
Setelah semua sisa pekerjaan ku selesaikan dan jadwal-jadwal Nicko sudah ku salin untuk pengganti ku nanti,aku langsung mengangkat box kecil ku keluar ruangan untuk benar-benar pergi dari kantor itu.
Ketika aku keluar ruangan terlihat beberapa karyawan yang menatap ku dengan terkejut, dan tidak sedikit dari mereka ada yang berbisik-bisik sambil menatapku. Aku mendelikan mata ku dan kembali berjalan meninggalkan mereka semua.
Aku berjalan di lorong menuju lift di hadapan ku, lalu seseorang tampak berlari ke arah ku dengan begitu tergesa-gesa nya. Itu Vionna kepala SDM yang baru saja memecat ku. Aku berjalan menjauhi nya dan tidak memperdulikan nya.
“Fawnia.. Fawnia!” panggil nya dengan mengejarku.
Aku tak menanggapi nya dan terus berjalan,namun dia berhasil menghentikan langkah ku.
“Fawnia tunggu!”
Aku menatap nya dengan sinis, dan dia menatap ku dengan senyuman yang begitu hambar sambil mengatur nafas nya yang terengah-engah karena mengejarku.
“Saya mau bilang kalau akhirnya kamu tidak jadi saya pecat” ujar nya seolah dia telah memberikan kabar menguntungkan untuk ku dengan wajah nya yang begitu sombong nya.
Aku tidak menghiraukan nya dan kembali berjalan.
“Fawnia! Apa kamu tidak dengar? Kamu tidak jadi di pecat, jadi kembali ke ruangan kamu!” Perintah nya dengan angkuh.
Aku membalikan badan ku dan menatap nya dengan dingin.
“Maaf Bu. Saya sudah tidak tertarik bekerja di perusahaan dengan pekerja yang tidak kompeten seperti anda” ucap ku menyindir sikap nya yang selalu meremehkan pekerjaan orang lain dengan menyebut mereka tidak kompeten.
Aku yakin dia pasti sudah kesal dengan ku tetapi entah kenapa dia tidak menanggapi sikap menyebalkan ku itu,bahkan aku telah memperlakukan dia dengan sinis di depan karyawan lain yang sedang menonton drama kami,Vionna tampak tidak terpancing emosi.
Aku kembali berjalan meninggalkan Vionna.
“Fawnia tunggu… tunggu” Vionna masih mengejarku dan menahan ku.
“Oke. tidak seharusnya saya mengambil tindakan seperti ini dengan memecat kamu tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu. Tapi itu cara saya agar karyawan bisa takut untuk di pecat dan bekerja dengan sebaik mungkin”
“Dan ibu fikir saya akan takut dengan hal itu”jawab ku dengan ketus.
Dia terus menatap ku dengan kikuk.
“Tidak semua orang bisa takut dengan ancaman Ibu seperti itu,apalagi saya yang sudah merasa pekerjaan saya benar dan di lakukan secara jobdesk nya. Saya akan minta maaf jika saya salah saja,tapi jika saya di salahkan dengan alasan yang tidak masuk akal, saya akan selalu membela diri saya. Jadi maaf, saya sudah tidak tertarik bekerja disini”
Aku kembali berjalan meninggalkan dia yang hanya bisa tertegun bingung.
“Fawniaa,,fawnia”
Aku kembali diam dengan kesal karena terus menerus di tahan oleh wanita ini dan membiarkan dia kesempatan untuk dia kembali mengoceh.
“baru kali ini saya memohon kepada orang lain. Faw” ucap nya memberikan pengakuan dan dengan raut wajah yang menyedihkan, tidak tampak seperti tadi saat dia memecatku, seperti singa hutan yang kelaparan,sekarang dia memasang wajah yang penuh rasa iba.
“Tolong kembali lah bekerja, karena Pak Ferdy akan ikut memecat saya jika kamu benar-benar keluar dari kantor ini” ucap nya dengan penuh harap.
Aku menghela nafas begitu berat. Mendengar dia bersikap seperti ini karena ancaman dari Nicko. Aku memalingkan wajah ku karena aku memang sudah malas sekali untuk bekerja disini.
“Saya punya 1 orang anak. Dan dia masih bersekolah,dia perlu biaya untuk untuk masa depan nya Faw. Karena Ayah nya sudah tiada,saya mohon jangan membuat saya di keluarkan dari kantor ini”
__ADS_1
Aku terkejut dengan ucapan nya.
