
Ke esokan hari nya di tempat kerja.
Aku baru saja keluar dari ruang SDM untuk memberikan data perusahaan. Dan seperti nya hari ini begitu melelahkan, entah karena pekerjaan nya, atau karena terlalu banyak fikiran di kepala ku.
Aku sedang tidak bersemangat bekerja. Terlihat sekali aku begitu lemas dan berantakan. Namun,aku harus tetap menyelesaikan pekerjaan ku seperti biasanya.
“Fawnia” seseorang memanggil ku dari lorong sebelah kiri.
Itu Bima, dia memakai kemeja hitam dan jas berwarna biru. Dia berlari ke arahku dengan tergesa-gesa.
“Hay Bim” sapa ku dengan manis.
Lalu Bima ikut berjalan di samping ku.
“Bukan nya kamu sedang meeting siang ini?” Tanya ku masih dengan tidak semangat.
Bima memasukan tangan ke saku celana nya.
“Iya. Meeting nya cepat selesai” jawab Bima.
Aku terus saja memeluk berkas pekerjaan ku di dada. Bima menatap tangan ku lalu dia tersenyum.
“Seperti nya ada yang baru saja bertunangan” sindir Bima.
Aku mengerutkan kening ku mendengar ucapan Bima, lalu aku melirik nya.
“Aku selalu memperhatikan mu, aku tidak pernah melihat cincin melingkar di jari mu seperti sekarang” sindir nya membuat ku berhenti melangkah dan menyadari apa yang di ucapkan Bima.
Aku langsung melihat jari ku dan mengepalkan tangan ku berusaha menyembunyikan nya walaupun terlambat.
“Oh ini. Iya..” aku terbata bata untuk menjawab.
Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, karena pernikahan ku dengan Nicko seperti nya belum beredar luas di kantor.
“Seperti nya kamu sudah mendapatkan pasangan untuk menghadiri acara pernikahan Pak Ferdy” ujar Bima semakin membuat ku bingung.
“Apa?” Tanya ku begitu tidak paham.
“Pak Ferdy akan menikah. Kamu belum mendengar itu?” Tanya Bima.
Tentu saja aku tahu tentang pernikahan Nicko,karena dengan aku lah dia akan menikah.
Aku mengerjapkan mata ku dan melirik sekelilingku untuk menghilangkan rasa cemas ku.
“Bim. Aku harus segera ke ruangan ku” ucap ku menghindari percakapan yang hanya akan membuatku pusing ini.
Aku masih bingung bagaimana aku akan menyebarkan berita ini di kantor, bahkan kepada Bima pun aku masih saja canggung untuk memberi tahu nya.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam ruangan ku dan menyimpan berkas di meja dengan kasar. Aku duduk di kursi ku dengan lemas, aku mengusap wajah ku dan mencoba menenangkan diriku. Aku harus bisa fokus agar bisa cepat pulang, aku tidak ingin berlama lama di tempat kerja yang hanya menambah kepenatan ku.
Seseorang masuk ke dalam ruangan ku, dan ketika aku melihat siapa yang masuk ke ruangan ku, aku merasa penat ku tiba-tiba bertambah semakin buruk dan begitu malas sekali aku menghadapi nya.
Kirana. Dengan memakai dress sepahanya dan berlengan panjang,rambut nya terlihat di keriting gantung nan indah, dia masuk ke dalam ruangan ku dengan wajah yang begitu kesal dan tatapan yang begitu tajam kepadaku. Dengan malas aku melayani nya dengan profesional.
“Ada yang bisa di bantu Mbak Kirana?” Tanya ku dengan ramah dan tersenyum manis.
“Mana Nicko!” Tanya nya dengan sinis.
“Pak Ferdy sedang ada tamu di ruang meeting, dia sedang tidak bisa di ganggu”
“Bilang sama dia, kalau aku mau bicara! Sekarang !” Ucap nya dengan penuh tekanan.
Gigi nya pun saling beradu ketika berbicara, dia terlihat begitu kesal sekali, dia pasti masih mau membahas tentang pernikahan nya yang telah gagal. Dan aku pun mau Nicko segera membereskan masalah ini, agar satu persatu masalah ku hilang.
“Baik Mbak. Di tunggu , saya coba telepon asisten nya” ujar ku.
Kirana tak lagi bicara, dia hanya mencoba untuk sabar dan juga membuang wajah nya dariku. Aku segera menghubungi Bima dengan telepon kantor di atas meja ku.
“Hallo Bim”
“Iya Faw”
“Bim apa meeting Pak Ferdy sudah selesai?”
“Tolong sampaikan ke Pak Ferdy ada Mbak Kirana mau bertemu dengan nya”
“Baik, aku sampaikan”
“Terimakasih Bim”
“Sama-sama Faw”
Aku menutup gagang telepon nya dan kembali menatap Kirana.
“Sudah saya sampaikan ke asisten nya, mohon di tunggu sebentar” ujar ku dengan manis kepadanya.
