
Keesokan paginya, Kara di perbolehkan pulang oleh dokter. Nicko menggendong Kara ke dalam mobil. Aku menemani Kara duduk di kursi belakang, dan Nicko duduk sendiri di depan. Kara terus saja bersandar di bahu ku, dan aku terus menjaga kepala Kara agar tidak terbentur. Aku masih takut jika kepala nya terasa sakit lagi.
Ketika di perjalanan ponsel Nicko berdering.
“Tolong lihat siapa yang menelepon?” Pinta Nicko dengan mata terus tertuju ke jalanan.
Aku merogoh tas Nicko yang berada di kursi samping nya. Lalu mencari ponsel yang terus berdering.
“Mama” jawab ku ketika melihat nama Mama yang terpampang di layar ponsel nya.
“Angkat saja, loudspeaker” pinta Nicko.
Aku mengangkat telepon nya.
“Hallo Ma” sapa ku.
“Hallo, Fawnia?”
“Iya Ma, ini aku”
“Kara sudah boleh pulang kan? Kenapa tidak menghubungi Mama?”
“Iya Ma, Maaf. Aku dan Nicko tadi langsung pergi dari rumah sakit karena Kara merengek minta pulang”
“Lalu sekarang kalian dimana?”
“Aku di perjalanan pulang Ma”
“Pulang kesini kan?”
Aku diam sejenak melirik Nicko di kaca spion dalam.
“Ke apartemen aku” jawab ku akhirnya.
“Kenapa ? Kara kan masih sakit sayang,siapa yang akan merawat nya disana?”
“Aku akan minta cuti ke bos ku nanti” ucap ku dengan kembali melirik Nicko yang ada di hadapanku.
Dia melirik ku di kaca spion dalam nya.
“Tidak boleh, Mama dan Papa minta, kamu dan Kara sekarang ke sini!” Pinta Mama dengan menyeramkan.
“Oma!!” Teriak Kara ketika dia baru menyadari jika yang sedang menelpon adalah Oma nya.
“Hallo sayang” sapa Mama dengan bahagia.
Aku mendekatkan handphonenya kepada Kara.
“Oma,memang nya boleh Kara pulang kerumah Oma?”
“Oo ya boleh dong sayang. Justru Mama suruh Mama dan Om Nicko minta Kara untuk pulang ke rumah Oma”
“Bukan Om Nicko Oma, tapi Papa” ujar Kara membenarkan ucapan Oma nya.
__ADS_1
Nicko tampak tersenyum di balik kemudi nya, dan aku pun ikut tersenyum mendengar nya.
“Oh iya. Papa. Bilang sama Papa Kara, kalo Kara mau ke rumah Oma ya” ucap Mama membujuk Kara agar bisa membawa kami ke rumah nya.
“Baik Ma” ucap Nicko menjawab sendiri.
“Tapi pakaian ku dan Kara masih di apartemen Nicko” ucap ku kepada Nicko.
“Itu mudah, aku tinggal meminta orang untuk membereskan barang-barang kalian di apartemen dan memindahkan nya kerumah Mama” ujar Nicko memberi solusi.
“Bagus kalo seperti itu, Mama tunggu di rumah. Bye Kara”
“Bye Oma”
Lalu Mama mematikan ponselnya.
“Kita mau menginap di rumah Oma ya Ma?” Tanya Kara melirik ku.
Baru saja aku akan menjawab Nicko mendahului ku untuk menjawab.
“Kita tidak menginap sayang,tapi kita akan pindah rumah ke rumah Oma” ucap Nicko.
“Pindah? Jadi Kara bisa bobo sama Oma dan Opa?” Tanya Kara begitu bahagianya.
“Iya”
Lalu Kara terlihat bahagia dan bertepuk tangan sendiri.
Aku menatap nya dengan bingung.
“Iya sayang” jawab ku walaupun aku tidak yakin dengan keinginan mereka semua.