Dia begitu memelas. Aku jadi teringat Kara dirumah, dan dia pun sendirian dirumah membutuhkan masa depan yang begitu layak. Kasihan jika wanita ini di keluarkan dari pekerjaan nya dan harus kembali mencari pekerjaan baru. Aku begitu merasakan bagaimana menjadi dirinya.
Aku menghela nafas begiu berat untuk menyerah.
“Baiklah saya akan berbicara kepada Pak Ferdy. Tetapi keputusan saya untuk keluar sepertinya sudah mutlak. Saya hanya akan membuat Pak Ferdy untuk tidak melibatkan Ibu atas keluarnya saya” ucap ku.
Vionna tampak tenang, namun masih terlihat risau karena tidak berhasil membujuk ku untuk tidak keluar dari perusahaan ini.
Aku berbalik dan berjalan kembali ke ruangan ku lagi. Aku melirik Nicko yang ada di meja kerja nya,aku menyimpan dulu barang-barang di meja kerja ku,dan aku masuk ke ruangan Nicko tanpa mengetuk nya.
Aku masuk dan berjalan dengan kesal mendekati meja kerja Nicko, lalu aku berdiri tegap di hadapan nya yang masih sibuk dengan Map yang ada di tangan nya.
Aku berdiri di hadapan nya tanpa sepatah kata pun.
Dia menatap ku dengan bingung.
“Kenapa?” Tanya Nicko dengan mengerutkan kening nya.
“Kenapa kamu ikut memecat SDM mu?” Tanya ku dengan ketus.
“Menurut kamu mudah untuk mencari pengganti kepala SDM?” Tanya ku dengan kesal.
Nicko menaruh map nya,dan menyimpan kedua tangan nya di meja untuk memperhatikan ku yang sedang memarahinya.
Aku sudah tidak memandang nya lagi sebagai Pak Ferdy. Tapi aku menatap nya sebagai Nicko.
“Dia tidak boleh seenak nya mengeluarkan pegawai hanya karena dia tidak suka kepada mereka”
“Tapi aku ingin tetap keluar dari kantor ini!” ujar ku membuat Nicko terpatung mencerna kata-kata ku lalu dia menutup berkas nya kembali dan menatap ku dengan serius.
“Jadi kamu mau keluar dari sini atas dasar kemauan kamu sendiri? Atau kamu tidak nyaman dengan sikap SDM mu?” Tanya nya.
“Kedua nya” jawab ku dengan jujur.
“Baiklah aku akan tetap memecat Vionna” ujar nya lagi membuatku semakin kesal.
“Tapi Nick..”
“Aku masih banyak pekerjaan yang lebih penting” ucap Nicko dengan tanpa memperdulikan ku yang sudah tampak emosi.
Aku memicingkan mata ku dan menggelengkan kepala melihat tingkah nya yang masih saja seperti ini.
“Masih saja keras kepala” ujar ku kepadanya lalu pergi dengan kesal dari ruangan Nicko.
Aku tahu Nicko tengah tersenyum melihat ku yang kesal seperti ini. Karena dia tahu jika aku tidak akan tega melihat orang lain menanggung akibat ke egoisan ku. Akhirnya aku kembali tertahan di perusahaan ini bersama Nicko. Aku hanya harus bertahan dan tidak membuat kesalahan apapun, bekerja sebaik mungkin tanpa ada campur tangan masalah pribadi. Aku bisa.
Ketika sudah siang aku berjalan menuju pantry kantor untuk menyeduh secangkir susu karamel untuk menemani ku bekerja. Dan aku melewati beberapa pekerja yang tengah menatap ku begitu aneh nya. Aku berusaha menghiraukan nya dan kembali berjalan menuju pantry. Seseorang wanita menghampiri ku dengan tergesa-gesa. Davina, sekertaris Zayden yang kini menjadi teman kerja ku.
“Faw” sapa dia dengan wajah yang mencurigakan.
__ADS_1
“Apa?” Tanya ku dengan ketus dan terus menyeduh susu karamel yang aku bekal sendiri dari rumah di dalam sebuah toples kecil.
“Gosip lo udah beredar luas loh tentang pemecatan lo sama Ibu Vionna” ujar Davina mulai bergosip.