Kirana menatap ku dengan tajam. Aku tahu dia masih tidak menyukai ku, namun aku pun tahu tidak ada yang bisa di perbuat nya kepadaku.
Nicko akhirnya datang, dan dia masuk ke ruangan ku. Kirana yang melihat kedatangan Nicko langsung berdiri dan menghampiri Nicko. Aku hanya bisa melirik mereka dengan sembunyi sembunyi, berpura-pura fokus ke komputer yang ada di hadapan ku.
“Ada apa lagi?” Tanya Nicko yang sudah terdengar lelah.
“Apa maksud kamu Nicko! Pernikahan kita telah gagal, sementara aku mendapatkan berita jika kamu akan segera menikah!” Teriak Kirana dengan emosi.
Dia terlihat begitu marah, mata nya pun terlihat basah, dia memelotoi Nicko dengan tatapan penuh kekecewaan.
__ADS_1
Aku menyembunyikan tangan ku ke belakang punggung,agar Kirana tidak melihat cincin yang di sematkan Nicko di jariku.
“Lalu kenapa? Apa urusan mu?” Tanya Nicko dengan nada tidak suka.
“Kenapa?” Tanya Kirana begitu dramatis.
Aku terus saja mendengarkan perdebatan mereka yang begitu jelas terdengar di hadapanku.
“Kenapa kamu bilang? Kamu sudah menyakiti aku Nicko, kamu juga sudah membuat orang tua aku tidak menyetujui hubungan kita dengan cerita omong kosong itu!”
Aku mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika keluarga Kirana datang kerumah dan keluarga Kirana mendapatkan cerita tentang rahasia Nicko.
“Itu bukan omong kosong. Semua yang di katakan keluarga ku adalah benar, dan aku tidak peduli orang tua mu akan menerima itu atau tidak”
Kirana menggelengkan kepala nya, dia tidak menerima pernyataan Nicko.
Dia mulai emosional, dia mulai menangis namun Nicko hanya menatap nya dengan dingin. Kirana mencengkram jas Nicko dengan kedua tangan nya.
“Bisa-bisa nya kamu mempermainkan aku Nicko. Bisa-bisa nya kamu berbuat sejahat ini!” ucap Kirana dengan berteriak dan menggoyang goyang kan tubuh Nicko.
Dia menatap Nicko begitu tajam, aku begitu merasakan bagaimana kecewanya Kirana kepada Nicko.
Aku memijat kening ku, karena begitu lelah melihat drama mereka berlangsung begitu menyedihkan di hadapan ku. Aku bingung kenapa Nicko tidak menyeret Kirana masuk ke ruangan nya, dia malah berdebat hadapan ku membuat aku pusing dan telinga ku sakit.
“Sejak awal aku sudah pernah bilang, aku tidak pernah memiliki perasaan apapun kepadamu kan? Siapa yang memaksa untuk bertunangan ? Kamu. Kamu juga bilang, kamu akan bertahan sampai kamu bisa membuat aku jatuh cinta denganmu, tapi apa hasilnya? Aku tetap tidak bisa memiliki perasaan apapun terhadap kamu. Kamu harus menerima itu, bahkan setelah orang tua mu tahu dengan penyakit yang aku derita, seperti nya mereka begitu keberatan menerima aku sebagai keluarganya”
Kirana memegang pipi Nicko dengan menangis begitu sedih.
“Nicko. Jika restu orang tua ku yang kamu fikirkan, aku bisa atasi itu Nick. Tolong, jangan sakiti aku, menikah dengan aku Nick, aku begitu menyayangimu”
“Sudah aku katakan, aku tidak bisa mencintai siapapun lagi, aku hanya telah mencintai satu wanita saja, dan sekarang aku akan menikahi nya”
Kirana menatap Nicko dengan terkejut.
“Kamu akan menikahi wanita yang selama ini kamu cintai?” Tanya Kirana tak percaya.
“Ya. Wanita yang sejak lama sekali aku cintai”
Kirana menyelidik wajah Nicko dengan mencoba mencari tahu siapa orang yang di maksud nya. Aku hanya bisa diam tak bergerak dan berusaha untuk bersikap biasa saja.
“Jangan bilang jika wanita itu adalah wanita yang ada di masa lalu mu” ucap Kirana sambil melirik ku.
“Dia bukan masa lalu ku, dia adalah masa depan ku” jawab Nicko sambil terus menatap dingin Kirana.
Kirana semakin yakin jika wanita yang di maksud Nicko adalah aku. Kirana menatap ku dengan emosi, lalu aku ikut menatap nya dengan binging. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat, dan sebenarnya aku tidak ingin ikut campur ke dalam perdebatan nya ini, tetapi aku memang adalah biang nya dari masalah mereka.
Kirana dengan cepat menghampiri ku dan Nicko tidak menyadari apa yang akan di lakukan Kirana.
__ADS_1
Plakkkk!!!