Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Sama sama tidak menyukai sayuran


__ADS_3

Setelah membuatkan Kara dan Nicko susu caramel. Aku kembali ke dapur untuk membuatkan mereka sarapan pagi.


Menu pagi ini adalah omelet dengan salad sayur yang sehat untuk stamina kita semua.


Aku menyimpan telur di tengah piring flat berwarna putih,lalu menaruh brokoli,wortel,bayam dan timun di sekitarnya,dan menyediakan saus salad di mangkuk kecil terpisah. Biasanya menu sarapan ini sangat sulit untuk di makan Kara,terutama bayam. Dia tidak menyukai sayur yang berbentuk daun,dia selalu berkata jika daun sulit untuk dia kunyah,sehingga dia malas untuk memakan nya,namun demi kesehetan nya sesekali aku harus memaksa dia untuk makan sayuran.


“Here we go!” Seru ku sambil menyimpan kedua piring berisikan sarapan di meja makan.


Kara dan Nicko yang sudah duduk di meja makan terlihat begitu tidak senang dengan sarapan yang aku sediakan. Aku melirik Nicko yang ikut terlihat tidak tertarik dengan sarapan di hadapan nya.


Aku hampir lupa,jika Nicko juga tidak begitu menyukai sayuran rebus. Tidak salah jika anak nya pun tidak menyukai sayuran.


“Ini spinach Ma” ucap Kara berusaha mengingatkan ku tentang hal yang tidak di sukai nya.


“Ya ini bayam” ikut Nicko mengomentari.


“Ya I Know. Dan kalian harus makan ini,ayoo!” Pinta ku memaksa sambil membawa piring sarapan ku dengan menu yang sama lalu duduk di kursi kosong.


Mereka saling melempar pandang dengan sedih. Seolah mereka bisa berbicara lewat tatapan mereka.


“Nicko. Ajari Kara untuk terbiasa makan sayuran, jangan sampai Kara tumbuh besar seperti mu,sulit sekali untuk makan makanan sehat. Ingat! Dia anak mu” pinta ku dengan menatap Nicko tajam dan mempelan kan suara ku ketika aku mengucapkan kalimat terakhir ku.


“Kenapa? Sampai saat ini aku bisa sehat tanpa banyak makan sayuran” jawab nya membela diri.


“Nickoo!!” Panggil ku memperingatinya dengan mata melotot.


“Okee” Nicko pun akhirnya menyerah.


Dia menghela dulu nafasnya lalu mengambil garpu dan sendok yang ada di samping nya.


“Kara,kita makan. Kita harus makan,biar kita sehat dan pintar seperti Mama” ujar Nicko membujuk Kara.


Kara hanya bisa memajukan bibir nya seperti bebek dan menggelengkan kepala nya. Mulutnya terkunci rapat dia tidak mau makan.


Aku menatap Nicko seolah menyalahkan nya dengan sikap jelek Kara yang di turunkan nya.

__ADS_1


“Kara mau kerumah Oma dan Opa?” Tanya Nicko kepada Kara membuatku merenyitkan dahi.


Raut wajah Kara berubah seketika menjadi begitu ceria.


“Mau!” Serunya.


“Kalau begitu kita harus habiskan makan nya,kalau tidak,Mama tidak memperbolehkan kita main kesana” aku semakin terkejut mendengar ocehan Nicko.


“Beneran Ma?” Tanya Kara menatap ku.


Aku bingung menjawab pertanyaan Kara,karena Nicko tidak bicara kepada ku tentang hal ini.


“Bener dong. Makanya kita harus habiskan sarapan kita biar kita bisa bermain disana. Kara mau berenang lagi?” Tanya Nicko terus membujuk Kara, dan sekaligus meracuni Kara untuk mau ke rumah orang tua nya.


“Oke. Terimakasih Ma” ucap Kara begitu senang.


Aku masih saja memasang wajah bingung melihat Kara dan Nicko bergiliran. Namun aku melihat Kara langsung mau untuk makan dengan semangat nya. Aku tidak ingin merubah nafsu makan nya menjadi buruk kembali hanya karena aku menolak ajakan tidak langsung Nicko yang seperti ini.


Nicko melirik ku dengan angkuh,dia merasa bisa menjinakan Kara. Aku menggelengakan kepala ku melihat tingkah nya yang lucu.


