalu kami berpelukan.
Setelah aku menidurkan Kara di tempat tidur, aku langsung turun kembali ke lantai bawah. Aku melihat Mama di dapur di temani dengan asisten rumah tangga nya yang ikut sibuk mencuci piring.
“Hay Ma” sapa ku kepada Mama yang sedang sibuk mengiris daging.
“Oh akhirnya kamu datang. Kara sudah tidur?
“Sudah”
“Bantu Mama untuk menyiapkan makan siang ini sudah terlalu terlambat”
“Apa Mama meminta ku kembali ke rumah ini hanya untuk memebantu Mama masak?” Ledek ku dengan wajah yang begitu malas.
Mama berdecak dan menatap ku dengan kesal.
“Kamu kan tahu, sejak dulu Mama tidak pernah mau di bantu siapapun untuk memasak terkecuali sama kamu”
“Kamu itu udah di didik oleh Mama agar pintar memasak, dan keluarga kita akan menyantap masakan yang kamu buat sendiri dengan perasaan yang senang,pokoknya kalo mau masak perasaan kita itu harus bagus kalo perasaan kita nya lagi jelek,aduh itu sudah pasti rasa masakan nya akan kacau ”
Aku tersenyum mendengar petuah nya,sambil bantu mengiris bawang-bawangan.
“Apa kamu tidak mau di sayangi mertua jika membantu masak?” Ledek Mama membuat ku terpatung menatap nya dan mencerna kembali ucapan nya.
Mertua?
“Mamaaa…” panggil ku dengan lesu, karena bisa-bisa nya dia bercanda seperti itu.
“Kenapa? Kamu kan akan menjadi anak sekaligus menantu Mama, seharusnya kamu juga membantu Mama memasak kan untuk suami mu?”
Mama terus saja meledek ku, namun aku terus memasang wajah cemberut ku kepadanya.
“ayo cepat” pinta Mama dengan tangan yang terus sibuk memotong daging.
Aku kembali memotong motong sayuran yang sepertinya sudah di sediakan untuk bagian ku dan kami berdua memasak bersama seperti dulu.
Ketika makanan telah siap, Mama memanggil Nicko dan Papa yang berada di ruang kerja pribadi Papa.
Mereka berdua datang bersama dan langsung duduk di meja makan. Papa duduk di ujung meja, Mama duduk di samping nya, Nicko duduk di sisi lain Papa dan aku di samping Nicko. Kami mulai makan.
“Wah, makanan nya enak sekali, ini pasti Fawnia juga bantu masak kan?” ujar Papa memuji ku.
“Tentu saja, dia harus mulai masak lagi di rumah ini” ucap Mama.
Aku tersenyum kepada mereka.
“Kalau begitu kamu harus segera mencari sekretaris baru untuk menggantikan Fawnia Nicko” ucap Papa membuat ku terkejut menatapnya.
“Apa? Aku di gantikan?” Tanya ku dengan raut wajah tak terima.
Semua diam tak menjawab,dan Nicko pun hanya menatapku seolah dia tidak mau ikut campur dengan keinginan Papa.
“Pa. Izinkan aku bekerja saja ya” pinta ku dengan memelas.
“Kenapa?”
“Ya biar aku ada kerjaan”
“Pekerjaan mu mengurus Kara di rumah” ucap Mama membantu Papa sambil mengalaskan makanan untuk suaminya itu.
“Pa,Ma please, aku masih ingin bekerja, aku masih ingin merasakan sibuk kerja di kantor,setelah sekian lama aku hanya dirumah bersama Kara” pintaku memelas.
Mereka masih diam tak menjawab.
“Nick” aku berusaha meminta tolong kepada Nicko,namun dia hanya mengangkat kedua bahunya seolah dia benar-benar tidak bisa menolongku.
“Ia. Papa izinkan kamu bekerja” ucap Papa akhirnya.
Ekspresi langsung berubah bahagia.
“Tapi kamu pegang kantor Papa yang lain ya? Bekerja sebagai atasan” ucap Papa membuat ku tersenyum.
Aku tidak pernah masalah akan bekerja dimana saja asalkan aku tidak berdiam dirumah,aku tetap harus membantu perusahaan Papa Nicko dan mendiang Papa ku agar bisnis tetap maju dengan ada campur tanganku.
“Tidak!” Ucap Nicko dengan tegas,mebuat semua menatap nya bingung.
“Jika Fawnia mau bekerja, dia hanya boleh bekerja dengan ku, aku tidak mau dia bekerja sendiri mengurus semuanya”
“Kenapa?” Tanya Papa
“Ya karena..” Nicko terlihat bingung menjawab nya.
“Karena Fawnia kan belum tentu bisa lepas tangan sendiri Pa, dia masih perlu mendalami dulu semuanya,dia bisa saja ceroboh”
Aku mengkerutkan kening dengan kesal menatap nya. Karena seenak nya saja dia berbicara seperti itu, padahal di bandingkan dia, aku lebih pintar memanage pekerjaan nya.
Papa menganggukan kepala nya membenarkan ucapan Nicko.
“Baiklah. Kalau begitu, ajari Fawnia sebaik mungkin, jika sudah siap, beri tahu Papa, agar Papa bisa langsung memindahkan Fawnia ke tempat yang lain”
“Oke” jawab Nicko dengan dingin dan kembali makan.
Aku terus menatap nya dengan curiga. Aku yakin bukan hanya itu alasan dia kenapa tidak mengizinkan ku pindah dari kantor nya.
__ADS_1