Aku tidak bisa menghilangkan raut wajah bahagianya. Mungkin kini saatnya Kara untuk bisa tinggal bersama keluarga nya, dan dia merasakan cinta kasih dari Oma Opa nya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Aku tidak bisa menghalangi Kara jika dia ingin tinggal di rumah lama kami. Ini demi kebahagiaannya,aku akan menuruti segala hal yang terbaik untuknya.
Kita sampai di rumah Mama dan sudah di sambut hangat di depan rumah dengan begitu bahagianya. Papa langsung menghampiri Kara dan menggendong nya.
“Hallo Opa” sapa Kara dengan manis.
“Hallo cucu Opa. Kepala Kara bagaimana? Sudah tidak sakit?”
“Sudah sembuh Opa. Kata dokter besok perban di kepala Kara sudah bisa di lepas,asalkan Kara baik nurut ke Mama dan Papa” ucap Kara.
Aku masih merasa asing dengan panggilan baru Nicko dari mulut Kara. Aku masih tidak menyangka jika Kara akhirnya bisa memanggil Papa kepada Nicko tanpa kesulitan dan rasa canggung.
“Oh baguslah. Ayo kita masuk ke dalam” ajak Papa.
Lalu Mama menghampiri ku dan mencium pipi ku.
“Kamu sepertinya lelah, kamu mandi lalu makan setelah itu beristirahat”
“Tidak perlu Ma. Aku harus menjaga Kara, aku bisa istirahat nanti”
“Fawnia. Kara itu sudah ada Mama dan Papa juga Nicko. Sekarang saatnya bagi kami untuk merawatnya,dan waktunya kamu beristirahat, biarlah kami yang merawat Kara sebaik mungkin, anggap saja ini adalah giliran kami untuk menjaga Kara setelah 5 tahun dia di besarkan sendiri oleh mu”
__ADS_1
Aku tersenyum haru mendengarnya,dan memeluk Mama dengan erat.
“Terimakasih, karena sudah menerima Kara di tengah-tengah kalian”
Mama mengangguk dan tersenyum begitu tulus. Aku langsung membawa barang-barang ku naik ke atas menuju kamar lama ku.
Aku membuka dengan perlahan pintu kamar itu, kali ini perasaan ku sangat berbeda sekali. Setelah beberapa kali aku mengunjungi kamar ini, baru kali ini aku mengingat kembali semua kenangan di rumah ini. Aku menghela nafas begitu lega,karena sebenarnya aku pun merindukan kamar ini dan kenangan nya. Aku menyimpan tas besar ku di atas kasur dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
Setelah mandi aku memakai handuk kimono dan handuk rambut untuk mengeringkan tubuhku, lalu aku keluar kamar mandi dan langsung menuju lemari yang ada di samping pintu kamar mandiku.
Aku merasa kembali ke masa muda ku, aku menjadi seperti anak remaja lagi di rumah ini. Beberapa pakaian ada yang sudah tidak muat di badan ku, dan ada juga yang terlihat tidak cocok lagi aku pakai karena terlalu ke kanak-kanak an. Lalu aku menemukan salah satu pakaian di dalam gantungan di antara yang lain nya, pakaian itu berbahan rajut berwarna mustard dan berlengan panjang, lalu celana nya aku temukan di dalam lipatan pakaian, celana nya berbahan jersey berwarna coklat gelap yang ternyata masih muat di pinggang ku. Aku menatap diriku di depan cermin sambil tersenyum bahagia melihat diriku yang seperti anak kecil lagi di rumah ini, padahal aku sudah menjadi Ibu ber-anak satu.
Lalu aku duduk di meja rias ku dan menatap diriku di depan cermin. Aku masih bingung harus berbuat apa dirumah ini, aku masih terasa aneh saat kembali kesini, walaupun sebenarnya ini adalah ruangan kesayangan ku jika aku ingin menyendiri. Kamar ini adalah saksi hidup ku bagaimana aku di besarkan di rumah ini.