Tentu Nicko tidak bisa memakan sayuran yang tidak di sukai nya itu, karena dia akan selalu merasa mual jika mengingat masa lalu yang suram karena makan sayuran hijau. Ia berpura-pura makan sayuran itu untuk mengelabui Kara, dan memberikan sayuran itu kepadaku.


Selesai makan Kara dan aku segera mandi dan berganti pakaian. Aku memakai kan Kara baju berwarna coklat dan leging berwarna hitam. Dan aku,memakai pakaian baju berbahan salur yang lembut berwarna coklat,celana kulot berwarna hitam dan sepatu kets berwarna coklat di senadakan dengan baju ku. Sedangkan Nicko masih memakai pakaian yang dia kenakan tadi malam.


“Kamu sudah menghubungi Papa dan Mama kalau kita akan pulang?” Tanya ku ketika aku menguncir rambut Kara di sofa ruang tamu.


“Belum”


“Kalau begitu kabari mereka dulu, beritahu kalau aku dan Kara mau berkunjung kerumah”


“Itu kan rumah kita, seharusnya kita kesana untuk pulang bukan berkunjung” ujar Nicko dengan kesal.


“Nicko!”


“Sudah ayolah” ajak Nicko sambil berdiri.

__ADS_1


“Kara siap?” Tanya Nicko kepada Kara.


“Siap” Jawab nya sambil meloncat dari pangkuan ku,dan langsung menggandeng tangan Nicko dengan senang.


Aku terkejut melihat Kara yang mengabaikan ku begitu saja.


“Hello” ucap ku yang begitu heran melihat Kara yang berjalan bergandengan dengan Nicko dan tidak mengacuhkan ku.


Dia malah memilih menggandeng tangan Nicko di bandingkan aku. Padahal aku adalah orang yang selama empat tahun ini merawat nya dan selalu menemani nya setiap hari,tapi dia lebih cepat dekat dengan Nicko yang hanya baru bertemu dia beberapa bulan ini. Aku benar-benar heran,mereka seperti memiliki ikatan batin yang begitu kuat.


Kami bertiga segera pergi ke rumah Mama dan Papa menggunakan mobil Nicko. Kara duduk di kursi belakang dengan memainkan gadget belajar nya,dan aku duduk di samping Nicko yang sedang serius menyetir.


“Oh iya” ucap ku teringat sesuatu.


“Besok meeting sama Pak Fatih yang di PT.Purwakencana itu di geser jadi siang ya, dan aku baru terima e-mail juga dari SDM kamu untuk meeting bulanan pengeluaran kantor di adakan tanggal 2. Oh kan hampir lupa lagi…” ucap ku yang mulai cerewet dengan membahas pekerjaan ku.


“Fawnia” panggil Nicko memotong pembicaraan ku.


Aku pun berhenti berbicara dan menatapnya.


“Bisakah kita tidak membicarakan pekerjaan dulu?” Pinta Nicko dengan tatapan terus fokus ke jalanan.


“Aku sudah lelah memikirkan tentang pekerjaan ku selama ini, dan ketika di hari libur,bisakah kita tidak membicarakan semua hal menyebalkan itu?”


Aku diam merasa apa yang di katakan Nicko benar. Aku menganggukan kepala ku dengan perlahan.


“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya ku menatap Nicko serius.


“Asalkan bukan tentang pekerjaan aku akan jawab”


“Kenapa bisa akhirnya kamu mau menjabat sebagai Dirut di perusahaan besar Papa?”


“Padahal aku tahu perisi kamu sangat tidak ingin bekerja di bawah naungan Papa mu sendiri kan ?”


Nicko tampak diam dulu sejenak dengan terus serius menatap lurus,dengan setir di tangan nya.

__ADS_1


“Karena aku tahu bisnis ini adalah bisnis yang di bangun oleh Papa mu juga. Aku tidak ingin mengecewakan dia yang mungkin sedang melihat ku selama ini. Dan akhirnya aku tidak merasa menyesal sempat terpaksa menerima jabatan ini”


Aku begitu terenyuh mendengar alasan Nicko . Ternyata dia masih memikirkan Papa ku. Dan kini aku percaya kepada takdir. Takdir yang memaksa Nicko untuk bekerja di perusahaan ini,dan takdir ku juga untuk menjadi sekretaris Nicko.


__ADS_2