Aku sudah tahu apa yang akan di bicarakan Davina sebelumnya, karena kejadian tadi pagi sudah bukan rahasia lagi untuk perusahaan ini,gosip sudah pasti akan tersebar luas dengan cepat, apalagi tentang masalah tadi pagi.
“Tapi katanya tiba-tiba dia mohon buat lo ga jadi keluar kan?”
Aku lalu memutarkan bola mata ku begitu malas sekali membahas hal itu.
“Kok bisa sih Ibu Vionna kaya gitu?” Tanya Davina membuat ku menghela nafas untuk menjawab nya.
“Gue lawan dia di ruangan nya. Dia tadi mau pecat gue cuma gara-gara gue larang tunangan nya Pak Ferdy masuk ke ruangan nya. Padalah yang minta kan Pak Ferdy sendiri buat ga di ganggu. Kenapa gue coba yang di salahin? Rese banget tuh orang” ujar ku mengingat bagaimana menjengkelkan nya Ibu Vionna tadi pagi.
“Hah? Lo berani banget lawan dia?” Tanya nya terkejut.
“Ya kenapa emang? Gue bener dong. Gue kan kerja sesuai yang di perintahin Pak Ferdy. Kok gue malah di pecat? ya gue omelin balik dia lah dan gue bilang kalau dia ga kompeten” ucap ku mencibir nya dengan terus mengaduk susu caramel ku.
“Ish gila lo. Baru kali ini gue liat ada karyawan yang berani banget kaya lo. Salut gue sama lo Faw” ujar nya memuji ku.
Aku diam dan mencicipi dulu susu caramel ku.
“Tapi kok akhirnya lo ga jadi di pecat? Gimana alasan nya?” Tanya Davina yang begitu enggan untuk aku jelaskan se detail mungkin.
Aku tidak mungkin berkata yang sejujurnya kepada dia. Karena aku takut ini akan menjadi bahan gosip besar di kantor ku.
“Ya dia takut kali. Kalau gue jelek-jelek in dia di sosial media dan bocorin ke tidak kompeten nya memecat orang seenak nya” jawab ku dengan mencari alasan yang ssedikit masuk akal.
Davinna seperti tidak puas dengan jawaban ku,dia masih terlihat berfikir dan seperti masih ingin terus membicarkan hal ini,namun aku sudah tidak tertarik sama sekali menceritakan semuanya kepada Davina.
“Udah ya gue ke ruangan dulu. Pak Ferdy takut nyariin” ucap ku sambil pergi sebelum dia kembali bertanya lebih banyak tentang kejadian tadi pagi.
Lalu aku meninggalkan Davina di pantry sendiri dan membawa cangkir ku ke dalam ruangan ku.
Ketika aku masuk ke dalam ruangan ku Nicko pun ke luar dari ruangan nya. Kita saling menatap sebentar dan dia mencium suatu aroma enak di cangkir yang aku bawa.
“Apa itu?” Tanya nya dengan menatap cangkir ku.
“Minuman” jawab ku dengan tidak menyebutkan minuman apa itu.
Aku berjalan ke balik meja kerja ku dan di ikuti dengan Nicko menghampiri ku. Dia merebut cangkir itu daritangan ku dengan hati-hati dan melihat isinya.
Aku tahu apa yang dia fikirkan. Dia sudah bisa menebak aroma harum dari susu caramel yang ada di dalam cangkir ku.
“Sudah sini” pinta ku berusaha merebut kembali susu caramel ku dengan hati-hati karena takut tertumpah.
“Sebentar aku mau coba” paksa nya dan menghindarkan cangkir yang di pegang nya.
“Ngga. Nanti kena baju mu” ujar ku namun dia tetap menghindarkan nya dan meminum susu caramel ku dengan tidak sopan nya. Aku kesal melihat nya karena berani mencicipi susu caramel ku.
“Nicko!!” Panggil ku dengan refleks membuat dia berhenti minum dan menatap ku terpatung.
__ADS_1
Aku pun tersadar dengan ucapan ku memanggil nya dengan nama Nicko. Yang sepertinya sudah lama sekali tidak terdengar di telinga nya. Aku pun terdiam sejenak dengan wajah yang mulai panik. Nicko terus menatap ku tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dengan gugup aku kembali membawa toples susu caramel ku dan keluar dari ruangan ku untuk menghindar dari nya.
Betapa bodoh nya aku. Kenapa aku bisa spontan memanggl nya Nicko sih.