Aku berjalan ke tempat tidurku dan berbaring di atas nya. Aku melihat langit-langit rumahku,dan memirkan dengan apa yang akan aku lakukan sekarang, lalu aku teringat dengan kamar Nicko. Aku langsung duduk dan berfikir untuk berkunjung ke kamarnya.
Aku berdiri dan mengendap-endap melihat sekeliling luar kamar ku. Kamar Nicko tepat ada di depan kamar ku, lalu aku mendekati pintu kamar Nicko dan membuka nya pelan-pelan.
Sepertinya Nicko tidak ada di kamar,karena begitu sepi dan rapih kamar ini dengan tembok putih dan tempat tidur di balut sprei hitam. Nicko memang lebih suka berwarna gelap dan dia membuat tema kamar nya menjadi monocrom seperti ini. Aku kembali melihat sekeliling, tidak ada yang menarik, kamar nya begitu sepi, tidak ada hiasan dinding, tidak ada barang-barang di atas meja nya, hanya ada laptop dan tv, dan tidak ada lagi fhoto ku di dinding kamar nya. Itu membuat ku sangat kesal, kenapa bisa fhoto ku hilang di kamar nya. Dia bilang dia selalu mencintai ku, dia bilang aku tidak pernah melupakan ku, tapi mana ? Fhoto ku saja sudah tidak ada di kamar nya.
“Apa yang kamu cari?” Tanya suara laki-laki yang sedang berdiri di ambang pintu dengan menggunakan kaos panjang berwarna cream, dan celana oversize abu tua.
“Tidak ada” jawab ku dengan ketus lalu keluar melewatinya begitu saja.
Aku terlalu gengsi untuk menanyakan hal itu. Nicko menarik tangan ku ketika aku baru saja melangkah beberapa meter dari kamar nya ,dan dia merampas handphone ku yang berada di saku celana ku. Aku terkejut dengan sikap nya.
“Mau apa?” Tanya ku.
Namun Nicko hanya diam tak menjawab, dia mengotak-atik ponsel ku. Dan menunjukan sesuatu di layar ponselku.
Itu adalah layar cctv yang telah dia unduh di ponsel ku, tapi untuk apa dia menunjukan cctv apartemen ku? Aku kembali memperhatikan ruangan yang ada di dalam layar ponsel ku. Itu bukan apartemen ku.
“Rumah siapa ini?” Tanya ku sambil mengambil alih ponsel ku dan terus meneliti ruangan itu.
“Rumah ku” jawab nya..
Aku terkejut menatap nya.
“Bukan kah kamu pernah bilang, tidak adil jika hanya aku yang bisa memantau mu lewat cctv. Aku sudah mengunduh cctv ku di handphone mu agar kamu bisa mengawasiku, tapi sepertinya itu tidak berguna” ujar Nicko dengan kecewa.
Aku menatap nya dengan kesal sekaligus bingung.
“Kapan aku tahu ada ini di handphone ku ?” Tanya ku dengan ketus.
“Lihat di kamar ku, ada apa saja disana” ujar Nicko dengan dingin,lalu dia pergi meninggalkan ku sendiri di lantai atas.
Aku mengkerutkan kening ku, dan mencoba mengotak-atik palikasi cctv itu,lalu mencari cctv yang terpasang di kamar nya.
“Ini dia” ujar ku ketika menemukan nya.
Aku memperbesar layar di kamar nya, dan barulah terlihat banyak sekali fhoto di dinding tempat tidur nya. Bahkan ada satu boneka besar yang tidak asing untuk ku di letakan di sofa kamar nya. Itu adalah boneka panda persis seperti milik ku. Lalu aku berlari kembali ke kamar ku dan mencari boneka panda itu,dan benar saja ternyata boneka panda besar kesayangan ku tidak ada di antara bonek lain nya, aku tidak menyadari jika boneka itu telah hilang di kamar ku.
Aku tersenyum bahagia. Ternyata Nicko masih benar-benar mencintaiku.
__ADS_1